JUMAT, 25 APRIL 2014
 
        Lupa Password?

detikTravel

detikTravel

Info Promosi Travel

Wego
Tags
This will be shown to users with no Flash or Javascript.
KoKiUnek-Unek
CITIZEN JOURNALISM: SIAPA SAJA, MENULIS APA SAJA
Gegar Budaya Kerja: dari Swasta Ke Plat Merah
Irwan Adi - Jakarta


*) Besok ada raker lho, datang ya" "Besok ada pelantikan si A jadi Biro, harus datang" "Eh, ini kan harusnya dirapatkan dulu" Hmmm.... gegar budaya kerja mulai terasa.

KoKiers, ingin menulis unek-unek, tapi kok ada rasa sungkan juga ya, karena siapa tahu ada yang merasa tersindir. Tapi, namanya hobi menulis, ya sudah disampaikan saja, sekalian sharings.

Ini adalah tahun menjelang ke dua saya bekerja di perusahaan plat merah. Sebelumnya saya bekerja di perusahaan swasta dimana banyak pekerja asing, dan pekerja dari berbagai daerah. Sebagai pegawai baru, saya merasa optimis untuk meniti karir di perusahaan plat merah. Dengan memperhitungkan pendapatan yang lebih dari cukup dan berbagai cita-cita lainnya, saya langsung menyatakan bergabung.

Bulan-bulan awal seperti biasa, setiap pegawai baru di isi dogma-dogma yang positip dan baik mengenai perusahaan tempat bekerja. Waktu berjalan, belum genap setahun sudah berbagai 'acara' yang harus saya ikuti. Entah ketemu Pak Dirut, penyambutan dari Pak Komut, Acara Bulan Mutu dan lain sebagainya. Pertama merasa tersanjung, selanjutnya......rasa kecewa mulai muncul perlahan-lahan. Kok tidak sesuai dengan motto, visi misi dan hal tetek bengek perusahaan yang digembar-gemborkan. Lips service yang keterlaluan payahnya.

Setelah melewati masa-masa training, saatnya ditempatkan di unit-unit kerja yang ditunjuk. Pertama merasa berdebar-debar, melihat aktifitas mereka yang nampak sudah nikmat dengan pekerjaan masing-masing. Waktu berlalu, rapat mulai diikut sertakan, pekerjaan mulai dilibatkan. Mulai timbul rasa-rasa tidak puas terhadap sistem kerja yang sesungguhnya.

Rapat yang tidak tepat waktu, tidak menghargai pemimpin rapat dengan asyik menelpon bahkan ngobrol dan ketawa-ketawa keras, melebihi suara pemimpin rapat. Dan anehnya mereka terbiasa. Hasil dari setiap pertemuan adalah perut kenyang, hanya itu, tidak lebih. Tidak ada agenda yang dibahas dengan jelas dan terarah. Semua pengen bicara dan tidak mau mendengar.

Ketika melakukan kerja sama dengan unit lain, dengan segala tanggung jawab dan melaksanakan tugas, terjadi apa yang dinamakan menumpang tengkuk teman. Saya yang kebetulan di unit supporting dengan kesadaran saya, menolong dan membantu unit-unit lain yang memang membutuhkan. Namun anehnya watak melayani ini tidak tercermin dari pihak lain yang juga unitnya support. Bahkan cenderung nge-bos semua.

Dari penempatan di unit, mulailah diikutkan di organisasi yang ada di unit. Tim ini dan tim itu mulai saya masuki. Namun yang terjadi dalam benak saya kok malah semua cenderung hanya formalitas dan lips service..abang-abang lambe kalau orang Jawa bilang. percaya atau tidak, di sini, orang akan lebih cepat terkenal bila mampu masuk menjadi panitia di acara yang gebyar-gebyar. Bukan karena prestasi atau kemampuannya. Etos kerja yang lemah (bukan berarti saya kuat) semakin ditunjang dengan sistem yang lemah pengawasannya.

Pernah suatu saat anggota saya pamit untuk bertemu dengan HRD berkaitan dengan pengurusan rumah yang terkena bencana, anggota saya minta ijin jam 2 siang. Tak berapa lama anggota saya kembali dengan wajah murung. Ketika saya tanya, dengan sebel dia menjawab bahwa orang-orang HRD belum kembali dari istirahat siangnya, dan disuruh menunggu sapai jam setengah tiga. Padahal jam istirahat selesai jam satu siang.

