KAMIS, 17 APRIL 2014
 
        Lupa Password?

detikTravel

detikTravel

Info Promosi Travel

Wego
Tags
This will be shown to users with no Flash or Javascript.
KoKiLife
CITIZEN JOURNALISM: SIAPA SAJA, MENULIS APA SAJA
Pengalaman Turunkan Berat Badan
Walentina Waluyanti – Belanda


Tipis krempeng bak tripleks. Ibaratnya, sekali kena angin, bisa terbang kayak layangan. Itu dulu. Waktu masih ABG. Badan saya di masa remaja memang tidak ada menariknya sama sekali. Sejak kecil, saya selalu kuruuuus. Dan begitu terus selama bertahun-tahun...sampai dua bulan lalu, saya disapa seseorang, “Hah!? Ini Walentina? Kok jadi gemuk begini, sih?”

Dulu jika orang berbicara tentang diet dan olahraga, tak sedikit pun saya menyimak dan menaruh perhatian. Buat saya ini bahasan asing yang tidak ada ada sangkut pautnya dengan saya. Dulu juga saya tidak mengerti mengapa banyak orang berusaha mati-matian supaya terlihat langsing. Soalnya saya merasa tidak punya problem dengan hal itu. Dan dengan naifnya berpikir, mana mungkin saya bisa gemuk? Mungkin karena itu, saya makan apa saja yang saya mau, kadang melebihi takaran. Pokoknya asal enak, main hantam saja.


Yang tidak saya sadari, dengan bertambahnya usia, biasanya lemak juga punya peluang untuk tertimbun nyaman di dalam tubuh. Dan begitu juga yang terjadi pada saya, yang berusia “kepala 4 menuju 5” ini.

                                                 Solo - Central Java (Foto: Walentina)

Setelah mengalami sendiri, sekarang saya mengerti mengapa banyak orang harus bekerja keras untuk menurunkan berat badan. Bukan semata hanya alasan estetis. Tapi memang saya yang sempat mengalami kelebihan berat badan sampai lebih dari 10 kilo saja, merasa tidak nyaman bergerak. Seluruh engsel tubuh rasanya sakit dan pegal. Sungguh keadaan yang sangat tidak enak. Sehingga saya yang dulunya merasa asing dengan masalah ini, sekarang malah mengubah total pola hidup saya, demi terhindar dari masalah overweight.


Ketika liburan ke Indonesia tahun ini, berat badan saya sudah semakin bertambah. “Kamu kok tambah gemuk?”. Komentar bernada heran ini semakin sering terlontar dari keluarga, teman, dan kenalan. Ya, mereka heran, karena sebelumnya belum pernah mereka melihat saya “selebar” itu. Memang dua tahun terakhir ini, berat badan saya perlahan merayap naik, semakin naik. Terlebih seusai liburan di tanah air. Saya pikir, ini karena kebanyakan makan enak-enak selama di Indonesia. Maklum, balas dendam. Di tanah air, saya menemui banyak makanan nostalgia, yang sangat jarang bisa didapatkan di Belanda. Saya pikir, setelah pulang ke Belanda mungkin berat badan akan kembali normal.


Tapi baru saja kembali ke Belanda, cuaca begitu dingin, dan terus menerus hujan. Padahal liburan masih bisa dinikmati beberapa hari lagi. Karena itu suami mengajak liburan ke Belgia, yang saat itu bercuaca lebih hangat dibanding Belanda. Setiap orang yang berkunjung ke Belgia, pasti tidak akan melewatkan makanan khas Belgia. Yaitu kentang gorengnya yang terkenal itu.

                         Fast food, makanan yang sekarang saya takuti (Foto:Walentina)

Hampir setiap melewati pertokoan dan gerai makanan, begitu gampangnya saya membeli dan ngemil kentang goreng. Saya yang selama ini mengacuhkan problem berat badan, merasa santai saja. Ah, paling juga nanti berat badan saya akan turun lagi.


