JUMAT, 24 MEI 2013
 
        Lupa Password?

detikTravel

detikTravel

Info Promosi Travel

  • 1

    Rp .000

  • 2

    Rp .000

Wego
Tags
This will be shown to users with no Flash or Javascript.
KoKiLife
CITIZEN JOURNALISM: SIAPA SAJA, MENULIS APA SAJA
Pesan Terakhir Yang Terabaikan (part 2)
Farvel - Spanyol

Hari kepergiannya itu, adalah hari yang paling melelahkan sepanjang hidupku dan suami. Terutama panjangnya urusan-urusan birokrasi yang harus kami lalui.

Namun tidak ada sedikitpun kesulitan yang kami temui hanya saja kami memang harus melakukan segala urusan itu. Dari mulai menelepon polisi, dokter, hingga segala sesuatunya jelas dan kami memegang report kematian dari dokter dan polisi. Setelah itu kami menelpon rumah duka. Memilih paket apa yang akan kami ambil dalam prosesi kematiannya.

Saat jam menunjukkan pukul 4.55 pagi jenazah tante Ann dibawa oleh pertugas rumah duka dari rumah kami. Dan hujan yang lebat ditambah kilat yang menyambar-nyambar menjadi saksi bisu kepergian tante Ann dari rumah kami.

Keinginan tante Ann sebelum meninggal adalah agar supaya jenazahnya di bakar dan abunya ditebar di segala sudut taman yang ada di dekat rumah beliau. Semasa hidupnya tante Ann memang penyayang kucing. Di teras rumahnya dia membangun beberapa rumah kucing untuk tempat kucing-kucing peliharaannya. Beliau juga acap kali memungut anak kucing yang terlantar di jalan-jalan sepanjang dia berjalan.

Beliau berpesan sebulan sebelum meninggal, agar abunya di sebar di segala sudut taman Z yang ada di kota tante Ann. Beliau ingin agar senantiasa dekat dengan anak-anak kucing yang sering melintas di taman tsb. Begitu cintanya tante Ann dengan binatang. Sehingga dia berpesan agar menebar abunya di taman.

Setelah tante Ann tiada, kami terpaksa memutuskan kontrak kerja dengan Celia. Sebenarnya kasihan juga melihatnya, dia mempunyai anak balita di negaranya dan dia memang sangat membutuhkan pekerjaan untuk dapat mengirim uang ke keluarganya setiap bulan. Namun akan menjadi sia-sia kalau kami tetap memperkerjakannya, disamping kami tidak mempunyai anak, kami berdua juga jarang berada di rumah. Jadi untuk apa?

Setelah berembuk dengan agenci tempat Celia bernaung kamipun dapat menyelesaikan kontrak kerjanya yang tidak sampai satu tahun. Kami berharap Celia dapat menemukan pekerjaan secepatnya. Satu persatu urusan demi urusan akhirnya dapat kami selesaikan dengan baik.

Beberapa minggu kemudian setelah kami mempunyai waktu yang luang, suami, mertua dan aku membuka surat wasiatnya. Betapa terkejutnya kami, ternyata rumah tante Ann dihibahkan kepada suami sebagai keponakannya. Maka kami harus mengurus rumah peninggalan tante Ann.

Akhir tahun kami pergi melihat rumah tante Ann, banyak debu disana. Maklun sudah hampir satu tahun rumah itu kosong tanpa ada yang urus. Tiba-tiba rumah itu menjadi tua dan jelek. Tidak ada senyum mengembang di bibir tante Ann saat membukakan pintu untuk kami ketika kami berkunjung. Ah.. tante Ann pasti sudah tenangdi surga dan melihat kami saat ini sedang berada dirumahnya.

Setahun kemudian, kami memutuskan untuk menjual rumah tante Ann. Dengan segala biaya yang kami keluarkan selama ini untuk memaintance rumah itu rasanya lebih baik kami jual saja. Toh kami juga tidak ada waktu untuk memantaunya dan melihat-lihatnya. Begitu banyaknya uang yang kami keluarkan selama satu tahun ini.

