SABTU, 19 APRIL 2014
 
        Lupa Password?

detikTravel

detikTravel

Info Promosi Travel

Wego
Tags
This will be shown to users with no Flash or Javascript.
KoKiInfo-Pedia
CITIZEN JOURNALISM: SIAPA SAJA, MENULIS APA SAJA
Kisah Sepotong Cakwee / Chinese Doughnut
Harsono Ng - Canada

 

*) Cakue / Cahkwe / Cakwee ( Chinese Doughnut )

Kebanyakan orang tahu makanan popular ini di Indonesia dan juga di negara-negara dimana banyak terdapat orang-orang Asia. Waktu saya masih kecil suka makan cakue juga, tapi orang tua suka melarang karena terlalu berminyak dan karena minyak gorengnya tidak diganti ganti, akibatnya suka sakit tenggorokan kalau makan terlalu banyak.

 

 

 

Tapi kalau yang namanya Lek Tau Suan ( lihat gambar dibawah ini), wah bisa menelan ludah begitu melihat gambarnya saja, saya menikmati  makanan ini setiap ada kesempatan waktu masa kecil saya di Pontianak. Yang paling enak adalah waktu hangat-hangat terus dengan cakuenya yang masih krispi di “gunting” kecil-kecil dan dimasukan seperti gambar terlampir, luar biasa nikmatnya. Kacang hijau lepas kulit ini dulu mesti dikerjain sendiri dan memakan waktu lama, tidak seperti sekarang yang sudah dijual kacang lepas kulit di super-market. Selain itu, cakue juga suka dimasukan ke dalam bubur dengan cara yang sama.

 

 

Makanan Lek Tau Suan ( Lek Tau artinya kacang hijau dalam bahasa Hokkian atau Teo Chiu) popular di Pontianak, seperti hal nya minuman lidah buaya yang menjadi minuman khas di kota tersebut. Saya ketemu dessert Lek Tau Suan  ini juga di Kuching, Penang, Medan dan di Thailand mereka taruh santan. Saya sertakan resepnya yang saya kutip dari internet bagi yang ingin menikmatinya.
 
Lek Tau Suan Recipes (Green Bean Pearl / Mung bean soup dessert)

Ingredients :

  • 300g mung beans (lek tau)
  • 3 pandan leaves (tied into knots)
  • 2.2 liters water
  • 300g sugar
  • 50g water chestnut powder
  • 1 cup water
  • 1/4 tsp salt
  • 4-6 dough fritters (cut into small pieces)

Method :

  • Rinse mung beans then soak in water for 2-3 hours. Drain.
  • Steam together with pandan leaves over high heat till mung beans are softened. Boil water, sugar and steamed pandan leaves in pot.
  • Stir till sugar dissolves.
  • Dissolve water chestnut powder in 1 cup water. Lower heat. Stir in water chestnut powder solution and salt till syrup is thickened.
  • Add steamed mung beans and stir well. Transfer tau suan into serving bowls.
  • Serve with dough fritters.

Wah tulisku ngaco, saya nyasar kemana-mana (terutama kalau ingat makanan yang enak!) dari topik cerita yang saya ingin sampaikan.

Kira-kira 3 bulan yang lalu saya mempunyai kesempatan untuk berkunjung ke Hangzhou karena tertarik dengan cerita salah satu KoKier kita disana tentang kota Hangzhou yang ternama itu. Sempat ketemu dengan KoKier kita disana juga, tentunya sangat senang bisa bertemu dengan Dr.Michael yang banyak memberi informasi selama kunjungan.Thanks Mike.

Didalam setiap rute tour ke SIhu (West Lake) yang cantik itu, karena letak lokasinya yang berada di pinggiran danau, kunjungan ke (mausoleum) makam Yue Fei  (luas nya sekitar 4 hektar)merupakan salah satu lokasi kunjungan yang mesti disinggahi terutama orang-orang bagi orang-orang lokal China yang ingin melihat dan menghormati  jenderal legendaris dari dinasti Song yang terkenal dengan kesetiaan kepada negara dan raja nya.