Tapi sementara itu saya mulai merasa aneh. Jeans dan rok saya semakin sempit. Semua T-shirt sudah tidak nyaman lagi dipakai, karena perut semakin membuncit. Yang juga aneh, karena setiap bergerak sedikit saja, rasanya kok susah banget ya? Gerak ini susah, gerak itu susah. Ketika pulang ke rumah, dan melihat timbangan....rasanya saya tidak percaya. Tiba-tiba saya merasa harus segera melakukan sesuatu. Ini tidak boleh dibiarkan! Pokoknya saya tidak boleh lagi membiarkan berat badan ini melaju seenaknya! Maka dengan sangat serius, saya mulai melakukan tindakan “gerak cepat”!


Langkah pertama yang saya lakukan yaitu mencari semua informasi di Google. Tentang bagaimana cara yang tepat untuk memperoleh berat badan ideal. Ada bermacam-macam cara diet. Ada bermacam-macam cara berolahraga. Saya berusaha memahami semua referensi yang saya baca.


Kunci untuk mengurangi berat badan, yaitu jumlah kalori yang masuk, harus lebih kecil dibanding jumlah kalori yang keluar, plus olahraga rutin? Hmmm...cara ini logis. Setidaknya cara ini tidak berisiko merugikan kesehatan, sepanjang tubuh tidak kekurangan semua nutrisi yang diperlukan.

Aneh juga saya mulai menghitung-hitung kalori setiap makanan. Sebuah majalah kesehatan memuat daftar panjang aneka menu makanan, lengkap dengan jumlah kalorinya. Juga ada berbagai jenis olahraga, dan info tentang berapa jumlah kalori yang bisa dibakar dari tiap jenis olahraga itu. Jika saya menyantap fuyunghai yang jumlah per porsinya 340 kilo kalori... ini artinya, sesudahnya saya mesti berolahraga, yang paling tidak mampu membakar kalori lebih dari 340 kilo kalori fuyunghay tadi. Olahraga apa? Sebuah artikel kesehatan menyebut bahwa jogging atau berlari selama 30 menit, bisa membakar kira-kira 298 kalori. Jadi kalau begitu, untuk bisa membakar lebih dari 340 kilo kalori fuyunghay, yang membuat berat badan saya bertambah itu, setidaknya saya mesti jogging satu jam? Atau pilihan lain, saya boleh makan fuyunghay, tapi porsinya dikurangi, sehingga saya tidak perlu olahraga ekstra, untuk bisa membakar sekian banyak kalori tadi. Masih ada alternatif lain? Ya, saya mesti tahu makanan apa yang rendah kalori, tapi sehat dan ... enak, tentu saja!

Setelah menyeleksi semua sumber yang saya baca, akhirnya saya menentukan cara yang paling cocok, setidaknya buat saya.


Saya ingin memperoleh berat ideal saya kembali. Tapi merasa ribet kalau harus ke fitness centre. Juga tidak ingin cara meminum obat-obatan, operasi, sedot lemak … hiiih, menyiksa diri tiap hari menahan lapar, diet super ketat, dan cara lain yang malah merugikan kesehatan. Saya membaca berbagai pengalaman orang yang gagal dan malah sampai sakit parah, karena menerapkan cara yang salah. Malah ada yang gara-gara keseringan menelan pil pelangsing, sampai diopname segala, gagal ginjal, dan harus cuci darah. Saya juga membaca berbagai pengalaman orang yang tekun dan konsisten dalam menjalankan program yang sehat dan tepat, sampai akhirnya bisa menurunkan berat badannya.


Setelah mencocokkan berbagai sumber, kesimpulannya, tak ada cara terbaik untuk menurunkan berat badan, selain pola makan sehat dan olah raga teratur...ditambah keinginan kuat! Setelah menimbang-nimbang untung ruginya, saya tidak yakin dengan cara diet: makan sesedikiiiit mungkin, tanpa olahraga. Selain bikin lemas, cara ini membuat massa otot menjadi berkurang. Otot kendor? Nggak, ah! Selain itu, menurut tips, jangan melewati satu pun jam makan! Makan pagi, makan siang, dan makan malam.

