SABTU, 18 MEI 2013
 
        Lupa Password?

detikTravel

detikTravel

Info Promosi Travel

Wego
Tags
This will be shown to users with no Flash or Javascript.
KoKiLove
CITIZEN JOURNALISM: SIAPA SAJA, MENULIS APA SAJA
Dua Kali Bangkit dari Kubur (Part 2)
Alexa - Jakarta

 

Baca artikel sebelumnya:  http://www.koki-kolomkita.com/baca/artikel/9/607/dua_kali_bangkit_dari_kubur_part_1_
 
 
Aku yang jari-jarinya masih dikulum Pak GM satu persatu itu cuman bisa ngerasa meleleh seperti cooking chocolate yang sedang dipanaskan, sebenarnya bisa aja aku menarik tanganku tapi yang kulakukan hanya bilang…”Pak, lepasin tangan saya.” Pak GM enggak perduli dan dia tetap melakukan kegiatannya …sampai aku dengan setengah menjerit bilang sekali lagi ke Pak GM untuk melepaskan tanganku baru dia melepaskannya. 
 
Akhirnya aku makin ngebut mengemudikan mobilnya dan saat sudah keluar tol, aku meminggirkan mobilnya dan meminta kami berganti posisi. Jika saja saat itu bukan tengah malam dan suasana sudah sepi banget, aku akan memilih turun dari mobil Pak GM dan naik taksi untuk pulang.
 
Aku segera meninggalkan bangku kemudi bergegas keluar menuju pintu penumpang samping pengemudi dan Pak GM segera keluar. Alih-alih segera berganti posisi, dia malah mendesakku menempel di bagian luar mobil dan mengurungku dalam kedua lengannya yang bertumpu pada mobil -secara mendadak bibirnya sudah mencium bibirku. Tak adanya perlawanan dariku yang masih shock akibat kulumannya pada jemariku dan sekarang tambah shock dicium tepat di bibir membuat dia bisa menyusuri bibirku dengan lembut dan perlahan, kemudian perlahan dia mengulumnya. 
 
Setelah ekplorasi pada bibir maka lidahnya memasuki rongga mulutku mencari-cari dan membelit-belit lidahku. Semuanya sanggup meluluh lantakan persendian tubuhku dan aku nyaris terjatuh kalau tangannya tidak dengan sigap memeluk erat pinggangku. Cukup lama kami berciuman dan setelah saling melepaskan diri, Pak GM menatapku dengan aneh – antara binar takjub dan binar seorang pecinta…”Lex, aku yang pertama? Bukan main bibirmu itu…”. Aku cuman diam dan segera duduk di mobil, Pak GM beralih ke posisi pengemudi dan perlahan mobil kembali menyusuri malamnya ibukota. Yah perlahan karena kelihatannya dia sama kagetnya dengan aku.
 
Akhirnya kami sampai di muka rumahku dan benar ibuku sudah menunggu di teras dengan khawatir. Aku memperkenalkan mereka berdua dan Pak GM kemudian berpamitan. Sejak itu Pak GM jadi sering main ke rumah dan menjadi akrab dengan seluruh anggota keluarga tapi aku tidak pernah mau diajak jalan berduaan.
 
Suatu hari aku bangun kesiangan padahal sudah janjian dengan teman-teman se kampus untuk main tennis di Senayan jadi aku ngebut di jalan. Akibat semalam tidak bisa tidur maka aku sedikit ngaco dalam mengemudi, lha di lampu merah perempatan Kuningan-Gatsu kok malah nyerempet mobil orang. Orang itu langsung turun memeriksa mobilnya yang lecet-lecet dan masuk sebentar ke mobilnya…dan walah dia langsung memakai topi Polisi. Waaks…mataku yang tadinya masih lima watt langsung terbuka lebar jadi 100 watts. Dia minta aku mengikuti mobilnya ke Komdak…haduh. Sambil jalan aku telpon ke rumah cerita ke Ibu.
 
