| KoKiLove |
CITIZEN JOURNALISM: SIAPA SAJA, MENULIS APA SAJA
Komodo Menikah (3)
Jalinan cinta pertamaku dengan L teramat singkat. Tak sampai setahun. Dari awal hingga akhir tahun 1970-an. Setelah saya berpisah dengan L, saya kembali lebih aktif di Sekolah Minggu. Salah satu aktivitasnya, saya mendapat tugas melakukan kunjungan ke setiap rumah anggota guru Sekolah Minggu, bersama seorang kawan.
Nah, salah satu rumah yang kami kunjungi adalah kediaman seorang cewek bernama H. Setiap bertamu ke kediaman H saya merasa mendapatkan perhatian lebih khas dari pada teman saya ( ho..ho...ke-GR-an lagi 2 juta rasanya). Padahal teman saya itu adalah salah satu pengejar H. Ada sekitar 5 orang cowok dari Bandung, Jakarta dan Serang yang serius mengejar H. (Huh,.. Komodo punya banyak saingan). Saya sendiri mengenal H sejak pertengahan tahun 1970-an saat saya masih berpacaran dengan L. Saya mengenal H pada suatu kesempatan tamasya bersama kelompok Sekolah Minggu. Banyak yang jatuh hati kepadanya.Tak heran kalau dalam tamasya itu banyak cowok yang berlomba mendekati H. Tapi H ini bukan faktor penyebab saya putus dengan L loh... Lambat laun, slow but sure, sembari PDKT kami akhirnya jadian juga. Saya mulai datang secara pribadi mengunjungi rumah H tanpa ada beban tugas sekolah minggu lagi. So...artinya ada tugas tambahan, yaitu tugas malem minggu heyyyy...!! Tepuk tangan... eeehh bunyi gak tepuk tangan sebelah kirain tepuk angin ....huahahah. Hubungan kami berjalan terkesan lemot kaya keong. Coba banyangin yah, soen pipi ajah membutuhkan waktu sampai 6 bulan... buka kartu deh...Ssssttt jangan berisik yah, sebab kalau ketauan H bisa dikemplang si Komodo ini.
Nonton bersama; menjemput H sepulang piknik bersama para muridnya, karena H adalah seorang guru SD Kristen di Bandung; mengantar H belanja ke toko (belum ada shopping center waktu itu); dan kadang saya mengantar Cokelat pada jam istirahat sekolah karena kantor saya kebetulan dekat dengan sekolahan di mana H mengajar. So sweet yeeehh??? like the chocolate it self. Tapi sayangnya, hubungan kisah kasih yang manis itu sedikit terusik. Kantor memindahkan tempat kerja saya dari Bandung ke Jakarta. Oh my sweet...hilang deh intensitas tinggi pertemuan dengan H. Tapi kan kayak pepatah lama, banyak jalan menuju Roma. Maka demi rasa sayang dan cinta saya yang besar kepada H, setiap wiken Sabtu saya pulang ke Bandung untuk ngapelin H. Dari Jakarta biasanya saya berangkat pukul 15.00 WIB. Baru kembali lagi ke Jakarta sekitar pukul 03.00 WIB subuh. Setelah itu saya lanjut langsung pergi ngantor pukul 09.00 WIB. Begitulah rutinitas saya di setiap akhir pekan, plus masih tetap menjalankan tugas Sekolah Minggu setiap hari minggunya. Yah, apa mau dikata, itu lah pengorbanan cinta. Rasa cinta saya kepada H semakin bertambah. Karena H lolos ujian dari Komodo. Karena ternyata H bukan pengincar uang (komodo tak beruang) dan bukan Tanki Bensin. Jadi sebenarnya baik L ataupun H tergolong Wanita idaman Komodo. Hanya H lebih baik, tapi itu menurut Card Reader loh. Karena waktu itu saya masih suka diramal....wkwkwk. sesat deh.
