RABU, 16 APRIL 2014
 
        Lupa Password?

detikTravel

detikTravel

Info Promosi Travel

Wego
Tags
This will be shown to users with no Flash or Javascript.
KoKiTips
CITIZEN JOURNALISM: SIAPA SAJA, MENULIS APA SAJA
Tips Mudah Mengatasi Turun Rahim
Saw - Bandung

 

Hai Zev …  AsMod, KoKoers - KoKiers yang berbahagia

Kali ini aku ingin berbagi info, dengan harapan kita bisa saling mendiskusikan masalah ini sebagai pengetahuan yang (semoga) membawa manfaat…

Beberapa waktu yang lalu, aku sempat mengalami sakit yang secara medis aku kurang tahu apa istilahnya. Tapi secara tradisional, orang sering menyebutnya ‘turun rahim’. Katanya ini sering dialami oleh ibu-ibu yang sudah pernah melahirkan. Aku sendiri kurang tahu, apakah untuk perempuan yang belum melahirkan ada kemungkinan mengalami hal seperti ini.

Awalnya, asistenku yang biasa bantu-bantu mencuci pakaian jatuh sakit. Kebetulan aku sendiri juga sedang repot banget, berangkat pagi pulang sore. Aku putuskan menumpuk cucian untuk dikerjakan pada hari Minggu, meski itu berarti cucian baju 4 orang anakku plus aku dan suami akan menggunung selama 5 hari. Maka ketika jadwal mencuci tiba, baru aku sadari kalau ternyata ini akan menyita waktu yang lama. Sementara hari Minggu itu aku juga masih punya agenda yang lain. Maka aku berinisiatif mempercepat kerja mesin cuci dengan membilas pakaian secara manual, sementara mesin cuci terus menggiling dan mengeringkan hasil bilasanku.

 

 

Rupanya membilas baju-baju sebegitu banyak dan sebagian juga besar dan berat (terutama bajuku yang model gamis-gamis tebal gitu…) telah mengakibatkan rahimku turun. Selepas acara cuci mencuci, aku panas dingin.Awalnya aku pikir karena masuk angin atau mau flue. Tapi kok semakin dirasa, gejala yang mengarah ke sana tidak ada sama sekali. Justru aku merasa suhu tubuh semakin panas, tapi aku kedinginan. Selimut tebal tak banyak membantu, aku masih saja menggigil kedinginan. Perut bagian bawah sakit sekali. Di pakai buat jalan, rasanya seperti ditusuk-tusuk.

Akhirnya aku kepikiran untuk pakai stagen lagi, seperti habis melahirkan. Aku bongkar-bongkar lemari, rupanya masih ada atribut wajib pasca melahirkan tersebut. Memang sedikit membantu. Tapi tidak bisa mengurangi rasa tak enak badannya. Aku coba pijit sama tukang pijit, tapi aku keukeuh tidak mau dipijit bagian perutku. Lumayan membantu, tapi perut bagian bawah masih sakit. Begitupun dengan resep tidur dengan kaki lebih tinggi dari badan juga aku praktekkan. Namun, hasil tidak maksimal.

Seminggu aku tersiksa dengan kondisiku. Suatu hari aku harus hadir ke sekolah anak yang kelas enam karena ada pertemuan penting membahas tentang kelulusan anak-anak. Dengan muka yang masih pucat, aku menunggu dimulainya acara tersebut di tempat tunggu. Ada seorang ibu menyapaku dan mengomentari wajahku yang pucat. Singkat cerita, aku paparkan kisah ‘penderitaanku’ selama seminggu itu.

Oh, … urusan turun rahim mah,… gampaaaannngg…..,” katanya dengan pede habis.

“Oya? … tapi sakit banget lho, bu,” aku mencoba menggambarkannya.

“Iya, .. saya tahu. Saya juga pernah mengalaminya, pas habis melahirkan anak ke dua. Saya pergi ke dokter Wijaya. Itu lho Bu,… yang praktek di … bla … bla … bla…,” panjang lebar si Ibu ini menjelaskan.

