SENIN, 20 MEI 2013
 
        Lupa Password?

detikTravel

detikTravel

Info Promosi Travel

Wego
Tags
This will be shown to users with no Flash or Javascript.
KoKiInfo-Pedia
CITIZEN JOURNALISM: SIAPA SAJA, MENULIS APA SAJA
Less is More
Fabiola - West Brabant



Halo Zev n AsMod, mau coba-coba menulis yang lain ah…syukur-syukur dimuat, kalau engga, ya nggak apa-apa…

Less is more, adalah motto yang sangat kusukai sejak jaman kuliah  jurusan arsitektur, diperkenalkan oleh bapak arsitektur modern dunia, Mies van der Rohe. Sejak itu, seakan-akan dalam banyak hal aku dipengaruhi oleh motto tersebut, terutama sekali dalam hal yang berhubungan dengan seni, rasa dan kreasi.

Less is more dan Arsitektur 

Bagi yang pernah menyelami dunia arsitektur dan disain, pasti tahu apa yang dimaksud dengan  motto ini. Susah dijelaskan dengan kata-kata, tapi lebih mudah dengan melihat. Karya seni dan arsitektur yang memakai paham ini menampilkan disain sampai ke tahap yang minimal. Oleh karena itu less is more juga diadopsi sebagai bentuk dari aliran minimalism.

Minimalism di dunia arsitektur dan disain adalah suatu aliran di dalam upaya menunjukan keindahahan dengan cara yang sangat sederhana tanpa elemen-elemen yang tidak dibutuhkan. Bahkan tak jarang arsitektur minimalis ini hanya menonjolkan beberapa bagian dalam bangunan sebagai keindahan, misalnya dinding besar yang memanjang, tangga beton tanpa railing atau hamparan lantai bertekstur halus atau bahkan kekosongan ruang, sehingga tak jarang arsitektur minimalis dikatakan juga arsitektur yang ‘dingin dan steril’ tanpa jiwa bagi sebagian orang yang hanya melihat seni arsitektur tak lebih hanya dari aspek material saja. Dan bagi sebagian orang lainnya ini adalah arsitektur yang penuh ketenangan, reflesi dan meditasi.

Kelihatannya mudah menerapkan aliran ini ke dalam tahap gambar, ke suatu tahap di mana kita tahu kapan kita harus berhenti dan mengatakan, "Ok..disain sudah selesai’.  Tapi sungguh ini tidak mudah karena dalam mendisain wajar kita berkecenderungan untuk ‘tambah ini tambah itu’ yang tidak perlu. Apabila ini terjadi paham disain minimalis sudah terkocak. Dan dalam penerapan disain minimalis dibutuhkan pemilihan bahan bangunan, material, finishing dan pengerjaan yang prima. Kesalahan kecil akan mudah kelihatan dalam pengamatan karena kita lebih berfokus kesederhanaan tadi.

Dulu jamannya kuliah aku pernah dengan temanku yang tidak sepaham dengan motto ini. Sebagai mahasiswa/i jurursan arsitektur banyak sekali kita diharuskan merancang baik perorangan atau kelompok. Aku cenderung merancang sesuatu dengan bentuk segi 4, lurus-lurus dan tidak banyak detail, sedangkan dia sebaliknya, bentuk segi banyak dan penuh ornamen. Wuuih, pusing dech…tugas tidak selesai-selesai karena perbedaan pendapat ini. Tidak ada yang mengalah. Karena tahu perbedaan kita yang tak mungkin disatukan lagi, kita memutuskan untuk lain kali tidak usah satu group.

Penerapan minimalis sering kali mendapat hambatan juga dari para klient yang berbeda aliran mungkin tepatnya tidak tahu apa itu minimalis. Klient sich iya, iya saja saat kutawarkan disain minimalis. Waktu itu awal-awalnya trend minimalis di Indonesia. Tapi begitu aku memberikan contoh ke gambar cuma dapat komentar,’gini doang nich, ga pake profil?...” Yaaach!!! Katanya mau minimalis, tapi kok minta banyak ornamen, itu mah country style, buuu

 

 

Setelah menikah beryukur sekali suami dan aku sepaham, malah dia yang mempertajam pahamku ini. Apa-apa harus bergaris sederhana dan lurus. Tidak foto-foto di dinding-dinding putih kami, tidak ada souvenir-souvenir, yang ada cuma meubel seperlunya, plus 2 lukisan super besar dan 1 vas bunga, thok! Sampai-sampai temanku pernah berkelakar ke temanku lainnya, yang aku percaya itu bukan kelakar bahwa “ aku bisa mati berdiri kalau harus tinggal di rumah ini, nggak bisa naro-naro pajangan…”

Tapi keuntungan tinggal di rumah minimalis adalah tidak perlu banyak bersih-bersih. Rumah ‘terlihat’ rapi selalu. Rumah-rumah minimalis tidak menyimpan debu. Apa yang mau disimpan, yang dipajang juga tidak ada. Kalau menginginkan rumah minimalis penghuni seharusnya tidak tergelitik untuk mencoba mengisi sudut-sudut yang kosong. Kalau memang kosong, biarlah kosong, kadang disitulah indahnya...

Less is more dan kuliner 

Mungkin dalam dunia kuliner ini sering dikatakan dengan pure taste. Para chef kelas dunia sering mengatakan bahwa lebih susah memasak untuk cita rasa yang murni, sebab seperti halnya di dalam dunia arsitektur dan disain, kesalahan kecil tidak dapat ditutupi.

