JUMAT, 18 APRIL 2014
 
        Lupa Password?

detikTravel

detikTravel

Info Promosi Travel

Wego
Tags
This will be shown to users with no Flash or Javascript.
KoKiResensi
CITIZEN JOURNALISM: SIAPA SAJA, MENULIS APA SAJA
Rumah Bambu YBM
Lembayung - SOLO the spirit of java

Judul   : Rumah Bambu
Penulis  : Mangunwijaya
Penerbit  : KPG
Tahun Terbit  : 1999
Jumlah Halaman : 218
Berat Buku  : 220 gram
Jenis Cover  : Soft Cover
Dimensi (L x P) : 210 X 140 
     
Buku ini merupakan kumpulan cerpen Yusuf Bilyarta Mangunwijaya yang pertama dan terakhir kali diterbitkan. Sebagian besar cerpen-cerpen itu ditemukan di rumah beliau, di Kuwera, Yogyakarta, dalam keadaan penuh koreksi dan sulit dibaca. 
     
Rumah Bambu berisi dua puluh cerita pendek atau cerpen yang merupakan karya asli Romo Mangun. Seperti halnya karya beliau lainnya, Romo Mangun selalu mengangkat cerita dengan setting kaum marginal dengan peristiwa yang sepele dan sering terlupa oleh kita. Menurut saya, karya beliau selalu menyejukkan untuk dibaca terutama disaat kita dijejali dengan novel-novel pop yang selalu mengandalkan aspek hedonis untuk dijual, dan roman mendayu-dayu yang menjejali otak kita dengan love melulu… cinta yang selalu dengan syarat, mengapa begini-mengapa begitu, tidak boleh ini-tidak boleh itu… 
     
Dalam penulisan cerpen-cerpennya, Romo Mangun mengambil berbagai  sudut pandang, yaitu ada kalanya diceritakan dia termasuk tokoh dalam cerpen itu sebagai mana real pribadinya, atau dia menyebut subjek sebagai “aku” tetapi tidak jelas apakah aku yang dimaksud ini adalah real atau tidak, dan juga terkadang dia adalah orang yang ada di luar cerita.

Cerpen pertama berjudul “Tak Ada Jalan Lain”, sebuah cerpen yang mengulas tentang himpitan ekonomi yang membuat seorang pemuda tanggung terpaksa bekerja sebagai pengamen banci, yang lucunya malah bisa mendapatkan rejeki dari kemurahan hati seorang pelacur tua. Khas Romo Mangun, selalu membalikkan justifikasi sosial. Cerpen kesembilan berjudul “Rheinstein” memang sedikit saja menyinggung kelemahan ekonomi. Dia membawa cerita kepada perkembangan berikutnya dimana sang tokoh menjadi sukses dalam pendidikan dan finansial.

Cerpen ini penuh dengan ilustrasi gedung dan benteng-benteng indah di Rheinstein, Drachenburg, dan Loosdrechtsche.  Suatu khas Romo Mangun yang lain, pengetahuan sejarah dan arsitekturnya. Saya tak bisa mengatakan cerpen yang mana yang terbaik. Karena bagi saya semuanya sangat menarik dan menghibur. Yup, Romo Mangun memang seorang entertainer sejati. Gaya bahasa yang dipakainya sangat unik, sederhana, transparan, sinis, dan lucu. Ketika dia melontarkan humor, tak jarang kita sering dipaksa untuk menertawakan kesinisannya. Menertawakan hal yang seharusnya membuat kita prihatin....

Memang tidak semua cerpennya dibumbui dengan humor, seperti di Rheinstein misalnya, disana beliau menggambarkan keromantisan dan sensualitas dengan sangat indah. Sementara dia bisa menggambarkan dirinya sendiri sedang jongkok di sungai untuk buang hajat sambil mengobrol dengan penduduk tanpa rasa jengah, sementara yang diajak ngobrol merasa tidak enak sendiri mengganggu sang Romo memenuhi panggilan alam.
     