 

 

 

 

 

 

Cerita mengenai Yue Fei (1103-1141), dia berasal dari Tangyin di Xiangzhou yang sekarang adalah propinsi Henan. Dia adalah jenderal dari Dinasti Song yang berhasil menghalau  tentara dari suku Jin dari sebelah utara setelah Song berulang kali dikalahkan oleh tentara-tentara Jin tersebut.

Pada waktu lahir, orang tuanya melihat seekor burung yang sedang terbang sehingga dia diberi nama Fei (terbang).Pada waktu Yue Fei berumur 3 tahun, desa Yunhe, tempat dia dilahirkan mengalami banjir besar. Untuk menolong Yue Fei dan ibunya, bapanya memasukan mereka berdua di tempayan besar sambil dipegang, karena tidak kuat lagi, akhirnya bapaknya melepaskan mereka dan langsung hilang dari terjangan arus air yang kuat, sejak itu Yue Fei tidak pernah bertemu bapaknya lagi.

Untuk meneruskan hidupnya ibu Yue Fei menenun kain dan Yue Fei yang rajin dan pintar  belajar menulis dengan ranting kayu diatas pasir untuk membantu penghematan.

Yue Fei akhirnya diangkat oleh seorang bekas jenderal yang bernama Zhou Dong yang mengajarkan semua ilmunya kepada Yue Fei.

Yue Fei kemudian bergabung dengan tentara dan untuk supaya tetap diingat, sebelum berangkat ibunya mentatoo 4 huruf di punggungnya dengan kata-kata : Jing Zhong Bao Kuo yang artinya setia mengabdi pada negara.

Singkat ceritanya Yue Fei yang pandai itu memenangkan banyak pertempuran dan mengambil kembali daerah-daerah yang dulu direbut oleh musuh. Melihat kondisi seperti itu perdana menteri yang juga mendapat sogokan dari musuh kuatir kalau Yue Fei menang terus, rahasia komplotannya dengan musuh akan ketahuan. Oleh karena itu dengan dalih Yue Fei akan menaikan  tahta kembali kepada kedua kakak kandung raja yang masih ditawan musuh. Qin Kuai, si perdana menteri yang berkhianat, menghasut raja Gao sehingga Yue Fei dipanggil pulang walaupun hampir merebut kembali ibukota kerajaan Song.

Dengan alasan akan memberontak, akhirnya Yue Fei ditangkap begitu pulang dari perang dan kemudian dibunuh, makamnya adalah yang seperti dibawah ini dan komplek permakaman ini telah diperbaiki beberapa kali sejak dari dinasti Ming.


 

 

 

Setelah puluhan tahun kasus ini dibuka kembali oleh raja lain dan sejarah kemudian diluruskan kembali.

Dimakam Yue Fei dibuatkan 2 buat patung yaitu Qin Kuai dengan istrinya dan kedua pembantu Qin Kuai yang terlibat di dalam pengkhianatan tersebut.

Inilah patung-patung nya yang dulu setiap orang kalau melihat patung itu akan meludahi patung-patung  tersebut, tapi saya lihat sekarang tidak ada lagi karena ada tulisan : “Dilarang meludah”  disamping patung itu.


 

 

 

 

Untuk menyalurkan kemarahannya rakyat membuat patung manusia dari tepung yang se-olah-olah adalah Qin Kuai dan istrinya, kemudian dibelah dua ditengah (maksudnya dipotong)  di goreng sebagai symbol kebencian rakyat terhadap pengkhianatan Qin Kuai dan istrinya, mereka namakan Yu Zha Qin Kuai ( Yu zha artinya goreng dengan minyak), kemudian disingkat menjadi Yu Zha Kwe, sekarang menjadi Cakue. Di China sendiri entah kenapa tidak disebut demikian, mereka namakan yutiao (semacam gorengan panjang).

