KAMIS, 20 JUNI 2013
 
        Lupa Password?

detikTravel

detikTravel

Info Promosi Travel

Wego
Tags
This will be shown to users with no Flash or Javascript.
KoKiUnek-Unek
CITIZEN JOURNALISM: SIAPA SAJA, MENULIS APA SAJA
Transjakartaku Mirip Metromini
Fey Down - Australia

Busway adalah sebuah system transportasi bus cepat yang sukses di Columbia, Jepang dan Australia, lalu pemerintah DKI Jakarta menerapkan system tersebut. Bedanya busway di Jakarta memiliki jalur terbanyak dan terpanjang. Sayangnya busway tak seperti dulu lagi

Busway Dulu yang Kurindu
Sebagai warga Jakarta, saya sangat bangga ketika Transjakarta atau busway diluncurkan pertama kali pada tanggal 15 Januari 2004. Sebagai tahap sosialisasi, warga gratis menumpang busway selama dua minggu. Tepat tanggal 1 Februari 2004 busway mulai dioperasikan secara komersial dengan harga tiket Rp 2,500 rupiah saja. Tiket berbentuk kartu yang dimasukan kedalam slot untuk membuka jalan bagi penumpang.

Busway buatan Mercedes – Benz warna merah dengan gambar burung Garuda meluncur gagah di jalur Blok M – Kota dan sebaliknya. Di dalam bus begitu wangi, bersih, nyaman dan aman, AC pun dingin sekali. Setiap jam kantor terlihat bule bule berdasi dan juga warga Jakarta berangkat kerja dengan busway.

Dengan bangga pula saya ceritakan pada teman-teman di Singapore dan Australia bahwa kami warga Jakarta juga punya angkutan keren seperti mereka. Ketika mereka berlibur ke Jakarta, saya ajak berkeliling naik busway dan mereka senang sekali. Salah satu kawan dari Singapore berkata “ Beginilah mestinya angkutan sebuah kota metropolitan, mahal sedikit tak apa yang penting nyaman dan aman.”

Busway Kini Mirip Metromini
Setelah beberapa hari berada di Indonesia, saya rindu sekali naik busway, tapi salah seorang teman mengatakan,“ Mau naik busway? Jangan deh! busway dulu dan sekarang beda tahu!”

Ibunda tercinta juga berpesan “Aduh jangan naik busway, kamu tuh ada ada aja, tahu ngga beberapa kali busway kebakaran.”

Semakin dilarang saya makin penasaran, saya tak percaya begitu saja sebelum membuktikan sendiri. Masa sih baru beberapa tahun busway yang beroperasi sudah seburuk itu? Memang saya pernah membaca berita tentang pelecehan pada wanita di dalam busway, selebihnya saya tak tahu. Lalu saya minta anak anak menemani naik busway, saat itu pukul 1.30 siang.

Kami memasuki halte jurusan Pulo Gadung – Dukuh Atas, alias koridor empat. Lalu membeli tiket di loket seharga 3500 rupiah yang bisa dipakai transit berkali kali asal tidak keluar halte. Karcis yang saya terima sama dengan karcis bus antar kota, entah kemana system tiket yang dulu. Lalu saya serahkan pada petugas dan tiketpun disobek dua bagian ( jadi ingat waktu nonton bioskop jaman dulu).

Di dalam halte terlihat kipas angin yang lama tak dibersihkan, udara panas bukan kepalang. Jalur antrian dipisahkan untuk pria dan wanita, bagus juga sih untuk mencegah para pria gatal cari kesempatan.

Bus datang dan berhenti tepat didepan pintu halte. Terlihat jarak yang lumayan lebar antara pintu halte dan pintu busway. Nggak kebayang kalau kaki kejeblos kesana. Saya sengaja angkat kaki tinggi tinggi biar langkah saya jauh dan tepat menjejak kedalam bus. Petugas tersenyum geli sambil memberitahukan bahwa jalur untuk wanita didekat supir dan pria dibelakang. Apa iyah bisa di terapkan kalau bus penuh penumpang?

