| Kolom Keluarga |
CITIZEN JOURNALISM: SIAPA SAJA, MENULIS APA SAJA
Graduation Party
Pertengahan bulan Mei, ketika saya tiba di toko tempat saya biasa berbelanja keperluan sehari-hari, saya melihat begitu banyak pramuniaga menawarkan makanan untuk dicoba kepada pelanggan toko.
Walaupun sedikit-sedikit contoh makanan yang ditaruh di paper cup tetapi lumayan untuk menahan lapar. Mulai dari cake, cole slaw, salad dengan dressing raspberry vinaigrette, barbeque sandwiches, crackers dengan dip, coklat serta minuman teh. Pramuniaga juga menunjukkan bahan dan merek apa saja yang digunakannya. Ya, siapa tahu kalau-kalau berminat membeli bahan-bahan yang dipakainya suatu saat. Lalu saya bertanya kepada salah satu pramuniaga “Mengapa hari ini banyak sekali sampel makanan”? Ia menjawab karena sebentar lagi anak-anak SMA kelas duabelas lulus sekolah. Tanggal 8 Juni adalah hari terakhir sekolah dan uijan semester bagi anak-anak SMA di kota saya. Sekarang mereka sedang menikmati liburan musim panas kurang lebih selama tiga bulan dan kembali lagi sekolah setelah Labor Day, tanggal 3 September mendatang. Bagi yang sudah lulus SMA, orang tua mereka memberikan pesta kepada anaknya yang sudah lulus. Sudah menjadi tradisi bila anak lulus SMA maka orangtua mereka mengadakan pesta karena entah kapan mereka bisa bertemu lagi dengan teman-temannya.
Sukurlah ada teknologi canggih sehingga mereka bisa tetap berkomunikasi dan melihat photo-photo teman mereka jika dibandingkan dengan para lulusan sebelum kehadiran internet. Saya sendiri tidak tahu dimana teman-teman saya sewaktu SMA maupun di Universitas berada. Entah mereka masih ada, sudah bercucu atau sudah menghadap sang Pencipta. Akan tetapi tidak semua anak-anak tersebut mempunyai kesempatan untuk melanjutkan studi di perguruan tinggi. Selain memerlukan otak yang cerdas agar bisa mendapatkan scholarships, biaya uang kuliah cukup mahal sehingga mereka terpaksa harus berhutang baik kepada Federal maupun kepada bank swasta. Ekonomi yang pincang saat ini membuat mereka sulit mendapat pekerjaan setelah lulus. Mereka harus bersaing dengan orang yang sudah berpengalaman kerja dan sedang menganggur kecuali kalau ada koneksi. Akibatnya mereka menganggap bahwa kuliah hanyalah untuk orang-orang yang beruang. Itulah pendapat salah seorang teman saya.
Tiga minggu sebelum pesta, orang tua sudah mengirimkan undangan sambil memasukkan photo anak yang lulus kepada kenalan dekat dan sanak saudara orangtua anak. Anak-anak mengumunkan pestanya di Facebook sehingga orangtua bisa tahu berapa orang teman anak yang mau datang.
Graduation party biasanya tidak memerlukan RSVP (Répondez S'il Vous Plaît) bila orangtua mendapat undangan. Mendapatkan undangan berarti menyisihkan pengeluaran extra untuk ke pesta. Uang yang diterima adalah untuk anak agar uang tersebut dapat digunakan untuk kebutuhannya melanjutkan kuliah.
Kalau teman anak-anak yang datang mereka tidak membawa uang karena mereka hanya ingin berkumpul dan bergembira ria. Mereka hanya minum pop (minuman berbusa) dan makan kue-kue kering alias junk food. Bagi mereka yang penting ngobrol. Oleh karena itu graduation party disebut juga open house karena orangtuanya menerima tamu untuk beberapa jam. Anak saya, Bunga setiap akhir pekan dalam bulan Juni ini pergi ke graduation party. Saya hitung sudah enam kali ia pergi bersama teman-temannya. Tanggal 22 Juni akan ke graduation party lagi untuk temannya yang akan pulang ke Madrid, Spanyol karena ia adalah pertukaran pelajar yang duduk di kelas duabelas.
Bulan Juni bulan yang terutama ramai dengan graduation party. Biasanya orangtua memesan makanan melalui delicatessen di supermarket (gracery stores) ataupun katering. Biasanya menjamu tamu di garasi, halaman rumah sampai ke tempat pesta ataupun golf club. Besarnya pesta tergantung kemampuan orangtua Mungkin karena tidak memerlukan RSVP itulah sehingga banyak makanan berlebih apalagi jika tidak berpengalaman dalam mengadakan pesta-pesta. Namun saya pernah mendapatkan undangan yang memerlukan RSVP. Akhirnya makanan yang tidak bisa diselamatkan seperti salad harus masuk tong sampah karena tidak umum bawa rantang sehabis pesta.
