| KoKiSport |
CITIZEN JOURNALISM: SIAPA SAJA, MENULIS APA SAJA
Puasa (Tak) Bikin Atlet Keok
Di Eropa dan negara-negara empat musim di belahan utara lainnya, Ramadan 2011 jatuh pada musim panas. Matahari bersinar lebih lama, suhu udara gampang mendadak menyengat, dan tubuh memproduksi lebih banyak keringat. Bagaimana atlet menyiasati bulan puasa ini? Penghujung Juli lalu, Ibrahim Afellay, pemain sepakbola FC Barcelona, mengalami cedera otot kaki dan harus dikandangkan lima pekan. Mungkin orang awam bakal berkomentar, terluka adalah ‘risiko pekerjaan’ bagi olahragawan. Sialnya, masa pemulihan Afellay ‘diganjal’ oleh Ramadan. Ia sendiri di sebuah wawancara televisi menyatakan, puasa tak mengganggu aktivitasnya sebagai pebola muslim. Namun, Afellay sempat mengutarakan kekhawatirannya seputar training intensif bersama timnya. Apalagi, ini pertama kali ia berpuasa sembari berlatih di bawah terik matahari Spanyol.
Sayang, jadual ajang olahraga internasional kerap tidak memperhitungkan bulan puasa. Kejuaraan Atletik Sedunia di Korea Selatan dan liga sepakbola Eropa berlangsung bertepatan dengan (awal) Ramadan. Bahkan, Olimpiade 2012 di London mendatang, akan ‘tabrakan’ dengan bulan suci umat Islam. Banyak yang berpendapat, puasa dan olahraga tak mungkin bergandengan. Makanan dan minuman adalah ‘bahan bakar’ atlet untuk berprestasi di lapangan. Mustahil ikut marathon dengan perut keroncongan dan didera haus di tenggorokan. Benarkah demikian? “Tak sepenuhnya betul,” ujar Carlien Harms-Aris, praktisi kesehatan lembaga Voedingsadviesgroep di kota Utrecht, Belanda. “Saya masih ingat atlet muslim yang menjuarai marathon di kota Maassluis beberapa waktu silam selama Ramadan. Yang menjadi pertanyaan, apakah prestasi atlet itu mengalami perubahan sewaktu menjalankan puasa,” lanjutnya. Lima tahun lalu, Harms-Aris bersama psikolog Tiny Geerets menerbitkan Sportvoedingswijzer, semacam panduan makanan dan minuman empat sehat lima sempurna bagi atlet. Buku ini juga menyinggung kiat berolahraga di bulan puasa buat (atlet) muslim. Harms-Aris menerangkan, “Camkan tiga hal. Sesuaikan jadual latihan, jangan memforsir, dan perhatikan apa yang Anda konsumsi sewaktu berbuka hingga menjelang sahur! Sebaiknya latihan langsung sesudah Imsak atau sebelum Maghrib. Cermati apa yang Anda makan. Terutama panganan berlemak dan manis. Karbohidrat lebih penting untuk sumber tenaga.” Praktisi kesehatan lainnya, Colinda Hagenberg, aktif sebagai penasehat di Sport Medisch Centrum Amsterdam, justru menekankan training sesudah berbuka. “Sedapat mungkin tetap makan tiga kali sehari. Pra dan pasca training, serta sahur. Kalau perlu, pasang jam weker,” papar Hagenberg. “Memang sulit disiplin dan tak semua orang mau bangun tengah malam untuk makan,” sambungnya maklum. Menurut Harms-Aris, tidak minum lebih problematis ketimbang tidak makan. “Kekurangan cairan berpengaruh terhadap ketangkasan dan konsentrasi atlet. Selain itu, minum berbotol-botol tak ada gunanya kalau tak diimbangi dengan garam,” urai Harms-Aris. Uniknya, penelitian organisasi sepakbola internasional FIFA di Tunisia beberapa tahun silam, malah tak menunjukkan penurunan prestasi atlet muslim yang menjalankan ibadah puasa. Dibanding atlet yang tidak puasa, massa otot atlet muslim tak mengalami perubahan sewaktu berpuasa. Pada tes fisik selanjutnya, hasil penelitian atlet yang puasa juga tak lebih buruk dibanding atlet yang tidak puasa. “Tapi jangan lupa, penelitian tersebut dilakukan pada waktu training. Ketika atlet sedang bertanding, fisik mereka harus berprestasi semaksimal mungkin. Bakal ada fluktuasi ,” sergah Harms-Aris dan Hagenberg hampir serentak. Lantas, bagaimana dengan atlet-atlet muslim yang akan berlaga di Olimpiade London 2012 nanti? Tetap makan-minum dan menangguhkan Ramadan setelah Olimpiade usai? Apa mereka tidak keberatan menunda puasa. Bukankah bulan puasa mengenal pengecualian bagi musafir? Jujur saja, kebanyakan olahragawan wakil negara muslim harus menempuh perjalanan jauh menuju Inggris. Sumber: Harian Trouw “Sporten vlak voor de zon onder gaat” (08-08-2011), Ilustrasi: Reuters P.S. Selamat menjalankan puasa bagi KoKiers muslim di mana pun berada. Mudah-mudahan dilapangkan dan dimudahkan ibadahnya. Semoga bulan suci Ramadan kali ini banyak membawa berkah dan pahala berlimpah. ‘Dah lama nggak nyempil di sini.. :-) Salam hangat buat Dad, TP, dan bala tentaranya dari Lowlands. ILUSTRASI FOTO-FOTO DOK REDAKSI MODERATOR - Penggagas KoKi : ZEVERINA Pembaca "KOLOM KITA" (KoKi) entah di Bontang, Inggris, Bali, Belanda, New Jersey, Kuwait, Australia, atau di Kediri, silakan berbagi peristiwa seputar kehidupan sehari-hari. Kirimkan artikel dan foto melalui form "Kirim Artikel", jika mengalami kesulitan kirimkan melalui email: temennyazev@gmail.com ; kokizeverina@gmail.com
|
| About KoKi | Info iklan | Privacy policy | Terms of use| Karir | Contact Us |
|