Tiba di Dukuh Atas kami lanjutkan ke jurusan Halimun – Ragunan alias koridor enam tanpa harus membayar lagi. Di dalam bus banyak penumpang berdiri. Debu menempel disana sini, sampah dibawah tempat duduk berserakan. Pewangi ruangan hanya pajangan, kotak P3K kosong melompong. AC? rasanya bukan dingin tapi hangat. Saya duduk tepat dibelakang supir yang berjas dan berdasi (dia pasti kepanasan ) Terlihat dashboard bolong sana sini. Suara mesin bus kasar , setiap rem di injak menciut berisik sekali. Entah sudah berapa tahun usia bus ini, tapi setahu saya koridor enam baru beroperasi pada tahun 2007.

Dua halte busway terlewati, penumpang semakin banyak, saya memutuskan untuk turun. Anak-anak tertawa geli.“ Bandel sih mama , udah dibilangin busway tuh udah beda sama yang dulu.”

Cukup naik busway sekali ini saja, lebih baik naik ojek, adem dengan AC alias Angin Cepoi-cepoi dan cepat sampai.

Sungguh prihatin, busway yang dulu menjadi kebanggaan warga Jakarta dan warga asing, kini hanya tinggal kenangan. Terlihat busway kurang terawat dan kebersihan tidak terjaga. Siapakah yang bertanggung jawab? Mestinya angkutan umum sebuah kota metropolitan semakin lama semakin baik, tapi kotaku Jakarta malah sebaliknya. Keren diawal, setelah itu diabaikan. Entah kemana busway yang dulu.

Maaf, menurut pendapat saya busway kini mirip metro mini, bedanya hanya pakai AC, walau kadang ACnya kagak dingin. 

ILUSTRASI FOTO-FOTO DOK REDAKSI 

MODERATOR - Penggagas KoKi : ZEVERINA

Pembaca "KOLOM KITA" (KoKi) entah di Bontang, Inggris, Bali, Belanda, New Jersey, Kuwait, Australia, atau di Kediri, silakan berbagi peristiwa seputar kehidupan sehari-hari. Kirimkan artikel dan foto melalui form "Kirim Artikel", jika mengalami kesulitan kirimkan melalui email: temennyazev@gmail.com ; kokizeverina@gmail.com


1 dari 4 Halaman Komentar | First Prev Next Last
Duluuuuu waktu masih sekolah SMA, setiap kali naik bis PPD. meskipun penumpangnya sudah berjubel kaya ikan teri, tapi kondekturnya selalu bilang begini :"ya.. Pak, bu, tolong geser dikit.. ditengah masih kosong..!" :(
Posted by: Wahnam | Rabu, 1 Agustus 2012 | 08:10 WIB
udah segitunya ya, padahal niatnya pengen naik busway lagi kalo singgah ke jakarta hehehe.
Posted by: rosonezz | Selasa, 31 Juli 2012 | 10:39 WIB
mending juga Jakarta bikin jalur sepeda dech daripada jalur busway tapi ga bisa ngerawatnya...
Posted by: Fabiola | Kamis, 26 Juli 2012 | 15:21 WIB
Nggak pernah ngerasain naek busway di Jkt..dan nggak kepengen sama sekali, dulu waktu tinggal di Jkt ada pak sopir yg setia nganterin kemana2..hihihi (gayaa looo) gaya dikit pan nggak apa2..wakakakaka GUBRAAKK!!!
Posted by: Yuka-Kobe | Kamis, 26 Juli 2012 | 12:14 WIB
TransJakarta sewaktu baru release sebanding dengan Bus di Sydney, kalau sekarang dibandingkan ??? TransJakarta ketinggalan Jaman Lagi, ga ada sepersepuluhnya Bus di Sydney dalam service nya dan dalam segala hal nya, padahal sistim Bus di Sydney sudah lebih lama dari TransJakarta malah Jkt meniru sistim dari Sydney, itulah Indonesia bisa ikut Modern tapi ga becus Maintenance dan Maintain Servicenya maka jadi bokbrok melulu segala bidang, Garuda saja sudah mulai gejala Brengsek lagi seperti semula deh....halah jadi curhat neh, coba lihat saja nanti kalau MRT jadi di bangun dalam berapa tahun bisa ambruk ??? apalagi Bullet Train ???
Posted by: Caridaki | Kamis, 26 Juli 2012 | 11:42 WIB
Anda harus login untuk memberi komentar pada Artikel ini...
About KoKi | Info iklan | Privacy policy | Terms of use| Karir | Contact Us
 
© 2008 - 2009 KoKi. All rights reserved