Musim panas tahun 2011 suamiku mengambil semua foto-foto rumah tante Ann dan memasangnya di webside iklan penjualan rumah. Tidak berapa lama berlangsung suamiku mulai menerima telepon dari orang-orang yang tertarik untuk melihat rumah itu. Karena kami tinggal di Madrid jadi kami selalu membuat janji dengan beberapa peminat untuk bertemu disana di hari weekend saja. Karena hanya di hari sabtu dan minggu saja kami bisa kesana.

Begitu seterusnya hinga memasuki tahun 2012. Kami harus bolak-balik Madrid dan kota dimana rumah itu berada. Semua terkuras selama rentang waktu itu. Pernah suatu hari, rumah itu hampir 90 % terjual, namun akhirnya si pembeli tidak mendapat pinjaman dari bank. Maklum saja dengan kondisi perekonimian di Eropa saat ini jelas sangat susah mendapatkan pinjaman uang.

Padahal berminggu-minggu sebelumnya kami sudah mengurus bersama-sama dengan calon pembeli. Saat itu kami benar-benar merasa gembira yang sebentar lagi terlepas dari satu msalah. Namun akhirnya kami harus meratap sedih tatkala mengetahui kalau si pembeli tidak mendapatkan pinjaman dari bank.

Kami tidak menyerah, kami masih juga menunggu keajaiban. Berharap rumah itu akan jatuh ketangan orang yang benar-benar bisa membelinya. Akhirnya harganya kami turunkan hingga beberapa persen, karena kami ingin rumah itu terjual secepatnya.

Begitu banyaknya kejadian-kejadian seperti di atas yang kami alami. Awal-awalnya kami yakin rumah itu akan terjual selangkah lagi namun diakhir episode malah sad ending. Selalu kendalanya berada pada bank. Kami sangat stress dengan semua itu.

Kulihat wajah kusut suamiku, ketika dia baru saja menerima telepon dari si calon pembeli yang mengatakan kalau pihak bank tidak menerima pengajuan pinjamannya. Suamiku lesu, itu adalah kejadian yang sama untuk kesepuluh kalinya. Kami berpelukan dan menangis berdua.

Tiba-tiba aku teringat dengan pesan tante Ann, aku mereka-reka: jangan-jangan yang membuat rencana kami tidak mulus dikarenakan tante Ann belum tenang di atas sana. Jangan-jangan karena abunya masih kami simpan dan belum kami tebar di taman seperti yang dia inginkan. Pesan terakhir tante Ann yang benar-benar kami abaikan selama ini.

Sebenarnya kami tidak mengabaikannya, hanya saja suami ingin setelah kami menjual rumah itu akan membuat prosesi penguburan tante Ann. Suami ingin abu tante Ann dikubur di pekuburan keluarga tante Ann. Itulah sebenarnya rencana selanjutnya. Namun entah mengapa setiap segala sesuatunya begitu baik di awal-awal, akhirnya gagal di akhirnya. Dan aku berfikir kalau tante Ann tidak mau atau tidak setuju dengan rencana suami yang ingin menguburkannya.

Kukatakan pada suami perihal pesan terkahir tante Ann, suamiku tidak setuju dengan pesan terakhir tante Ann. Ketika dia mendengarkan pesan terkahir itu dari tente Ann sebulan sebelum beliau meninggal, suami hanya berfikir kalau tante Ann hanya menggigau saja karena dia saat itu tampak sehat sekali. Suamiku ingin agar tante Ann dikubur seperti seluruh sanak keluarganya. Abunya dimasukkan di pekuburan keluarganya yang ada di kota X. Jadi sewaktu-waktu kami sebagai orang terdekatnya bisa ziarah disana.

Cukup sengit juga pembicaran antara aku dan suamiku. Aku katakan kalau dia tidak bisa berbuat begitu. Apa yang di pesankan tante Ann selayaknya kami lakukan. Karena itu adalah benar-benar keinginannya semasa dia hidup. Namun dasar bule yang tidak percaya dengan hal-hal seperti itu. Suamiku berkeras untuk tidak akan menebar abu tante Ann di taman Z.

Aku katakan pada suami, lihatlah segala keruwetan yang kita alami dalam menjual rumah itu. Aku yakin tante Ann tidak mau abunya di kubur di pekuburan keluarganya. Makanya rumah itu tidak terjual-jual. Karena seperti rencana suami, sebagian uang dari penjualan rumah itu akan kami gunakan untuk prosesi pemakaman tante Ann. Suami hanya menepuk pipiku dan mengatakan kalau aku sangat percaya dengan hala-hal mistik.

