JUMAT, 18 APRIL 2014
 
        Lupa Password?

detikTravel

detikTravel

Info Promosi Travel

Wego
Tags
This will be shown to users with no Flash or Javascript.
KoKiLife
CITIZEN JOURNALISM: SIAPA SAJA, MENULIS APA SAJA
Masa Sengsara Masa Meng - Gembel
WES - Australia

 

Dear Zeverina, Asmod & KoKiers
 
Email address ini hanya untuk Zeverina & Asmod.
 
Situasi politik di tahun-tahun akhir pemerintahan Soekarno diwarnai aksi ganyang-mengganyang antar golongan/ormas/partai atau terhadap negara asing. Keadaan ekonomi dan keuangan jadi morat marit. Kebijakan Sanering tanggal 25 Agustus 1959 yang menetapkan uang Rp. 1,000 menjadi Rp. 100  dan Rp. 500 menjadi  Rp. 50 dan "pembekuan semua rekening di Bank yang saldonya diatas Rp. 25,000", tanpa peduli mungkin uang itu untuk bayar gaji pegawai, modal beli barang dagangan atau untuk bayar utang. Ini bikin masyarakat tidak percaya Bank dan Pemerintah, menjadi preseden buruk serta trauma.

 

 

Lalu ada undang-undang "cek kosong" yang mengancam hukuman mati bagi pelakunya. Tentu saja itu kian memacetkan roda perekonomian, sehingga dikeluarkan peraturan "Bilyet Giro" yang memperlunak  ancaman hukumannya. Akhirnya Bilyet Giro ini (sepertinya hanya ada di Indonesia) dibuat manipulasi "cek kosong" dimana pelakunya paling-paling diperkarakan secara perdata, bukan pidana.
 
Pada tanggal 28 Maret 1963 dikeluarkan Deklarasi Ekonomi (Dekon) sebagai strategi dasar Demokrasi Terpimpin (1959-1966) dan Ekonomi Terpimpin, karena sistim Bukti Ekspor (BE) untuk menstimulus ekspor telah gagal. Dekon dirancang untuk menciptakan Berdikari (Berdiri Diatas Kaki Sendiri) namun dalam pelaksanaannya malah membuat perekonomian dan keuangan semakin buruk dan berantakan. Inflasi begitu hebat bahkan sudah berupa "galloping inflation" yang berujung merosotnya nilai uang rupiah secara drastis.

Terpaksa pada tanggal 13 Desember 1965 Pemerintah Presiden Soekarno men-Sanering mata uang rupiah habis-habisan yaitu nilai Rp. 1,000 menjadi tinggal Rp. 1 saja. Ini adalah Sanering Rupiah yang ketiga sejak Proklamasi Kemerdekaan R.I. dan paling fantastis penurunannya. Langsung rakyat terhempas dan terpuruk, sehingga di beberapa desa terjadi H.O. (Busung Lapar) dengan ciri-ciri tubuh kurus kering keriput dengan perut buncit. Suatu pemandangan yang menyedihkan, mengenaskan sekaligus memalukan !
 
Nah, bayangkan dimasa suram seperti itu aku sedang studi di Universitas di kota besar, mana harus bayar biaya pemondokan, makan dan transport. Di kampungku aku cukup jalan kaki atau bersepeda saja, dikota besar mana mungkin ? Kendaraan umum bermotor kala itu masih sedikit dan terbatas jurusannya. Maka idaman para student adalah memiliki sepeda motor kecil (bromfiet) seperti DKW Hummel, Ducati, dsb. Waktu itu belum ada yang bikinan Jepang, Korea apalagi Indonesia. Bensinnya sangat irit, ada yang 4 takt atau 2 takt (yang 2 takt harus dicampur sedikit olie/minyak pelumas). Aku baru mampu memilikinya setelah kuliah lebih dari setahun.
 
