| KoKiResensi |
CITIZEN JOURNALISM: SIAPA SAJA, MENULIS APA SAJA
Aftershock
Hai...hai...hai... Ada kabar gembira nih KoKiers. Salah satu kawan kita, KoKiers Hani Yamashita atau lebih familiar disapa RYC no mama telah menelurkan sebvuah karya yang amat apik dalam sebuah bentuk buku. Hari ini, Sabtu (28/1), acara launching bukunya yang mengisahkan tragedi Tsunami yang melanda Jepang tahun lalu. Selamat yah Hani....!!! (redaksi KoKi) Masataka Shimizu terus membungkuk dan meminta maaf kepada seorang ibu yang mencacinya tanpa ampun. Mukanya pias. Setelah dipersilakan memasuki ruangan tempat para korban krisis nuklir mengungsi, Shimizu dan rombongannya tetap berlutut. Dengan posisi seperti itu, mereka membungkukkan badan dan melakukan permintaan maaf a la Jepang pada setiap korban pengungsi. (hal 124) Apa yang Anda bayangkan jika tsunami setinggi 100 meter menghantam Indonesia? Mungkin ingatan Anda langsung melayang pada tragedi tsunami Aceh 2004 silam. Kala itu Indonesia langsung sangat berduka, dan pemulihan bencananya membutuhkan waktu yang sangat panjang.Namun cuplikan cerita di atas, merupakan pengalaman nyata dari tsunami yang melanda jepang 21 Maret 2011 lalu. Touhoku, wilayah Jepang Timur Laut adalah bagian paling parah kerusakannya. Belum lagi menyusul ancaman radiasi dari PLTN Fukushima. Masataka Shimizu, merupakan pimpinan TEPCO yang bertanggung jawab atas radiasi Fukushima. Dengan berani, Shimizu mengakui kesalahannya dan meminta maaf. Ia juga menerima segala macam cacian para korban dengan pasrah. Pihak yang bertanggung jawab memang harus menanggung segala risiko yang mengikutinya. Tapi sepertinya sikap semacam itu amat langka terjadi di Indonesia. Terbukti dari nasib para pengungsi Lapindo yang hingga saat ini belum menemui titik terang. Berbagai kejadian seputar tsunami Jepang di tahun 2011 tentu sudah kita dengar dari berbagai media massa yang menyajikannya secara lengkap. Tentu semua bersepakat bahwa pemulihan pasca bencana Jepang bisa menjadi bahan pelajaran bagi Negara-negara lainnya. Begitu pula di Indonesia, yang notabene rentan dengan berbagai bencana alam. Buku Japan Aftershock berusaha melengkapi berbagai pemberitaan di media dari sudut pandang langsung dua penulisnya. Hani Yamashita, merupakan WNI yang kini tinggal bersama suaminya di Jepang. Ia menjadi relawan di lokasi pengungsian Saitama Super Arema. Junanto Herdiawan adalah analis ekonomi yang bertugas di Jepang. Saat tragedy itu terjadi, Junanto aktif memberitakan kondisi terkini Jepang di tanah air. Ia turut pula membantu KBRI Tokyo dalam penyelamatan para WNI yang tengah berada di Negara Sakura tersebut. Dua sisi tulisan yang saling melengkapi ini akan membawa kita ke berbagai pengalaman hidup yang tak terlupakan. Banyak anak-anak yang kehilangan orangtuanya, Istri yang terpisah dengan suaminya, orang-orang yang mencari kerabatnya. Namun cerita-cerita yang penuh kesedihan itu tidak ditampilkand dengan detil dalam buku ini. Para penulis lebih menyoroti semangat rakyat Jepang untuk bangkit. Jarang ditemui keluhan bernada putus asa, mereka terlihat sangat menerima apa yang terjadi. Buku ini merekam semangat pantang menyerah para korban tsunami. Tentunya kita semua lelah dengan berita-berita yang penuh nuansa kecemasan dan kesedihan. Mungkin, kita bisa belajar dari semangat Ganbarou rakyat Jepang yang mau bahu-membahu kembali membangun negaranya. ![]() Mou ikkai gambarimasu kore kara mata hajimarimasu. Sekali lagi berjuang sekuat tenaga. Mulai saat ini, kembali menata kehidupan. salam,
Jogja Bangkit Publisher
ILUSTRASI FOTO-FOTO DOK REDAKSI MODERATOR - Penggagas KoKi : ZEVERINA Pembaca "KOLOM KITA" (KoKi) entah di Bontang, Inggris, Bali, Belanda, New Jersey, Kuwait, Australia, atau di Kediri, silakan berbagi peristiwa seputar kehidupan sehari-hari. Kirimkan artikel dan foto melalui form "Kirim Artikel", jika mengalami kesulitan kirimkan melalui email: temennyazev@gmail.com ; kokizeverina@gmail.com
|
| About KoKi | Info iklan | Privacy policy | Terms of use| Karir | Contact Us |
|