Begitu susahnya aku menjelaskan padanya bahwa itu bukanlah hal mistik. Ku katakan kalau itu benar-benar nyata dan harus kita laksanakan agar rumah itu bisa terjual secepatnya. Suamiku tetap pada pendiriannya, dan dia tetap pada pendiriannya untuk menguburkan Tante Ann di pekuburan keluarganya.

Satu bulan kemudian, akhirnya kami menemukan seorang pembeli yang positif untuk membeli rumah itu. Betapa gembiranya kami berdua. Terbayang dipelupuk mata setelahnya kami tidak akan direpotkan dengan urusan bolak-balik dari Madrid ke kota X lagi. Seminggu lebih suami harus izin dari pekerjaanya untuk bisa menetap sementara waktu di kota X. Tak henti-hentinya aku memanjatkan doa agar kiranya kali ini semuanya menjadi akhir dari kerepotan kami selama ini.

Telepon genggamku bergetar lalu kuangkat dan kudengar suara suamiku yang sedikit terisak-isak. Dia mengatakan kalau calon pembelinya meninggal. Aku melontarkan pertanyaan yang bertubi-tubi kepadanya. Suamiku berkata dia menerima kabar kalau si calon pembeli mengalami kecelakaan dan menewaskannya seketika. Suamiku pergi ke rumah duka dan menemukan calon pembelinya sudah menjadi jenazah.

Aku lemas dan kukatakan pada suami agar kembali ke madrid malam itu juga. Aku gelisah dan ingin rasanya pergi ke kota X dan mencari taman Z untuk menyebar abu beliau. Aku sangat yakin, pesan terakhir tante Ann sangat berpengaruh dengan kejadian-kejadian yang kami alami selama ini.

Hampir dini hari suamiku tiba di Madrid. Wajahnya kusut dan murung. Kukatakan agar dia berisitirahat saja agar besok hari kami bisa berbicara dan berdiskusi. Ku amati langkah-langkah gontai suamiku. Dia menerima telepon dari istri si calon pembeli ketika suaminya mengalami kecelakaan di pagi hari. Sebenarnya pagi itu antara suami dan calon pembeli akan bertemu untuk melakukan segala urusan-urusan dalam penjualan rumah itu. Namun takdir berkata lain, istri si calon pembeli tidak bisa melanjutkan pembelian itu. Dan kami harus menelan pahit kegagalan lagi.

Di pagi hari setelah sarapan aku mengajak suami untuk pergi ke sebuah cafe agar perbincangan kami terasa santai dan menyenangkan. Di cafe itu kuutarakan kembali pesan terkahir tante Ann. Kukatakan pelan-pelan kalau kami harus menyebar abunya di taman Z dikota X. Tatapan kosong dari suamiku menjadi pemandangan yang memilukan pagi menjelang siang itu.

Tanpa di duga, suamiku akhirnya setuju dengan saran ku. Aku berteriak girang dan menghujaninya dengan ciuman hangat. Lalu kami merencanakan untuk secepatnya ke kota X dan mencari taman itu. Aku katakan pada suami kalau aku sangat yakin 100% setelahnya, segala urusan akan lancar dan sebelum tahun 2013 rumah itu akan terjual. Tidak asal-asal aku mengatakan pada suami saat itu. Karena tadi malam aku berdoa khusuk dan meminta kekuatan Tuhan untuk bekerja dalam rencanaku ini. Aku juga meminta pertolongan Roh Kudus untuk mengetuk pintu hati suamiku agar mau menerima saranku itu.

Dua hari kemudian kami pergi ke kota X, saat ini aku sudah tidak bekerja lagi sehingga aku tidak menemukan kesulitan dalam hal izin tidak masuk kerja. Suamiku yang harus memperpanjang izin tidak masuk kerja di kantornya. Kami merencanakan menetap satu minggu di sana.

Ketika suamiku menyatakan siap untuk melakukan ritual penyebaran abu tante Ann, aku menarik tangannya dan kukatakan padanya kalau inilah yang di inginkan beliau. Malam hari kira-kira jam 12 malam aku dan suami berdiri tegak di pintu taman Z. Suamiku menarik nafas panjang sebelum akhirnya dia membuka guci tempat abu tante Ann bersemayam selama ini.

