| KoKiUnek-Unek |
CITIZEN JOURNALISM: SIAPA SAJA, MENULIS APA SAJA
Aku Bangga Akan Ibuku
Aku sedang dalam mobil temanku. Kami berlima pergi makan siang ke sebuah warung sunda yang baru saja buka di kota kami. Tiba-tiba terjadi percakapan aneh yang masuk ke telingaku dalam perjalanan itu. Temanku bertanya kepada anak temanku di sebelahnya, "Kamu bangga gak dengan Mamamu?"
Aku terkejut mendengarnya. Itu memang sebuah pertanyaan biasa, tapi menurutku tidak dalam konteks ini. Ibu anak itu adalah teman kami dan dia juga berada di dalam mobil yang sama. Jika anak itu menjawab tidak, tentu saja akan menyakiti ibunya sendiri. Sebaliknya, bila anak itu menjawab bangga akan ibunya, mungkin dia terpaksa menyatakan itu agar tidak menyakiti hati ibunya. Untungnya anak temanku bijaksana. Dia menjawab, " Ah lumayan bangga dong, tapi tidak dalam masak-memasak." Ibunya memang paling tidak suka masak. Mungkin karena tidak pandai memasak atau juga malas harus bertungkus lumus di dapur. Entahlah. Yang jelas keluarga mereka memang sering makan di luar. Kebetulan pula salary suaminya dapat memenuhi kebutuhan itu. Aku hanya tertawa mendengar jawaban anak temanku itu. Aku membatin, "Tidak ada manusia sempurna." Aku langsung menukas dan mencoba menetralisir situasi. "Ibunya tante dulu juga tidak pernah masak, tapi itu karena beliau memang tidak boleh memasak alias ke dapur sama sekali. Tapi buat tante, hal itu no problem, karena toh sepanjang hidup, tante selalu bisa makan enak, hahaha...." Anak temanku pun tersenyum malu-malu.
Kita langsung tertawa semua mendengar curhatan hatinya. Duh, serius banget neh muka temanku. Keliatan banget dia masih tidak suka, padahal ibunya belum lama pulang. Keliatan banget dia memang tidak bangga akan ibunya. " Aku juga paling hobi diomelin, dimarahin, dan dijewer sama nyokap gue, tapi biasa aja sih buat gue, karena dulu gue emang nakal kali....hahaha," sahutku menetralisir pembicaraan itu. Ibuku juga bukan orang pintar. Ibu tidak bertitel sarjana berjejer panjang. Ibu bukan pula seorang business woman, walaupun dulu pernah mencoba mempunyai sebuah usaha sendiri. Beliau hanya seorang ibu rumah tangga biasa, bahkan minus masak-memasak untuk keluarga, tapi aku tidak pernah meragukan bahwa aku bangga dengan beliau. Selama hidupku, aku belum pernah merasakan masakan ibuku sendiri. Tapi entah mengapa, buat aku itu bukan hal mutlak untuk aku berbangga atau tidak akan ibuku. Kebetulan beliau dulu punya penyakit yang tidak boleh menghirup bau asap kompor, sehingga memang beliau tidak pernah memasak sama sekali, bahkan ke dapur saja mungkin tidak pernah. Kebanggaanku pada beliau adalah bagaimana beliau bisa sabar menghadapi ulah anak-anaknya yang lumayan banyak. Aku berdelapan saudara. Anak-anak laki-lakinya hobi sekali berkelahi di sekolah, hingga beliau sering dipanggil oleh kepala sekolah. Sementara aku yang hanya memiliki dua orang putra sudah merasa berat bukan kepalang. Bagaimana beliau bisa tetap mencukupi kebutuhan anak-anaknya dari pensiun janda, setelah ayahku meninggal, tanpa merepotkan anak-anaknya yang telah berkeluarga. Sedangkan aku selalu saja merasa uangku kurang padahal gaji suamiku tentunya terbilang lebih banyak dari pensiun janda ibuku.
Bagaimana beliau bisa tenang menghadapi badai dalam perjalanan hidup keluarga kami yang selalu datang dan pergi, sedangkan aku selalu mengeluh untuk masalah remeh-temeh.
Aku bangga dengan ibuku walau ibuku tidak sesehat ibu-ibu temanku. Ibuku selalu sakit, walau tidak sampai keluar masuk rumah sakit tapi tidak pernah sedikitpun mengeluhkan penyakitnya, hingga memberi pelajaran sebuah ketabahan untuk putra-putrinya. Kami bangga terhadap beliau karena sangat mempercayai anak-anaknya, sehingga bila ada laporan tentang kenakalan putera puterinya dia akan membela anak anaknya, karena beliau lebih mempercayai anak-anaknya daripada siapapun. Biasanya memang kami selalu benar, walau kami memang nakal semua. Yang jelas aku bangga dengan beliau karena berani memarahi suster kepala sekolahku yang terkenal galak setengah mati, karena beliau tahu siapa anaknya.
Rasa banggaku akan beliau mendidik diriku untuk berusaha berlaku seperti beliau ketika aku juga mempunyai putra, yaitu berlaku baik, benar , percaya pada anak- anak dan selau bertindak seadil mungkin. Aku sangat bangga dengan ibuku, walau dia mungkin bukan siapa-siapa bagi orang lain, tapi buat aku dia adalah segalanya. Bagaimana dengan anda? Banggakah anda dengan ibu bapak anda? ILUSTRASI FOTO-FOTO DOK REDAKSI MODERATOR - Penggagas KoKi : ZEVERINA Pembaca "KOLOM KITA" (KoKi) entah di Bontang, Inggris, Bali, Belanda, New Jersey, Kuwait, Australia, atau di Kediri, silakan berbagi peristiwa seputar kehidupan sehari-hari. Kirimkan artikel dan foto melalui form "Kirim Artikel", jika mengalami kesulitan kirimkan melalui email: temennyazev@gmail.com ; kokizeverina@gmail.com
|
| About KoKi | Info iklan | Privacy policy | Terms of use| Karir | Contact Us |
|