                                           Seafood di Makassar (Foto: Walentina)
 

Tetap makan 3 kali sehari, dengan karbohidrat, protein, vitamin, mineral, dan sumber nutrisi penting lainnya. Melewati jam makan, justru berpeluang mengganggu sistem metabolisme. Dengan makan teratur dan ngemil (yang sehat dan ditakar secukupnya), berefek baik bagi metabolisme tubuh. Metabolisme yang bekerja baik adalah kunci untuk menurunkan berat badan. (Duh, saya bukan dokter... buat dokter cantik Mbak Piper, tolong dikoreksi ya, kalau ada salah kata di artikel ini).


Yang juga penting adalah menakar porsi, memahami jumlah asupan kalori, serta mengetahui makanan apa yang sebaiknya dihindari. Makanan fast food (cepat saji) tidak lagi membuat saya ngiler, setelah tahu bahwa makanan ini sangat sedikit nilai nutrisi-nya, tapi sangat tinggi kalorinya. Rugi, ah! Sudah nyaris tak bernilai nutrisi, saya juga harus berolahraga ekstra untuk bisa membakar kalori tinggi fast food itu. Pokoknya begitu tahu makanan ini dan itu kalorinya tinggi banget, jadi hilang selera deh .... soalnya itu artinya, kalori itu harus dibakar dengan ekstra tenaga, lebih dari biasanya. Untuk memastikan bahwa program penurunan berat badan yang akan saya mulai ini tidak “salah jalan”, saya mulai membaca berbagai tulisan tentang nutrisi. Saya juga jadi tertarik membaca artikel tentang aerobik dan jenis olahraga lain yang efektif membakar kalori.


Tips bahwa makan malam sebaiknya paling lambat jam 18.00-19.00, setelah itu sebaiknya tidak makan lagi? Tips ini saya ikuti. Kalaupun tidak tahan lapar, sebaiknya ngemil buah saja. Pokoknya segala tips yang baik, logis, dan masuk akal, saya kumpulkan dan terapkan.


Tentu juga ditunjang kebiasaan seperti yang sering kita dengar, banyak minum air putih, mengurangi gula dan garam, tidak ngemil cemilan manis, asin, gorengan, dan menghindari makanan cepat saji. Ngemil boleh, asal tidak berlebihan, dan ngemil-nya lebih baik yang rendah kalori, misalnya buah dan kacang-kacangan (yang paling baik adalah kacang almond).


Walau lemak, gula, dan garam tentu ada juga manfaatnya bagi kesehatan, tapi saya mulai berhati-hati agar tubuh saya tidak perlu menampung semuanya di luar takaran. Coklat, permen, jajanan manis, gurih, asin, yang dulu begitu mudah saya konsumsi setiap saat, sekarang tidak lagi menggugah selera. Saya mulai membaca-baca efek lemak jenuh dan lemak tak jenuh pada kesehatan. Maklum, di usia saya, ketika metabolisme mulai melambat, tak ada salahnya untuk peduli pada masalah kesehatan.
Saya tidak minum kopi, hanya minum teh tanpa gula. Saya banyak minum teh hijau, yang konon baik untuk menurunkan berat badan. Padahal dulu saya tidak bisa minum teh kalau tehnya tidak manis, dan selalu sambil makan kue (biasanya kue kering buatan sendiri), pisang goreng, atau cemilan lainnya. Tapi semua kebiasaan itu sudah saya tinggalkan, dan tidak lagi saya lakukan sampai sekarang.

