| KoKiLove |
CITIZEN JOURNALISM: SIAPA SAJA, MENULIS APA SAJA
Tertawa Berdua (part 2)
Setelah kejadian ini, saya memperhatikan Buyung menjemput Bunga. Buyung adalah adik kelas ketika anak saya yang lelaki masih di SMA. Ia adalah anak tunggal. Buyung pernah muncul di depan rumah pada waktu liburan musim panas tahun yang lalu. Ia datang bersama temannya, Ujang karena Ujang kenal dengan Bunga.
Setelah Ujang pindah ke kota lain untuk melanjutkan kuliahnya maka Buyung berteman dengan Mina dan Mini. Mina dan Mini adalah adik kelas Bunga. Jika Buyung ingin menjemput Bunga maka Buyung selalu datang bersama Mina dan Mini. Kadang-kadang, Buyung datang sendiri sehabis kerja menjemput Bunga. Pernah ia datang ke rumah memakai jas dan Bunga pun sudah rapih berpakaian. Saya bertanya “Kamu rapih sekali hari ini, mau kemana”? Namun Bunga yang menjawab bahwa mereka akan pergi menonton bersama-sama dengan Mina dan Mini. Setelah malam hari tiba, saya baru sadar bahwa hari ini adalah hari Valentine. “Apakah benar mereka pergi menonton bersama teman-teman atau mereka pergi ber-Valentine ria berdua”? Sayapun tersenyum sendiri melihat sikap mereka berdua. Jangan-jangan saya dibohongi. Beberapa minggu kemudian, saya melihat setangkai bunga mawar merah layu di kamar Bunga. Kalau melihat Bunga sudah rapih maka saya bertanya “Mau kemana sore ini”? Selalu pula Bunga menjawab hal yang sama yaitu mau pergi menonton bersama dengan Mina dan Mini. Sayapun melihat Mini dan Mina memang ada di mobil si Buyung. Kadang-kadang Mini dan Mina sudah masuk rumah maka Buyung baru membuka pintu mobilnya. Jadi susah juga menebaknya, apakah benar Buyung berpacaran dengan Bunga atau tidak?
Apakah Buyung menggunakan Mini dan Mina sebagai perantara agar Buyung bisa mendekati Bunga? Entahlah. Akan tetapi ada pepatah bahasa Jawa, weting tresno jalaran soko kulino. Cinta hadir karena sering bersama. Saya teringat pengalaman anak saya, Sonny. Dulu, berkali-kali saya bertanya kepada Sonny. ”Apakah si Blonde senang dengan kamu”? Koq, setiap hari datang”? Tapi Sonny menjawab, ”Nggak Mom, Blonde cuma tanya matematika dan sekarang rada mending nilai matematikanya”. Aku pun menukas,''Baguslah kalau begitu, mommy senang mendengarnya.'' Ternyata dugaan saya benar Sonny dan Blonde berpacaran. Bahkan mereka mau cepat-cepat menikah sebab teman-teman lainnya sudah menikah. Menurut saya mereka belum siap namun menurut suami biarkan saja karena toch perempuan yang menanggung biaya pesta. Pada suatu hari, Buyung menjemput anak saya untuk mengajak jalan kaki bersama. Kali ini Buyung memakai baju olah raga. Satu jam kemudian, udara mendung dan hujanpun turun. Tidak jadi jalan kaki sehingga Bunga bermain air yang tergenang. Buyung yang mencucikan sepatu boot nya di sungai. Sesampainya di rumah, Bunga melapor bahwa ia sudah main air kotor. Sayapun menyuruh Bunga segera mandi. Ia meminta saya membersihkan sepatu bootnya. Setelah saya cuci dan masukkan ke mesin pengering, ternyata bootnya tidak segera bisa kering. Bahkan jahitan boot lepas beberapa jahitan jarum. Akhirnya, saya membelikan saja sepatu boot lagi karena masih musim dingin. Di basement, saya melihat jeansnya yang sudah basah.