Kamarku sebetulnya hanya "sepen" (gudang kecil tempat menyimpan barang tetek bengek, semacam garden shed) berpintu dan berjendela, luasnya 2,5 x 2 meter saja. Ya, cuma pas-pas-an untuk 1 Dipan (tempat tidur) kecil, meja tulis kecil (merangkap meja makan) dan 1 lemari pakaian dan rak buku. Satu sisi dindingnya lembab (rumah jaman dulu kan belum pakai semen) aku keringkan dengan memasang Anglo bara arang dibawahnya, lalu dicat waterproof (cat untuk kamar mandi). Ada 5 student termasuk aku. Kamarku yang tersempit namun aku merasa cukup "nyaman" karena kamarnya menghadap udara terbuka.
 
Aku cuma sewa kamar, maka kami berlima sepakat patungan menanak nasi sendiri, lalu lauknya usaha sendiri-sendiri. Oleh karena tidak diperkenankan memasak (juga berabe karena tungkunya masih pakai kayu bakar dan arang) maka aku sedia abon sapi, telur asin, kacang goreng, tauco, kerupuk aci, kecap dan beli dari pedagang keliling (lotek, tahu tek-tek, mie, dsb). Sekali-kali kami patungan beli 2 porsi gulai kambing atau sate minta kuahnya dan bumbunya banyakan untuk dimakan berlima....................ya kagak ada dagingnya cukup bau-baunya, tinggal ditambahi kecap. Susahnya dijaman itu belum ada makanan yang serba instant dan pilihanpun sangat sangat terbatas.

Teringat malam hari aku antri di depan pabrik roti menunggu beli roti apkiran (sedikit gosong, kurang mengembang atau gompal) atau dilain waktu dipabrik biskuit beli biskuit patahan atau di tukang gorengan beli 2-3 potong tahu/tempe goreng tepung minta ditambahi remukannya. Untungnya aku tergolong lelaki yang makannya gampangan, ceritanya nasi +kecap +cengek pun okay saja.................sampai sekarang pun begitu. Wah, beruntung isteriku ya ?

 

 

Aku juga termasuk orang yang bisa mensyukuri dan menikmati apa yang ada (perasaan "content"). Ini bukan memuji diri sendiri, lho ! Semasa kuliah meski dengan kantong cekak, cari nafkah sungsang sumbel, bikin penghematan sana sini.......aku masih bisa pacaran dan mentraktir makan-minum, nonton bioskop dan piknik.

Pernahkah Anda di Forum KoKi mendapati aku complaint, marah, ngambek, protes,  "mengancam", mengeluh, bersungut-sungut baik terhadap Moderator, Asmod atau sesama KoKiers ? Aku kirim Artikel...................mau dimuat atau tidak, tak pernah tanya apalagi menggugat ? Tulisan dimuat.............. ditanggapi, dikomentari baik atau buruk bahkan OOT, terserah saja.
Rugi dong, sudah repot-repot menulis akhirnya hati mendongkol. Sebagai analogi, orang piknik ikut paket tur eh marah-marah dan protes terus terhadap tour guide, travel biro-nya dan sesama rombongannya....................ya rugi sudah keluar duit dapatnya bukan kenikmatan tamasya melainkan amarah.
 
Orang tuaku meski bukan tergolong pas-pas-an sangat teliti dan terencana mengatur budget keluarga sehingga sekalipun nafkahnya dihantam situasi tak menguntungkan, masih bisa menyekolahkan aku keluar kota. Orang tuaku biar bagaimana susahnya tetap mengirim uang ransum yang jumlahnya tetap, tetapi repotnya inflasi yang menggila menggerus nilainya. Orang tuaku ada juga tanya apa uangnya cukup dan mereka mau tambah sedikit, namun aku menampiknya dan berbohong bahwa itu sudah cukup, karena aku tahu betul keadaan keuangan mereka sedang payah. Tetapi jumlah uang itu jelas tidak mencukupi, padahal penghematan sudah aku lakukan begitu ketat, lalu aku harus bagaimana  ?
 