Suamiku menyerahkan segalanya kepadaku, apa-apa yang harus kami lakukan dari awal hingga proses penyebaran. Ada rasa dag-dig-dug di hati, kalau-kalau ada polisi yang sedang patroli saat itu. Karena menyebar abu di taman adalah ilegal. Tapi kami hanya mau mengabulkan permintaan tante Ann, kami hanya mau melakukan apa yang dia inginkan selama hidupnya. Hanya itu saja lain tidak!

Sungguh jangan ditanya perasaan ku saat itu. Sepanjang hidupku tidak pernah aku menyebar abu dari orang meninggal dan aku tidak pernah berperan 100% dalam prosesi penguburan. Ketika bundaku meninggal, ada pendeta yang memimpin prosesi penguburan beliau. Saat itu aku teringat dengan film “The Descendants”, dimana George Clooney yang berperan sebagai Matt King bersama dua anak perempuannya menyebar abu dari istrinya ke laut.

Sebelum proses penyebaran aku berkata-kata dengan khidmat, tidak perlu aku tulis disini ya KoKiers apa yang aku katakan saat itu. Setelahnya aku berdoa secara protestan dan suamiku secara katolik. Kulihat wajah suamiku begitu serius dan khusuk malam itu. Sebelumnya aku bertanya sama suamiku apakah dia ikhlas atau tidak. Dan puji Tuhan suamiku berkata kalau dia sudah ikhlas.

Kamipun mulai menyebar abu dari satu sudut ke sudut-sudut yang ada ditaman itu. Pohon-pohon bergoyang-goyang dan hembusan angin ditaman itu menambah sensasi yang sulit dilupakan. Malam itu adalah awal musim semi tahun 2012. Tidak ada sepatah katapun terucap dari bibir suamiku saat dia menyebar abu tante Ann. Aku selalu berdoa didalam hati dengan segala kalimat-kalimat yang selama ini telah aku persiapkan sebelumnya.

Beberapa menit sesudahnya suamiku duduk di bangku taman itu dan berkata, kalau perasaannya lega saat ini. Kupeluk dia dan kuakatakan terima kasih sudah mau melaksanakan prosesi ini. Kami pun beranjak pulang dan rasa lelah yang menghinggap membuat kami diam seribu bahasa.

Keesokan harinya, suamiku mengajakku ke kantor koran setempat. Dia ingin memasang iklan rumah itu di salah satu koran terbesar di kota tante Ann. Menjelang makan siang kamipun pergi ke kantor koran R. Kami memasang iklan di sana untuk  satu minggu sebagai pemula dulu, nanti kalau semuanya lancar kami akan memperpanjang iklan tersebut.

Dua hari kemudian, kami mulai menerima telepon dari si calon pembeli. Kali ini kami menanggapinnya biasa-biasa saja. Kami trauma dengan kejadian-kejadian sebelum-sebelumnya yang begitu antusiasnya kami yang pada akhirnya semuanya gagal dan membuat kami berdua down kembali. Kali ini kami belajar dari kegagalan. Kami bersikap lebih santai menghadainnya.

Dan tidak sampai satu minggu, rumah tante Ann akhirnya terjual. Tidak ada kendala yang kami hadapi. Sipembeli adalah seorang pensiun dari negara tetangga. Beliau ingin menikmati hari-hari pensiunannya di negara yang beriklim hangat seperti negara Spanyol. Ditambah lagi beliau pernah berlibur ke Indonesia bersama istrinya 20 tahun yang lalu. Jadi bisa dibayangkan begitu hangatnya perbincangan kami setiap kami bertemu.

Beliau berujar, kalau kami bisa kapan saja untuk berkunjung ke rumah itu. Kami bisa menikmati pemandangan dari teras rumah itu. Betapa baiknya pasangan tua itu. Mereka mengerti sebenarnya suamiku sangat berat melepas rumah itu. Namun karena kami tidak punya pilihan maka kami harus menjualnya.

