SABTU, 19 APRIL 2014
 
        Lupa Password?

detikTravel

detikTravel

Info Promosi Travel

Wego
Tags
This will be shown to users with no Flash or Javascript.
KoKiUnek-Unek
CITIZEN JOURNALISM: SIAPA SAJA, MENULIS APA SAJA
Aku Bangga Akan Ibuku
Dewi - Kuching

Aku sedang dalam mobil temanku. Kami berlima pergi makan siang ke sebuah warung sunda yang baru saja buka di kota kami. Tiba-tiba terjadi percakapan aneh yang masuk ke telingaku dalam perjalanan itu. Temanku bertanya kepada anak temanku di sebelahnya, "Kamu bangga gak dengan Mamamu?"

Aku terkejut mendengarnya. Itu memang sebuah pertanyaan biasa, tapi menurutku tidak dalam konteks ini. Ibu anak itu adalah teman kami dan dia juga berada di dalam mobil yang sama. Jika anak itu menjawab tidak, tentu saja akan menyakiti ibunya sendiri. Sebaliknya, bila anak itu menjawab bangga akan ibunya, mungkin dia terpaksa menyatakan itu agar tidak menyakiti hati ibunya.

Untungnya anak temanku bijaksana. Dia menjawab, " Ah lumayan bangga dong, tapi tidak dalam masak-memasak."

Ibunya memang paling tidak suka masak. Mungkin karena tidak pandai memasak atau juga malas harus bertungkus lumus di dapur. Entahlah. Yang jelas keluarga mereka memang sering makan di luar. Kebetulan pula salary suaminya dapat memenuhi kebutuhan itu.

Aku hanya tertawa mendengar jawaban anak temanku itu. Aku membatin, "Tidak ada manusia sempurna."

Aku langsung menukas dan mencoba menetralisir situasi. "Ibunya tante dulu juga tidak pernah masak, tapi itu karena beliau memang tidak boleh memasak alias ke dapur sama sekali. Tapi buat tante, hal itu no problem, karena toh sepanjang hidup, tante selalu bisa makan enak, hahaha...."

Anak temanku pun tersenyum malu-malu.

Temanku yang bertanya ke anak temanku itu langsung angkat suara,’’Gue paling gak bangga dengan nyokap gue, malah suka malu sama dia, karena nyokap suka bikin malu gue di depan orang lain,’’ katanya. ’’Misalnya, kalau gue lagi asik-asiknya ngobrol dengan nyokap di angkot.. eh tahu-tahu dia nyeletuk, 'kamu belum sikat gigi yah? Gigimu kuning!'. Nah malu banget kan?!’’

Kita langsung tertawa semua mendengar curhatan hatinya.

Duh, serius banget neh muka temanku. Keliatan banget dia masih tidak suka, padahal ibunya belum lama pulang. Keliatan banget dia memang tidak bangga akan ibunya.

" Aku juga paling hobi diomelin, dimarahin, dan dijewer sama nyokap gue, tapi biasa aja sih buat gue, karena dulu gue emang nakal kali....hahaha," sahutku menetralisir pembicaraan itu.
Karena aku kurang berkenan bila kita memberi contoh kurang baik di depan anak temanku dengan mengatakan kita tidak bangga dengan seorang ibu yang telah membesarkan dan melahirkan kita. Apapun kekurangannya. " Nobody's perfect, " tambahku untuk lebih menekankah kalau aku tidak suka atas ungkapan temanku bahwa dia tidak bangga akan ibunya.

Ibuku juga bukan orang pintar. Ibu tidak bertitel sarjana berjejer panjang. Ibu bukan pula seorang business woman, walaupun dulu pernah mencoba mempunyai sebuah usaha sendiri. Beliau hanya seorang ibu rumah tangga biasa, bahkan minus masak-memasak untuk keluarga, tapi aku tidak pernah meragukan bahwa aku bangga dengan beliau.

Selama hidupku, aku belum pernah merasakan masakan ibuku sendiri. Tapi entah mengapa, buat aku itu bukan hal mutlak untuk aku berbangga atau tidak akan ibuku. Kebetulan beliau dulu punya penyakit yang tidak boleh menghirup bau asap kompor, sehingga memang beliau tidak pernah memasak sama sekali, bahkan ke dapur saja mungkin tidak pernah.

Kebanggaanku pada beliau adalah bagaimana beliau bisa sabar menghadapi ulah anak-anaknya yang lumayan banyak. Aku berdelapan saudara. Anak-anak laki-lakinya hobi sekali berkelahi di sekolah, hingga beliau sering dipanggil oleh kepala sekolah. Sementara aku yang hanya memiliki dua orang putra sudah merasa berat bukan kepalang.