Sampailah kami ke Komdak, disana dia membawaku ke ruang kerjanya dan rupanya bapak polisi itu adalah Provost di Kepolisian. Dia bicara baik-baik denganku dan memeriksa SIM dan STNKku, saat menanyakan kenapa dijalan yang begitu sepi  bisa nyerempet mobil orang. Yah aku bilang aja semalam keasikan belajar nah paginya sudah janjian ya terpaksa walaupun kurang tidur tetap jalan juga. Saat dia memeriksa SIMku dia melihat ada gelar SH dibelakang namaku….Bapak Polisi langsung nanya tuh gelar SHnya dapat darimana. Ya dengan jujur aku sebutkan asal Uni–ku yang rupanya cukup dihargai olehnya, terbukti dengan cepat dia hanya minta aku mengganti ongkos perbaikan mobilnya berapapun aku sanggup.
 
Tepat setelah aku menyelesaikan masalah ganti rugi dengan Pak Polisi, tiba-tiba Pak GM muncul dan memperkenalkan diri pada Pak Polisi. Tak lama kamipun berpamitan dan akhirnya aku dan Pak GM pulang beriringan ke rumahku. Sesampainya di rumah bener aja Ibuku sudah menanti dengan khawatir di rumah – kamipun menjelaskan seperlunya dan disitu aku baru tau kalo pagi-pagi Pak GM ke rumah dan Ibu menceritakan masalahku sehingga dia akhirnya menyusul ke Komdak. Setelah  Ibuku masuk ke dalam - aku dan Pak GM bercakap-cakap di teras rumah.
 
Pak GM secara terbuka menyatakan cintanya padaku – dia membenarkan bahwa perhatiannya langsung tersita begitu kami bertemu karena parasku mirip banget dengan pacar terakhirnya yang sukses meluluh lantakan hatinya - mereka putus karena ada pria lain. Pak GM sempat bersumpah dalam hati bahwa dia tidak akan pernah jatuh cinta lagi dengan seorang wanita. Walaupun dia terkejut saat tiba-tiba muncul wanita yang memiliki paras yang nyaris sama ( beneran lho saat itu aku sempet mikir nih muka pasaran banget ya ) sudah jelas dia tidak ingin jatuh cinta denganku hanya karena kemiripan paras kami. Interaksi kami selanjutnya membuat dia makin memahami dan tertarik dengan aku yang ternyata memiliki sifat bertolak belakang dengan mantannya. Mantannya masih hidup dan telah menikah dengan orang lain; jadi tidak seperti perkiraanku bahwa mantannya yang sudah meninggal.
 
Aku sebenarnya tidak terlalu percaya waktu dia bilang dia jatuh cinta padaku karena diriku sendiri bukan karena mukaku mirip mantannya, jadi hal ini kutanyakan sekali lagi kepadanya. Akhirnya setelah dia sekali lagi meyakinkan cintanya, secara tulus aku mengucapkan terimakasih atas rasa yang dia miliki untuk diriku tapi aku berterus terang bahwa aku tidak jatuh cinta bahkan tidak tertarik dengannya. (Dalam hati aku melanjutkan: Sampai saat itu aku masih merasa aneh dan janggal dengan ciumannya – aku selama itu membayangkan dicium oleh orang yang kucinta sepenuh hati: semacam seorang kesatria yang datang menjemputku dan membawakan cinta yang tulus -bukan seperti ini seorang pahlawan bertopeng  yang rasanya malah sukses memberi rasa seperti “diserang” gitu ).
 
Pak GM dengan kedewasaannya mengatakan dapat memahamiku dan dan meminta paling tidak kami bisa tetap menjadi teman baik, aku tentunya tidak keberatan atas tawaran pertemanannya. Nah sejak itu Pak GM tetap bertukar kabar denganku, main ke rumah walaupun tidak rutin sesekali ikutan hangout dengan aku dan teman-teman. Di lain pihak akhirnya kuliah S2 selesai juga, Pak TP membantuku mencari pekerjaan dan akhirnya aku diterima di suatu bank swasta berkat beliau. Sempet juga merasa berat sebab harus melewati jalur MDP (Management Development Program) yang berarti harus masuk kelas training lagi. Pak TP membesarkan hatiku dengan mengatakan begitulah jalur untuk mencapai jabatan puncak di bank nantinya, hitung-hitung kamu sekolah di bayar, Lex – demikian dia mengatakan. Dan akhirnya jadilah aku MDP trainee.
 
