SABTU, 19 APRIL 2014
 
        Lupa Password?

detikTravel

detikTravel

Info Promosi Travel

Wego
Tags
This will be shown to users with no Flash or Javascript.
Kolom Keluarga
CITIZEN JOURNALISM: SIAPA SAJA, MENULIS APA SAJA
Gadis Atau Janda
Wolflew – Palangka Raya

Salam jumpa Dad dan sahabat KoKi semua.....
Semoga senatiasa dalam berkah-Nya, sehingga sampai detik ini tetap dalam semangat dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari...

Tulisan ini sekadar pengamatan tentang sebuah keluarga yang mungkin belum ada risetnya.

Keluarga, sebagai inti dari masyarakat, mempunyai banyak sekali faktor, baik internal maupun eksternal. Ada pola pengasuhan dan cara mendidik anak, sistem kekerabatan, kebiasaan religi atau adat-istiadat karena faktor suku/etnis, memilih jodoh, sistem pekerjaan, dan masih banyak lagi. Misalnya dalam pola pemilihan jodoh. Ketika sebuah keluarga ingin menikahkan anaknya, berbagai kesibukan tentu akan mengisi hari-hari mereka. Mulai dari rapat keluarga besar hingga setelah menikah nanti. Pokoknya, bakal sibuk.

Sahabat KoKi semua....

Saya mulai dengan sedikit cerita tentang seorang kawan, sebut saja Jaka, yang memutuskan menikah. Teman saya ini perjaka alias belum pernah menikah sebelumnya. Jaka lalu memutuskan untuk menikah dengan seorang janda beranak tiga, sebut saya Mbak. Dia masih muda, usianya berkisar 30 – 35 tahun, dan Jaka berumur 29 tahun.

Saat pernikahan pertamanya, usia si Mbak masih muda sekali. Dua orang anak hasil pernikahan sebelumnya ikut mantan suaminya di kota lain, sementara anak ketiganya yang usianya sekitar tiga tahunan tinggal bersamanya.

Perkenalan Mbak dan Jaka hanya satu bulan. Jaka bekerja sebagai pegawai honorer di kantor itu dan si Mbak bekerja di kantin. Karena sering bertemu maka tumbuhlah rasa cinta di antara keduanya.

Sahabat KoKi....

Masalah muncul ketika Jaka memberitahu keluarganya tentang hubungannya dengan Mbak. Hampir seluruh keluarganya tidak mendukung, kalaupun mendukung hanya sebatas memberikan pendapat “terserah kamu aja”. Termasuk saya, ketika dimintai pendapat pun hanya bisa mengatakan semoga baik-baik saja.

Hubungan Jaka dan Mbak semakin ruwet karena proses cerai antara si Mbak dengan suami terdahulunya tidak dengan surat resmi, sebatas mengembalikan si Mbak ke orang tuanya. Kesepakatan mengenai anak-anak hanya dilakukan melalui telepon. Suara suami si Mbak diperdengarkan bersama-sama kepada pengurus RT tempat orangtua si Mbak tinggal dan orangtua si Mbak lewat pengeras suara telepon. (Kebayang ga sahabat KoKi bagaimana caranya)

Status perceraian si Mbak tentu lemah sekali di mata hukum sehingga banyak menimbulkan tanggapan negatif dari teman-teman saya yang lain dalam memberikan pendapat ke teman saya itu. Proses perceraian secara lisan mungkin bisa dilakukan. Tetapi, bukti perceraian di atas hitam putih tetap diperlukan. Jika hal ini diabaikan, jika mereka kelak menikah, potensi munculnya masalah ini sangat besar.

Pada jaman pra sejarah, proses perceraian seperti ini mungkin sudah dianggap resmi. Tetapi, di jaman milenium, dimana masyarakatnya sudah semakin rasional, bukti fisik berupa akta perceraian sangat diperlukan. Yang membuat saya tidak habis pikir, Jaka termasuk orang yang pendidikannya di atas rata-rata. Dia mungkin cinta berat dengan si Mbak.