ENTAH DAPAT ILHAM DARIMANA, AKU MENEMUKAN JALAN DENGAN MENCARI INCOME TAMBAHAN ! Padahal ketika itu bukunya Robert Kiyosaki belum aku ketahui dan baca. Apa sudah terbit ?
 
MENJADI "FIXER"
 
Adalah kebiasaanku (turunan dari ibuku, barangkali) semenjak kecil untuk menyimpan dan menaruh barang apa saja ditempat yang tetap agar gampang mencarinya dan rumahpun nampak bersih-rapih.

Sewaktu jadi mahasiswa secara volunter aku bertugas menyediakan alat tulis dan membersihkan papan tulis untuk dosen-dosen ku. Ternyata ada seorang dosenku yang memperhatikan sepak terjangku. Dosen ini selain mengajar, profesi utamanya adalah Direktur/Pemilik suatu pabrik......... .ya jelas kaya raya, gaji sebagai dosen pun dibagikan kepada pegawai administrasi. Sembari mentraktirku makan di restoran (suatu kemewahan bagiku disaat itu), dia menawarkan pekerjaan sebagai "fixer" di kantor pabriknya. Aku baru ngeh, kok ada ya pekerjaan sebagai "fixer".......tukang beres-beres ? Ya tentu saja aku mengiyakan.

Bersama office boy, aku bersihkan dan re-arrange letak meja-meja tulis dan rak-rak file. Semua file, map dan arsip-arsip aku rapikan dan tata ulang. Setiap karyawan/wati diberi satu dompet berisi berbagai alat tulis, stapler kecil, gunting kecil, dll agar mereka tidak saling pinjam meminjam yang bikin cekcok atau senewen mencarinya. Kelihatannya sepele tetapi kalau tidak diatur maka kantor jadi semerawut.
 
JUALAN STENSILAN
 
Dimasa itu Text Book berbahasa Inggeris tebal-tebal dan mahal harganya, sehingga ada yang tak mampu beli tetapi kebanyakan malas membacanya. Tanpa membacanya tidak bakalan lulus sebab dulu ujiannya berbentuk "sitting" (tanya jawab dengan dosen penguji), bukan "multiple choice" yang bisa untung-untungan atau tebak-tebakan. Untungnya text book itu disubsidi oleh Yayasan Lektur, setiap student dapat satu kupon untuk beli satu buku saja sedangkan text book nya lebih dari satu. Biar uangku cekak aku paksakan membeli semua text book dengan meminta jatah kupon yang tidak dipakai temanku yang ogah beli buku.

Oleh karena Bahasa Inggerisku pas-pas-an aku mengatasinya dengan meringkas sembari menterjemahkannya agar gampang dihafal dan difahami. Aku mengetiknya dengan mesin tik tua bekas ayahku sehingga buku setebal itu tinggal jadi beberapa lembar folio saja. Tidak dinyana, teman-teman banyak yang berminat.....................maka dengan bekerja sama dengan pegawai administrasi jadilah bisnis stensilan ringkasan text book (jaman itu belum ada mesin photocopy).
 
JADI JOKI PERANGKO
 
Koleksi perangko dikala itu merupakan Hobby yang digemari student, maka setiap terbit First Day Cover terjadi antrian panjang didepan loket Kantor Pos. Agar kebagian ya terpaksa datang jam 5.00 pagi..............keadaan ini membuat banyak orang malas sehingga maunya titip beli saja (dengan bayar lebih mahal) maka munculah "joki-joki". Belakangan dibatasi satu orang hanya boleh beli satu set, tetapi petugas kantor pos jadi lihai...........melakukan pendekatan pada beberapa "joki" termasuk aku dimana bisa membeli berapa set pun asalkan ada upetinya. Wah, aku diajari menyogok.........................apa boleh buat.

