| KoKiUnek-Unek |
CITIZEN JOURNALISM: SIAPA SAJA, MENULIS APA SAJA
Bisik-Bisik Tetangga
Teaser : Judul tulisan diatas mengingatkan saya akan salah satu bait syair lagu yang dinyanyikan salah satu penyanyi dangdut terkenal. Saya kerap mencuri dengar lagu itu ketika pembantu saya menyalakan radio saat mencuci pakaian di sore hari. Hahaha.
“Rumours are everywhere”. Ini adalah kata-kata pertama ketika saya baru saja beberapa minggu “rolling” dengan salah satu partner kerja di kantor. Bukan tanpa sebab saya mendapat ”rolling”, tapi saya yakin jika ”rolling” dilakukan dengan alasan kuat. Bos lebih memilih untuk tidak mengungkapkannya kepada saya, dia hanya bilang: ”Biarkan ini menjadi urusan saya”. Tidak dipungkiri memang, setelah saya mengungkapkan penolakan saya secara halus kepada bos tentang ”rolling” ini, dia tetap keukeuh atas keputusannya. Saya dan supervisor saya pun tidak bisa menolak, karena si bos adalah wanita yang berwatak keras. So...mau tidak mau yah terima saja. At least, dicoba dulu, selanjutnya biarkan bos menilai kinerja kita. Just let the wind flow... . Kebetulan jenis pekerjaan saat ini hampir mirip dengan pekerjaan saya sebelumnya. Jadi mungkin si bos melihat CV saya sebelumnya dan memutuskan untuk rolling dengan ”partner” sebelumnya. ”Duh...padahal udah enak-enak di tempat sebelumnya. Baru sebentar menjabat lagi eh dipindah lagi.” Saya hanya bisa membatin. Seminggu didampingi rekan kerja, sedikit banyak saya pun belajar dan mengerti kalau kerjaan saya tidak jauh berbeda dengan kerjaan sebelumnya. Ada plus minusnya. Meskipun sebenarnya di tempat kerja sebelumnya agak sedikit lebih repot. Ingatan saya pun kembali ke tempat kerja lama. Zaman rempong. Saya harus pulang hingga larut malam. Bahkan kadang sering tidak pulang juga. Menginap di kantor untuk satu hal yang namanya ”closing”.
Tapi batin saya tetap tidak tenang. Karena sebelumnya saya tahu bagaimana perkejaan seperti ini dan menuntut konsentrasi tinggi. Maklum pekerjaan ini berkaitan dengan operasional. Jika salah sedikit saja, bisa fatal akibatnya. Itu pula yang membuat saya agak sedikit depresi. Tapi kadarnya agak sedikit dibandingkan pekerjaan sebelumnya. Hmmm...mungkin karena saya sudah punya pengalaman sebelumnya yah. Jadi agak sedikit tahan banting dan mental sudah terlatih, sehingga kadar stress-nya sedikit berkurang. Hahaha.... Tapi tetap saja dalam hati saya tidak tenang. Saya pun mengungkapkan hal ini kepada bos, jika pekerjaan ini memicu adrenalin dan hal ini juga yang membuat saya resign dari pekerjaan lama. Bos saya pun mengerti dan dia menyarankan untuk mencobanya. Saya hanya membalas ucapan bos bahwa saya tidak bisa berjanji apa-apa. Yah lihat saja hasilnya nanti.
Sejumlah kawan sejawat sempat bertanya kepadaku: ”Bagaimana pekerjaanmu?” Saya katakan, ”So far so good. Tidak banyak bedanya dengan pekerjaan sebelumnya”. Saya rasa jawaban itu cukup, karena realitanya memang demikian. Hari demi hari berlalu. Sampai suatu kali senior saya satu ruangan dan salah satu tugas saya juga membantu pekerjaannya, mengatakan, ”Stress yah?” Saya no comment. Karena tanpa diberi tahu pun sebenarnya senior saya tahu kok kalau pekerjaan yang saya emban sekarang memiliki tingkat stress tinggi. Jam makan pun i tidak teratur akibat tuntutan pekerjaan. Saya hanya membatin. ”Ya iyalah, masa ya iyah donk. Mulan aja makan mangga, bukan kedondong”.
Tapi memang pada minggu-minggu pertama menekuni pekerjaan ini, saya cukup stress. Malah suatu kali saya pernah menangis. Persis seperti yang pernah saya alami di kantor lama. Jadi saya hanya berpikir untuk mencobanya selama satu bulan. Setelah itu saya akan bilang ke boss saya, kalau saya memang tidak cocok untuk jenis pekerjaan ini.
Entah rumor darimana, suatu hari ada salah satu partner kerja saya yang kebetulan cukup dekat di kantor. Dia memberitahu saya bahwa ada beberapa orang yang beranggapan bahwa saya agak sombong. Mereka mengatakan bahwa pekerjaan yang sekarang tidak jauh berbeda dengan pekerjaan dulu dan menganggap pekerjaan yang sekarang ini tidak ada apa-apanya. Ternyata, ketika saya sedang bekerja ada beberapa oknum juga yang suka bisik-bisik gak jelas menciptakan rumor negatif. ”Hare gene, masih ada aja yeh yang ember ?? cap cay deeehhh” batin saya. Sesuai dengan saran dari rekan kerja yang lain, saya pun menerapkan prinsip: “Sedikit bicara, banyak bekerja”.
Toh saya memang dibayar untuk bekerja, bukan bergosip. Tidak perduli orang lain berkata di luar apa, yang penting kerjaan saya beres....res...res... Sekian dan terima kasih. Cheers, SL ILUSTRASI FOTO-FOTO DOK REDAKSI MODERATOR - Penggagas KoKi : ZEVERINA Pembaca "KOLOM KITA" (KoKi) entah di Bontang, Inggris, Bali, Belanda, New Jersey, Kuwait, Australia, atau di Kediri, silakan berbagi peristiwa seputar kehidupan sehari-hari. Kirimkan artikel dan foto melalui form "Kirim Artikel", jika mengalami kesulitan kirimkan melalui email: temennyazev@gmail.com ; kokizeverina@gmail.com
|
| About KoKi | Info iklan | Privacy policy | Terms of use| Karir | Contact Us |
|