SENIN, 21 APRIL 2014
 
        Lupa Password?

detikTravel

detikTravel

Info Promosi Travel

Wego
Tags
This will be shown to users with no Flash or Javascript.
KoKiLife
CITIZEN JOURNALISM: SIAPA SAJA, MENULIS APA SAJA
Menyirami bibit Kebajikan
Dewi - Kuching

Judul itu aku baca di blog Pak GedePrama, pada sebuah pagi Paskah . Sebuah judul yang indah, menyejukan hati di hari Paskah ini, dimana umat Kristriani memperingati sebuah hari Kemenangan kebaikan hati sang Penebus.

Judul itu memang indah tapi bukan sebuah perbuatan yang mudah dilakukan oleh setiap manusia terlebih diriku sendiri. Manusia yang selalu penuh keakuan dan ketidakbaikan. Lawan kata dari sebuah kebajikan .

Judul tulisan Pak Gede Prama itu aku jadikan salah satu judul tulisanku kali ini --minta ijinnya ya pak..

Menurut blog Pak Gede Prama, setiap manusia selalu memiliki bibit kebaikan dan bibit kejahatan. Seperti setiap bibit maka diperlukan penyemaian dan perawatan. Bila bibit kejahatan yang dipupuki maka hanya sebuah kejahatanlah yang akan tampak pada manusia itu. Tapi bila bibit kebaikan telah dipupuki oleh siapa saja dalam lingkungan manusia itu, maka kebaikan itu juga akan tampak walau dari serorang mantan narapidana sekalipun.

Manusia selalu menamakan dirinya dengan kata kata yang baik, indah , penuh kebajikan, bukan dengan kata kata yang buruk ataupun penuh kejahatan. Seperti manusia tidak akan menamakan anaknya dengan Jitak, Pukul, Tendang, tapi menamakan putera puterinya dengan sebuah harapan akan kebaikan.; Seperti Hope ( harapan ), Kurniawan ( sebuah rahmat ), Jutawan ( kekayaaan ), Dewi ( keindahan ) dan lain lain.

Kedua anaku tidak pernah takut bila dihukum oleh gurunya, hingga guru mereka menjadi semakin kewalahan hingga berkonsultasi padaku. Sang guru menanyakan, hukuman apa yang paling baik diberikan agar anak-anakku menjadi lebih baik bukan menjadi semakin nakal.

Ternyata bila mereka diberitahu dengan lemah lembut, hal itu lebih berkesan, lebih bisa merubah kenakalannya daripada sebuah hukuman fisik. Mereka mungkin memiliki sebuah gen, tidak pernah takut, sehingga sebuah usapan lembut dengan kata-kata yang halus lebih dapat menundukkan hati mereka.

Awalnya akupun selalu menghukum mereka dengan sebuah hukuman fisik menjewer atau mencubit jika mereka sudah tertalalu nakal, tapi ternyata hal itu tidak mengurangi kenakalan mereka. Sebaliknya yang terjadi hukuman itu malah semakin mendorong kenakalan atau keburukan mereka.

Aku pun merubah strategi dalam menghukum mereka. Kali ini setiap mereka melakukan kenakalan, aku hanya memberi wejangan dengan kata kata lembut dan memberitahukan sebab dan akibat kenakalan mereka. Hasilnya positif.. Mereka tidak lagi menjengkelkan dan prilakunya menjadi lebih baik. Walau aku sebagaimana manusia biasa, ketika anak-anak membuat jengkel, aku masih suka marah. Tetapi aku tidak memberi hukuman dengan cara kekerasan atau pun secara fisik, karena semua itu jelas-jelas akan menyemai bibit- bibit keburukan pada kedua anaku. Memang diperlukan sebuah usaha keras ataupun pengendalian diri cukup baik, walau itu semua memang susah.

Dalam keluarga aku dulu, ayahku selalu memberikan hukuman fisik pada anak anak laki- lakinya bila melakukan kenakalan. Tetapi ibuku selalu mengusap fisik mereka dengan sebuah kelembutan hati, dan kata-kata halus serta menyembuhkan luka di hati mereka, maka menjadi seimbanglah bibit yang dipupuk tidak hanya bibit keburukan tapi juga bibit kebaikan. Hingga setelah dewasa mereka tidak ada yang menjadi manusia yang menakutkan bagi masyarakan, atapun senang melakukan kekerasan. Syukur alhamdulillah bibit kebaikan bersemai dengan baik di hati mereka semua. Mungkin akan menjadi berbeda hasilnya, saudara laki-lakiku hanya menerima hukuman kekerasan selama dalam perjalanan pertumbuhan mereka. Barangkali, jika saja mereka hanya mendapatkan hukuman dengan kekerasan dan fisik, saudara kandung laki-lakiku akan menjadi manusia yang selalu keras pada siapa saja yang ditemui selama hidup mereka atau bahkan manusia yang gemar akan kekerasan.

