SENIN, 21 APRIL 2014
 
        Lupa Password?

detikTravel

detikTravel

Info Promosi Travel

Wego
Tags
This will be shown to users with no Flash or Javascript.
KoKiUnek-Unek
CITIZEN JOURNALISM: SIAPA SAJA, MENULIS APA SAJA
Bahasa Daerah Terancam Punah Salah Kita Juga
Syaifuddin Sayuti

Suatu kali saat pulang kampung di Nganjuk, Jawa Timur saya terperangah dengan siaran radio lokal. Bukan soal isinya yang menurut saya biasa saja, tapi penggunaan bahasanya yang sangat mirip dengan radio lokal di Jakarta, tempat saya tinggal sehari-hari. Sebutan gue, elu, nyokap, bokap, jadi idiom yang disebut terus menerus saat siaran oleh sang penyiar.

Jujur saya kaget. Kalau begini, apa bedanya radio daerah dengan radio di Jakarta? Mulai dari lagu, gaya bahasa penyiar hingga cara berguraunya pun mirip dengan gaya gaul anak Jakarta. Saya yang pulang kampung berniat mendapat sesuatu yang khas daerah jadi tak merasakan keunikan tersebut. Apa yang saya dengar sama persis, bahkan kadang cenderung berlebihan jika dibandingkan dengan gaya siaran radio di Jakarta. Telinga saya jadi menyerap sesuatu yang aneh, mendengar gaya bahasa slang Betawi dengan dialek medok Jawa. Campur aduk lah kedengarannya.

Usut punya usut, ternyata salah satu penyebabnya adalah adanya jaringan radio ibukota yang beroperasi hingga pelosok nusantara. Dari sisi bisnis memang keberadaan jaringan radio (radio network) merupakan sesuatu yang menggiurkan. Mereka meluaskan jangkauan mulai dari ibukota hingga ke pelosok. Ini juga sekaligus ‘mengimpor’ banyak hal yang sedang menjadi tren di ibukota, mulai dari teknologi, modal hingga itu tadi, gaya berbahasa.

Mungkin para penyiar radio daerah merasa bangga bisa bergaya bahasa persis seperti rekan mereka dalam satu jaringan radio. Tapi mereka agaknya lupa, apa yang mereka lakukan sesungguhnya justru ‘membunuh’ keragaman bahasa daerah tempat mereka berada sendiri. Karena para penyiar ini justru bangga dengan bahasa Indonesia berdialek Betawi yang mereka gunakan. Mereka pelan-pelan secara tak langsung tak lagi menggunakan bahasa daerah tempat mereka tinggal.

Dampaknya? Selain makin menjauhkan para penyiar tadi dengan bahasa daerahnya, yang paling parah adalah terpaan siaran radio itu yang membuat masyarakat perlahan meninggalkan bahasa daerahnya sendiri. Ini tak bisa dibiarkan! Harusnya keberadaan radio daerah dipantau sedemikian rupa untuk memelihara keberagaman budaya lokal. Karena keberagaman inilah yang membentuk satu Indonesia. Radio berjaringan tak salah, yang salah jika menyamakan semua gaya bahasanya menjadi hanya satu, gaya bahasa kota, sehingga identitas lokal pun menghilang.

Saya jadi ingat dengan artikel di situs VOA berjudul “Jarang Digunakan, Ratusan Bahasa Daerah di Indonesia Terancam Punah” yang berisi kekhawatiran akan punahnya bahasa daerah di Indonesia lantaran jarang digunakan.

Kepala Bidang Peningkatan dan Pengendalian Bahasa Badan Bahasa Kementerian Pendidikan Nasional, Sugiyono dalam tulisan itu memperkirakan di penghujung abad 21, jumlah bahasa daerah akan menyusut, yang semula 746 bahasa daerah, menjadi hanya 75 bahasa daerah saja. Wah! Kalau ini benar, maka kondisinya sudah SOS.

Seperti dilansir VOA, Sugiyono mengatakan, salah satu penyebab makin tidak populernya bahasa daerah adalah karena alasan urbanisasi dan perkawinan antar etnis. Mereka yang menikah dengan etnis lain dan pindah ke kota, punya kecenderungan bakal meninggalkan bahasa daerahnya dan lebih memilih bahasa Indonesia sebagai alat komunikasinya. 

Saya sendiri tidak anti perkawinan antar etnis. Justru perkawinan antar etnis menurut saya perlu untuk meningkatkan keberagaman dan pemahaman antar etnis yang di beberapa daerah masih rendah. Namun harusnya perkawinan antar etnis tidak mematikan keberadaan bahasa daerah itu sendiri. Harusnya kedua pihak yang menikah justru menyuburkan pemakaian bahasa daerah pada anak-anak mereka.

