KAMIS, 24 APRIL 2014
 
        Lupa Password?

detikTravel

detikTravel

Info Promosi Travel

Wego
Tags
This will be shown to users with no Flash or Javascript.
KoKiLife
CITIZEN JOURNALISM: SIAPA SAJA, MENULIS APA SAJA
Belajar Bernyanyi dengan Odong-odong
SAW - Bandung

 

Burung… kakaktua, hinggap di jendela..
Nenek sudah tua, giginya tinggal dua…
Saputangan dikibarkan terbuat dari kain, bagusnya bukan main,
siapa yang belum punya, ayo mengejar saya..…
Ayo kawan kita berkerja, menanam jagung dikebun kita…
Ambil cangkulmu, ambil pangkulmu,
Kita bekerja tak jemu-jemu
Cangkul, cangkul , cangkul yang dalam, menanam jagung di kebun kita…

Hallo Zev, Asmod, Kokoers Kokiers yang berbahagia…

Tentu syair lagu anak-anak seperti  di atas pernah hinggap dalam memori  masa kecil kita. Dan jamaknya ingatan masa kecil, ia akan lekat dan menjadi ingatan abadi kita. Lagu-lagu tersebut saya hapal dan bisa menyanyikannya waktu saya TK, tentu diajari sama guru TK saya yang cantik,  yang tangannya bagus sehingga kalau tepuk tangan suaranya lantang, plok … plok …plok… gitu. Saya sangat mengagumi cara beliau bertepuk tangan, nyaring bunyinya mengiringi kami bernyanyi.

Kini, lagu-lagu tersebut sering sekali mampir ke telinga saya, hampir setiap hari, bisa jadi sehari dua kali, setiap pagi jam 9 atau sore sekitar jam 4. Lagu-lagu anak-anak tersebut di medley bersambung dengan lagu NAIK KERETA API, ITA MIRA, SEPATU BARU, SATU SATU AKU SAYANG IBU, CICAK DI DINDING, TIK TIK BUNYI HUJAN dan lain-lain.

Pembaca, …

Anak bungsu saya yang menginjak usia 2 tahun 3 bulan sangat menyukai lagu-lagu tersebut. Bahkan dia sudah hapal syair-syairnya. Dengan kefasihan lidahnya yang masih jauh dari sempurna, dia sering menyanyikannya yang akhirnya mengundang tawa bersama.  Dia belajar lagu-lagu tersebut bukan dari guru TK, karena dia memang belum sekolah. Play Group pun belum. Dia belajar nyanyinya lewat Mang Odong-odong yang selalu setia menjemputnya untuk keliling beberapa blok di sekitar rumah. Sepanjang perjalanannya, kaset lagu-lagu anak-anak diputarkan. Dan Neng Geulis pun asyik menikmati sambil goyang-goyang kepala, terangguk-angguk seirama dengan lagunya.

Tiap menjelang ‘jam tayang’ Neng Geulis sudah harus rapi, kemudian menunggu kedatangan odong-odong tersebut. Saya sembari menyuapinya, duduk di depan sembari say hello dengan tetangga yang lalu lalang. Tapi mereka juga sudah pada paham, sapaannya juga tak jauh dari kalimat,”Nunggu odong-odong ya, dik?” … Hehehe… aktifitas rutin sih … Kalaupun saya tidak sempat, pasti  teteh yang bantuin saya mengasuh yang akan menemaninya.

 

 

Terus terang, saya sangat berterimakasih pada Mang Odong-odong tersebut (kami –ibu-ibu penitip anak- biasa memanggilnya demikian, nama aslinya sampai kami tak mengetahuinya). Orangnya sangat sabar, sayang pada anak. Dan rasanya saya pribadi kok enjoy banget dengan aktifitas Neng Geulis yang tak pernah absen naik odong-odong langganannya.

