| KoKiLove |
CITIZEN JOURNALISM: SIAPA SAJA, MENULIS APA SAJA
Tertawa Berdua (part 1)
Ketika saya masih menjadi volunteer di Youth Center, saya melihat ada seorang ibu yang selalu datang membawa anaknya sendiri bersama anak tetangga. Ternyata anak tetangga itu adalah pacar anaknya. Orangtua yang saling menjodohkan anak mereka padahal mereka masih di kelas III SD.
Hal yang sama juga pernah terjadi pada anak saya, Bunga. Tetangga saya pernah berkata bahwa anaknya suka dengan Bunga. Mereka seumur. Saya tahu anak ibu tetangga ini baik dan sangat hormat terhadap saya. Sampai sekarangpun masih tetap hormat walaupun ia sudah mempunyai pacar. Pada waktu itu Bunga baru duduk di kelas tujuh. Ibu ini memuji Bunga baik dalam bidang pendidikan serta sopan santunnya. Saya hanya diam saja. “Saya beruntung sebagai seorang ibu”, ucap tetangga saya. Pada waktu mendengar komentar tetangga ini saya hanya heran. Ada juga ya bule suka menjodohkan anak selagi masih kecil-kecil atau setidak-tidaknya menjadi corong suara anak. Saya menyatakan keheranan saya kepada suami. Suami hanya berkata agar tidak usah kawatir karena anak selalu berubah. Hari ini suka, di kemudian hari lain lagi pendapat mereka. Waktu bergulir terus, Bunga sudah duduk di kelas 10. Bunga berpacaran dengan teman sekelasnya, Ayung yang berumur lebih muda 8 bulan. Dari balik jendela dapur, saya pernah melihat Ayung membuka tangannya lebar-lebar kepada Bunga sebagai tanda jangan kabur dulu sebelum hug and kiss.
Kemudian Bunga membalikkan punggungnya untuk merangkul, mencium bibir Ayung serta mendekapkan kepalanya ke dada Ayung. Ayung pun melakukan hal yang sama juga sebelum akhirnya mereka berpamitan. Sementara itu, teman kelas senior yang mengantar mereka berdua harus menunggu beberapa menit sebelum Ayung naik lagi ke mobil temannya. Tahun ajaran sekolah baru saja di mulai. Bunga sudah di kelas 11, begitu pula Ayung. Ketika saya olah raga di jalan setapak sepanjang sungai (riverwalk trail), saya melihat Ayung bergandengan tangan dengan gadis Brunette sehabis pulang sekolah. Ketika itu baik Ayung maupun Brunette pura-pura tidak melihat saya katakanlah acuh saja. Sayapun tidak menyapa mereka karena saya ragu apakah betul pria yang berkaca mata hitam adalah Ayung. Akan tetapi saya mengenali Brunette sebab Brunette pernah datang beberapa kali ke rumah. Kelas Brunette lebih tinggi dari Bunga dan Ayung. Mereka bertiga pernah bersama-sama latihan bermain drama di sekolah.
Sesampai di rumah, saya menceritakan kepada Bunga tentang apa yang saya lihat. Ternyata Bunga sudah tidak berpacaran lagi dengan Ayung.. Ketika saya tanyakan sebabnya, Bunga hanya menjawab bahwa ia susah bergaul dengan Ayung. Bunga mau berteman dengan orang yang lebih tua dari nya. Entah kapan mereka berpisah, sayapun tidak tahu. Saya jawab “Oooo. Masih banyak jalan menuju Roma. Saya jatuh bangun tidak terhitung jumlahnya sampai akhirnya saya bertemu dengan bapakmu. Paling-paling lemes dan otak tidak bisa konsentrasi. Yang penting selagi SMA bergaullah dengan semua orang (boys and girls) sehingga kamu dapat membedakan mana anak yang baik atau tidak. Nanti kalau kuliah maka kamu sudah siap”. Langsung Bunga menyatakan bahwa walaupun ia putus pacaran tidak mengganggu nilainya. Rupanya, Bunga menyimak perkataan saya. Saya sharing hal ini kepada suami saya dan ia menjawab puppy love (cinta anak anjing) dan oleh karena itu tidak terganggu konsentrasi belajar. “Cinta mereka tidak sama dengan cinta orang dewasa”, lanjut suami. Pada waktu kepala perpustakaan merayakan pensiunnya (retirement party), saya bertemu dengan ibu Ayung di perpustakaan. Ibu Ayung adalah bendahara perpustakaan sehingga ia seksi sibuk saat pesta berlangsung. Saya sudah kenal dengan ibu Ayung ketika kami bertemu di auditorium sekolah anak kami. Berhubung suami saya belum kenal dengan ibu Ayung, saya pikir tak ada salahnya saya perkenalkan. Pada saat saya mendekati ibu Ayung dan baru saja mau membuka mulut, langsung ia berkata sambil menggoyangkan kedua tangannya “Di antara kita tidak ada hubungan. Anak kita tidak berpacaran lagi”. Saya terkejut mendengar reaksinya terhadap saya. Tak sepatah katapun keluar dari mulut saya. Jika seseorang sudah memberikan reaksi kepada saya , tak ada gunanya bagi saya untuk bertanya ataupun mempertahankan diri. Percuma saja karena tidak akan terdengar suara saya. Salah-salah hanya mencari ribut. Lebih baik saya menutup mulut saja.
