Aku tidak sabar ingin mengenakan baju penganten
Yang tidak pernah aku kenakan ketika menikah dengan suami terdahulu
Gaun penganten yang indah ini akhirnya aku kenakan juga dihadapanmu
Dengan bunga ditangan sebagai pelengkap di hari pernikahan ini
Aku berjalan di sampingmu menuju altar
Dengan senyuman dan linangan airmata bahagia
Diiringi alunan musik yang romantis
Kau masukan cicin di jari manisku
Ku masukan cicin di jari manismu
Bibirmu beradu dengan bibirku..
Tatapan matamu dan mataku berbicara
Mengungkapkan rasa bahagia kita
Yang telah dipertemukan kembali
Setelah kita berpisah setengah abad lamanya
Dipisahkan oleh waktu yang cukup panjang
Melalui kisah kehidupan masing-masing yang berliku
Cinta kita seputih rambut kita saat ini
Walau tangan kita sudah mulai keriput
Kita bergandengan tangan dengan mesra meninggalkan altar
Menuju sebuah tempat yang indah dan romantis
Menikmati bulan madu kita di usia senja
Saat malam penganten tiba..
Aku bukan perawan lagi
Kau bukan perjaka lagi
Malam penganten kita tetap berkesan
Walau tidak ada tetesan darah tanda perawan
Hanya pelumas yang aku oleskan
Tanda bahwa aku sudah menopause
Untuk mengurangin rasa sakit dan nyeri
Yang pernah aku rasakan saat aku masih perawan
Puisi Mbeling-karya-La Rose Djayasupena. Belanda, 15-08-2011
ILUSTRASI FOTO-FOTO DOK REDAKSI
MODERATOR - Penggagas KoKi : ZEVERINA
Pembaca "KOLOM KITA" (KoKi) entah di Bontang, Inggris, Bali, Belanda, New Jersey, Kuwait, Australia, atau di Kediri, silakan berbagi peristiwa seputar kehidupan sehari-hari. Kirimkan artikel dan foto melalui form "Kirim Artikel", jika mengalami kesulitan kirimkan melalui email: temennyazev@gmail.com ; kokizeverina@gmail.com