Saat kami kembali ke Madrid, siangnya aku sedang belanja dan ku lihat telepon genggamku berdering. Suamiku berkata kalau besok si pembeli akan datang ke Madrid dan kami akan ke kantor notaris, untuk serah terima rumah itu. Setelah telepon kututup aku mencari sudut untuk meneteskan air mata. Aku menarik nafas panjang. Aku bersyukur pada Tuhan dan mengucapkan terima kasih kepadaNya.

Pesan terakhir tante Ann sudah kami laksanakan walau sedikit terlambat. Aku yakin kami sudah melakukannya dengan sebaiknya. Ku hentikan langkah-langkahku dan ku usap air mataku. Terbayang sejenak wajah tante Ann. Aku percaya saat ini beliau sudah dapat tersenyum.

Ps:
Segala bukti-bukti ada pada redaksi.
Bienvenida en nuestra casa tia: Selamat datang di rumah kami tante.

ILUSTRASI FOTO-FOTO DOK REDAKSI 

MODERATOR - Penggagas KoKi : ZEVERINA

Pembaca "KOLOM KITA" (KoKi) entah di Bontang, Inggris, Bali, Belanda, New Jersey, Kuwait, Australia, atau di Kediri, silakan berbagi peristiwa seputar kehidupan sehari-hari. Kirimkan artikel dan foto melalui form "Kirim Artikel", jika mengalami kesulitan kirimkan melalui email: temennyazev@gmail.com ; kokizeverina@gmail.com


1 dari 6 Halaman Komentar | First Prev Next Last
eh salah maksud gw temen babe gw laah, wkwkkwkw mana gw punya temen sakti getuu, hahahha....semoga amal beliau selalu menyertai keluarganya ( beliau juga sudah meninggal seh )
Posted by: dewimeong | Jumat, 22 Juni 2012 | 07:21 WIB
Inget pesan ayahku dl , disaat terakhir, kagak mau dimakamin di taman Makam Pahlawan, padahal kalau mau , enak , gratis , deket pulaak, wong babe gw meninggal di Jakarta, eh mintanya dikubur di Ambarawa, alamaaak, anehnya ada temen gw mau ngurus dan sponsorin pemakaman babe gw, jenazah babe gw diterbangin ke semarang terus dibawa ke Ambarawa, semuaaa gratiss juga ternyata, hahahaah.....dan beliau tetep dimakamkan secara Militer, wow kereeen !! hahaha........itulah permintaaan terakhir yang gak merepotkan, bisa dilaksanakan secara ajaib, hahahha............padahal babe gw bukan sapa2 , bukan penggede bukan jendral yg memang bisa dimakamkan secara gratis dan tahu beres, hihihi, Alhamdulillah dan Puji Tuhan, itu semua terjadi memang takdir dan amal yg meninggal yaaa
Posted by: dewimeong | Jumat, 22 Juni 2012 | 07:19 WIB
Farvel, pesan-pesan terakhir memang kadang aneh, nyleneh, tapi asal tidak mustahil dilakukan, memang perlu diperhatikan, mungkin saja ada hal-hal tersirat di balik itu
Posted by: Sumonggo | Jumat, 22 Juni 2012 | 06:40 WIB
Sama2 mbak, yang pasti tantenya udh tenang disana, krn pesannya sudah dijalankan, kadang percaya gak percaya ma yang begituan. Mis di tradisi tionghua, kalo ada keluarga yg meninggal mis nenek, kakek, ibu, ayah dll, ada kepercayaan kalo belum genap 1 thn, gak boleh membuat kue keranjang ato bacang katanya gak bakalan bisa matang masaknya. Percaya gak percaya, tp nyokap pernah mengalami hal tsb, kuenya gak mateng2 walau udh dimasak seharian, yg ada malah dibuang semua krn gak bs dimakan.
Posted by: funkeykey | Kamis, 21 Juni 2012 | 23:30 WIB
Vel, saya ngakak lagi baca komen saya . hahaha, konyol juga saya, gangguin Farvel. Thanks semuanya.
Posted by: Old T.Moken | Kamis, 21 Juni 2012 | 05:33 WIB
Anda harus login untuk memberi komentar pada Artikel ini...
About KoKi | Info iklan | Privacy policy | Terms of use| Karir | Contact Us
 
© 2008 - 2009 KoKi. All rights reserved