Ha, rupanya selama ini kita-kita yang makan cakue sebenarnya ikut mengutuk si Qin Kuai ini. Tapi berkat kutukan ini kita bisa menikmati Cakue yang entah di Indonesia sudah ada yang memecahkan rekor terpanjang tidak karena saya lihat ada yang buat panjang dan ada yang buat pendek saja.

Waktu tulisan ini dimuat mungkin kita sedang memilih presiden kita atau sudah terpilih presiden periode 2009-2014. Sejarah akan mecatat kebaikan-kebaikan dan kejelekan-kejelekan pemimpin-pemimpin kita dikemudian hari. Oleh sebab itu berbuatlah yang terbaik kepada rakyat yang sudah memilih mereka karena baik atau jelek, sampai tujuh turunan pun orang akan mengingatnya seperti si Cakue ini.

 

Salam,

Harsono Ng.

 

 

ILUSTRASI FOTO-FOTO DOK REDAKSI 

MODERATOR - Penggagas KoKi : ZEVERINA

Pembaca "KOLOM KITA" (KoKi) entah di Bontang, Inggris, Bali, Belanda, New Jersey, Kuwait, Australia, atau di Kediri, silakan berbagi peristiwa seputar kehidupan sehari-hari. Kirimkan artikel dan foto melalui form "Kirim Artikel", jika mengalami kesulitan kirimkan melalui email: temennyazev@gmail.com ; kokizeverina@gmail.com


1 dari 9 Halaman Komentar | First Prev Next Last
Pak Harsono... artikelnya bikin saya i pengin makan cakwe bandung, biar sudah 6 thn disini tetap belum nemu cakwe/ youtiao yg enak..kebanyakan emang berminyak banget..
Posted by: bethj | Sabtu, 18 Juli 2009 | 17:16 WIB
Hallo Harsono, Kemarin ini mau buka ttg tlisan ada, engga bisa. Baru hari ini bisa. Waktu saya ke Toronta, saya lihat itu cakwe, besar2 sekali dan sangat menarik. Jadi saya beli dan saya sangat suka. (saya rasa cakwe paling bagus dan enak). Mereka menamakan chinese Donut. Ketika di LA, saya bilang mau chinese donut, mereka tidak mengerti. Di LA namanya rice stick. Disini (brasil), kalau kita bilang cakwe, juga engga ada yang ngerti. Namanya disini YUTAO. Wah pusing juga setiap tempat namanya lain2. Disini cakwenya tidak menarik, dan tidak ada yang baru digoreng. Adanya sudah dimasukkan kantong plastik, keras, dingin dan tidak menarik. Kalau aku ke Toronto lagi , pasti engga lupa makan cakwe lagi. Apa di Vancouver besar2 seperti di Toronto?? Salam pak Harsono
Posted by: troydjaja | Senin, 13 Juli 2009 | 05:23 WIB
ini sama kaya cakwe yang di bubur itu ga sih
Posted by: Ratih | Kamis, 9 Juli 2009 | 17:44 WIB
Mau dunkkk cakweeee....
Posted by: Saras | Kamis, 9 Juli 2009 | 10:31 WIB
Pak Harsono , mantap sekaligus ngiler liat yutiao , enak di makan baik dingin maupun masih hangat...hehehe....Lihat makam Yue Fei malah jadi nostalgia. Saya ikut senang lihat masih terawat dgn baik , dulu saat saya lihat , lihat ludah nempel di patung Qin Kuai ...jijay abis , kotor tapi ya begitulah rakyat China kalau benci sampai tujuh turunan... Artikel yang bagus , ditunggu artikel lainnya , terimakasih buat cerita cakwee-nya.
Posted by: RYc no mama | Rabu, 8 Juli 2009 | 16:54 WIB
Anda harus login untuk memberi komentar pada Artikel ini...
About KoKi | Info iklan | Privacy policy | Terms of use| Karir | Contact Us
 
© 2008 - 2009 KoKi. All rights reserved