| KoKiLife |
CITIZEN JOURNALISM: SIAPA SAJA, MENULIS APA SAJA
Komodo Bujangan
Hampir dapat dikatakan semua kaum Pria mendambakan memiliki kekasih yang serba wah atau sesempurna mungkin. Mulai dari penampilan tubuh tinggi semampai, berwajah cantik, berpenampilan feminin, bersifat kalem anggun keibuan, pandai memasak, memiliki IQ tinggi sampai tidak ketinggalan kalau bisa juga kaya raya sekalian. Jadi komplit lah istilahnya.
Tapi mana ada yang sempurna seperti itu di dunia ini, meski seorang ratu kecantikan pun pastilah memiliki beberapa kekurangan. Itu kan berarti tetap tidak sempurna. ketika saya berusia 18 - 24 tahun, impian memiliki kekasih seperti itu lah yang selalu menari-nari di bayanganku. Pada masa-sama itu, tak luput sayapun tentunya berusaha mencari calon pacar seperti halnya teman-teman sebaya lainnya. Tetapi kawan-kawan sudah terlebih dahulu mendapatkan pacar, malahan diantara mereka sudah ada yang menikah muda di usia 20 - 22 tahun. Jadi saya waktu itu suka bertanya kepada diri sendiri, loh kok mereka begitu lebih mudah mendapatkan pasangan dan menikah? Apa yang salah dengan diri saya?? Rasanya gak adil gitu nasib baik tidak berpihak kepada saya. Setelah lama merenung dan interospeksi diri, ternyata saya menemukan jawabannya. Pertama, karena saat itu saya berkulit gelap. Maklum olahraga yang saya geluti setiap hari adalah berenang, sehingga kulitku terpanggang matahari dan menjadikannya gelap. Udah gitu potongan rambut saya cepak, sampai-sampai mendapatkan julukan "si Lutung." ...wkwkwk . Iyah...Lutung Kasarung. Pria berkulit hitam sih gak laku deh ama cewek waktu itu.
Kedua, karena saya bukan ''Tanki Bensin'' alias gak punya ''Kuda Besi'' atau lebih populer Motor Bike. Ini menjadi faktor penentu, karena di era tahun 60 - 70-an, pria gak laku kalau berkulit gelap dan tidak memiliki paling sedikit motor lah. Nggak heran di kota Bandung waktu itu ada istilah Cewek Bau Bensin. Gak tahu apanya yang bau bensin, apa keteknya gitu ??
Pria idaman cewek umumnya di masa itu, minimal harus berkulit mulus, ’’tanki bensin’’ dan beruang. Baru deh kalau syarat-syarat itu terpenuhi bisa menjadi inceran cewek. Kebetulan kebanyakan kawan saya penampilannya ditunjang oleh orangtuanya. Sedangkan saya sejak remaja sudah tidak mempunyai ayah lagi Meskipun demikian saya tetap berusaha mencari pacar, karena segala sesuatu itu kan bisa terwujud atas usaha diri sendiri dan tidak datang dengan sendirinya. Nggak akan pernah kejadian dari langit turun kepangkuan. Tapi heran bin ajaib semakin mencari malah semakin banyak penolakan. Hancurlah hatiku berkeping-keping. Saya jadi berantakan seperti kaca pecah. Untung ajah gak bunuh diri di pohon taoge. Disamping mencari sendiri, kadang saya dibantu oleh adik saya. Dia memperkenalkan dengan teman-temannya. Istilahnya adik saya jadi mak comblangnya karena mengetahui hampir semua teman saya sudah menikah. Tinggal nih abangnya masih single melulu. Pergi kemana-mana sendiri saja.
Meski sering sekali diperkenalkan dengan teman-teman adik, tetap ajah belum dapet-dapet. Ada yang saya suka, tapi ternyata si idaman hati sudah ada yang punya; Ada yang masih single, tapi sekarang giliran saya yang gak tertarik. Jadi maju salah, mundur salah. Sampai suatu saat pernah terlintas dalam pikiran, saya mengambil keputusan untuk sekalian tidak menikah saja. Saya mau menjadi Pastor atau Marinir, atau jadi Radio Marconist Operator saja. Saya curhat tentang semua kegalauan itu hanya kepada seorang sahabat yang akhirnya menjalar cepat sampai ketelinga keluarga besar ayah saya, dan tentunya nenek saya. Wahhh.... jadi gempar lah keluarga besar. Keputusan saya ditentang keras oleh segenap keluarga besar ayah saya, terutama nenek saya yang tegas-tegas menyatakan sangat tidak setuju dengan keputusan itu. Saya amat menghormati dan menyayangi nenek. Ada suatu peristiwa yang tak akan saya lupakan. Nenek pernah memberikan sesuatu kepada saya yang sangat tidak bisa saya lupakan.
Hidup berjalan terus dan saya tenggelam berlama-lama dalam being single. Malah cenderung tidak ramah lagi terhadap wanita. Saya cuek, kaku, dan agak kasar. Begitulah komentar kedua adik perempuan saya. Saya hanya berkonsentrasi kedalam kehidupan pekerjaan saya saja. bersambung...... ILUSTRASI FOTO-FOTO DOK REDAKSI MODERATOR - Penggagas KoKi : ZEVERINA Pembaca "KOLOM KITA" (KoKi) entah di Bontang, Inggris, Bali, Belanda, New Jersey, Kuwait, Australia, atau di Kediri, silakan berbagi peristiwa seputar kehidupan sehari-hari. Kirimkan artikel dan foto melalui form "Kirim Artikel", jika mengalami kesulitan kirimkan melalui email: temennyazev@gmail.com ; kokizeverina@gmail.com
|
| About KoKi | Info iklan | Privacy policy | Terms of use| Karir | Contact Us |
|