SENIN, 20 MEI 2013
 
        Lupa Password?

detikTravel

detikTravel

Info Promosi Travel

Wego
Tags
This will be shown to users with no Flash or Javascript.
Kolom Keluarga
CITIZEN JOURNALISM: SIAPA SAJA, MENULIS APA SAJA
Suami Teladan
Natya - Jakarta

Di ruang tunggu operasi di rumah sakit, ada ikatan yang tak kasatmata di antara sesama keluarga pasien. Ikatan tak kasatmata itu adalah perasaan senasib sepenanggungan dan keinginan untuk saling membantu. Aku bisa merasakannya setelah beberapa kali harus menyambangi ruang tunggu operasi.

Ikatan yang kurasakan ini, merupakan anomali di Kota besar seperti Jakarta. Jika biasanya penduduk Jakarta cuek dengan kesulitan orang lain, tapi di ruang tunggu operasi, mereka –meski tidak semua orang bersikap seperti ini- berusaha menyingkirkan sikap masa bodoh.

Sesama keluarga pasien kerap saling curhat tentang penyakit yang dihadapi, atau saling bertukar informasi yang dirasa bisa membantu dan berguna. Ada pemahaman tanpa perlu berkata-kata, karena kami sama-sama memiliki anggota keluarga yang tengah sakit. Jika melihat ada yang menangis, yang lain juga memahami.

Di ruang tunggu operasi, aku pertama kali melihatnya, Si Lelaki berwajah lelah. Ia diam, duduk menyendiri di pojok ruangan. Lelaki itu terlihat sederhana, jauh dari kata tampan. Tubuhnya tinggi, kurus, dengan kulit sawo matang terbakar matahari. Terlihat jelas ia seorang pekerja keras, bukan lelaki kaya dari golongan berada. Tapi berhubung jenis kelamin kami berbeda, aku memilih diam, tak menyapa lebih dulu. Aku enggan, takut keramahanku ditafsirkan berbeda oleh orang lain. Jika ia perempuan, lebih mudah bagiku untuk langsung menyapa.

Setelah itu, aku bertemu lagi dengannya di depan ruang patologi anatomi. Ia melihatku, tersenyum, lalu menyapa. Aku menjawab sapaannya, kami pun berbincang-bincang.
Ia membawa sampel jaringan tumor dari payudara istrinya, berwarna putih, nyaris sebesar ruas jari. Ia memperlihatkannya kepadaku, lalu bercerita panjang-lebar.

Beberapa waktu lalu, istrinya didiagnosis terkena tumor payudara, namun Si Istri enggan dioperasi, merasa belum siap. Si Lelaki ini terus mendorong istrinya agar menjalani operasi secepatnya. Si Istri takut membebani keuangan suaminya yang pas-pasan.

Sakit itu mahal!
Si Lelaki memang tak kaya, hanya pedagang kecil, tapi ia berjanji akan berusaha sekuat tenaga membiayai pengobatan istrinya. Ia berusaha membangkitkan keberanian istrinya setiap hari.
“Mana bisa saya tenang bekerja kalau kamu sakit? Saya bekerja keras juga demi kamu. Nggak usah mikirin yang lain-lain, utamakan kesehatanmu! Kalau kamu sehat, hati saya tenang. Berapapun biayanya, nanti saya usahakan. Kamu jangan khawatir!”

Akhirnya, setelah tiap hari mendapat suntikan keberanian dari suaminya, Si Istri bersedia masuk ruang operasi. Si Lelaki merasa lega istrinya mau mengabulkan permintaannya. Ia pontang-panting sendirian mengurus istrinya di rumah sakit.

Setelah selesai menyerahkan sampel jaringan dan mengurus administrasinya, Si Lelaki pamit kepadaku.

Aku menatap haru Si Lelaki ketika ia berlalu. Kok, masih ada lelaki seperti ini, ya? Ah, jadi teringat perjuangan Dad saat mendampingi Z.