Bagaimana beliau bisa tetap mencukupi kebutuhan anak-anaknya dari pensiun janda, setelah ayahku meninggal, tanpa merepotkan anak-anaknya yang telah berkeluarga. Sedangkan aku selalu saja merasa uangku kurang padahal gaji suamiku tentunya terbilang lebih banyak dari pensiun janda ibuku.

Bagaimana beliau bisa tenang menghadapi badai dalam perjalanan hidup keluarga kami yang selalu datang dan pergi, sedangkan aku selalu mengeluh untuk masalah remeh-temeh.

Kebanggaanku pada beliau makin kental justru setelah aku berkeluarga. Aku bisa merasakan betapa susahnya mengendalikan sebuah keluarga yang harmonis. Sedangkan beliau dulu bisa menciptakan suasana keluarga yang harmonis, akur dan bahagia selalu.

Aku bangga dengan ibuku walau ibuku tidak sesehat ibu-ibu temanku. Ibuku selalu sakit, walau tidak sampai keluar masuk rumah sakit tapi tidak pernah sedikitpun mengeluhkan penyakitnya, hingga memberi pelajaran sebuah ketabahan untuk putra-putrinya.

Kami bangga terhadap beliau karena sangat mempercayai anak-anaknya, sehingga bila ada laporan tentang kenakalan putera puterinya dia akan membela anak anaknya, karena beliau lebih mempercayai anak-anaknya daripada siapapun. Biasanya memang kami selalu benar, walau kami memang nakal semua.

Yang jelas aku bangga dengan beliau karena berani memarahi suster kepala sekolahku yang terkenal galak setengah mati, karena beliau tahu siapa anaknya.

Rasa banggaku akan beliau mendidik diriku untuk berusaha berlaku seperti beliau ketika aku juga mempunyai putra, yaitu berlaku baik, benar , percaya pada anak- anak dan selau bertindak seadil mungkin.

Aku sangat bangga dengan ibuku, walau dia mungkin bukan siapa-siapa bagi orang lain, tapi buat aku dia adalah segalanya.

Bagaimana dengan anda? Banggakah anda dengan ibu bapak anda?

ILUSTRASI FOTO-FOTO DOK REDAKSI 

MODERATOR - Penggagas KoKi : ZEVERINA

Pembaca "KOLOM KITA" (KoKi) entah di Bontang, Inggris, Bali, Belanda, New Jersey, Kuwait, Australia, atau di Kediri, silakan berbagi peristiwa seputar kehidupan sehari-hari. Kirimkan artikel dan foto melalui form "Kirim Artikel", jika mengalami kesulitan kirimkan melalui email: temennyazev@gmail.com ; kokizeverina@gmail.com


1 dari 7 Halaman Komentar | First Prev Next Last
G o m b a l !!!
Posted by: dewimeong | Kamis, 19 April 2012 | 05:48 WIB
Aku bangga sama ibu Dewi Meong...
Posted by: Penyanyi Dangdut | Rabu, 18 April 2012 | 14:21 WIB
Saya bangga sama ibu saya. Wanita yang kuat,ibu yang mengasihi anak2nya tanpa mengharap imbalan atau hitung2an R.O.I, pendoa, istri yang setia dalam suka dan duka dan adik yang mengasihi kakak2nya tanpa pamrih dan kakak yang mengasihi adiknya tanpa pamrih.
Posted by: SU | Jumat, 13 April 2012 | 15:59 WIB
nepsong depan vel gawat donk !!! hahahaha , gw lewat hape jg gampang komentnya......kan enak bisa sambil mandi !! wkwkwkkw...........upsss forno ya???
Posted by: dewimeong | Selasa, 10 April 2012 | 06:29 WIB
Hahaha nepsong didepan pak meong.. pasti berisik dah wkwkwk... makanya jgn ngetik di hp kalau lg log in di sini... Farvel bela2 in buka laptop supaya bs bebas mengetik krn lg mood utk login disini krn tiap hr bukanya dr hp makanya gak bs kasih komentar.. jd pembaca senyap saja hehe
Posted by: farvel | Senin, 9 April 2012 | 20:43 WIB
Anda harus login untuk memberi komentar pada Artikel ini...
About KoKi | Info iklan | Privacy policy | Terms of use| Karir | Contact Us
 
© 2008 - 2009 KoKi. All rights reserved