Program training akan berjalan sepuluh bulan – kami MDP trainee ini digembleng di kelas dan di putar di berbagai cabang. Memasuki bulan ke enam training diselenggarakan di daerah Puncak selama seminggu. Disana kami menginap di suatu resort yang terdiri dari beberapa bungalow dengan beberapa meeting room yang representative dalam bangunan induk berupa hotel.  Minggu pagi kami akan pulang dan Jumat malam bungalow yang ada disebelah bungalowku yang tadinya kosong kelihatan sudah dimasuki tamu. Ini kelihatan dari mobil yang parkir di carportnya. Sabtu pagi aku terkejut sewaktu masuk ke resto hotel ada Pak GM disana. Dia langsung menghampiriku dan mengajak sarapan bersama, pihak SDM Bank langsung menghampiri dan akhirnya Pak GM menerangkan bahwa dia kebetulan kenal dengan aku dan mampir ke resort yang sama. Aku sendiri sebenarnya kurang begitu percaya alasannya, pasti dia tanya ke Ibuku.  Ternyata Pak GMlah tamu yang  menginap di bungalow sebelah bungalowku. Sabtu malam dia ikutan kami hangout.
 
Pas hari Minggu pagi dia mengajakku turun ke Jakarta bersama, kukatakan aku keberatan karena aku bermaksud turun dengan mobil seorang teman untuk melakukan eksperimen lain. Dengan sok ke PeDe-an dia tertawa terbahak-bahak dan bilang: “Kamu mau taruh gelas atau kaleng isi Coca Cola di dashboard mobil dan meluncur turun ke Jakarta…tumpah neng, itu kenyataan gak usah eksperimen lagi.”
 
Aku jadi panas mendengar tertawanya yang sok tahu itu dan langsung menyanggupi pulang bersamanya dengan mensyaratkan aku yang menyetir mobilnya (kali ini dia  pakai mobil kantor). Akhirnya Minggu pagi kami turun – jalanan masih sepi dan karena sudah beberapa kali melakukan eskperimen itu – aku sudah hapal kelok-kelokan jalan serta turunan yang ada.
 
Maka setelah melewati kelokan itu – dalam keadaan mobil masih meluncur turun kumatikan mesin dan kukatakan pada Pak GM bahwa inilah eksperimen yang sebenarnya akan kami lakukan. Pak GM sangat terkejut dan memperingatkan aku supaya segera menyalakan mesin karena apa yang kulakukan sangat berbahaya - jika ada halangan di depan maka aku tidak bisa mendadak mengerem.  Aku menatap ke depan sambil sesekali melirik spion seraya mengatakan…”Saya harus konsentrasi nih…jangan ganggu supir”. Dia akhirnya diam dan tepat lima menit kemudian kunyalakan mesin mobil kembali. Dia menarik napas lega dan sambil marah besar dia minta aku meminggirkan mobil, aku menurut saja dan akhirnya kami bertukar posisi. Kami turun ke Jakarta dalam diam setelah dia mengucapkan satu kalimat…”Dasar perempuan gila.”
 
Mobilpun memasuki Tol Jagorawi – saat itu suasana cukup lengang, sehingga Pak GM mulai relaks kembali – dia menyalakan musik  dan lagu lembut mengiringi perjalanan kami. Aku merasa sesekali dia melirik aku yang saat itu sebenarnya sibuk bikin perhitungan atas kondisi jalan. Nah waktu aku merasa suasana rada aman aku panggil dia…”Pak, sini lihat aku sebentar.” Begitu dia menengok ke arahku, kugenggam mukanya dengan kedua tanganku dan kucium bibirnya…dia benar-benar terkejut tapi dia juga bersikap taktis dengan berusaha tidak panik. Dia benar-benar berusaha membagi konsentrasi antara jalanan dengan “seranganku” dan walaupun mobil sedikit oleng tapi tidak sampai keluar jalur dan membahayakan mobil lain.
 
Akhirnya aku menghentikan “seranganku” pada Pak GM – dia terus mengemudikan mobil dengan paras muka kaku menahan amarah. Mobil keluar di tol Taman Mini memutar dan masuk ke Taman Bunga di TMII. Kami turun bersama dan duduk di salah satu bangku yang dinaungi rimbunnya pohon bunga. “Oke, ada apa ini….dua kali kamu nyaris membunuh kita berdua selama perjalanan ini.”katanya. Aku menjawab dengan perlahan…”Nah sekarang sudah tahu khan rasanya diserang mendadak dengan ciuman. Mau mati khan.” Dia terlihat sangat terkejut…”Ouch gara-gara waktu itu? Kamu masih kesal, koq enggak bilang? Sehabis kejadian itu kita masih sering ketemu tapi kamu baik-baik aja. Lex, waktu itu aku sepontan aja –aku rasa mengungkapkan rasa cinta dengan ciuman adalah hal yang universal. Dan asal kamu tahu ya, biarpun kamu nyaris membunuh kita, sampai detik ini aku masih cinta koq sama kamu. Tadi aku sudah bilang khan kamu perempuan gila- sekarang aku harus bilang kamu perempuan gila kwadrat dan sudah sukses membuat aku makin tergila-gila sama kamu.”
 