Akhirnya, saya memutuskan untuk mengembalikan semua permasalahan dan solusinya ke Jaka. Dia yang lebih berhak menentukan pilihannya. Sementara, teman-temannya hanya bisa memberikan saran.

Pada 24 April lalu, Jaka melaksanakan pernikahannya. Tetapi tidak seluruh anggota keluarganya hadir di acara tersebut. Saya pun tidak hadir. Awalnya, Jaka meminta saya untuk menjadi saksi pernikahannya tetapi dengan tegas saya menolak.

Sahabat KoKi semua...

Ada hal menarik dari kasus Jaka. Dalam memilih jodoh bagi anak laki-laki dan perempuan, keluarga di Indonesia umumnya menentang jika anak laki-lakinya akan menikah dengan janda. Apalagi jika kasusnya seperti yang dialami Jaka. Tetapi, jika anak gadis yang menikah dengan duda tidak akan dipermasalahkan (apalagi duda keren dan berpenghidupan layak). Ini hanya analisis sederhana dan belum ada riset ilmiah yang pasti.

Nah, bagaimana menurut KoKiers? Selalu ada kekurangan dan kelebihan dalam proses memilih dan menentukan jodoh. Prosesnya bisa berjalan normal-normal saja, asal calon mempelai langsung disetujui oleh keluarga besarnya.

Demikian tulisan sederhana ini. Semoga bermanfaat.

 

 

Salam wolf
Wolflew – Palangka Raya

ILUSTRASI FOTO-FOTO DOK REDAKSI 

MODERATOR - Penggagas KoKi : ZEVERINA

Pembaca "KOLOM KITA" (KoKi) entah di Bontang, Inggris, Bali, Belanda, New Jersey, Kuwait, Australia, atau di Kediri, silakan berbagi peristiwa seputar kehidupan sehari-hari. Kirimkan artikel dan foto melalui form "Kirim Artikel", jika mengalami kesulitan kirimkan melalui email: temennyazev@gmail.com ; kokizeverina@gmail.com


1 dari 4 Halaman Komentar | First Prev Next Last
Nam nam, walaah ternyata dikau bener2 kesemsem alias jatoh cintrong sama Gigimo..........gigi monyet? wkwkwkwk,,,,sempit yaa lubang semut laaah, wkwkkwk
Posted by: dewimeong | Jumat, 8 Juli 2011 | 19:20 WIB
tuuh kan , yg penting lubang sempit yaa ndut, wkwkwkw Posted by: dewimeong | Senin, 4 Juli 2011 | 16:52 WIB =====> lobang apaan tuh ? lobang semut ye ?. Kalo ndut yg terpenting lobang dan goyang, soal zande no:2 bisa pake gigimo (gigi monyet).. wkwkwk
Posted by: Wahnam | Kamis, 7 Juli 2011 | 14:04 WIB
yang punya lapak lg mau semedhi di gunung kembar, eh salah di Gunung Fuji denk, kikikik..............
Posted by: dewimeong | Selasa, 5 Juli 2011 | 19:27 WIB
lho kok bisa sih menikah lagi sementara surat cerai blm ada ??? asalahnya bukan soal si mbak gadis or janda.. tp kenapa blm bercerai resmi uda menikah lagi ??? wolf apa kbr btw...
Posted by: wyd | Selasa, 5 Juli 2011 | 16:54 WIB
Enak juga kok ama janda, goyangannya mantraff....hehehe
Posted by: Penyanyi Dangdut | Selasa, 5 Juli 2011 | 10:29 WIB
Anda harus login untuk memberi komentar pada Artikel ini...
About KoKi | Info iklan | Privacy policy | Terms of use| Karir | Contact Us
 
© 2008 - 2009 KoKi. All rights reserved