Coba bayangkan, alangkah indahnya jika sebuah keluarga yang merupakan hasil perkawinan antar etnis Sunda dan Makasar mengajarkan kedua bahasa daerah pada anak-anaknya. Anak-anak akan punya ketrampilan berbahasa yang lebih kaya. Tidak hanya satu bahasa Indonesia, namun juga bahasa ayah dan ibunya.

Lalu bagaimana agar bahasa daerah tetap lestari dan digunakan di negeri ini? Peran seorang ibu sangat jelas dalam mengajarkan ketrampilan berbahasa. Tak usah mencari contoh jauh-jauh, saya sendiri bisa dan mengerti bahasa Jawa karena ibu saya kerap mengajak bercakap dalam bahasa Jawa sejak kecil. Dan itu hanya dilakukan dalam lingkup rumah saja. Jika bertemu dengan orang dari etnis lain, kita selalu menggunakan bahasa nasional, yakni bahasa Indonesia sebagai jembatan komunikasi.

Setelah besar kemampuan berbahasa Jawa saya tidak lantas hilang meski bapak-ibu saya berurbanisasi dari pelosok Jawa Timur ke ibukota. Dan ini adalah hasil proses panjang yang dilakukan ibu saya di rumah. Cara ini bisa dicontoh siapapun, dengan satu atau dua etnis dalam satu rumah.

Kenapa kita tak mulai dari dari sekarang? Jika bahasa daerah kita yang beragam punah, yang rugi tentu kita sendiri. Bangsa yang besar dari keberagaman suku, budaya dan bahasa ini akan hilang keunikannya jika bahasa daerah menghilang dari bumi Indonesia. Setuju bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa persatuan, tapi jangan pernah lupakan akar budaya kita masing-masing. Banggalah dengan bahasa daerah kita masing-masing, karena dengan itu ke-Indonesiaan kita makin tampak.

ILUSTRASI FOTO-FOTO DOK REDAKSI 

MODERATOR - Penggagas KoKi : ZEVERINA

Pembaca "KOLOM KITA" (KoKi) entah di Bontang, Inggris, Bali, Belanda, New Jersey, Kuwait, Australia, atau di Kediri, silakan berbagi peristiwa seputar kehidupan sehari-hari. Kirimkan artikel dan foto melalui form "Kirim Artikel", jika mengalami kesulitan kirimkan melalui email: temennyazev@gmail.com ; kokizeverina@gmail.com


1 dari 5 Halaman Komentar | First Prev Next Last
Sedih ya...ini juga dialami oleh Bahasa Dayak...dari sekian Bahasa Dayak sekarang tinggal 'ga jelas", orang Dayak tidak mengenal tulisan zaman dulu tapi dengan bahasa Tuturan; Penutur, nah jika penuturnya meninggal dunia wassalam deh...kalo tidak salah dari 25 bahasa Dayak separuhnya sudah punah....
Posted by: wolflew | Sabtu, 31 Maret 2012 | 00:27 WIB
Betullzz..benar2 sudah terancam..kalau yuka sich mau dibulan atau di planet manapun..nggak akan yuka lupa bahasa daerah yuka..yaitu bahasa sasak hihihi ..malah pengen belajar bahasa2 daerah lainnya..
Posted by: Yuka-Kobe | Senin, 19 Maret 2012 | 16:25 WIB
Saya beruntung tinggal nomaden. Di Semarang ya harus belajar bahasa Jawa di sekolah. Entah ya sekarang bahasa daerah udah dihapus di kurikulum atau belum. Ibu saya aja sampe heran, anak²nya yang bletak-bletuk begitu kenal bahasa Jawa jadi halus. Kesimpulan: belajar bahasa Jawa itu otomatis belajar tata krama. Pengalaman pribadi sih ini.. Begitu sampai di Holland grusak-grusuk maning.. Haha..
Posted by: alimuça | Minggu, 18 Maret 2012 | 23:37 WIB
mau merantau ke manapun, kalo di rumah selalu ngomong pake bahasa palembang bersama keluarga :)
Posted by: rosonezz | Jumat, 16 Maret 2012 | 10:09 WIB
Lestarikan bahasa daerah.....!!!
Posted by: rajawali | Jumat, 16 Maret 2012 | 03:46 WIB
Anda harus login untuk memberi komentar pada Artikel ini...
About KoKi | Info iklan | Privacy policy | Terms of use| Karir | Contact Us
 
© 2008 - 2009 KoKi. All rights reserved