Aku jadi tertawa mendengar omongannya, “Kamu khan tau itu yang pertama buat aku. Aku selama ini membayangkan yang menciumku pertamakali adalah orang yang kucintai sepenuh hati. Bukan diserang gitu aja kayak kamu. Kamu tuh seperti lelaki yang tiba-tiba muncul dihidupku, kamu enggak berhak bersikap seperti itu.”
 
 “Ya sudah Lex, sekali lagi aku minta maaf…ternyata kamu kesel banget ya. Beneran bagiku itu ciuman penuh cinta, lagipula mana ngerti aku ada mahasiswa S2 belum pernah ciuman. Terus apa yang bisa aku lakukan untuk menghapuskan rasa kesel kamu itu?”.
 
“Gak ada, aku menganggap skore kita sudah imbang.” That’s it Lex? “Yup”, jawabku.
 
Trus hubungan kita selanjutnya gimana? dia bertanya. Aku menatapnya tajam…”Gak jelas aja.”
 
“Gak bisa Lex, tuntaskan sekarang juga – aku ikuti apapun maumu.” Aku langsung menatapnya tajam…”Hati-hati bicara, apa kalau aku pingin kamu pergi dari hidupku – kamu mau melakukan itu?” Dia terdiam.
 
 
 
 
 
 
 
  
Kami kembali ke resort di Puncak itu, dia bergegas mengambil kunci bungalow di resepsionis hotel dan kemudian mengemudikan mobil memasuki carport bungalow. Tiba-tiba dimuka pintu masuk – dia memondongku dengan kedua tangannya, membawa ke kamar  serta meletakkanku dengan hati-hati di tempat tidur.
 
Sambil berbaring menatapnya aku mengatakan..”Hati-hati - ini yang pertama bagiku.”
 
Dengan penuh cinta dia membalas..”Iya perempuanku yang ajaib – jangan khawatir akan kubawa kau mengarungi gelombang cinta dan kita akan sama-sama menuju ke puncak kenikmatan.”
 
 
 
                                                                     -------------------------
 
 
 
Begitulah akhir sekaligus awal dari petualangan hidupku dengan Pak GM – sewaktu di Taman Bunga TMII itu dia minta aku menuntaskan dan memperjelas hubungan kami – aku mengajak dia menikah. Dia sangat terpana mendengarnya seraya menanyakan..”Kenapa Lex?”.
 
Kujawab…”Kenapa tidak? Kenapa terkejut? Apa kau cuman iseng-iseng mendekatiku?”
 
“Bukan begitu…” dia melanjutkan,
 
“Gak tau kenapa aku merasa nyaman aja dengan kehadiranmu…kamu tuh antara ada dan tiada dalam hari-hariku. Rasanya itu irama yang cocok buatku…aku gak suka hubungan dengan cowo yang sok-sok nelpon tiap hari, minta laporan aktifitas pacarnya tiap hari, sok antar jemput….tapi tiap aku dalam kondisi terdesak kamu tiba-tiba muncul. 
 
Biarpun selama ini aku bisa beresin masalahku sendiri dan aku tidak pernah butuh a shoulder to cry on – ternyata asyik juga tau ada orang yang perhatian.”
 
Aku juga bilang bahwa saat itu aku tidak punya cinta untuknya tapi hatiku kosong tidak ada siapa-siapa disana jadi dia boleh mengisi hatiku dengan cintanya. Dia sempat terpana sambil bergumam kalau aku ini perempuan terajaib yang pernah ditemuinya sebelum akhirnya dia mencium tanganku, pipiku dan terakhir keningku dan kemudian memelukku erat-erat lama sekali.
 
Setelah sedikit sesak napas akibat pelukannya..aku melepaskan diri.
 
“Pilihanmu cuman dua…tinggalkan aku atau masuk dalam hidupku seutuhnya” jawabku.
 