 


 
PENJUAL LOTERE BUNTUT
 
Lotere JDB (Jajasan Dana Bantuan) hadiah utamanya besar sekali namun tentu nyaris mustahil mendapatkannya, maka diluaran muncullah LOTERE BUNTUT, yaitu cuma mengambil 2 angka terakhir dari angka hadiah pertama Lotere resmi. Masyarakat lebih menggemari Lotere Buntut........ hanya variasi dari nomor 01 sampai 99, dengan kesempatan kemenangan 1 berbanding 100.

Hadiahnya 80 % dari total harga 100 nomor. Artinya kalau harga satuan nomor Rp. 1.000 maka hadiahnya adalah Rp. 80.000 sedangkan yang Rp. 20.000 untuk Bandar/ Penjualnya. Bandar biar dapat 20 % bisa merugi jika tidak semua nomor terjual habis.......itu risiko bandar. Celakanya para pembeli banyak yang pilih nomor - nomor favorit berdasarkan ramalan tertentu ("ciam si")........ada ada saja, sangat kental unsur kleniknya.
 
PENYELENGGARA ARISAN CALL
 
Untuk bisa membeli sepeda motor dan modal dagang sedikit-sedikit, aku jadi penyelenggara Arisan Call (orang Tionghoa menyebutnya "HWE"). Sebagai penyelenggara aku mendapat kesempatan untuk menjadi penarik pertama tanpa melakukan call sehingga tidak harus membayar bunga. Lagipula aku memperoleh 10 % setiap ada anggota yang dapat tarikan di bulan-bulan berikutnya. Komisi ini sebagai kompensasi risiko menanggung beban bila ada anggota yang ngemplang utangnya dan biaya makan-minum setiap bulan pada hari penarikan (biasanya di restoran).

Belakangan Arisan Call ini kalah populer dengan "ARISAN BOMBAY" yang konon hingga saat ini masih banyak penggemarnya.
 
JADI CALO
 
Dijaman dimana "uang cari barang" yaitu nilai uang terus merosot sedangkan barang apapun sukar didapat alias langka maka suburlah dunia percaloan. Tambahan pula penggunaan iklan belum populer dan toserba belum ada atau cuma satu dua. Komunikasi telepon pun belum banyak yang memilikinya. Kerap orang membahasakan dirinya sebagai "makelar" ketimbang "calo", bahkan sekarang lebih keren disebut "broker".

Sesungguhnya apapun sebutannya, calo ya calo atau kalau mau disebut lain "perantara" itu pasti cocok. Istilah makelar adalah semacam "perantara" juga, hanya bedanya makelar itu dimasa penjajahan Belanda memang diangkat dan disumpah oleh Pemerintah Belanda. Umumnya makelar ini bergerak dibidang hasil bumi, maka ada makelar tersumpah tembakau, makelar tersumpah kopra, dst.

Makelar harus melalui suatu sekolah/kursus untuk mendapatkan sertipikat dan makelar memiliki pengetahuan njelimet dibidangnya dan ikut menentukan grade dari barang yang ditransaksikan.
Sekarang ini ada sebutan plesetan "MARKUS" (singkatan MAKELAR KHUSUS) yang sedang ramai diperdebatkan di mass media maupun masyarakat. Sebetulnya kurang pantas dan menyinggung perasaan umat agama Kristen dengan menggunakan istilah "Markus" maka aku pakai istilah "MAKAR" (Makelar Perkara) karena memang yang diurus adalah soal "perkara" di pengadilan. Barangkali kurang lebih kayak "POKROL BAMBU" dijaman dulu.

 


 

 

Kembali kepada ceritaku sebagai calo, segala apa aku berusaha menjualkan atau mencarinya (bisa 2 arah, penjual atau pembeli yang hubungi calo)............sepeda motor, rumah, furniture, dll. Terus terang saja pekerjaan sebagai calo itu benar-benar makan hati, kerap diremehkan, dilecehkan oleh orang. Calo itu dikategorikan sebagai orang yang maunya untung saja, tidak mau atau berani ambil risiko.........dianggap mengganggu proses transaksi padahal dilain pihak terkadang diperlukan juga jasanya.


