Pelajaran Beribadah dari Ibu Kernet Kinanthi - Jakarta
Tangan saya melambai ringan dan bus itu pun berhenti. Tidak tepat di depan saya, membuat saya sedikit berlari kecil untuk menggapainya.
Hmm, saya ketemu lagi dengan Ibu Kernet yang saya hafal betul dengannya. Karena dia memang satu-satunya kernet perempuan untuk bus jurusan tersebut. Ibu tersebut menurut perkiraan saya sudah berumur lebih dari empat puluh tahun, namun masih lincah dan cekatan. Suaranya nyaring setiap meneriakkan arah tujuan bus untuk menarik penumpang.
Nah, kemarin sore, saya mendapat pelajaran kecil dari sang Ibu Kernet. Ditengah jalan tiba-tiba Pak Sopir menepikan bus, sang Ibu Kernet mengambil plastik berwarna biru. Dari plastik tersebut tersembul barang yang sangat saya kenali, mukena. Saya baru tersadar, Ibu Kernet hendak menuanikan ibadah sholat Ashar di pom bensin yang ada fasilitas musholanya. Tebakan saya, ketika nanti bus tersebut berputar di pangkalan terakhirnya dan melewati pom bensin ini, Ibu Kernet tersebut sudah menunggu seusai sholat dan bisa langsung naik menjalankan tugasnya kembali.
Pak Sopir kembali menjalankan bus begitu Ibu Kernet turun. Jadilah, para penumpang jika hendak turun musti ke depan dan memberi aba-aba kepada Pak Sopir langsung.
Yang menjadi poin saya, tiba-tiba ada perasaan kagum dan salut kepada Ibu Kernet. Ditengah kesibukannya bekerja di jalanan, dia masih mengingat Tuhan dan melakukan ibadahnya. Saya berkaca pada diri saya sendiri. Saya bekerja di kantor, saya tidak perlu kemana-mana, kecuali memang ada pekerjaan yang mengharuskan saya tidak duduk manis di meja. Apakah saya selalu tepat waktu untuk sembahyang? Duh Gusti, saya malu sekali. Saya tidak punya semangat sebesar semangat Ibu Kernet tersebut.
Saya menjadi sensitif tiba-tiba. Ada sedikit iri pada kepatuhan Ibu Kernet terhadap Sang Pencipta. Ada rasa berdosa mendalam bahwa saya sering mengabaikan Sang Khalik. Tapi, ada sukacita membeludak di dada bahwa saya masih menemukan seseorang yang ‘pulang’ pada Sang Maha ditengah hiruk pikuk kesinisan manusia.
Saya sangat ingin menjadi orang yang senantiasa bersyukur. Mungkin, Tuhan justru masih sayang pada saya. DIA mengingatkan saya lewat Ibu Kernet tersebut. DIA menampar saya dengan halus. Kemudahan saya mengakses waktu dan tempat untuk beribadah, seharusnya melecut saya untuk semakin mendekat padaNya.
Terima kasih, Ibu, darimu aku belajar mensyukuri kemudahan-kemudahan yang telah Tuhan berikan padaku!
Salam,
Kinanthi
ILUSTRASI FOTO-FOTO DOK REDAKSI
MODERATOR - Penggagas KoKi : ZEVERINA
Pembaca "KOLOM KITA" (KoKi) entah di Bontang, Inggris, Bali, Belanda, New Jersey, Kuwait, Australia, atau di Kediri, silakan berbagi peristiwa seputar kehidupan sehari-hari. Kirimkan artikel dan foto melalui form "Kirim Artikel", jika mengalami kesulitan kirimkan melalui email: temennyazev@gmail.com ; kokizeverina@gmail.com
Pelajaran ibadah....Kinan, tulisanmu indah. Kedua eyangku di Solo muslim. Dan kalau setiap idul fitri aku mengunjungi mereka, aku selalu diingatkan untuk tidak lupa ke gereja. Di keluargaku memang semua agama ada, karena itu kami sangat menghormati perbedaan agama. Dan masing-masing dari kami bisa saling menukar humor dengan menertawai agama sendiri secara dewasa.
sekedar mengingatkan, hari ini 15 januari 2010 akan ada gerhana matahari,…bagi saudara2 yg ingin mengerjakan shalat gerhana, bisa melihat tata cara shalat gerhana di sini : http://zamzampublishing.wordpress.com/2010/01/15/gerhana-matahari-cincin-15-januari-2010-begini-tata-cara-shalat-gerhana/