Walaupun aku penyukai hampir semua jenis makanan, tapi sebetulnya aku pencinta pure taste, seperti untuk ikan dan daging kualitas prima. Buat apa dibumbui macam-macam kalau ikannya sudah enak, malah cita rasa dari bahan makanan tersebut jadi tersamar. Beefsteak yang lezat bumbunya sebetulnya tak lebih dari garam dan lada. Sayang sekali daging sapi rib-eye digulai dengan bumbu India, mendingan juga pakai ayam, ketahuan lebih murah harganya.

Apakah dapur Jepang juga  menggunakan motto ini? Bisa jadi! Apa coba namanya sashimi kalo bukan less is more. Dimakan begitu saja, mentah-mentah cuma ditemani dengan shoyu, acar jahe, tapi rasanya dasyat. 

Dapur Indonesia ada juga menganut paham ini lho. Tidak percaya? Nasi putih plus ikan asin dan sambel cuka?...hmm…lezat dan juga ngirit… 

Less is more dan fashion 

Less is more dalam dunia fashion menampilkan penampilan yang bersih, bebas dari berbagai macam atribut, apabila ada, itupun biasanya sebagai eye-catcher.

Aku paling anti dengan pakaian yang penuh atribut, renda sana- renda sini, pita sana-pita sini. Seharusnya detail ada untuk menambahkan keindahan, bukannya malah mengganggu.

Bridal tempat aku memesan gaun pengantin mungkin sebal karena aku minta dia ‘mempreteli’ semua bunga-bunga tempel yang ada di gaun itu. Karena gaun ‘less is more’ yang aku mau harganya mana tahan. Jadi mesti diakal-akalin…

 

 

Less is more dan duit

Nah ini yang tidak nyambung!!! Sorry dech…kalau soal duit, berlaku ‘but more is not less’…. namanya juga manusia yang masih bertopang pada hal-hal duniawi. 

Akhir kata, motto ini adalah sangat personal, lain orang lain selera, terserah Anda…

  
 

ILUSTRASI FOTO-FOTO DOK REDAKSI 

MODERATOR - Penggagas KoKi : ZEVERINA

Pembaca "KOLOM KITA" (KoKi) entah di Bontang, Inggris, Bali, Belanda, New Jersey, Kuwait, Australia, atau di Kediri, silakan berbagi peristiwa seputar kehidupan sehari-hari. Kirimkan artikel dan foto melalui form "Kirim Artikel", jika mengalami kesulitan kirimkan melalui email: temennyazev@gmail.com ; kokizeverina@gmail.com


1 dari 5 Halaman Komentar | First Prev Next Last
Thanks sudah ngapsenin artikelku...padahal aku adja baru baca sekarang...:-)...basi...
Posted by: Fabiola | Jumat, 14 Agustus 2009 | 19:36 WIB
Halo zev, thanks sudah dimuat artikelku. Sorry baru baca sekarang...2 minggu tidak access internet, tidak di rumah... Thanks juga untuk para kokier yg sudah menyempatkan kasih komentar, sekali lagi sorry tidak/belum kasih tanggapan...lagian udah basi kali yach...:-)
Posted by: Fabiola | Jumat, 14 Agustus 2009 | 14:40 WIB
Kalau daging nerkualitas cukup dimasak setengah matang biar zat2nya and vitaminnya gak ilang
Posted by: farvel | Jumat, 7 Agustus 2009 | 07:29 WIB
minimlis aku juga suka, hahaa, cuman aku gak bisa ngetrapkan di rumah ku ini, ahahaa, mang dasar payah aja nih meong, hahaha.....minimalis bumbu, wah itu aku sering, karena memang gak ada bumbunya, wuakaka, maksudnya dah habis getu, haha, minimalis fashion, hemm kadang 2 memang suka juga....enaak sih, minimalis duit, weee duit gw mang minimalis nih, wuaak gak denk, pas aja hahaha
Posted by: dewimeong | Senin, 3 Agustus 2009 | 14:51 WIB
Less is More. Hmmm, rasanya sih punya duit 100 ribu tetap saja kurang jauh dibandingkan sejuta. Cuma mungkin yang punya sejuta merasa sangat kurang dan yang punya 100 ribu merasa sudah cukup. Dalam banyak hal memang benar bahwa less is more atau tepatnya less makes more karena memang begitu adanya. Ruang 100X100 meter kalau penuh diisi barang, rasanya sempit, tetapi ruang sebesar 20X20 meter dengan hanya sedikit barang akan terasa lapang. mengapa ikebana itu indah karena hanya sedikit bunganya. kalau bunganya sangat banyak maka susah yang mana yang harus menjadi focal pointnya. Dalam banyak hal memang ada trend untuk ini, baik soal pakaian, asesoris, perlengkapan rumah tangga, juga dalam dunia fotografi, banyak foto-foto minimalis. Cuma idealnya sih, less bukan karena tak sanggup punya banyak tetapi karena memang itu maunya. Salam!
Posted by: Flores | Senin, 3 Agustus 2009 | 14:39 WIB
Anda harus login untuk memberi komentar pada Artikel ini...
About KoKi | Info iklan | Privacy policy | Terms of use| Karir | Contact Us
 
© 2008 - 2009 KoKi. All rights reserved