SABTU, 19 APRIL 2014
 
        Lupa Password?

detikTravel

detikTravel

Info Promosi Travel

Wego
Tags
This will be shown to users with no Flash or Javascript.
KoKiUnek-Unek
CITIZEN JOURNALISM: SIAPA SAJA, MENULIS APA SAJA
Pelecehan Seksual Dalam Kendaraan Umum
Natya - Jakarta

 

Jika Anda adalah perempuan pengguna kendaraan umum yang tinggal dan mencari nafkah di Jakarta, Anda wajib mempunyai kewaspadaan tingkat tinggi dan mental baja. Anda butuh keduanya karena harus berhadapan dengan yang namanya pelecehan seksual, yang merupakan menu harian tiap naik kendaraan umum. Baru-baru ini, terjadi dua kasus pemerkosaan dalam kendaraan umum yang menghebohkan. Waspadalah!!!

Bulan Agustus lalu, Livia, mahasiswi Universitas BINUS, menjadi korban pemerkosaan dalam mikrolet M24. Ia ditemukan tewas dalam kondisi mengenaskan. Livia dibuang di daerah Cisauk, Tangerang. Bulan September, RS, seorang karyawati, diperkosa dalam mikrolet D02 oleh empat orang. Kasus yang terakhir ini, terekspos besar-besaran dan membuat ketar-ketir hati perempuan pengguna kendaraan umum di Jakarta.

Di tengah kehebohan kasus pemerkosaan yang terakhir, Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo yang akrab disapa Foke, mengeluarkan pernyataan yang belakangan diralatnya disertai permintaan maaf. Berikut adalah pernyataan beliau yang saya kutip dari sebuah media online: "Bayangkan saja kalau orang naik mikrolet duduknya pakai rok mini, kan agak gerah juga. Sama kayak orang naik motor, pakai celana pendek ketat lagi, itu yang di belakangnya bisa goyang-goyang”.

Pernyataan Foke ini menuai reaksi keras dari para aktivis perempuan. Berikut adalah beberapa ekspresi mereka saat bereaksi mendemo Foke:

Stop menyalahkan korban perkosaan.
Don’t tell us how to dress, tell them not to rape.
Bukan rok kami yang salah, tapi otak kalian yang mini.

Saya tidak akan membahas mengenai dua kasus perkosaan tersebut karena beritanya bisa dibaca dimana-mana. Tapi seandainya punya kesempatan, saya akan turut serta dalam demo yang meminta Foke memperbaiki layanan transportasi umum di Jakarta, yang sangat tidak berpihak kepada keamanan perempuan. Hal yang paling mengganggu adalah merajalelanya pelecehan seksual dalam kendaraan umum.

Sebagai perempuan yang terpaksa menggunakan kendaraan umum setiap hari kerja, saya punya pendapat berbeda dengan Foke. Pelecehan seksual dalam kendaraan umum menjadi hal yang harus kami hadapi dan lawan sehari-hari, tak peduli baju tertutup seperti apapun yang kami pakai. Para pelaku beroperasi berdasarkan KESEMPATAN, bukan berdasar model baju yang kami kenakan.

Saat ada kesempatan, mereka akan beraksi, tak peduli korbannya siapa dan memakai baju seperti apa. Setiap berangkat kerja, saya memakai celana panjang dan kemeja dipadu blazer lengan panjang, bukan rok mini plus baju ketat, tetapi tetap saja ada yang berusaha meraba, mencolek, menggesek, atau melakukan pelecehan seksual secara verbal.

Pertama kali naik kendaraan umum (Kopaja) di Jakarta, saya terkaget-kaget saat ada lelaki yang berusaha menggesek-gesek ke badan saya. Meski masih culun dan tak paham intensi si lelaki, saya merasa amat tidak nyaman dan tidak sudi diperlakukan seperti itu. Saya menginjak kakinya kuat-kuat dengan sepatu hak tinggi yang saya gunakan, lalu menyodok rusuknya. Ia meringis kesakitan. Saya melotot galak sambil menyelempangkan tas besar untuk menutupi tubuh saya dari si lelaki. Si lelaki lalu berpindah tempat.

Selang beberapa menit kemudian, tak sengaja tatapan saya kembali tertambat pada si lelaki tadi. Saya lihat ia kembali mengulangi ritual menggeseknya ke arah seorang perempuan manis berkerudung. Si perempuan bergeser, berusaha menghindar di tengah sempitnya ruang gerak, tapi si lelaki terus mengikutinya. Perempuan itu tidak segalak saya. Akhirnya si perempuan buru-buru turun.

Meski ada beberapa lelaki berbadan besar dalam Kopaja yang menyadari kejadian tersebut, tak ada seorang pun yang membela kami. Saya dan si perempuan manis berkerudung melindungi diri sendiri dengan cara kami masing-masing.