Aku bengong. Tapi pengin segera pulang dan mempraktekkan resepnya.

Maka setibanya di rumah, aku tak menunda lagi. Aku praktekkan anjuran si Ibu di sekolah tadi.

Aku sujud, sesujud-sujudnya…. Dengan posisi seperti ini :

Sujud  (nungging) dengan menoleh ke samping (jadi telinga mepet-pet dengan lantai).

Kedua tangan ditarik ke belakang. Tangan, dari pundak sampai ke bawah harus menyentuh lantai. Posisi ini menjadikan kita sujud dengan serendah-rendahnya.  Pertahankan posisi ini sampai 5 menit. Terasa sekali rahim tertarik ke atas. Ada rasa nyeri sedikit. Tapi, setelah lima menit, tiba-tiba ada bunyi ‘klek’ di perut.

Alhamdulillah…, lega sekali. Rupanya rahimku sudah kembali ke posisi semula. Hahaha… terus terang, aku tidak tahu istilah yang tepat untuk menggambarkannya. Hanya logika sederhanaku seperti itu. Dan secara berangsur keluhan panas dingin juga akhirnya menghilang.

 

 

 

 

Anjuran dari dokter yang memberikan tips ini, agar para ibu rutin melakukannya aktifitas tersebut setiap hari menjelang tidur, meski itu satu atau dua menit saja. Ini untuk memperkokoh otot rahim, begitu katanya.

Wallohu a’lam. Aku sih hanya berbagi pengalaman, dengan harapan ada KoKiers yang lebih berkompeten bisa memberikan landasan ilmiah atau mungkin masukan-masukan terhadap permasalahan semacam ini.

Hayo, … dokter Piper atau yang lainnya… ditunggu sharingnya…

 

ILUSTRASI FOTO-FOTO DOK REDAKSI 

MODERATOR - Penggagas KoKi : ZEVERINA

Pembaca "KOLOM KITA" (KoKi) entah di Bontang, Inggris, Bali, Belanda, New Jersey, Kuwait, Australia, atau di Kediri, silakan berbagi peristiwa seputar kehidupan sehari-hari. Kirimkan artikel dan foto melalui form "Kirim Artikel", jika mengalami kesulitan kirimkan melalui email: temennyazev@gmail.com ; kokizeverina@gmail.com


1 dari 7 Halaman Komentar | First Prev Next Last
Hay......Koki Saya ingin diskusi srt mau tahu solusi gimana cara mengatasi turun kandungan.....?? Tahun 2004 saya merid
Posted by: Rifkayanti | Sabtu, 10 November 2012 | 15:16 WIB
Thanks mbak buat tipsnya,buat pengalamanku nanti....
Posted by: safia | Senin, 10 Agustus 2009 | 14:19 WIB
dear Saw, terima kasih buat sharing-nya. pose yang disebut sering saya temukan di olahraga yoga, kebetulan barusan coba browsing tapi ga ketemu gambarnya. ini pengetahuan penting untuk diketahui nich. thanks again :)
Posted by: Awesome | Jumat, 10 Juli 2009 | 15:42 WIB
Turun rahim atw turun perut sih keknya laki2 jg sering turun perut sih
Posted by: farvel | Kamis, 9 Juli 2009 | 04:09 WIB
Mbak, kalau mau ngempesin perut pasca melahirkan gimana praktisnya? Aku udah hampir 4 bulan mencoba sejak lairan kok sampe sekarang perutku masih melendung kayak masih hamil 5 bln gitu hiks hiks hiks hiks..
Posted by: Elita | Senin, 6 Juli 2009 | 18:08 WIB
Anda harus login untuk memberi komentar pada Artikel ini...
About KoKi | Info iklan | Privacy policy | Terms of use| Karir | Contact Us
 
© 2008 - 2009 KoKi. All rights reserved