Sambil meletakkan cookies (kue kering) di piring kertas, otak saya memikirkan sikap ibu Ayung terhadap saya. Sekolah anak saja belum selesai di SMA. Perempuan pun tidak hanya anak saya saja di dunia. Mudah-mudahan saja tidak ada orang yang mendengar ucapannya kepada saya. Dari jauh saya melihat ibu Ayung duduk sendiri di meja bundar dan bangku-bangku sekitarnya kosong. Lalu, saya mengajak suami duduk di meja tersebut. Ibu Ayung melanjutkan percakapan di atas tadi. Saya menjawab bahwa saya senang anak saya bisa mendapatkan kesempatan untuk bergaul dengan anaknya. Anakmu cerdas. Sayapun membaca nama anakmu terdaftar di principal’s list di koran kota kita. Hati ibu mana yang tak akan senang mendengar bila ia mendapatkan pujian tentang anaknya. Akhirnya ibu Ayung berkata bahwa anaknya lebih muda dari anak saya dan membicarakan hal-hal lainnya. Mulai dari keluarga intinya sampai ke income suami-istri yang untuknya tidak bisa mendapatkan bantuan pemerintah jika anaknya kuliah. Walaupun hati kesal saya terus mengangguk-angguk dan mendengarkan pembicaraannya dengan penuh perhatian. Sekali-sekali saya menjawab that’s good to hear, that’s nice of him atau really? Suami saya diam saja asyik makan cookies karena ia tahu ini adalah percakapan sesama wanita. Selanjutnya ibu Ayung mengatakan bahwa Ayung ingin menjadi pengacara sebagai jurusan utama dan teater sebagai jurusan minor. Anaknyapun memilih kuliah di University of Michigan, Ann Arbor. Saya menjawab bahwa universitas tersebut menekankan pada kegiatan anak selain nilai yang hebat sebab bisa dibaca di website universitas tersebut. Nah, anak kamu aktif di sekolah dan pandai pastilah diterima.
Setelah itu ibu Ayung menanyakan Bunga mau kuliah dimana. Saya menjawab bahwa Bunga belum tahu mau mengambil jurusan apa ataupun mau kuliah dimana. Bagi saya tak perlulah orang tahu Bunga mau kuliah dimana karena timing yang tidak tepat. Cookies sudah di perut maka pulanglah kami berdua. Dalam perjalanan pulang jalan kaki ke rumah, saya menyampaikan ke suami apa yang ada di otak saya karena saya tak menyangka ibu Ayung mau bercerita macam-macam. Untuk apa? Bersambung……. ILUSTRASI FOTO-FOTO DOK REDAKSI MODERATOR - Penggagas KoKi : ZEVERINA Pembaca "KOLOM KITA" (KoKi) entah di Bontang, Inggris, Bali, Belanda, New Jersey, Kuwait, Australia, atau di Kediri, silakan berbagi peristiwa seputar kehidupan sehari-hari. Kirimkan artikel dan foto melalui form "Kirim Artikel", jika mengalami kesulitan kirimkan melalui email: temennyazev@gmail.com ; kokizeverina@gmail.com
|
| About KoKi | Info iklan | Privacy policy | Terms of use| Karir | Contact Us |
|