Aku senang kata-kata yang ditulis Pak GedePrama tentang, " Urutan langkahnya sederhana acceptance, understanding, loving kindness, compassion. Menerina kekurangan sebaik menerima kelebihan.

Itu langkah pertama , meminjam istilah guru meditasi, accepting without blaming is the true turning point of healing. Menerima tanpa menyalahkan adalah titik balik sebuah kesembuhan. Krusial dalam hal ini bagaimana dalam hal ini sebaiknya menerima manusia bermasalah sekaligus mengajak mereka menerima kekurangan hidupnya. Cahaya penerimaan lebih mudah dihidupkan bila dibangun di atas pengertian bahwa kejahatan tidak berdiri sendiri. Ada jejaring rumit berupa peradaban yang semakin gelap, keteladanan buruk elit, ketidakdewasaan orang tua, guru bermasalah, pemberiaan yang berisi terlalu banyak keburukan, lembaga agama yang mengalami krisis kharisma."

Temanku pernah mengalami masa masa sulit dalam hidupnya. Anak semata wayangnya terkena "kecanduan drug", untung mereka bukan menyalahkan kegagalan anaknya, tapi malah menerima kekurangan anaknya, mereka berdua saling berangkulan bersama ketika mengetahui kegagalan anaknya itu.

Mereka berdua memang justru melimpahan kasih sayang yang tulus dengan cara mengobati anaknya hingga tuntas, walaupun tidak sedikit biaya yang dikeluarkan untuk mengobati kecanduan anaknya itu. Tapi semuanya memang tidak sia-sia karena akhirnya justru bisa menyembuhkan anaknya, juga luka hati mereka berdua. Mereka berdua berhasil membuat anaknya bangkit kembali hingga kini justru semakin mengukir namanya sebagai salah satu manusia cukup sukses, juga sebagai seorang suami yang cukup bertanggungjawab serta seorang bapak yang pengasih.

Menyirami bibit kebajikan memang lebih susah, tapi biasa apa yang sulit akan membuahkan sebuah kebahagian sejati.

note: Selamat Paskah kepada Kokier yang merayakan

ILUSTRASI FOTO-FOTO DOK REDAKSI 

MODERATOR - Penggagas KoKi : ZEVERINA

Pembaca "KOLOM KITA" (KoKi) entah di Bontang, Inggris, Bali, Belanda, New Jersey, Kuwait, Australia, atau di Kediri, silakan berbagi peristiwa seputar kehidupan sehari-hari. Kirimkan artikel dan foto melalui form "Kirim Artikel", jika mengalami kesulitan kirimkan melalui email: temennyazev@gmail.com ; kokizeverina@gmail.com


1 dari 5 Halaman Komentar | First Prev Next Last
SU...masak seh?..hahaha buat aku seh msh jauh bngt dr oke ..msh mayan doank ..haha.. btw thanks dah dibilang bgs yao
Posted by: dewimeong | Selasa, 17 April 2012 | 18:20 WIB
Dew, makin lama kualitas tulisan nya makin mantap nih. Bagus, bagus.
Posted by: SU | Selasa, 17 April 2012 | 11:51 WIB
kebaikan itu memang kadang susah di ingat apalagi diwujudkan......hanya orang orang yng beruntung saja dapat mengingatnya dengan baik dan mewujudkannya....yah beruntunglah kalau punya ingatan tajam dan baik, dan mempunyai kesempatan untuk mewujudkan apa yang diingat itu, hehehe.... beruntunglah kalau sampe bisa tahu mana yang baik dan tidak baik, soalnya banyak kan manusia yang tidak tahu mana yang baik dan benar, dia tahunya korupsi itu boleh !! dia tahunya berbohong itu biasa, dia tahunya memukul orang itu adalah salah satu falsafah hidup seorang manusia, hehehe.....
Posted by: dewimeong | Minggu, 15 April 2012 | 09:10 WIB
vel, tahukah kamu bahwa kucing itu memang punya insting untuk mencuri ikan asin ....itu dah insting kucing, walau dia telah jadi kucing baek, wkwkwkkw.........kalau dia gak nyuri ikan asin dia dah berubah gak jd kucing lah, hihihi santo kucing, wkwkkw
Posted by: dewimeong | Minggu, 15 April 2012 | 08:59 WIB
Thx atas ucapannya...meong nakal yg telah bertobat tampaknya wkwkwk awas kalau nyuri ikan asin lg!
Posted by: farvel | Minggu, 15 April 2012 | 05:32 WIB
Anda harus login untuk memberi komentar pada Artikel ini...
About KoKi | Info iklan | Privacy policy | Terms of use| Karir | Contact Us
 
© 2008 - 2009 KoKi. All rights reserved