Pertama, Mang Odong-odong terbukti sayang anak, kalau ada yang rewel selalu sanggup menenangkannya. Bahkan pernah saya melihatnya tak canggung membopong anak yang telah belepotan BAB di celananya. Mungkin saking asyiknya bernyayi, sampe tak terasa BAB di kuda-kudaan yang dinaikinya.

Kedua, saya mengetahui rumah dan keluarga dari Mang Odong-odong, sehingga hati juga tidak was-was perihal ‘kemana anakku dibawa pergi’. Mang Odong-odong dulunya penjual es cendol , yang kemudian beralih profesi sebagai ‘guru TK’. Rupanya mengelola odong-odong lebih menjanjikan daripada mendorong gerobak cendol.

Ketiga, Neng Geulis akhirnya juga mengenal banyak teman, setidaknya dengan teman-teman sebaya yang sudah menjadi pelanggan tetap odong-odong tersebut.

Keempat, Biarlah neng Geulis belajar nyanyi dari sana karena kalaupun sekolah TK kelak, belum tentu dia akan diajari lagu-lagu tersebut.

Sebenarnya sayalah yang harusnya menjadi guru nyanyi bagi anak-anak saya. Tapi, terus terang… kok saya kurang telaten ya… Kurang bijak juga kalau menjadikan waktu sebagi alasan, karena toh saya bukan wanita karier yang waktunya banyak di luar rumah. Sebagian besar waktu saya meski sembari mengerjakan banyak hal, habis di rumah. Di bawah usia TK, anak-anak selalu dekat dengan saya. Tapi ya itu tadi, … saya kok kurang telaten mengajari anak menyanyi.

Ketika memasuki usia TK, pada pekan-pekan awal saya masih menungguinya. Tapi, biasanya dalam satu bulan kemudian, saya sudah tidak perlu menunggu lagi. Namun, saya paham, apa saja aktifitas anak-anak TK jaman sekarang. Saya membandingkan dengan jaman TK saya dulu. Bahwa sekolah itu ya bernyanyi. Belajar menulis dan membaca tidak sampai harus menyita banyak waktu. Dari lagu selamat pagi hingga ketika pulang  menyanyikan lagu SAYONARA, … lagu-lagu kami nyanyikan bersama, bahkan kadang harus naik ke masing-masing kursi untuk menari mengekspresikan pesan lagu yang kami nyanyikan.  Sekali-kali ada yang ditunjuk ke depan untuk menyanyikan sebuah lagu. Atau kami maju satu persatu. Menyenangkan sekali,  hingga saya sudah setua ini, kenangan terhadap lagu-lagu tersebut tak pernah hilang.

Saya bandingkan dengan TK yang  pernah dimasuki anak-anak saya. Bernyanyi bukanlah agenda utama dalam model pendidikan mereka. Ada banyak hal yang dilakukan para guru. Permainan-permainan yang menstimulasi perkembangan otak anak sudah dikemas sedemikian rupa. Selain itu, karena tuntutan jaman, anak-anak TK sudah harus diberikan porsi belajar membaca dan menulis yang mau tidak mau ini akan mengurangi jatah waktu anak-anak bermain dan bernyanyi. Jadi, saya maklum, mengapa anak-anak saya tidak banyak belajar menyanyi waktu di TKnya.

Jadi, bagi saya, peran Mang Odong-odong sangat membantu saya dalam mengajari anak bernyanyi. Tak banyak pula biaya yang harus saya keluarkan. Ongkos untuk Neng Geulis tidak pernah dilebih atau kurangkan, Cuma Rp. 2000,- dari pertama naik sampai anak habis tinggal Neng Geulis seorang yang kemudian diantar ke depan rumah. Di kasih lebih selalu tidak mau. Makanya, secara pribadi saya sering memberinya bingkisan semacam kaos, baju untuk anak atau cucunya atau bahkan sekedar kue-kue. Yah, … hitung-hitung nitip anak sih…

 

 

Oke, pembaca….