Berhubung sudah sering menjumpai kejadian serupa, lama-lama saya paham modus operandi para pelaku pelecehan. Saat berangkat dan pulang kerja menjadi saat pertempuran melawan para pelaku pelecehan di dalam kendaraan umum. Jika ada tempat duduk kosong di samping saya, saya sengaja menyisakannya bagi perempuan lain, sebagai bentuk solidaritas, meski harus menghadapi tatapan masam dan sebal lelaki terdekat yang menginginkan tempat duduk tersebut. Saya tak peduli.

Dengan duduk, setidaknya memperkecil resiko (meski bukan berarti meniadakan) perempuan menjadi korban pelecehan dalam sesaknya kendaraan. Kami, para perempuan, harus pandai menjaga diri sendiri, berhubung negara dan orang-orang di sekitar kurang begitu peduli.

Selain pelecehan seksual yang mengenaskan, penumpang juga hanya bisa pasrah terhadap kebijakan sopir plus kondektur. Mereka adalah pihak yang berkuasa. Mereka bisa dengan seenaknya menurunkan penumpang di tengah jalan dan mengalihkan ke angkutan umum lain, lalu bereaksi lebih galak saat diprotes penumpang. Tidak ada SIM atau identitas sopir yang jelas, seperti halnya dalam taksi. Terkadang sopir adalah ABG tanggung yang merupakan sopir tembak, yang cara mengemudinya ugal-ugalan dan membuat jantungan. Bila penumpang memprotes cara mengemudinya, penumpang akan mendapat intimidasi yang tidak menyenangkan.

Entah kemana perempuan pengguna kendaraan umum harus mengadu karena sepertinya para pemegang kekuasaan lebih memilih mencari-cari kesalahan para perempuan daripada memberikan perlindungan.

 

Note: terima kasih kepada Lyna Kuwait, penyemangat saya.

ILUSTRASI FOTO-FOTO DOK REDAKSI 

MODERATOR - Penggagas KoKi : ZEVERINA

Pembaca "KOLOM KITA" (KoKi) entah di Bontang, Inggris, Bali, Belanda, New Jersey, Kuwait, Australia, atau di Kediri, silakan berbagi peristiwa seputar kehidupan sehari-hari. Kirimkan artikel dan foto melalui form "Kirim Artikel", jika mengalami kesulitan kirimkan melalui email: temennyazev@gmail.com ; kokizeverina@gmail.com


1 dari 6 Halaman Komentar | First Prev Next Last
Foke ngak bisa mimpin,cuma berat di kumisnya doang euyy..
Posted by: Wahnam | Minggu, 30 Oktober 2011 | 08:58 WIB
Oh my God!:(:(:( Becareful Dik Natya.....
Posted by: Muti | Rabu, 26 Oktober 2011 | 09:07 WIB
memang solidaritas sesama pengguna angkutan umum mesti ditingkatkan... jgn diem aja kalo ada melihat ada yg dilecehkan ato dicopet. om foke mesti sering2 disuruh naik ankot biar liat dgn mata kepala sendiri kondisi angkutan umum di jkt... artikel nat bagusnya dikirim ke om foke
Posted by: wyd | Senin, 17 Oktober 2011 | 18:24 WIB
Gak jauh beda dah nat, pengalamanku dulu di angkot di medan...sebeeeeel dah...dulu wkt msh sekolah satu2nya alat transportasi yah dgn angkot ini mau gak mau walau sering kena pelecehan kudu di tahankan hiks.....malah kk ku pernah lho plg dr sekolah nangis2 dirumah wkwkwk lucu kalau mengingat itu soalnya kk ku pucat pasi krn wkt di angkot dia dpt pelecehan seksual....tp syukur deh aq sudah lama pensiun dr urusan angkot krn wkt krj aq beli motor biar wuzzz jauh dr pelecehan.amit2 deh...tetap semangat nat!! salut atas sikap km yg solidaritas ma sesama penumpang cewek di angkot......kalau di Malaysia di subwaynya ada satu gerbong khusus buat perempuan...kalau merunut kata2 dr si Foke... gak 100% benar..wong di dunia barat kalau summer para perempuan2 nyaris telanjang kok..bukan mini aje pakaiannya tp nyaris telanjang...para lelaki (gak semuanya) gak memperkosa kok...dimana2 ada kasus pemerkosaan dan itu bukan krn rok mini....please deh Foke....
Posted by: farvel | Kamis, 6 Oktober 2011 | 22:32 WIB
Udah pasti mesti di galak in pelakunya, krn mrka seenaknya aj, Knp angkutan di sini ga kyk di LN yg nyaman bgt...
Posted by: Eva | Rabu, 5 Oktober 2011 | 11:16 WIB
Anda harus login untuk memberi komentar pada Artikel ini...
About KoKi | Info iklan | Privacy policy | Terms of use| Karir | Contact Us
 
© 2008 - 2009 KoKi. All rights reserved