Pernah Buyung masuk rumah dan melihat suami sedang membaca. Ia pun menyapa, “Helloooo...” sebelum menuju ke kamar Bunga bersama Mina dan Mini. Setiap kali Buyung masuk ke rumah maka ia selalu pamit seraya menjulurkan tangan untuk berjabat tangan to say good bye. Saya pernah meminta pendapat kepada calon menantu saya, Blonde. Ia mengatakan bahwa Buyung anak baik karena ia pernah sama-sama satu kelas. Ketika saya bertanya kepada suami, ''Apakah anak kita berpacaran? Bagaimana pendapatmu tentang Buyung yang sering menjemput anak kita?'' Suami saya hanya menjawab, bahwa belum tentu mereka berpacaran. Bisa jadi hanya berteman saja. Karena Buyung sering muncul mengetuk pintu rumah, lama-lama usil juga mulut saya. Ketika Bunga sudah keluar rumah maka saya bertanya kepada Buyung dan Bunga “Are you both boy friend and girl friend”? Dengan cepat Bunga menjawab, “No, we are friends”. Namun Buyung merangkul kesenangan pundak Bunga dan menunjukkan sayangnya kepada Bunga. Buyung mau menjemput Bunga dan mengantarkannya ke rumah teman-teman Bunga. Entah untuk api unggun atau menemani Bunga shopping. Saya berpikir, “Adakah pria yang mau berbuat baik terhadap seseorang tanpa ada udang di balik batu”? Apa yang dilakukan oleh Buyung terhadap Bunga mirip seperti apa yang dilakukan oleh teman kuliah saya dulu. Robertus namanya. Ia mau mengetikkan makalah untuk saya karena saya tidak mempunyai mesin ketik. Saya menulis dengan tangan lalu saya antarkan draft tersebut ke asramanya. Lama kelamaan saya mengantarkan kertas HVS agar tidak memakai kertasnya. Selama masih mahasiswa/mahasiswi kan bokek maka saya harus tahu diri dan kirim kertas secukupnya. Kadang-kadang Robertus bilang bahwa kertasnya tak cukup. Nah, sayapun mengeluh sambil berkata “Masak sih kagak cukup”? Setiap kali saya mengantarkan bahan untuk diketik maka teman-teman seasrama Robertus berkata “Robertus, nih ada T.Moken datang”. Teman-teman Robertus senyum-senyum sambil belajar. Saya hanya menunggu di ruang tamu dan setelah menyerahkan draft maka saya kembali lagi pulang ke rumah. Tidak hanya mengetik saja tapi Robertus juga mau antri di loket pembayaran setiap semester untuk saya maupun teman-teman cewek lainnya. Kadang-kadang Robertus mengisikan formulir bank pembayaran semester untuk saya juga. Ia hafal tempat, tanggal lahir dan alamat saya. Saya dan teman-teman wanita lainnya tinggal terima bersih sehingga tidak perlu antri lama-lama. Robertus anak yang sopan. Kami berkenalan sejak dari semester II. Robertus juga bersedia untuk mengantarkan saya kemana saja jika saya mau namun saya tidak bisa keluyuran karena tidak mempunyai uang jajan. Teman-teman kuliah selalu mengganggu saya karena melihat perhatian Robertus terhadap saya. Saya jawab bahwa saya hanya berteman saja dan tidak lebih dari itu. Lha, Robertus juga mau mendaftarkan nama-nama teman wanita untuk mata kuliah non-pokok ke dosen-dosen. Jadi dimana bedanya? Terus terang saya tidak dapat membedakannya. Akhirnya saya tidak ke asrama lagi karena kuliah praktek. Kemudian dilanjutkan lagi dengan menyusun skripsi. Sayapun membeli mesin tik yang ditemani oleh abang saya yang tertua ke Glodok. Saya lulus Sarjana Muda. Setelah itu kami berpisah karena Robertus tidak melanjutkan ke Sarjana Lengkap. Beberapa tahun kemudian, saya lulus. Sampai pada suatu malam, saya bertemu dengan Robertus kembali di sebuah bus Pelita Mas Jaya. Waktu itu saya kira-kira berumur 30 tahun. Tentu saja saya menyapa Robertus dengan gembira. “Apa kabarmu”? karena sudah lama tak bersua. Akan tetapi alangkah terkejutnya saya karena Robertus mengungkit kebaikan masa lalu yang telah ia tanamkan kepada saya. Ia begitu emosi melihat saya sehingga saya takut pada malam hari itu.
