JUMAT, 18 APRIL 2014
 
        Lupa Password?

detikTravel

detikTravel

Info Promosi Travel

Wego
Tags
This will be shown to users with no Flash or Javascript.
KoKiUnek-Unek
CITIZEN JOURNALISM: SIAPA SAJA, MENULIS APA SAJA
Suami Impoten, Ceraikan Saja!
La Rose Djayasupena - Belanda

 

Kita pasti sering mendengar kisah seorang istri yang mandul. Lalu, suami mencari istri kedua dan menikah lagi, baik atas kemauan sendiri ataupun atas desakan orangtuanya. Istri pertama yang mandul pun hanya bisa pasrah karena memang dirinya tidak bisa memberikan keturunan sementara suami dan mertua ingin mempunyai keturunan. Bahkan, ada suami yang dengan tega langsung menceraikan istrinya yang mandul. Menyedihkan sekali bagi kita, sebagai perempuan, diperlakukan seperti itu.

Suami bisa berpoligami, menikah lagi dengan perempuan lain, atau menceraikan istrinya yangmandul. Jika suami bisa demikian, istri pun bisa melakukan hal sama. Istri berpoliandri atau menceraikan suami yang mandul atau impoten. Biar adil. Jadi, bukan hanya laki-laki yang bisa seenak udel-nya memperlakukan perempuan seperti itu. Perempuan pun harus bisa bertindak seenak udel memperlakukan laki-laki seperti itu. Setuju, nggak?

Perempuan juga bisa menceraikan suami yang mandul atau impoten, lalu mencari laki-laki lain dan menikah lagi. Daripada selingkuh dengan laki-laki lain untuk memuaskan kebutuhan seksualnya sementara masih berstatus istri seseorang. Lebih baik jika suami-istri berpisah secara baik-baik, bukan begitu?

Aku tidak memahami laki-laki di Indonesia. Hanya gara-gara masalah keturunan, mereka menceraikan istrinya atau menikah lagi dengan perempuan lain. Tanpa memiliki perasaan bersalah, seolah wajar saja bagi laki-laki untuk memiliki perempuan lain hanya karena istrinya mandul. Padahal, istri masih bisa melayani kebutuhan seksual suaminya. Berarti, istri masih sehat. Tidakkah sebaiknya suami juga harus bisa menerima perempuan yang sudah dinikahinya meskipun tidak bisa memberikan keturunan. Tanpa harus menceraikan atau menikah lagi dengan perempuan lain.

Di Belanda, banyak pasangan yang memutuskan tidak mempunyai anak. Alasannya, repot dan biayanya mahal. Aku melihat mereka hidup sangat bahagia. Padahal, kehidupan di Belanda makmur bagi warga yang mempunyai anak. Mereka akan mendapatkan uang tunjungan anak yang besarnya sesuai dengan usia anak dari pemerintah. Pendidikan gratis untuk anak juga diberikan oleh pemerintah.

Pasangan di Belanda justru lebih memilih untuk memelihara binatang seperti anjing dan kucing, atau mengadopsi anak-anak dari negara miskin. Tetapi, masih ada, sih, yang memutuskan untuk mempunyai anak saat usia mereka sudah tidak muda lagi. Di Belanda, aku belum pernah mendengar laki-laki yang menceraikan pasangan wanitanya karena mandul.

Apakah KoKiers pernah mendengar seorang istri yang menceraikan suaminya gara-gara mandul atau impoten? Jujur, selama tinggal di Indonesia, aku justru belum pernah mendengar seorang istri menceraikan suaminya gara-gara mandul atau impoten. Kenapa? Karena hal itu masih tabu dibicarakan dan diceritakan jika seorang perempuan mengungkapkan kondisi suaminya. Sementara, laki-laki bisa seenaknya menyebarkan kekurangan istrinya. Kebanyakan, aku mendengar seorang istri menceraikan suaminya karena selingkuh, penjudi atau pemabuk.

Mungkin, ada juga yang bercerai karena suami mandul atau impoten. Tetapi masalah itu hanya untuk urusan pribadi karena, sebagai perempuan, tidak pantas menceritakan kepada orang lain penyebab perceraiannya. Sementara, seorang perempuan yang diceraikan hanya karena mandul atau tidak bisa memberik keturunan pernah atau kerap terdengar. Iya, kan?

Sepertinya, hal itu memang tabu. Perempuan memang tidak pantas menuntut kebutuhan seksualnya. Suami pasti akan menyebut istrinya perempuan jalang atau pelacur. Pokoknya, mereka dicap perempuan tidak baik, deh. Sementara, kalau laki-laki “jajan” atau selingkuh kesana-kemari, bercinta dengan perempuan lain, sepertinya wajar-wajar saja. Paling banter, mereka akan disebut bajingan atau playboy.

Bagaimana kalau laki-laki yang mandul? Umumnya, perempuan menerima dan tetap setiap kepada suaminya dengan mencari jalan keluar. Misalnya mengadopsi seorang anak di pantai asuhan atau memungut anak saudara yang kurang mampu atau hanya hidup berdua sampai maut memisahkan mereka.

Ada juga, sih, laki-laki yang tetap setia kepada istrinya walaupun mereka tidak mempunyai keturunan karena istrinya mandul. Tetapi, itu bisa dihitung dengan jari. Kebanyakan, sih, justru suami menikah lagi dengan perempuan lain atau menceraikan istrinya. Jangankan istrinya yang mandul. Sekalipun istri bisa memberikan keturunan, suami masih suka “jajan” mencari perempuan lain.