Neng Geulis sudah setengah jam berkeliling. Paling sebentar lagi juga bakal diantar sebagai penumpang terakhir…

Ada yang mau bernyanyi bersama ?? Silahkan tepuk tangan untuk mengiringi lagu ini…

Tek kotek kotek kotek….
Anak ayam turun sepuluh …
Anak ayam turun sepuluh …
Mati satu tinggal Sembilan…
Tek koktek kotek kotek …
Anak ayam turun Sembilan …
Anak ayam turun Sembilan …
Mati satu tinggal delapan …
...

 

Dhuha di dapur yang masih berantakan…

 

ILUSTRASI FOTO-FOTO DOK REDAKSI 

MODERATOR - Penggagas KoKi : ZEVERINA

Pembaca "KOLOM KITA" (KoKi) entah di Bontang, Inggris, Bali, Belanda, New Jersey, Kuwait, Australia, atau di Kediri, silakan berbagi peristiwa seputar kehidupan sehari-hari. Kirimkan artikel dan foto melalui form "Kirim Artikel", jika mengalami kesulitan kirimkan melalui email: temennyazev@gmail.com ; kokizeverina@gmail.com


1 dari 9 Halaman Komentar | First Prev Next Last
Nah itu dia Bu yang bikin saya ngiri, jaman saya kecil kok ngga ada odong2? Eh giliran udah ada, sayanya gak boleh naik sama si mamangnya.........., yah................... terpaksa deh gigitjari krn ngiri ama anak2 jaman sekarang yang bisa naek odong2.......................
Posted by: Aldie | Minggu, 21 Juni 2009 | 16:24 WIB
Mbak Saw, walaupun ingatannya udah sepotong2, tapi jaman TK dulu benar2 berkesan. Naik ke atas meja sambil nyanyi, belajar menggambar, permainan2 beregu, dan yang paling seru berantem sama anak yang mau merampas bekal saya hihihi...
Posted by: ilhampst | Rabu, 17 Juni 2009 | 07:40 WIB
Kokiers-kokoers .... thank's ya... udah sempetin mampir....
Posted by: saw | Selasa, 16 Juni 2009 | 00:57 WIB
Mbak Reef : hallo mbak... iya nih, rasanya kalo nyanyi kok malah ga bisa menkmati. (halah...), Om PDD : saya juga baru tau odong2 setelah punya anak dan menetap di Bandung kok Om, dulunya ga ngerti juga. Gabby : setidaknya mereka ga nyanyiin lagu2 dewasa... Ininnawa : bener euy, ... jeli juga rupanya kokiers kita ini. Wahnam : lho... suka ngeliatin udelnya ya... Farvel : hehehe..., biasanya ibunya ponakan juga suka kok, kan lumayan ada yang jagain anak2nya....
Posted by: saw | Selasa, 16 Juni 2009 | 00:56 WIB
Tante LR : tentu ga ada kan ... yang macam gini di Belanda? hehehe... Rosda : memang iya, lagu baheula lebih nempel dan pesannya juga lebih alamiah. Mbak Peony : di kompleksnya kayaknya ga ada ya mbak?, Mbak Arin : ayo dong nyanyi.., Mbak Non : Iya mbak, delman juga sesekali mampir di kompleksku. anak2 juga suka. Pak Sumonggo : maturnuwun sampun pinarak, ... begitulah, kreatifitas yang menyenangkan. Mbak Minten : Ayo mudik...., jembatan suramadu sudah siap menunggu. hehehe.. Mbak Vera : siapa yg di gendong? odong2 ? hahaha... awila : sepertinya sdh kenalan? salam kenal ya... Nat : Sttt,,, jangan berisik!!!
Posted by: saw | Selasa, 16 Juni 2009 | 00:51 WIB
Anda harus login untuk memberi komentar pada Artikel ini...
About KoKi | Info iklan | Privacy policy | Terms of use| Karir | Contact Us
 
© 2008 - 2009 KoKi. All rights reserved