                                Teh manis dan kue nastar buatanku (Foto: Walentina)


Selanjutnya saya betul-betul mendisiplinkan diri. Bangun tidur, masih dini hari, sebelum sarapan, saya awali dengan kebiasaan yang baru, yaitu olah raga. Karena sebelumnya saya tidak pernah berolahraga, saya mengawali kegiatan sport yang pertama dengan olahraga yang paling ringan. Yaitu olahraga jalan kaki, dengan ritme yang agak cepat.

Begitulah, setiap pagi begitu bangun tidur, saya rutin berjalan kaki selama 30 menit, kadang sampai satu jam lebih. Olahraga ini sengaja saya lakukan sebelum sarapan. Jika ingin menurunkan berat badan, sarapan sebaiknya setelah berolah raga. Bukan sebelum berolahraga. Setidaknya begitu tips yang saya baca.

Olahraga jalan kaki ini, saya selingi juga dengan bersepeda rutin. Sebelumnya saya tidak pernah sport. Sehingga otot juga belum terbiasa dengan sport. Akibatnya, selama beberapa hari sesudah kegiatan sport ini, setiap bangkit dari tidur, saya nyaris tidak bisa berjalan. Sekujur tubuh terasa sakit ketika baru bangun. Berjalan tertatih-tatih. Tapi begitu mulai bergerak lebih lanjut, sakit itu hilang begitu saja. Rasa sakit ini tidak berlangsung lama, sampai akhirnya otot mulai terbiasa.

Ketika otot-otot mulai terbiasa, olahraga mulai saya tingkatkan ke skipping (lompat tali) dan jogging. Ini sedikit lebih berat dari jalan kaki, dan karena itu tentu membakar lebih banyak kalori.
Yang lucu, ketika baru memulai lompat tali ini, kaki saya sedikit pun tidak bisa melompat, seakan tak kuat mengangkat beban badan. Kalaupun bisa melompat, kaki cuma terangkat beberapa centimeter. Itu pun langsung ngos-ngosan. Payah!

Tapi saya ogah menyerah. Dengan betis kebapakan, dan konde keibuan, lompatan pun dimulai! Hup! Saya mencoba lompatan sedikit demi sedikit, tidak perlu dipaksakan. Perlahan ... akhirnya bisa. Bahkan bisa sampai ratusan lompatan. Melalui 30 menit lompat tali tiap hari dan rutin ini, berat badan saya mulai berkurang lumayan.

Begitu juga ketika pertama kali mulai berlari. Kaki rasanya sakit ketika memulai langkah, seakan tak kuat menopang berat badan. Sulit benar memulainya. Belum sampai semeter nafas tersengal-sengal dan otot rasanya sakit. Dengan modal ngotot (memang pakai otot), akhirnya saya bisa mengatasi. Saya memulainya pelan-pelan, dan se-rileks mungkin. Sampai akhirnya saya tidak merasa sakit lagi. Malah sampai sekarang tetap rutin melakukan olahraga berlari ini.

Saat melakukan olahraga berlari secara rutin ini, saya bisa merasakan bagaimana perubahan beban tubuh dari hari ke hari terasa ringan. Ini menandakan, perlahan lemak tubuh mulai terkikis, "dibakar" gerak jogging. Terasa betul perbedaannya dibanding ketika pertama kali saya memulainya. Sekarang tubuh rasanya ringan sekali saat berlari. Dibanding lompat tali, jogging lebih gampang. Selain itu keuntungan jogging adalah, gerak tubuhnya sederhana, namun membakar lumayan banyak kalori. Setelah jogging setiap hari, berat badan saya semakin berkurang, berkurang, sampai akhirnya normal. Tentu ini juga diimbangi dengan pola makan teratur, dengan porsi secukupnya saja.

Sementara itu saya membiasakan untuk tidak mengabaikan makan pagi. Paling lambat jam 08.00 pagi, setelah berolah raga, saya langsung sarapan.