Dan anehnya, banyak yang cutinya bisa sampai 50 hari setahun, padahal resminya cuma 12 hari. Busyetttttttt......Begitu banyaknya pelanggaran dan terkesan sudah terbentuk sebuah budaya. Di kompleks yang tersedia security pun praktik pencurian sangat amat marak. Lalu tugas keamanan yang saya amati hanya duduk manis di pos. Lalu mana sanksi dan awarness bila ada kehilangan ataupun penangkapan pencuri?... tidak ada.

Bila pulang dari kerja, semua menampak- kan wajah lelap dan capek, padahal kerjanya tidak jelas dan hanya nge-game seharian. Dan dengan etos kerja seperti itu, mereka masih saja menuntut lebih kepada perusahaan.

Tahun 2006, 2007, 2008, Ketika berada di tepi Sungai Kampar. Pagi datang, melakukan toolbox meeting, kerjakan rencananya. Melakukan pemeriksaan yang berujung pada maintenance alat. Setiap Sabtu, masuk sejam lebih awal dengan manajer, melakukan meeting, jelas terarah dan output-nya bisa dilaksanakan seminggu ke depan. Keamanan security yang tanpa pandang bulu bila ditemukan tindak merugikan perusahaan misal pencurian, ketaatan dalam pemeriksaan sampai hal-hal kecil lainnya. Kerja dengan efisien dan efektif. Tanpa banyak basa-basi. Semua terasa team worknya. tidak ada yang kerja sendiri-sendiri. Yang pegawai bule menyampaikan dengan bahasa yang jelas dan mudah dimengerti, yang lokal pun menerima dan mengerjakan dan pada posisinya mengapa harus melakukannya.

Lalu, apa yang ditawarkan plat merah kepada saya sehingga mau pindah dari swasta yang suasana kerja sangat menggairah- kan? GAJI. Ya, ternyata plat merah satu ini menawarkan gaji yang rada gedhean dikit. Ya sudah lah, sekarang harus menata dari lingkungan terkecil saya terlebih dahulu. Mengajarkan meeting yang baik, kerja yang efektif, dan efesien. Memperhitungkan segala aspek keprofesionalan yang menjadi kewajiban di era gobalisasi.... Mari kerja, bukan dengan acara atau even-even yang tidak  jelas....

Mohon maaf ya bagi yang kurang berkenan, saya juga belum sempurna kok, cuma menyampaikan unek-unek saya.

 

 
 

ILUSTRASI FOTO-FOTO DOK REDAKSI 

MODERATOR - Penggagas KoKi : ZEVERINA

Pembaca "KOLOM KITA" (KoKi) entah di Bontang, Inggris, Bali, Belanda, New Jersey, Kuwait, Australia, atau di Kediri, silakan berbagi peristiwa seputar kehidupan sehari-hari. Kirimkan artikel dan foto melalui form "Kirim Artikel", jika mengalami kesulitan kirimkan melalui email: temennyazev@gmail.com ; kokizeverina@gmail.com


1 dari 7 Halaman Komentar | First Prev Next Last
Non sibi, bertahan aja kok sama arus, tapi jangan tergerus.. lebih baik bertahan terus dan tak tergerus..
Posted by: irenx | Selasa, 9 Maret 2010 | 14:01 WIB
Andr1, mungkin lebih salut dengan orang yang tetap bertahan dengan idealisme di swasta... gak produktif berarti CUT.... hehehhe
Posted by: irenx | Selasa, 9 Maret 2010 | 13:59 WIB
matur nuwun komennya...elnino... semoga tetep semangat
Posted by: irenx | Selasa, 9 Maret 2010 | 13:58 WIB
Pak Irwan Adi, salut! Hm.. semoga anda bisa bertahan melawan arus deras etos kerja plat merah.
Posted by: non sibi | Selasa, 9 Maret 2010 | 01:33 WIB
SEMANGAT Pak!... Salut bapak mau masuk ke dunia plat merah...ck...ck...ck.....
Posted by: Andr1 | Kamis, 4 Maret 2010 | 13:32 WIB
Anda harus login untuk memberi komentar pada Artikel ini...
About KoKi | Info iklan | Privacy policy | Terms of use| Karir | Contact Us
 
© 2008 - 2009 KoKi. All rights reserved