Entah berapa biaya yang orangtua habiskan untuk mempestakan anak yang lulus sekolah. Apalagi jika makanan tersebut berakhir di tong sampah. Sayang sekali rasanya. Jauh hari saya berkata kepada Sonny bahwa ia boleh memilih: angpau dari saya atau pesta. Angpau yang berjumlah sekian dollar tanpa pesta sudah diperhitungkan segala-galanya. Kalau pesta maka kamu akan mendapat angpau dari tamu yang datang dan tentunya uang dari saya sedikit saja karena saya sudah menanggung biaya pesta. Sonny belum dapat memutuskan mana yang baik ketika saya menyebutkan jumlah uang yang akan saya hadiahkan kepadanya. Ia tahu saudara suami saya tidak banyak di Michigan. Sebagian dari mereka menetap di luar state. Ketika ipar-ipar saya mengadakan pesta untuk anak-anak mereka yang lulus maka Sonny menghitung berapa banyak famili bapaknya yang datang dan tamu diluar famili ayahnya. Saya melihat mulutnya komat kamit menghitung. Mungkin saja sedang mempraktekkan teori probabilitas matematika.
Beberapa bulan sebelum lulus, ia mengatakan kepada saya bahwa ia tidak mau graduation party. “Jangan lupa transfer uang”, ucap Sonny sambil menatap saya dengan wajah penuh harap. Rupanya hitung punya hitung lebih baik ia mendapatkan angpau dari ibunya saja tanpa mengadakan pesta. Ia tahu tak ada orang yang bisa diandalkan untuk membantu ibunya. Ketika Sonny hampir lulus saya tegaskan lagi bahwa Sonny bisa gabung dengan pacarnya, Blonde yang mengadakan graduation party dan biaya dibagi dua. Jangan sampai menyesal hanya karena saya tidak mempestakan kamu. Namun Sonny tetap pada pendiriannya. Satu bulan sebelum lulus, dengan senang hati saya men-transfer uang ke rekeningnya. Iapun senang karena ibunya menepati janji.
Tentu saja saya lega karena saya tidak perlu repot-repot mengirim undangan, membeli minuman, memesan makanan termasuk graduation cake serta membersihkan rumah. Terlebih persiapan tersebut akan menguras waktu, pikiran dan tenaga saya untuk melayani tamu-tamu yang datang. Padahal pesta berlangsung paling lama 3 jam. Ketika ipar menanyakan apakah Sonny lulus tahun ini maka saya jawab ya. Lalu ia mengeluarkan kartu untuk Sonny. Kemudian ketika saya ke Indonesia adik saya juga memberikannya uang. Karena besar jumlahnya saya bertanya mengapa banyak sekali diberikan kepada Sonny. Adik saya menjawab sebagai upah jerih payah Sonny belajar. Tentu saja saya senang menerimanya dan Sonny pun mengirim kartu ucapan terima kasih.
Tahun lalu ketika kami ke graduation party untuk seorang kenalan, mulut Bunga pun komat kamit menghitung tamu yang datang. Ia bertanya kepada saya apakah ia juga akan mendapatkan uang yang sama jumlahnya dari saya seperti Sonny. “Kalau saya tidak dapat angpau yang sama maka saya mau graduation party saja”, lanjut Bunga dengan kening berkerut. Saya jawab bahwa Bunga akan mendapatkan uang dari saya jika ia mau meneruskan ke Universitas. Uang tersebut akan saya transfer pada bulan Mei sebagai bukti saya menepati janji kepadamu. “Asal jangan lupa saya diingatkan”, ujar saya meyakinkannya. Tahun ini, Bunga sudah memutuskan bahwa ia tidak mau graduation party. “Teman saya terlalu banyaaakkkkk dan kue bakalan banyak habis tapi duit kagak dapat banyak”, katanya sambil tertawa terbahak-bahak.
Suami maupun saya ikut tertawa karena ia sudah mempunyai otak dagang memperhitungkan untung rugi. Terima kasih Mas Dad dan Team Editor yang sudah membacanya. ILUSTRASI FOTO-FOTO DOK REDAKSI MODERATOR - Penggagas KoKi : ZEVERINA Pembaca "KOLOM KITA" (KoKi) entah di Bontang, Inggris, Bali, Belanda, New Jersey, Kuwait, Australia, atau di Kediri, silakan berbagi peristiwa seputar kehidupan sehari-hari. Kirimkan artikel dan foto melalui form "Kirim Artikel", jika mengalami kesulitan kirimkan melalui email: temennyazev@gmail.com ; kokizeverina@gmail.com
|
| About KoKi | Info iklan | Privacy policy | Terms of use| Karir | Contact Us |
|