            Dulu kadang malas sarapan, sekarang tiada hari tanpa sarapan (Foto: Walentina)


Walau hanya sepotong roti gandum yang warnanya gelap kecoklatan, mengandung berbagai biji-bijian, pokoknya harus sarapan. Saya juga menggunakan mentega dan keju diet. Selai manis, selai kacang, sosis, daging pelapis untuk roti, tidak lagi saya selipkan di roti. Minuman soda, sejenis sirup dan minuman manis lainnya, juga tidak saya konsumsi.

Tadinya saya tidak suka susu. Kini mendisiplinkan diri sekali sehari minum susu asam rendah lemak tanpa gula, atau kadang diselingi dengan yoghurt. Ini penting untuk mengimbangi kegiatan olahraga yang tiap hari saya lakukan.
Olahraga tidak perlu berlebih-lebihan. Soalnya otot juga perlu istirahat, begitu menurut berbagai artikel kesehatan yang saya baca. Di awal-awal, karena begitu inginnya berat badan saya normal kembali, saya bisa olahraga gila-gilaan. Masih subuh, sekali berolahraga, bisa sampai 2 jam. Setelah olahraga lari (divariasikan dengan bersepeda dan skipping) di pagi hari, di malam hari saya juga sempatkan olahraga lari lagi. Pagi olahraga, malam olahraga. Ketika seminggu sesudah kegiatan ini, berat badan saya turun 3 kg, wuaaaah.....saya semakin bersemangat lagi olahraga. Selanjutnya, selama 2 bulan tanpa absen sehari pun, tetap melakukan olahraga rutin.

Selain itu, pola makan sehat saya perhatikan betul. Tetap makan dengan menu sehat, 3 kali sehari. Di sela-sela waktu makan, kalau pun lapar, saya makan sedikit kacang atau pun buah.

Hasilnya? Sesudah 2 bulan, berat badan saya turun sampai sekitar 10 kg.

Oh ya, bagaimana dengan makan nasi? Ya, banyak yang menghindari nasi untuk menurunkan berat badan. Walau tidak setiap hari makan nasi, tapi karbohidrat dari nasi tidak saya hindari sama sekali. Tapi porsinya dikurangi menjadi setengah dari porsi kebiasaan saya dulu. Lauk protein plus sayur dan buah, porsinya sering lebih banyak daripada nasinya. Di awal-awal ingin menurunkan berat badan, saya makan nasi dari beras merah. Soalnya dibanding beras putih, beras merah lebih rendah kalorinya.

Dan sekarang setelah berat badan saya normal, saya kembali makan nasi putih dengan porsi kecil. Hanya beberapa kali seminggu, saat makan malam saja. Nyatanya berat badan saya tetap normal saja, mungkin juga karena diimbangi dengan olahraga rutin setiap hari.

Bagaimanapun, saya tidak ingin menghilangkan karbohidrat dari menu harian. Sumber karbohidrat tentu saja tidak harus dari nasi. Kadang diselingi dengan kentang rebus. Kalau kentang goreng, kadang-kadang saja, itu pun hanya sedikit, sekedar supaya tidak “ngidam”. Makanan gorengan tidak perlu jadi menu harian seperti dulu. Tapi saya juga tidak merasa perlu menghindarinya sama sekali. Walau tidak setiap hari, saya kadang menyantap gorengan tempe, tahu, ikan, udang, empal, dll. Hanya saja, untuk menggoreng makanan, saya hindari menggunakan minyak bekas. (risikonya tak baik untuk kesehatan, yaahh ... saya percaya saja deh apa kata ahli). Saya menjadi selektif dalam memilih mentega dan minyak goreng. Misalnya, saya menggunakan minyak goreng yang “aman”, seperti minyak zaitun.

Tentang daging sapi, kadang-kadang saya menyantapnya, dengan porsi tidak segede dulu lagi. Tapi saya lebih sering menyantap ikan dan daging tak berlemak, seperti daging ayam tanpa kulit. Dan ikan asin yang dulunya menu favorit, kini sudah saya hindari.

