| KoKiInfo-Pedia |
CITIZEN JOURNALISM: SIAPA SAJA, MENULIS APA SAJA
Memilih Kursi Pesawat Terbang
Naik pesawat terbang di masa lalu, 20 - 50 tahun yang silam, merupakan suatu "privilege" atau suatu kesitimewaan luar biasa, terlebih bagi masyarakat Indonesia.
Airportnya kecil-kecil bagaikan Terminal Bus saja. Frekuensi penerbangan masih jarang, dari satu kota ke kota lainnya cuma ada seminggu sekali atau dua kali saja. Booking-nya mudah tetapi repotnya harus mendatangi kantor travel agent yang jumlahnya di Jakarta masih bisa dihitung pakai jari dan Maskapai Penerbangannya masih langka. Jelas tidak ada booking pakai telepon. Kalau toh pakai telpon yah harus teriak-teriak karena suara tak jelas dan belum ada Fax... Jadi ticket-nya ya ditulis tangan pakai ballpoint. Penumpangnya tidak banyak sehingga tak harus berebutan seru "seats' kayak sekarang. Ada kalanya mau terbang kita langsung ke Airport dengan untung-untungan beli ticket dan boarding saat itu juga tanpa booking-booking-an. Istilah kerennya sekarang go show. Kalau untuk satu orang hampir selalu ada kursi kosong.
Sekitar 20 tahunan yang silam jumlah penumpang kian membanyak sedangkan jumlah pesawat masih sedikit sehingga bisa membeli dan memperoleh ticket bukan berarti mendapatkan seats (kursi). Para penumpang harus "berjuang" untuk mendapatkan status OK seats-nya. Kalau sudah begitu keadaannya, yah di Indonesia mengundang calo-calo di Airport dan sogok-menyogok.
Calo-calo mulai menghilang, begitu pula travel biro mulai berguguran terutama setelah dimunculkan "Budget Airlines" seperti Air Asia, Tiger Airways, Jetstar, Virgin Blue, dll. Biaya bepergian pakai pesawat terbang luar biasa murahnya sampai-sampai lebih mahalan naik bus atau taxi. Maka naik pesawat bukan lagi monopoli kaum the haves dan elite. Siapapun mampu dan bisa terbang. EVERYONE CAN FLY. Buruh kasar, penganggur, pensiunan semua bisa karena luar biasa murahnya. Maskapai penerbangan budget air karena pasang harga begitu miring, maka terpaksa cari akal untuk merogoh kantung para penumpang dengan "cara halus" maupun "agak kasar". "Harga ticket dasar" dijual tanpa bagasi dan fasilitas apa-apa. Maka inilah akal-akalan mereka menambah income yaitu bagasi dihargai menurut jumlah kg, makanan dan minuman di pesawat harus beli, mau game atau nonton video ya bayar lagi, mau check in/out lebih cepat yah bayar tambahan, web check in tak dikenakan biaya tetapi check ini di counter di Airport ada extra bayar, mau pinjam selimut harus bayar dan ...pilih "kursi" ada harga-harganya. Ada posternya bergambar kucing dengan tulisan : "Meski Anda menunjukkan muka memelas kayak kucing minta dibelas kasihani, Anda tetap harus bayar !" Wuih, sadis banget yah? Ada duit abang sayang, enggak berduit abang payah!
NAH, AKU HENDAK MEMBANTU ANDA MEMILIH "KURSI" BAIK DI "BUDGET AIRLINES" MAUPUN "NON-BUDGET AIRLINES" KELAS EKONOMI.
MENGAPA HARUS CERDIK MEMILIH "KURSI" ? Kelas Bisnis dan Kelas Satu (Business & First Class) tak perlu di perbincangkan sebab kursi-kursinya besar nyaman semua bahkan ada yang bisa dibuat sebagai tempat tidur betulan, lalu jarak antara satu kursi dengan kursi yang lainnya cukup jauh.
Nah, sekarang di Row mana Anda mau pilih ?