Tak lama kemudian manajemen memerintahkan saya untuk kembali bertugas di Bandung. Seiring dengan itu financial improvement saya mulai meningkat, dan setelah jalinan kisah kasih saya dengan H berlangsung selama 3 tahun, sejak tahun 1970-an hingga 1973, barulah saya berhasil memiliki Tanki Bensin. Dengan adanya kendaraan kebersamaan kami pun menjadi lebih terpenuhi. Kami dapat mengunjungi tempat rekreasi lebih banyak lagi, semisal Lembang, Dago Tea House, Tempat Ice Cream Setia Budi dan banyak tempat lainnya. Masa-masa bersama H selama tiga tahun itu terasa singkat, karena kami merasa amat cocok. Sampailah pada suatu kali, saya memergoki H tengah berbicara serius dengan ibunya di ruang tengah. Saya merasa topik pembahasannya mengenai diri saya. Akhirnya saya dengan setengah memaksa meminta kesediaan H untuk menceritakan, apa yang mereka bahas. Dugaan saya ternyata benar. H mengaku perbincangan itu membahas soal diriku. Orangtua H kuatir terhadap keseriusan saya menjalin cinta dengan puterinya. Alasannya,karena saya jadian dengan H hanya dalam waktu relatif seingkat selang beberapa saat saya putus hubungan dengan L. Jadi ibunya menanyakan kepada H, apakah saya itu serius atau hanya mempermainkan saja? Dengan tegas, saya meminta kepada H agar menyampaikan kepada ibunya kalau saya sangat serius dengan H. Ho..ho..ho... padahal belum kepikir 100% loh... Soal keseriusan berhubungan ini, sebenarnya dari keluarga saya pun mempertanyakannya. Nenek saya terkasih yang mengetahui cucunya sudah menjalin cinta dengan seorang cewek, pernah bertanya kepada saya,’’Kapan mau nikah ??’’ Saya langsung menukas,’’Nanti kalau sudah jadi Beruang,’’ jawab saya guyon. Sebenarnya, realitanya, saya dan H memang menjalin hubungan sangat dan semakin serius. Malahan kami berdua sudah mulai membahas soal pernikahan. Terlebih setelah nenek saya berhasrat menikahkan kami. Itu menjadikan saya dan H saling berterus terang dan terbuka dalam segala hal.
Pernah suatu kali saya beicara terus terang kepada H, bahwa saya bukan Beruang. Saya hanya seorang pegawai biasa. Sebaliknya H mengungkapkan kemungkinan besar dia tidak dapat mempunyai keturunan. Tentu saja, kondisi saya yang hanya seorang pekerja biasa akan menjadi bahan pertimbangan ekstra bagi H. Sebaliknya soal kemungkinan H tidak bisa memberikan keturunan juga akan menjadi bahan pertimbangan saya. Ketika itu tak seorang pun saya mintai pertimbangan soal masalah itu. Saya harus mengambil keputusan sendiri, karena ini persoalan saya. Hanya satu pertanyaan dalam pikiran dan diri saya sendiri, "Apakah Setiap Wanita Yang Tidak Dapat Memberi Keturunan Tidak Berhak Untuk Hidup Berumah Tangga"? Pertanyaan saya itu saya jawab sendiri dengan tegas. ‘’Tidak Adil !!’’ Saya akan mengesampingkan soal keturunan dan mengatasi gossip maupun bakal datangnya komentar orang-orang luar di sekitar kami. Sekaligus saya berkomitmen terhadap diri sendiri akan senantiasa memberi dukungan dan perlindungan terhadap H dalam menghadapi situasi dan kondisi itu. Sebaliknya dari sisi H, dia akhirnya mengatakan tetap bersedia menjadi istri saya meskipun saya seorang karyawan biasa. (inilah keputusan H yang berlawanan dengan Bau Bensin). Begitu pula jawaban saya tetap bersedia memperistri H. Dalam keadaan apapun kami