                              Masakanku, tempe tahu suka banget! (Foto: Walentina)


Kebiasaan lain yang tidak pernah lagi saya lakukan, adalah menyantap pencuci mulut seusai makan seperti vla, es krim, tiramisu. Cake dan sejenisnya, yang memang bukan favorit, kini sama sekali tak saya jamah. Buah yang dulu saya beli teratur untuk suami dan anak, tapi saya sendiri malas menyantapnya, kini jadi prioritas untuk dikonsumsi. Baru saya sadari, hikmah dari naiknya berat badan, ternyata telah mengubah gaya dan pola hidup saya (dan keluarga) secara keseluruhan.

Walau sekarang berat badan saya sudah ke angka normal, olahraga rutin tetap saya lakukan. Dulu saya berolahraga karena ingin menurunkan berat badan. Sekarang berolahraga supaya berat badan saya tidak melaju lagi. Selain itu, berolahraga setiap hari saya anggap ibarat investasi, demi memelihara kesehatan untuk masa depan.

Tadinya saya bisa olahraga gila-gilaan demi mencapai berat badan ideal. Sekarang setelah berat badan saya normal, olahraganya tidak lagi berlebihan. Cukup 30 menit per hari. Olahraga favorit saya, jogging, karena murah meriah. Cara ini gampang dan praktis. Kalau naik sepeda saya mesti keluar rumah. Tapi kalau jogging, cukup di halaman rumah saja. Saya hanya berlari mengelilingi halaman belakang rumah selama 30 menit....ini sudah cukup membakar kalori 'kan? Walau begitu, sebetulnya olahraga bervariasi adalah ideal. Setidaknya otot terlatih lebih baik, jika dibiasakan melakukan gerakan bervariasi. Bukan gerakan pengulangan yang itu-itu saja.

Dua bulan lalu, saya ke liburan Indonesia. Tapi baru beberapa hari lalu, kembali saya sekeluarga harus terbang mendadak ke Indonesia. Bukan untuk berlibur. Tapi karena menghadiri pemakaman ibunda tercinta. Ya, ini pukulan besar bagi saya. Mendadak, ibu saya berpulang selama-lamanya karena serangan jantung. Dalam kunjungan ini, saya kembali bertemu teman dan kenalan yang baru saya temui dua bulan lalu. Umumnya mereka berkata, mereka pangling melihat saya. Jika dua bulan lalu mereka bertanya, “Kamu kok jadi gemuk begini, sih?”, sekarang pertanyaannya lain.

Seorang teman bertanya, “Rasanya dua bulan lalu kamu gemuk banget deh. Bagaimana bisa kamu jadi kurus hanya dalam waktu dua bulan saja? Apa kamu minum pil pelangsing? Di negara maju seperti Belanda, pasti deh banyak obat paten. Apa nama obatnya? Saya rajin ke fitness centre tapi kok nggak kurus-kurus juga? Bagi dong resepnya!”.

Jawab saya, “Saya sama sekali tidak pernah minum pil pelangsing. Cuma berusaha makan sehat teratur. Plus olahraga RUTIN dan SETIAP HARI. Bukan olahraga sekali-sekali."
Tanpa bermaksud narsis, di bawah ini perbedaan foto dua bulan lalu, dengan foto saya terakhir. Yaitu ketika berat badan saya “masih lebar”, dibanding foto terakhir, ketika lemak sudah “dibakar” dengan berolahraga.

             Dua bulan lalu, masih gendut dan “lebar”

                                                Setelah berolahraga rutin


Kalau dipikir-pikir, untung juga saya pernah mengalami problem berat badan. Kalau tidak, mungkin seumur hidup saya tidak akan pernah berolah raga, dan tidak pernah sadar pentingnya pola makan sehat. Saya bersyukur, karena saya yang tadinya tidak suka berolahraga, sekarang malah jadi gemar berolahraga.