Ini baru suami teladan! Si Lelaki bisa saja bilang tak sanggup membiayai pengobatan istrinya dan pasrah dengan keadaan. Tapi ia tidak melakukannya. Ia tidak meninggalkan istrinya di saat sulit, tetap bertahan dan membantu kesembuhannya, meski harus jungkir balik membiayai pengobatan. Sementara di luar sana, banyak suami yang mempunyai istri sehat, tetapi malah melakukan KDRT atau meninggalkan istrinya demi perempuan lain.

Aku bertemu kembali dengan Si Lelaki beberapa waktu kemudian. Ia bersama istrinya. Ia tersenyum dan bergegas membawa istrinya menghampiriku.

“Sudah beres semua, Mas? Ini istri Njenengan, ya?” tanyaku.

Ia mengangguk, tersenyum cerah, lalu memperkenalkan istrinya. Wajah lelahnya sirna tersapu kegembiraan. Istrinya kurus, tinggi, dan berwajah lugu. Kami berjabat tangan.

“Cepat sembuh Mbak’e. Suami Njenengan khawatir sekali,” kataku.

Si Istri tersenyum malu-malu. Mereka lalu berpamitan kepadaku, karena sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit.

Ah, betapa senangnya melihat masih ada lelaki sebaik itu di kota besar seperti Jakarta. Senang sekali melihat pasangan serukun dan seharmonis mereka. Aku melepas mereka berdua dengan senyum dan harapan, semoga sang istri sembuh sepenuhnya.

~ Untuk Dad, suami teladan sedunia. Terima kasih telah menjaga dan mendampingi Z kami. ~ 

ILUSTRASI FOTO-FOTO DOK REDAKSI 

MODERATOR - Penggagas KoKi : ZEVERINA

Pembaca "KOLOM KITA" (KoKi) entah di Bontang, Inggris, Bali, Belanda, New Jersey, Kuwait, Australia, atau di Kediri, silakan berbagi peristiwa seputar kehidupan sehari-hari. Kirimkan artikel dan foto melalui form "Kirim Artikel", jika mengalami kesulitan kirimkan melalui email: temennyazev@gmail.com ; kokizeverina@gmail.com


1 dari 11 Halaman Komentar | First Prev Next Last
wedeh, si papi. infonya mantap. ontarika bs ngelamar kerja di breastaurant nie ... :D
Posted by: Natya KGB | Senin, 2 Juli 2012 | 15:51 WIB
Nat ... (masih nyambung soal dada mentok ybl. ) .. sekarang ini bisnis yg lagi booming disini ialah resto2 yang berbau pameran 'ini dada ku' .. saking beken nya dijuluki dgn nama "breastaurant" ------ tapi setelah makan/minum , uang tips nya nggak diselipin di dada .. tapi ditaruh diatas meja ...wkwkwk .... aya aya wae
Posted by: sirpa | Senin, 2 Juli 2012 | 00:07 WIB
@pasir : no komento *ngibrit
Posted by: Natya KGB | Minggu, 1 Juli 2012 | 09:49 WIB
teteh, saya malah pengennya dimanjain gt. sekarang biar sakit jg tetep nyuci sendiri, masak sendiri, nyetrika sendiri, ngosek sendiri ... huhuhu *mewek
Posted by: Natya KGB | Minggu, 1 Juli 2012 | 09:48 WIB
Apaaaaa?? suami teladan?! berarti majikan juga termasup suami teladan..(suka telenjing) hihihi... Ceeuu kalu tth disini demam dikit aja disuruh tidurrrrr mulu, boseennn taukk!! , masak cuma deman disuruh tidur..wkwkwk trus dibuatin bubur disuapin..pokoknya servicenya terlalu berlebihaann..tth kurang suka kalau terlalu diperhatikan..hiahaha dasar yuka
Posted by: Yuka-Kobe | Minggu, 1 Juli 2012 | 09:08 WIB
Anda harus login untuk memberi komentar pada Artikel ini...
About KoKi | Info iklan | Privacy policy | Terms of use| Karir | Contact Us
 
© 2008 - 2009 KoKi. All rights reserved