 
Regards
 
WES, Australia

 
 
 
PS :  Ada pekerjaan-pekerjaan ku dijaman itu yang mungkin KoKiers anggap tidak patut dan tidak bakalan Anda mau lakukan. Maka harap jangan ditiru. Aku bisa berkilah bahwa itu suatu keterpaksaan, siapa sih yang bercita-cita untuk dapat job seperti itu ? Tertekan........... terhina.......... dan korban perasaan. Manakala aku mengenangnya, akupun merasakan itu betapa nista-nya aku dikala meng-gembel.

  

 

ILUSTRASI FOTO-FOTO DOK REDAKSI 

MODERATOR - Penggagas KoKi : ZEVERINA

Pembaca "KOLOM KITA" (KoKi) entah di Bontang, Inggris, Bali, Belanda, New Jersey, Kuwait, Australia, atau di Kediri, silakan berbagi peristiwa seputar kehidupan sehari-hari. Kirimkan artikel dan foto melalui form "Kirim Artikel", jika mengalami kesulitan kirimkan melalui email: temennyazev@gmail.com ; kokizeverina@gmail.com


1 dari 7 Halaman Komentar | First Prev Next Last
Maaf pak, bukan bermaksud merendahkan pengalaman bapak tp saya waktu kuliah lebih parah lg tuh pak. pernah jd tukang parkir, pengangkut sampah2 di perumahan dan jg gantian narik becak sama tukang becak di pasar. ngk pernah ngerasain yg namanya punya kendaraan sendiri, ngk ada kiriman dari org tua jg, intinya " Kuliah Modal Nekat " tp Alhamdulillah walau tersendat S1 dpt diraih jg. Hikmah yg luar biasa dari itu semua adalah kita bisa sukses tanpa harus besar kepala. Bravo......sukses selalu pak !!!!!!!
Posted by: hendy | Sabtu, 6 Februari 2010 | 11:20 WIB
Pak Wes, Salute! Salute! Salute!
Posted by: Wong | Selasa, 8 Desember 2009 | 09:24 WIB
p.wes pengalamannya bagus tuh berarti p.wes bukan orang yang mau diam,kalo jadi calo mah gak hina kali,bukan apa2 saya sampe sekarang jadi calo pekerjaan yg gak perlu kekantor heeeheeee......
Posted by: thia | Jumat, 4 Desember 2009 | 14:48 WIB
WES, waktu kecil saya hidup di Jatinegara (dekat penjara Cipinang). Yang kamu tulis hampir semua saya alami. Kenyang sama kesusahan...kesediihan (ditinggal mati ayah), Hanya satu yang belum saya raih dala, hidup: MATI.
Posted by: IWAN SATYANEGARA KAMAH | Kamis, 3 Desember 2009 | 20:37 WIB
Pernahkah Anda di Forum KoKi mendapati aku complaint, marah, ngambek, protes, "mengancam", mengeluh, bersungut-sungut baik terhadap Moderator, Asmod atau sesama KoKiers ? Aku kirim Artikel...................mau dimuat atau tidak, tak pernah tanya apalagi menggugat ? Tulisan dimuat.............. ditanggapi, dikomentari baik atau buruk bahkan OOT, terserah saja. Rugi dong, sudah repot-repot menulis akhirnya hati mendongkol. <<~~~ Nggakkk pernaahh!!!...malah pengen liat Om Wes ikutan koko hihihi,..btw yuka saja yg taunya cuma koko petok2 saja suka dapat tabokan..malah baru2 ini juga semakin keras gebukannya..wkwkwk tapi iyaa sa bodo aja dechh, namanya saja orang ANEH jadi dimaklumi qkqkqk..
Posted by: Yuka-Kobe | Kamis, 3 Desember 2009 | 07:34 WIB
Anda harus login untuk memberi komentar pada Artikel ini...
About KoKi | Info iklan | Privacy policy | Terms of use| Karir | Contact Us
 
© 2008 - 2009 KoKi. All rights reserved