Ada lagi yang menurut saya sangat menarik dari Rumah Bambu ini, yaitu bagian ”Pengantar”-nya yang ditulis oleh tim penyunting yang terdiri dari Joko Pinurbo dan Th.Kushardini.  Bagian ini saya rasanya sangat cool, karena dari sinilah saya mendapatkan ilustrasi tentang kehidupan pribadi Romo Mangun. Dituliskan bahwa Romo Mangun adalah pribadi yang lucu, aneh, membingungkan, dan mungkin menjengkelkan. Lembut, terbuka, tetapi sering juga keras dan otoriter. Tegar, perkasa, tetapi juga sangat sensitif. Hangat, humoris, sekaligus sinis. Serba kritis, tetapi sering menunjukkan sikapnya yang anti-kritik. Mudah trenyuh dan terharu pada penderitaan orang lain dan mudah tersentak oleh setiap bentuk penindasan, tetapi sikapnya sendiri tak jarang membuat orang lain tersiksa dan menderita.

Ada cerita Romo Mangun menyuruh anak buahnya membuat lem kanji. Tetapi ketika jadi, dia malah marah, karena lem itu terlalu banyak sehingga mubazir. Sambil marah dia mengambil piring,sendok, garam, lalu menyodorkan pada pembuat lem itu dan menyuruhnya memakannya sampai habis.

Cerita lain adalah ada seseorang yang memangkas dahan-dahan pohon di rumah Romo Mangun dengan alasan agar pelatarannya lebih terang dan rapih. Tetapi dia malah marah dengan alasan perlunya menjaga sumber air, lingkungan alami, bla-bla-bla, lalu menyuruh orang itu untuk menyambung dahan-dahan itu kembali tak peduli bagaimana caranya.
     
Begitulah, karya beliau selalu fenomenal untuk saya. Pohon-Pohon Sesawi (hei, buat yang merasa, saya kesusahan nih cari lagi, hikz...), Rara Mendut, Genduk Duku, Lusi Lindri (ini buku lama, trilogi, yang dicetak ulang, tebal sekali tapi sangat bagus sekali), Gerundelan Orang Republik (buku lama, berisi politik, belum dicetak ulang), dan banyak lagi karya lainnya. Silakan beli buku Rumah Bambu, di Gramedia pasti ada. Karena buku ini sangat sayang untuk dilewatkan, dan harus diletakkan di tempat paling atas pada daftar belanjaan Anda selanjutnya.   
     
Waduh, maaf ya kalau kepanjangan, karena saya memang fans berat Romo Mangun. Ngefans berat dengan tulisannya seperti saya ngefans berat dengan rambut putihnya. Hahahaha.... akhir kata, Romo Mangun is rockkk!!!

Disclaimer:

Paragraf 1 dikutip dari back-cover buku Rumah Bambu.

Paragraf 4 dikutip dari pengantar buku Rumah Bambu.


Cheers,

Lby (09-02-09/12:25)

 

 

ILUSTRASI FOTO-FOTO DOK REDAKSI 

MODERATOR - Penggagas KoKi : ZEVERINA

Pembaca "KOLOM KITA" (KoKi) entah di Bontang, Inggris, Bali, Belanda, New Jersey, Kuwait, Australia, atau di Kediri, silakan berbagi peristiwa seputar kehidupan sehari-hari. Kirimkan artikel dan foto melalui form "Kirim Artikel", jika mengalami kesulitan kirimkan melalui email: temennyazev@gmail.com ; kokizeverina@gmail.com


1 dari 1 Halaman Komentar | First Prev Next Last
bambu runcing jadiin rumaahh????...
Posted by: safia | Jumat, 7 Agustus 2009 | 19:59 WIB
blum pernah baca tp spt nya menarik, thank's for the review yaaah..nti coba cari deh...
Posted by: noni | Selasa, 28 Juli 2009 | 11:11 WIB
Romo Mangun, pasto favorite ku. Sayang sekali saya tidak membawa buku-buku karangan Beliau ketika hijrah ke Amerika. Apakah bisa dibaca dalam bentuk CD?
Posted by: dragon | Sabtu, 25 Juli 2009 | 00:16 WIB
Rumah bambu...aku seneng omah seko pring semilir je Yung kekekekekee..ndi jare meh nyilihi Kuncung bawuk tak tunggu lho Yung
Posted by: Suika.Cantik | Selasa, 2 Juni 2009 | 22:01 WIB
Anda harus login untuk memberi komentar pada Artikel ini...
About KoKi | Info iklan | Privacy policy | Terms of use| Karir | Contact Us
 
© 2008 - 2009 KoKi. All rights reserved