Pas di row paling dekat Pintu Emergency itu udaranya lebih dingin, tetapi mungkin cocok untuk golongan 8 yaitu mereka yang mengidap "paranoia" (kuatir/takut ada kecelakaan) karena mereka ditempat itu lebih dulu diselamatkan. Walaupun ada "kursi-kursi favorit", untungnya tidak semua penumpang punya selera dan keinginan untuk memilih kursi yang sama. Pilihan kursi banyak bergantung kepada "sikon" (situasi kondisi), karakter, usia, jenis kelamin dan perawakan penumpang. Ada juga yang tahayul menghindari nomor-nomor tertentu, seperti orang Barat dengan angka 13 dan orang Chinese (terutama dari Singapore, Malaysia dan Hongkong) tabu angka serba 4 (nomor 4, 14 apalagi 44). Ha ha ha ha ha... Ada pula lelaki yang berkhayal memperoleh Middle Seat, dimana kiri kanan nya (window & aisle) diapit dua orang gadis cantik sexy. Ha ha ha juga....
Kalau bepergian sendiri, mungkin pilih window mungkin aisle tergantung waktu terbangnya pesawat. Jarak pendek aku pilih window, jarak panjang aku pilih aisle. Namun bila bepergian bersama keluarga atau kawan, ya aku pasrah saja ... silahkan mereka memilih terlebih dulu. Soal jarak ke Toilet agak jauhan buatku tak menjadi soal, malah bagus juga membuatku cukup berjalan-jalan. Barang bawaanku juga tak masalah karena "check in lugage" ku hampir selalu tidak lebih dari 23 kg (koporku juga sangat ringan dan praktis) sedangkan "cabin bag" ku tak lebih dari 7 kg dan bentuknya ramping sehingga gampang masuk ke storage space diatas kursi. Aku memang sejak muda juga tak suka bawa barang tetek-bengek yang bikin ribet saat bepergian dengan public transport.
Perawakanku setinggi 1,68 m dan berat 68 kg okay saja duduk dikursi manapun. Untuk penerbangan jarak jauh (ultra long haul) di usia kami (aku dan isteri) menua, kami memilih penerbangan dengan beberapa transit misalnya route dari Australia ke New York, kami transit dengan menginap 2 - 3 hari di Kualalumpur, lalu 2 - 3 hari di Stockholm baru sampai ke New York. Tinggal beberapa hari di New York mungkin disambung lagi ke beberapa kota di USA. Enaknya cara ini tidak "rush" (tergesa-gesa, pontang-panting) cuma tentu lebih mahalan. Dan cara penerbangan dengan schedule seperti ini hanya cocok untuk tujuan wisata bukan untuk tujuan kerja/bisnis. Sebetulnya kami sendiri sedari muda sampai sekarang tidak begitu cerewet, mau jarak pendek atau jarak jauh, mau penerbangan transit-transit atau langsung, buat kami tidak masalah; karena selama ini kami nyaris tak pernah mengalami "jet lag". Mengapa? Ya, karena selama perjalanan kami ini gampang tertidur pulas dan bersuka cita mensyukuri fasilitas apa saja yang ada di pesawat. Tak suka complaint.
Cuma asal tahu saja, Warren Buffet salah seorang terkaya didunia yang juga memiliki Maskapai Penerbangan Private Jet .... jarang sekali (hanya beberapa kali saja) naik Private Jet, dia lebih suka menyewakannya kepada orang lain (dasar si Buffet ini orang pelit, ya ? Apa-apa maunya untuk cari duit !).
ILUSTRASI FOTO-FOTO DOK REDAKSI MODERATOR - Penggagas KoKi : ZEVERINA Pembaca "KOLOM KITA" (KoKi) entah di Bontang, Inggris, Bali, Belanda, New Jersey, Kuwait, Australia, atau di Kediri, silakan berbagi peristiwa seputar kehidupan sehari-hari. Kirimkan artikel dan foto melalui form "Kirim Artikel", jika mengalami kesulitan kirimkan melalui email: temennyazev@gmail.com ; kokizeverina@gmail.com
|
| About KoKi | Info iklan | Privacy policy | Terms of use| Karir | Contact Us |
|