JUMAT, 24 MEI 2013
 
        Lupa Password?

detikTravel

detikTravel

Info Promosi Travel

  • 1

    Rp .000

  • 2

    Rp .000

Wego
Tags
This will be shown to users with no Flash or Javascript.
KoKiLove
CITIZEN JOURNALISM: SIAPA SAJA, MENULIS APA SAJA
Hidup Bersama Tak Jamin Pernikahan Langgeng
VOA-Indonesia

Penelitian di Amerika menunjukkan bahwa hidup bersama pra-nikah tidak menjamin kelanggengan perkawinan.

Sebuah penelitian pemerintah Amerika menunjukkan hampir separuh dari pernikahan pertama di Amerika berakhir dalam 20 tahun. Penelitian baru tersebut, bagian dari survei pernikahan terhadap 22.000 laki-laki dan perempuan di Amerika, menunjukkan tidak berlakunya kaidah bahwa kohabitasi atau hidup bersama pra-nikah berpeluang kecil bagi kelanggengan pernikahan.

“Kohabitasi tidak lagi berperan besar dalam memprediksi perceraian seperti sebelumnya,” kata Casey Copen, ketua tim penelitian tersebut.

Kohabitasi sebelum menikah telah menjadi tren yang kian berkembang. Akhir tahun 1960-an hanya sekitar 10 persen pasangan di Amerika tinggal satu atap sebelum menikah, dan kemudian bercerai.

Sekarang, sekitar 60 persen pasangan tinggal satu atap sebelum mereka menikah.
“Itu menjadi semakin umum. Tidaklah mengejutkan bahwa praktek ini tidak lagi berdampak negatif pada stabilitas pernikahan,” tutur Wendy Manning, salah seorang ketua Pusat Penelitian Keluarga dan Pernikahan pada Bowling Green State University, Ohio.

Tim peneliti pada Pusat Pemberantasan dan Penanggulangan Penyakit Amerika (CDC) mengamati berbagai tren dalam pernikahan pertama. Mereka mewawancarai laki-laki dan perempuan berusia 15 hingga 44 tahun selama 2006 hingga 2010. Sekitar 40 persen dari mereka menikah.

Penelitian itu mendapati, mereka yang bertunangan dan tinggal satu atap sebelum menikah, kemungkinan pernikahannya bertahan 15 tahun, seperti pasangan yang sebelumnya tidak tinggal satu atap.

Tetapi, kalau tidak ada komitmen pernikahan yang kuat ketika mereka tinggal satu atap, peluang sebuah pernikahan akan bertahan 15 tahun berkurang menjadi 53 persen. Persentase ini kurang lebih sama bagi laki-laki.

Penjelasan yang mungkin adalah sikap yang lebih longgar terhadap komitmen, rendahnya pendidikan, atau sejarah keluarga yang membuat pasangan-pasangan itu lebih pesimistis mengenai pernikahan.

Menurut Richard Settersten Jr, guru besar bidang pengembangan sumber daya manusia dan ilmu keluarga pada Oregon State University, pengalaman kohabitasi sebelum menikah berbeda bagi setiap pasangan.

Sebagian anak muda menunda pernikahan karena mereka mengejar pendidikan tinggi dan memulai karir. Bagi mereka, “kohabitasi adalah pernikahan percobaan, biasanya tanpa anak, yang seringkali berakhir pada pernikahan,” kata Settersten.
Komitmen menjadi faktor penting. Dalam wawancara dengan beberapa perempuan yang sudah menikah 20 tahun atau lebih setelah hidup bersama dengan pasangan mereka, keyakinan kuat mengenai masa depan bersama menjadi tema umum.

Penelitian CDC juga menyimpulkan bahwa hampir separuh dari pernikahan pertama akan berakhir dalam 20 tahun. Ini kurang lebih sama dengan temuan sejumlah penelitian lain.

Persentase perempuan muda yang sekarang tinggal dengan pasangan laki-laki naik dari tiga persen pada 1982 menjadi 11 persen.

