JUMAT, 24 MEI 2013
 
        Lupa Password?

detikTravel

detikTravel

Info Promosi Travel

Wego
Tags
This will be shown to users with no Flash or Javascript.
KoKiLove
CITIZEN JOURNALISM: SIAPA SAJA, MENULIS APA SAJA
Nilai Cinta
Coolman Deds

Roda kehidupan telah melindas jaman. Prilaku dan rasa yang dahulu dianggap sebagai sesuatu yang mulia, murni, agung dan suci, kini perlahan tapi pasti mulai mengabur. Kata cinta yang dahulu sebagai sesuatu yang sakral dan agung, mungkin kini sudah sekadar simbol kasih sayang yang hanya terucap dan berbentuk kata-kata tak bermakna.

Cinta yang menyeruak dari dalam kalbu secara spontan dan alamiah, itu telah kehilangan ruhnya. Kehangatan dan kasih sayangnya seringkali hanya merupakan acting. Dia sudah biasa terpapar kepentingan dan gaya hidup hedonism.

Seberapa besarkah nilai cinta kita?
Rasa itu sudang asing, bukankah kini cinta hanya sebanding dengan materi? Ada orang yang memaksakan mencintai pasangannya hanya karena materinya. Klise memang. Tapi eksis. Ketulusan dan kemurnian tentang perasaan dan kasih sayang telah terdegradasi dengan kebutuhan lain yang telah menguasai nafsu hati manusia. Keegoan untuk memenuhi hasrat kesenangan hidup telah meninabobokan nafsu akan meteralismnya.

Seberapa besarkah nilai cinta kita?
Jangan-jangan nilai rasa kita pun luntur seiring berlalunya waktu dan wajah kriput mulai mendera. Kegagahan, kegantengan dan kecantikan wajah mulai memudar, mungkin bersamaan dengan itu peralihan rasa ke orang lain pun terjadi. Di saat seperti itu, orang mulai silap, bahwa keindahan seks tidak semata pada fisik. Kesamaan perasaan, kesesuaian pemikiran, keasikan sebagai kawan bicara, kesetiaan dan suka duka mengarungi samudera kehidupan ini, tidak lagi membekas. Sebaliknya rasa malah didominasi semata pada persoalan fisik dan kesenangan. Lantas cinta pun lenyap tanpa bekas.

Seberapa besarkah nilai cinta kita?
Aku menjadi bertanya kini. Sangat serius. Apakah cinta kita kini hanya terukir dalam selembar ukuran rupiah? Sehingga terkadang kalau rupiah lancar cinta pun mantap rasanya. Bisakah rasa cinta dibeli?.

Seberapa besarkah nilai cinta kita?
Akankah cinta meluntur kepada pasangan kita karena sesuatu terjadi tidak sesuai dengan harapan bersama? Ketika bukan hanya suka tetapi saat duka datang menghadang lantas salah satu pihak harus mundur? Apakah cinta ada hanya di kala kebahagiaan bersahabat dengan kehidupan kita? Bisakah cinta mentertawakan duka? Dapatkan cinta malah sebagai pelipur dan mengubur lara dan berbegai persoalan hidup yang menghadang? Ataukah cinta akan lenyap terbawa angin ketika harapan membumbung tinggi dan kenyataan melumpuhkan asa karena bertolak belakang dengan fakta dan realita yang terjadi?

Saya punya nilai cinta seperti ini :

Saat-saat kami menghadapi musibah adalah saat paling tepat bagi saya untuk mengukur kadar dan nilai cinta kepada istri sejawat dalam menapaki hidup ....Sungguh merupakan pengalaman pertama saya menghadapi situasi dan suasana seperti ini. Ketika kecelakaan lalu lintas menimpa istri, seketika semua fungsi berpindah dalam berkeluarga berpindah. Istri yang biasanya mengurus dan melayani segala hal keperluan saya, kini saya yang mengurus segala kebutuhannya. Disitulah indikator akan nilai cinta dimulai.

Saya mulai menemani kekasih saya dari saat tabrakan hingga ke Rumah Sakit. Sekian hari saya merawat dan melayani istri tercinta dan menghabiskan materi lumayan besar. Seandainya cinta tidak bergesar hakekatnya, maka nilainya akan lebih suka memberi dari pada menyimpan --ingat semasa pacaran senangnya ditraktirin.

Selanjutnya karena dirujuk ke RS yang lebih besar, maka kami pun menyiapkan anggaran transportasi dadakan yang lumayan besar. Kantung kami semakin terkuras, ketika istri saya harus menjalani operasi dan opname. Semua itu menghabiskan uang puluhan juta rupiah.

Tak hanya sampai situ, wanita yang sangat saya sayangi pun measih harus menjalani rawat jalan selama beberapa minggu. Saya menjalani dan melewati hari-hari itu bersama istri. Anehnya, di tengah kesulitan melanda, cobaan mendera, semakin hari saya malah semakin menyadari, betapa nilai cinta aku terhadap dia, cinta dia terhadap aku melebihi apapun. Kesehatannya,
keceriaannya, kebahagiaannya berada di atas segalanya.

Inilah nilai cinta kita untuk pengorbanan. Berapa pun uang kita keluarkan dari kantung, jika itu membuatnya tersenyum bahagia, maka nilai rupiah menjadi tak berarti.....Tak ada yang terpenting selain dia sembuh dan ceria kembali. Aku merangkul cinta. Aku berselimut kehangatan dia.

Seberapa besarkah nilai cinta kita?

ILUSTRASI FOTO-FOTO DOK REDAKSI 

MODERATOR - Penggagas KoKi : ZEVERINA

Pembaca "KOLOM KITA" (KoKi) entah di Bontang, Inggris, Bali, Belanda, New Jersey, Kuwait, Australia, atau di Kediri, silakan berbagi peristiwa seputar kehidupan sehari-hari. Kirimkan artikel dan foto melalui form "Kirim Artikel", jika mengalami kesulitan kirimkan melalui email: temennyazev@gmail.com ; kokizeverina@gmail.com


1 dari 3 Halaman Komentar | First Prev Next Last
penulisnya kok gak keliatan? Wahhh lg nengok pujaan ht ya?..pantesan...
Posted by: dewimeong | Kamis, 31 Mei 2012 | 20:05 WIB
keren kaya yg nulis ya?? oma?? hihihi
Posted by: dewimeong | Selasa, 29 Mei 2012 | 16:13 WIB
Tulisan yang keren
Posted by: SU | Selasa, 29 Mei 2012 | 11:06 WIB
Nilai cinta orang tentunya berbeda beda ada yg mengutamakan materi , maka cintanya harus dapat di ukur dengan materi, makin banyak materi yg diperoleh tandanya cintanya besar, hihihi......kegilaan materi tidak hanya berlaku masa kini , jadul juga dah berlaku demikian.....banyak kan kisah2 cinta yg dilandasi oleh materi dan ambisi....tinggal kita mau pilih ya mana???
Posted by: dewimeong | Selasa, 29 Mei 2012 | 06:31 WIB
ini dia , siraman rohani ttg cinta yg cool dan perlu disimak ... <3 <3 <3
Posted by: sirpa | Senin, 28 Mei 2012 | 21:29 WIB
Anda harus login untuk memberi komentar pada Artikel ini...
About KoKi | Info iklan | Privacy policy | Terms of use| Karir | Contact Us
 
© 2008 - 2009 KoKi. All rights reserved