kulihat mereka berteriak, bukan berbicara
memotong kalimat yang satu, begitu juga yang lainnya
persis seperti apa yang dilakukan badut-badut ketika berada di atas arena,
yang berteriak ketika ada yang mengolok-olok mereka,
yang terjatuh, mengaduh
yang berlari, tanpa harus memaki
lalu menghilang ke balik panggung
disertai sorak sorai dan tawa menggunung
2. USAH KAU IKUTAN HAHAHA...
hahahahahaha.....tawa mereka
memotong kalimat yang satu, begitu juga yang lainnya
hahahahaa...tawa mereka seperti orang mabuk,
tanpa jenaka, tanpa rasa lucu
coba kuikut tertawa tapi segera membuatku mencibir,
terngiang kutipan beberapa pemikir,
yang pernah menasihati orang-orang yang mempertanyakan diri mereka mengapa tidak bisa ikut tertawa hahaha....
begini kata para pemikir:
“kenapa perlu dipertanyakan,
toh mereka sedang berlabuh ke sebuah ketidaktahuan yang memabukkan”
3. BANGKU KOSONG
aku tidak menentukan, memang!
sudah kutunggu berjam-jam dengan perut kram akibat masuk angin dan lapar
kau tidak juga datang
apakah harus kuserahkan bangku kosong di sebelahku ke seseorang?
ia membutuhkan bangku tambahan di mejanya karena ia bersama banyak teman, tak terkecuali perempuan
aku tidak menentukan, memang!
bangku kosong tetaplah bangku kosong
dan aku tak mau konyol
Pembaca "KOLOM KITA" (KoKi) entah di Bontang, Inggris, Bali, Belanda, New Jersey, Kuwait, Australia, atau di Kediri, silakan berbagi peristiwa seputar kehidupan sehari-hari. Kirimkan artikel dan foto melalui form "Kirim Artikel", jika mengalami kesulitan kirimkan melalui email: temennyazev@gmail.com ; kokizeverina@gmail.com
kata orang kalau gedung untuk wakil rakyat yg ada di Senayan itu adalah panggung sandiwara yg terbesar di jagat raya indonesia --- isinya badut2 ulung pemain anggaran proyek .