berdua harus menanggungnya bersama. Memang H patut mejadi istri saya sesuai dengan semua yang saya harapkan. Dia memiliki figur salah satu tante favourite saya, kesetiaan dan tanggung jawab menyertai figur H. Saya patut menerimanya dengan segala kelebihan dan kekurangannya (perkataan cocok tidak cocok sebenarnya tidak ada dalam pernikahan). Tahun 1974 adalah tahun pernikahan kami (38 tahun lalu jadul banget ya). Dan ternyata akhirnya malah nenek yang membiayai pernikahan saya tanpa diminta. Karena waktu itu nenek belum mempunyai cucu mantu. Perhelatan pesta pernikahan itu berlangsung meriah. Pihak saya (nenek) mengundang sebanyak 1.200 undangan. Sementara dari pihak H sebanyak 800 undangan. Total saudara dan handai taulan yang diundang ke pesta pernikahan kami sebanyak 2.000 orang lebih. Pesta pernikahan pun dilangsungkan sebanyak dua kali. Pertama pesta pernikahan yang diselenggarakan oleh keluarga saya (nenek). Pesta kedua kalinya yang mengadakan adalah dari pihak H. Coba ajah bayangkan jabat tangannya dengan para tamu ratusan kali....wualah jari manisku melepuh dah !!!
Setelah beberapa lama kami menikah, sesekali kami bernostalgia. Melihat album foto di masa lalu yang sudah basi. Yang basi yang kerap malah membuat dan mengingatkan kita betapa indahnya masa-masa lalu. Ketika itu barulah kami sama-sama tahu, ternyata istriku di masa muda adalah kembang yang banyak diincar kumbang...Hahah...Sementara saya pun baru mengetahui banyak juga cewek yang mengejar saya...he he. Buka album buka kartu kenangan masa lalu. Tahun 1984 kami hijrah ke Australia. Kami memulai hidup baru dari nol lagi. Kami berjuang bersama, karena kebersamaan ini maka tingkat kehidupan kami secara perlahan terus meningkat. Oleh karena itu ada istilah bahwa pernikahan adalah kebersamaan dua individu yang terpadu menjadi satu. Dan tentunya dalam kehidupan keluarga pasti ada perbedaan pandangan, sifat dan lain-lain. Item perbedaanya jumlahnya banyak sekali, tetapi bila diatasi bersamah maka semuanya akan teratasi dengan baik. Meskipun tidak mudah, tapi kita harus tegar hati mengatasi segala persoalan sekalipun isu perceraian selalu mengintai setiap saat.
Tahun 2012 ini kami sama-sama mendapatkan hak pensiun. Kami menikmati kebersamaan setiap hari. Setiap saat kami tetap harus saling melengkapi satu sama lain, karena pada dasarnya hidup pernikahan bagi kami adalah kurang lebih sebagai berikut :
Semoga Artikel ini menjadi bahan bacaan semua Kokiers selamat menikmatinya untuk mengisi waktu. Note: Artikel ini atas permintaan beberapa rekan Kokiers diantarnya Natya KalemWati , MamaAlma dan sebagian lainnya yang saya tidak ingat, terima kasih Dad dan TE untuk memuatnya, God bless You All, meski tidak 100% selengkapnya kuatir kepanjangan salam hangat Caridaki - Ozi. ILUSTRASI FOTO-FOTO DOK REDAKSI MODERATOR - Penggagas KoKi : ZEVERINA Pembaca "KOLOM KITA" (KoKi) entah di Bontang, Inggris, Bali, Belanda, New Jersey, Kuwait, Australia, atau di Kediri, silakan berbagi peristiwa seputar kehidupan sehari-hari. Kirimkan artikel dan foto melalui form "Kirim Artikel", jika mengalami kesulitan kirimkan melalui email: temennyazev@gmail.com ; kokizeverina@gmail.com
|
| About KoKi | Info iklan | Privacy policy | Terms of use| Karir | Contact Us |
|