Sekarang saya betul-betul percaya, bahwa olahraga setiap hari dikombinasikan dengan pola makan sehat, memang bisa menurunkan berat badan. Ini bukan cuma teori dan cerita isapan jempol. Karena saya sudah membuktikannya sendiri. Tidak perlu mengeluarkan satu sen pun ongkos untuk fitness centre dan membeli pil pelangsing. Hanya dengan olahraga yang murah meriah pun, sudah cukup untuk menghilangkan lemak. Yang penting ada kemauan kuat untuk tetap konsisten.

Bonusnya, badan terasa sehat, fit, dan bugar. Tapi masih ada bonus yang tidak pernah saya duga. Yaitu olahraga rutin membuat perut menjadi lebih kencang tanpa lemak ... bahkan lebih kencang dibanding jaman kurus dulu! Perut menjadi rata dan singset tanpa korset? Huh! Tahu begini ... kenapa nggak dari dulu-dulu saja saya berolahraga, ya?

 

Walentina Waluyanti
Nederland, November 2011
 

ILUSTRASI FOTO-FOTO DOK REDAKSI 

MODERATOR - Penggagas KoKi : ZEVERINA

Pembaca "KOLOM KITA" (KoKi) entah di Bontang, Inggris, Bali, Belanda, New Jersey, Kuwait, Australia, atau di Kediri, silakan berbagi peristiwa seputar kehidupan sehari-hari. Kirimkan artikel dan foto melalui form "Kirim Artikel", jika mengalami kesulitan kirimkan melalui email: temennyazev@gmail.com ; kokizeverina@gmail.com


1 dari 11 Halaman Komentar | First Prev Next Last
Ps: Turut Berduka atas meninggalnya ibunda Tercinta Jeng Walen:( i'm really Sorry my Dear.....
Posted by: Muti | Rabu, 11 Januari 2012 | 03:09 WIB
Oh my God!!! girl you look Great!!!! Alhamdulilah.... i'm soooo Happy for you my Dear!:):):) mau coba Zumba class with me in Seattle? hehehe:)
Posted by: Muti | Rabu, 11 Januari 2012 | 03:07 WIB
Hebat !!...aku bisa nggak ya ?? Besok subuh, aku mulai lagi ahh...semoga !!
Posted by: rosda | Jumat, 23 Desember 2011 | 01:04 WIB
Jeung WW artieklnya ini aku bangetttt deh hahaha...udah 3 th aku absen gak meres keringet dan gak ngontrol makanan...jd deh BB melunjakkkk huahhhh....tapi, sejak bulan lalu aku mulai aktif lg meres keringat n kontrol makanan...saking bersemangatnya pas treadmill kakiku terkilir hahaha walopun pincang2 tetep maksa olah raga akhirnya nyerahhhh karena tambah parah...alhamdullilah skrg dah baikan dan mulai gerak badan lagi...baca artikel njenengan jd makin bertambah semangat nih....tx buat artikelnya....btw, jeng WW makin maniezzz...
Posted by: Minten | Kamis, 22 Desember 2011 | 21:22 WIB
Kalo abis makan, jalan-jalan abis makan. Saya sekarang sebisa mungkin kalo selama bisa, lebih milih naik sepeda atau jalan kaki. Setelah perubahan badanku drastis banget, memang aku jadi percaya sama manfaat olahraga. Malah lebih enakan yang sekarang dibanding waktu masih kurus dulu. Dulu kurus loyo, tapi emang bener kalo sport teratur ada pengaruhnya di badan. Padahal itu pun aku mulainya baru tahun ini. Dulu-dulu gak pernah.
Posted by: walentina | Rabu, 21 Desember 2011 | 03:18 WIB
Anda harus login untuk memberi komentar pada Artikel ini...
About KoKi | Info iklan | Privacy policy | Terms of use| Karir | Contact Us
 
© 2008 - 2009 KoKi. All rights reserved