Ia mengatakan kepada saya “Apakah kamu tidak sadar akan kebaikan saya? Apapun yang kamu suruh, saya kerjakan. Saya begitu baik padamu apalagi yang kau inginkan dari saya. Bahkan saya mau mengantarkanmu bila kamu perlu teman. Karena kamu tak kunjung memberi jawaban maka saya sadar bahwa kamu bukanlah orang yang dinanti. Saya mencari orang yang mirip denganmu. Saya tahu saya miskin”. Saya hanya menjawab “Apakah pernah kamu menyatakan cinta kepada saya”? “Memang tidak. Sehelai rambutpun tak ingin saya menyentuhmu karena saya tak ingin menodaimu”, jawab Robertus. Memang betul, Robertus tidak pernah menyentuh saya dan oleh karena itu saya menganggapnya sebagai teman yang sopan dan baik. Langsung saya turun bus karena kesal. Untung Robertus tidak ikut-ikutan turun. Apes sekali malam itu. Sudah tidak dapat tempat duduk, kena omel lagi. Untung saja tidak kena copet. Saya sambung bus menuju Cililitan. Eh, bertemu lagi dengan Robertus di tikungan Cililitan. Agaknya ia mencegat saya di sana. Kali ini ia lebih tenang dan sambil tertawa berkata “Kamu memang tidak pernah berubah dari dulu.” Sayapun lemas karena tidak menyangka akan bertemu lagi setelah mengganti bus. Saya memasuki suatu warung di pinggir jalan dan menangis. “Kenapa neng, koq sampai lemes begitu. Minum, neng”? tanya pemilik warung sambil menyodorkan teh hangat. Kemarin, Buyung datang lagi. Saya ulangi lagi pertanyaan yang sama ke suami sambil menceritakan pengalaman saya dengan Robertus. Agaknya suami terkesan dengan sikap Buyung pertama kali ketika ia mengatakan, “Hellooo, my name is Buyung. Excuse me,” katanya seraya berjalan naik ke lantai atas rumah kami bersama Mina dan Mini.
“Biasanya teman-teman Bunga langsung naik ke atas tanpa berkata sepatah katapun”, kata suamiku lagi.” Buyung telah mencuri hati suami maupun saya. Saya pun merujar, “Anaknya ganteng. Kita kan pernah muda dulunya. Cari yang ganteng dan yang cantik kalau bisa”. Suami mengaminkan sambil tertawa, lihat kiri lihat kanan kalau-kalau mobilnya belum pergi. “Orang yang disebut-sebut telah pergi”, sahut saya. Akhirnya, kami tertawa berdua terbahak-bahak melihat sikap Buyung dan Bunga. Terima kasih Mas Dad dan Team Editor sudah mau membacanya. Yiiiihaaaaaaa...!. Majulah terus Kokiers dengan mengirimkan artikel-artikel anda untuk berbagi. United We Stand! ILUSTRASI FOTO-FOTO DOK REDAKSI MODERATOR - Penggagas KoKi : ZEVERINA Pembaca "KOLOM KITA" (KoKi) entah di Bontang, Inggris, Bali, Belanda, New Jersey, Kuwait, Australia, atau di Kediri, silakan berbagi peristiwa seputar kehidupan sehari-hari. Kirimkan artikel dan foto melalui form "Kirim Artikel", jika mengalami kesulitan kirimkan melalui email: temennyazev@gmail.com ; kokizeverina@gmail.com
|
| About KoKi | Info iklan | Privacy policy | Terms of use| Karir | Contact Us |
|