Waktu masih kecil, aku mempunyai tetangga suami-istri, sebut saja namanya Bapak dan Ibu Bejo. Mereka sudah lebih dari 10 tahun menikah tidak mempunyai keturunan. Mereka berdua sering bertengkar dan saling menyalahkan tentang siapa yang mandul. Apakah mereka memeriksakan diri ke dokter, aku nggak tahu karena aku masih kecil. Aku hanya mendengar (nguping).

Akhirnya, pasangan itu memutuskan bercerai. Tidak lama, mereka menikah lagi dengan orang lain. Ibu Bejo menikah dengan tetangganya (tetanggaku juga). Sedangkan Bapak Bejo juga sudah menikah dan mempunyai anak dengan perempuan laon. Begitu juga Ibu Bejo, setahun kemudian, ia melahirkan seorang anak perempuan yang cantik. Nah, berarti mereka berdua sebenarnya nggak mandul, dong ya? Buktinya, setelah bercerai dan berganti pasangan, masing-masing dikarunia anak.

Bagaimana jika kita mempunyai suami impoten, tidak bisa memuaskan kebutuhan sekual kita? Padahal, kita boleh dibilang masih muda, masih hot-hot-nya. Sementara, suami sudah tidak mampu lagi. Apakah sebaiknya kita bercerai atau berdiam diri saja menerima keadaan suami yang impoten dan tidak bisa memuaskan kebutuhan seksual kita dengan cara lain? Misalnya, dengan masturbasi. Tetapi, sampai kapan kita akan melakukan masturbasi sedangkan hasrat seks kita masih menggebu-gebu.

Umumnya, suami yang impoten menajdi sensitif dan cemburu serta curigaan kepada istri. Iya, kan? Karena, suami merasa dirinya memang sudah tidak mampu lagi. Bukannya memuaskan pasangan dengan cara lain, suami justru tidak mau menyentuh istrinya lagi. Padahal, bagi laki-laki, impoten tidak berarti kegiatan seksualnya berhenti.

Suami seharusnya tetap menyentuh pasangan hidupnya seperti normalnya laki-laki. Karena dekapan dan ciuman sangat berarti bagi perempuan yang berada di sisinya, sekalipun suaminya impoten. Bukan malah istrinya dianggurin karena merasa dirinya sudah tidak mampu lagi. Iya, kan?

Sementara, istri yang ingin meminta kepuasan dengan cara lain tidak berani menyampaikan kepada suami. Bisanya hanya mingkem, hanya berkata dalam hati sambil melihat langit-langit atau dinding kamar. Setelah mengetahui suaminya tidur pulas, diam-diam, ia melakukan masturbasi dengan jarinya. Entah sampai kapan.

 

ILUSTRASI FOTO-FOTO DOK REDAKSI 

MODERATOR - Penggagas KoKi : ZEVERINA

Pembaca "KOLOM KITA" (KoKi) entah di Bontang, Inggris, Bali, Belanda, New Jersey, Kuwait, Australia, atau di Kediri, silakan berbagi peristiwa seputar kehidupan sehari-hari. Kirimkan artikel dan foto melalui form "Kirim Artikel", jika mengalami kesulitan kirimkan melalui email: temennyazev@gmail.com ; kokizeverina@gmail.com


1 dari 8 Halaman Komentar | First Prev Next Last
iya cow mang sk se enak udel e wkwkw ..kalo kebanyakan gaya di goreng aja,termasuk bang komodo hahaha
Posted by: dewimeong | Rabu, 1 Juni 2011 | 11:24 WIB
Meong n Zoe : emang bener enak yah jadi cow banyak maunya, kalo ga nurut ya resiko ga dikasih duit belanja....hidup Cow Viva Cow.....wkwkwk Miauw abangmu nih cow loh....
Posted by: Caridaki | Rabu, 1 Juni 2011 | 09:53 WIB
iya bener kata km zoe jd cow itu enak..bisa banyak maunya wakakak
Posted by: dewimeong | Rabu, 1 Juni 2011 | 06:34 WIB
LRD n Chrissy : iya bener biar rame deh komentar nya jd sumber ketawa, ada katapel ada karet gelang dll segala campur aduk....wkwkwk at least smile for a day
Posted by: Caridaki | Rabu, 1 Juni 2011 | 05:03 WIB
Jadi pengen ikutan komen nih, suami sepupu sy mandul dan mereka pengen banget punya anak, tapi si suami gk mau adopsi anak. Ortu sepupu saya yg kalang kabut suruh anaknya ceraiin suaminya yg mandul. Akhirnya istrinya di suruh ikut bayi tabung, berhasil, anaknya cowok, sekarang dia suruh istrinya ikut bayi tabung lagi pengen punya anak cewek. Padahal istrinya bilang uda kapok, gk mau hamil pake tabung lagi, sakit katanya. Enak yah jadi cowok bisanya cuma nyuruh2, pfffff...
Posted by: Zoe | Selasa, 31 Mei 2011 | 22:01 WIB
Anda harus login untuk memberi komentar pada Artikel ini...
About KoKi | Info iklan | Privacy policy | Terms of use| Karir | Contact Us
 
© 2008 - 2009 KoKi. All rights reserved