“Aku rasa aku bukan pilihan yang jelek…susah lho cari perempuan lulusan S2 ( ini asli- line kebanggaan dan kePeDean kami komplotan cewe debil senasib sependeritaan di kampus ) dari dulu sudah mandiri dan bentar lagi jadi banker yang never been kissed n never been touched; mana ada bonusnya lagi - katamu bibirku istimewa…ha ha ha”, aku menggodanya.
 
Dia hanya tersenyum memandangku dan sekali lagi memelukku sambil bilang …”Makanya ajaibnya setengah mati.”
 
“Maksudnya apa sih dari tadi meluk sama cuman bisa bilang ajaib gitu?” tanyaku.
 
“Iyaaa Alexa, kita segera menikah. Tadi tuh berarti aku yang dilamar ya?” tanya si Pak GM.
 
“Phuih ge-er deh – siapa tadi yang minta dituntaskan statusnya. Sekarang dituntaskan malah bilang dilamar…dah males deh gini caranya”, jawabku.
 
“Pssst, dah kita gak usah berantem. Yuk ngadep Ibumu, dah enggak sabar nih pingin punya isteri ajaib sepertimu”, kata Pak GM.
 
Kami menikah  usai aku menyelesaikan masa training – jadi usai training belum lagi berusia seperempat abad, aku berada dalam dua status baru : sebagai Banker dan sebagai Isteri Lelaki itu. Dan resort di Puncak itu menjadi tempat kami menikmati Malam Pertama sekaligus bulan madu kami – lucu kami ternyata langsung connected waktu menentukan tempat bulan madu itu.
 
 
 
 
 
 
 
 
Begitulah kisahku dengan Pak GM yang sering kusebut sebagai Lelakiku – yang belakangan sering kusebut sebagai Mr Alexa. Berawal dari emutan di jemari tangan menjadi sepuluh tahun  bersama – kemudian berpisah satu tahun – dan saat ini hampir memasuki dua tahun kembali bersatu. Tiga anak bersama kami – dua anak buah cinta kami dan seorang Bocah yang dipercaya Sang Khalik untuk dikasihi seperti anak kandung.
 
 
 
 
 
 

ILUSTRASI FOTO-FOTO DOK REDAKSI 

MODERATOR - Penggagas KoKi : ZEVERINA

Pembaca "KOLOM KITA" (KoKi) entah di Bontang, Inggris, Bali, Belanda, New Jersey, Kuwait, Australia, atau di Kediri, silakan berbagi peristiwa seputar kehidupan sehari-hari. Kirimkan artikel dan foto melalui form "Kirim Artikel", jika mengalami kesulitan kirimkan melalui email: temennyazev@gmail.com ; kokizeverina@gmail.com


1 dari 12 Halaman Komentar | First Prev Next Last
hari terakhir puasa, baru baca nie artikel, , , , ada emuts2 an nyaaaaa.......
Posted by: lyvi | Sabtu, 19 September 2009 | 14:05 WIB
Weeeks ada yang gak percaya? Hahaha, ini nih yang bikin penulis illfeel... dah gak nulis eh komennya seenak udelnya ndiri... hm seperti mana tuh? Oh iya seperti tulisannya ilovekoki - wah pembantaian masal tuh....tega oh tega. Trus si ilovekoki ngilang deh..layu sebelum berkembang deh. Terus2an aja pada komen seenak udelnya biar penulisnya pada kabur...
Posted by: daveena | Selasa, 15 September 2009 | 13:29 WIB
Legaaaa...
Posted by: alexaba | Senin, 14 September 2009 | 22:07 WIB
Lea..pa kabar jeuuung? Gimana jadi ngemuuuts enggak...? Ramadhan ini maleees deh urusan emutz en celuup..secara mesti keramas malem, waaks bisa fileek lagi.
Posted by: alexaba | Minggu, 13 September 2009 | 23:29 WIB
mbak ALEXA.............wehhhh jago NGEMUTSS ternyata yaa si pak GM!.....hmmmm jadi pengen ngemuts juga deh abis baca cerita myu!...dohhhh nanti malem JIHAD ahhh!
Posted by: LEA | Jumat, 4 September 2009 | 08:08 WIB
Anda harus login untuk memberi komentar pada Artikel ini...
About KoKi | Info iklan | Privacy policy | Terms of use| Karir | Contact Us
 
© 2008 - 2009 KoKi. All rights reserved