Perempuan dan laki-laki dengan gelar S-1 lebih mungkin menunda pernikahan, tetapi juga lebih mungkin untuk akhirnya menikah dan bertahan setidaknya 20 tahun.
Perempuan muda Asia paling besar peluang pernikahan pertamanya, bertahan minimal 20 tahun. Hampir 70 persen perempuan Asia masih dalam pernikahan pertama, sedangkan perempuan kulit putih 54 persen, perempuan Latin 53 persen, dan 37 persen bagi perempuan kulit hitam.

Sumber:www.voaindonesia.com/content/hidup_bersama_tak_jamin_pernikahan_langgeng/110775.html

ILUSTRASI FOTO-FOTO DOK REDAKSI 

MODERATOR - Penggagas KoKi : ZEVERINA

Pembaca "KOLOM KITA" (KoKi) entah di Bontang, Inggris, Bali, Belanda, New Jersey, Kuwait, Australia, atau di Kediri, silakan berbagi peristiwa seputar kehidupan sehari-hari. Kirimkan artikel dan foto melalui form "Kirim Artikel", jika mengalami kesulitan kirimkan melalui email: temennyazev@gmail.com ; kokizeverina@gmail.com


1 dari 4 Halaman Komentar | First Prev Next Last
Nggak pernah merasakan hidup bersama sebelon menikah, jadi nggak tau..wkwkwk
Posted by: Yuka-Kobe | Selasa, 24 April 2012 | 18:26 WIB
Perkenalan singkat juga tak jamin pernikahan langgeng... Pacaran lama tanpa hidup bersama juga tak jamin pernikahan langgeng... hehehe peace:)
Posted by: farvel | Senin, 9 April 2012 | 19:57 WIB
Aku punya rekan kerja disini, dia sudah hidup bersama pacarnya selama 13 thn trus mrk nikah, tp pernikahan masih seumur jagung harus berakhir di palunya hakim pengadilan.. jd aku bertanya sm dia.. selama 13 thn apa saja yg kalian lakukan? hahaha... btw sebenarnya hidup bersama itu ada baiknya jg karena kita hidup di zaman yg sudah amat canggih dan modern.. dan perilaku manusia jg sudah berubah.. Gak selamanya hidup bersama itu "negatif" tergantung dr individunya sj dlm menjalankan dan mengartikannya.. jd kalau mrk2 yg sudah hidup bersama akhirnya bercerai sudah menikah.. jgn disalahkan "hidup bersama" nya dong krn byk jg yg akhirnya cerai walau tdk hidup bersama.. lain padang lain ilalangnya kan?.. Btw aku bukan penganut hidup bersama juga bukan anti hidup bersama... Bagiku yg penting jalani hidupmu dgn sebaik2nya... kalau kamu anggap hidup bersama adalah baik utk kamu..yah go ahead.. no problema bgku.. wong kt jalani hidup masing2 kok.. dosa atau tidak hanya Tuhan yg dapat menilai dan menentukannya
Posted by: farvel | Senin, 9 April 2012 | 19:47 WIB
Seandainya saja saya hidup di Indonesia maka sayapun tidak setuju dengan budaya hidup bersama. Anak saya hidup bersama dengan pacarnya. Ketika saya bertanya mengapa harus tidur di rumah pacar daripada tidur di kamar sendiri di rumah? Ia menjawab bahwa ia mempunyai kamar di basement dan orang tua sang pacar sangat senang dengannya. Namun ketika pacar memperkenalkan ke orang tuanya maka ia ditanya macam-macam oleh orangtua si pacar: "who are you", where do your parents work"? dllnya. Buset dah. Sebaliknya saya bertanya kepada anak saya "is she a good girl"? "What is her plan for education"? hahahaha.Podod wae.
Posted by: Old T.Moken | Sabtu, 7 April 2012 | 10:13 WIB
wkwkwk wolfnya atut juga ama meong,.aneh dweh..nama jg wolf jadi2 an.!
Posted by: dewimeong | Sabtu, 7 April 2012 | 10:02 WIB
Anda harus login untuk memberi komentar pada Artikel ini...
About KoKi | Info iklan | Privacy policy | Terms of use| Karir | Contact Us
 
© 2008 - 2009 KoKi. All rights reserved