| KoKiInfo-Pedia |
CITIZEN JOURNALISM: SIAPA SAJA, MENULIS APA SAJA
Less is More
Less is more, adalah motto yang sangat kusukai sejak jaman kuliah jurusan arsitektur, diperkenalkan oleh bapak arsitektur modern dunia, Mies van der Rohe. Sejak itu, seakan-akan dalam banyak hal aku dipengaruhi oleh motto tersebut, terutama sekali dalam hal yang berhubungan dengan seni, rasa dan kreasi. Less is more dan Arsitektur Bagi yang pernah menyelami dunia arsitektur dan disain, pasti tahu apa yang dimaksud dengan motto ini. Susah dijelaskan dengan kata-kata, tapi lebih mudah dengan melihat. Karya seni dan arsitektur yang memakai paham ini menampilkan disain sampai ke tahap yang minimal. Oleh karena itu less is more juga diadopsi sebagai bentuk dari aliran minimalism.
Kelihatannya mudah menerapkan aliran ini ke dalam tahap gambar, ke suatu tahap di mana kita tahu kapan kita harus berhenti dan mengatakan, "Ok..disain sudah selesai’. Tapi sungguh ini tidak mudah karena dalam mendisain wajar kita berkecenderungan untuk ‘tambah ini tambah itu’ yang tidak perlu. Apabila ini terjadi paham disain minimalis sudah terkocak. Dan dalam penerapan disain minimalis dibutuhkan pemilihan bahan bangunan, material, finishing dan pengerjaan yang prima. Kesalahan kecil akan mudah kelihatan dalam pengamatan karena kita lebih berfokus kesederhanaan tadi. Dulu jamannya kuliah aku pernah dengan temanku yang tidak sepaham dengan motto ini. Sebagai mahasiswa/i jurursan arsitektur banyak sekali kita diharuskan merancang baik perorangan atau kelompok. Aku cenderung merancang sesuatu dengan bentuk segi 4, lurus-lurus dan tidak banyak detail, sedangkan dia sebaliknya, bentuk segi banyak dan penuh ornamen. Wuuih, pusing dech…tugas tidak selesai-selesai karena perbedaan pendapat ini. Tidak ada yang mengalah. Karena tahu perbedaan kita yang tak mungkin disatukan lagi, kita memutuskan untuk lain kali tidak usah satu group. Penerapan minimalis sering kali mendapat hambatan juga dari para klient yang berbeda aliran mungkin tepatnya tidak tahu apa itu minimalis. Klient sich iya, iya saja saat kutawarkan disain minimalis. Waktu itu awal-awalnya trend minimalis di Indonesia. Tapi begitu aku memberikan contoh ke gambar cuma dapat komentar,’gini doang nich, ga pake profil?...” Yaaach!!! Katanya mau minimalis, tapi kok minta banyak ornamen, itu mah country style, buuu…
Setelah menikah beryukur sekali suami dan aku sepaham, malah dia yang mempertajam pahamku ini. Apa-apa harus bergaris sederhana dan lurus. Tidak foto-foto di dinding-dinding putih kami, tidak ada souvenir-souvenir, yang ada cuma meubel seperlunya, plus 2 lukisan super besar dan 1 vas bunga, thok! Sampai-sampai temanku pernah berkelakar ke temanku lainnya, yang aku percaya itu bukan kelakar bahwa “ aku bisa mati berdiri kalau harus tinggal di rumah ini, nggak bisa naro-naro pajangan…” Tapi keuntungan tinggal di rumah minimalis adalah tidak perlu banyak bersih-bersih. Rumah ‘terlihat’ rapi selalu. Rumah-rumah minimalis tidak menyimpan debu. Apa yang mau disimpan, yang dipajang juga tidak ada. Kalau menginginkan rumah minimalis penghuni seharusnya tidak tergelitik untuk mencoba mengisi sudut-sudut yang kosong. Kalau memang kosong, biarlah kosong, kadang disitulah indahnya... Less is more dan kuliner Mungkin dalam dunia kuliner ini sering dikatakan dengan pure taste. Para chef kelas dunia sering mengatakan bahwa lebih susah memasak untuk cita rasa yang murni, sebab seperti halnya di dalam dunia arsitektur dan disain, kesalahan kecil tidak dapat ditutupi.
Apakah dapur Jepang juga menggunakan motto ini? Bisa jadi! Apa coba namanya sashimi kalo bukan less is more. Dimakan begitu saja, mentah-mentah cuma ditemani dengan shoyu, acar jahe, tapi rasanya dasyat. Dapur Indonesia ada juga menganut paham ini lho. Tidak percaya? Nasi putih plus ikan asin dan sambel cuka?...hmm…lezat dan juga ngirit… Less is more dan fashion Less is more dalam dunia fashion menampilkan penampilan yang bersih, bebas dari berbagai macam atribut, apabila ada, itupun biasanya sebagai eye-catcher. Aku paling anti dengan pakaian yang penuh atribut, renda sana- renda sini, pita sana-pita sini. Seharusnya detail ada untuk menambahkan keindahan, bukannya malah mengganggu. Bridal tempat aku memesan gaun pengantin mungkin sebal karena aku minta dia ‘mempreteli’ semua bunga-bunga tempel yang ada di gaun itu. Karena gaun ‘less is more’ yang aku mau harganya mana tahan. Jadi mesti diakal-akalin…
Less is more dan duit Nah ini yang tidak nyambung!!! Sorry dech…kalau soal duit, berlaku ‘but more is not less’…. namanya juga manusia yang masih bertopang pada hal-hal duniawi. Akhir kata, motto ini adalah sangat personal, lain orang lain selera, terserah Anda… ILUSTRASI FOTO-FOTO DOK REDAKSI MODERATOR - Penggagas KoKi : ZEVERINA Pembaca "KOLOM KITA" (KoKi) entah di Bontang, Inggris, Bali, Belanda, New Jersey, Kuwait, Australia, atau di Kediri, silakan berbagi peristiwa seputar kehidupan sehari-hari. Kirimkan artikel dan foto melalui form "Kirim Artikel", jika mengalami kesulitan kirimkan melalui email: temennyazev@gmail.com ; kokizeverina@gmail.com
|
| About KoKi | Info iklan | Privacy policy | Terms of use| Karir | Contact Us |
|