SENIN, 21 APRIL 2014
 
        Lupa Password?

detikTravel

detikTravel

Info Promosi Travel

Wego
Tags
This will be shown to users with no Flash or Javascript.
KoKiNegeriku
CITIZEN JOURNALISM: SIAPA SAJA, MENULIS APA SAJA
Budaya Amerika - Indonesia: Aborsi
Ria Wassef - Kansas, Amerika

 

Kalau membicarakan kasus aborsi tidak akan pernah ada habisnya. Aborsi selalu mengundang pro dan kontra. Aborsi sendiri juga mengacu kepada etis atau tidak etis. Masih dalam hal membandingkan budaya Amerika dan budaya Indonesia. Saya mencoba untuk mengangkat topic yang paling sensitive dalam sejarah peradaban umat manusia.

 

 

Indonesia

Sebagai Negara yang mempunyai jumlah populasi penduduk yang banyak, aborsi sebenarnya bisa menjadi salah satu cara untuk mengendalikan jumlah penduduk yang tidak terkendali. Namun, dikarena Indonesia merupakan Negara yang dilandasi dengan kehidupan beragama yang sangat kuat. Aborsi menjadi sesuatu yang illegal, dianggap bertentangan dengan norma dan etika, baik dalam etika social dan beragama.

Setiap tahun, surat kabar selalu memberitakan adanya penggrebekan rumah bersalin dan klinik aborsi. Mulai dari penggerebekan klinik di daerah Menteng dalam, Raden saleh, Kramat, hingga Bekasi hingga melalui praktek dukun beranak non komersil. Berikut beberapa berita yang saya ambil melalui search engine google:

Menurut kantor berita Antara; Di Indonesia kasus aborsi mencapai 2.5 juta pertahun, disiniyalir bahkan lebih dari jumlah tersebut jika dikaitkan dengan praktek praktek aborsi di dukun beranak, dan sebagainya. Sebagian besar praktek aborsi di Indonesia adalah aborsi yang disengaja (induced abortion). 70% praktek aborsi di kota kota besar dilakukan di klinik bersalin dan 84% di pedesaan dilakukan oleh dukun beranak.

Perempuan yang tidak menginginkan janin tersebut dikarenakan beberapa faktor seperti hamil di luar nikah, hamil karena perkosaan, janjij dideteksi punya cacat genetik, alasan social ekonomi, kesehatan, KB gagal, dan sebagainya.

Tetapi berdasarkan UU no 1 tahun 1946 tetntang KUHP menjelaskan bahwa dengan alasan apapun melakukan tidakan aborsi adalah melanggar hukum, sedangkan pada UU Kesehatan 23 tahun 1992 aborsi diperbolehkan dengan alasan medis, isi UU yang saling bertolak belakang ini menimbulkan dilema bagi tenaga medis, sehingga dibutuhkan ketegasa Pemerintah dalam membuat undang-undang yang mengatur masalah aborsi.

Kenyatannya, bulan Februari lalu sesuai berita dari Kompas, klinik bersalin di raden saleh digerebek oleh kepolisian

(http://megapolitan.kompas.com/read/xml/2009/02/26/13394157/)

Kemudian sebuah klinik di daerah perecetakan Negara, dimana menurut sumber disana, biaya untuk melakukan aborsi adalah berkisar antara 1.5 – 2 juta rupiah.

http://megapolitan.kompas.com/read/xml/2009/02/26/12561176/


Ada lagi sebuah klinik di Warakas, yang dikelola oleh seorang dokter, ketika dibongkar, didalamnya didapat beberapa buah janin yang terkubur didalam tanah dan septic tank.

http://megapolitan.kompas.com/read/xml/2009/01/23/17060665/

 

 

Membaca berita berita diatas ingatan saya melayang kepada kejadian di tahun 1992, saat itu saya punya teman kampus, sebut saja namanya Ratna, dia adalah pacar gelap dari seorang pejabat di Pertamina, Jakarta Pusat. Suatu hari dia meminta bantuan saya untuk mengantarkannya ke dokter kandungan di bilangan Bulungan, Jakarta Selatan.

Di tempat praktik bersama itu, si dokter R, berkonsultasi dengan Ratna, diketahui bahwa Ratna sudah mengandung selama 2 bulan, Ratna yang masih berstatus mahasiswi meminta tolong untuk mengugurkan kandungannya. Dokter R lalu merujuk Ratna untuk datang ke sebuah klinik di daerah Kramat.

Berbekal rujukan dokter R, saya, Ratna naik taxi kesana. Begitu turun ada beberapa calo yang merubungi kami, karena badan Ratna yang langsing, kandungan dua bulan belum kelihatan, alih alih mereka malah menyangka saya yang hamil (sialan !!!). Mentang mentang tubuh saya besar dan perut saya menjendul kedepan…(sialan lagi). Singkat kata si calo lalu merujuk ke sebuah klinik lain yang tarifnya lebih murah dari tarif klinik rujukan dokter R.

Tarik menarik tangan pun terjadi, beberapa pemuda yang duduk duduk di depan klink buru buru mendatangi kami, dan mencoba membujuk kami untuk tetap berjalan menuju klinik dokter R, karena kami masih belum tahu situasi medan, dan takut dirubungi banyak orang. Kami mengalah untuk tetap datang ke klinik rujukan dokter R, walaupun calo itu menawarkan harga 200 ribu rupiah ke klinik lain (klinik dokter R mematok harga 500 ribu rupiah).

Kami menunggu selama dua jam, kemudian datang sebuah mobil, dari dalam turun dokter R sendiri. Lalu dokter R mengajak kami masuk, dan Ratna disuruh menandatangi beberapa formulir pernyataan. Saya menunggu di luar, dan tidak tahu apa dan bagaimana prosesnya, setelah 1 jam, akhirnya Ratna keluar dipapah oleh seorang bidan.

Kami segera memanggil taxi, Ratna yang masih lemas dan mengantuk, saya antar pulang ke tempat kostnya. Beberapa hari kemudian, Ratna bercerita bahwa didalam dia hanya disuruh tiduran di kursi ginekologi (kursi yang ada 2 kait untuk menempatkan kaki). Dan diberi suntikan bius. Samar samara dia mendengar suara dokter yang membunyikan alat berbentuk vacuum, dan blas, tertidurlah dia.

Aborsi berlangsung selama kurang lebih dari 1 jam, termasuk pulih dari kesadaran, tanpa rasa sakit, dan tanpa rasa berdosa. Beberapa bulan yang lalu saya bertemu dengan Ratna, tanpa ditanya, Ratna bercerita tentang kisahnya dengan si pejabat pertamina yang berakhir di pelaminan setelah sukses menggugurkan sebanyak 6 kali jabang bayi dalam periode tahun 1992 – 2000.

 

                                                                             *************


Di Amerika sendiri, Negara yang tidak berlandaskan keagamaan, praktek aborsi adalah illegal. Dibawah pemerintahan Ronald Reagan, ada dana khusus dari federal untuk praktek aborsi di luar negeri, dana sebesar hampir $ 110 juta dollar ini kemudian dicabut dan dibekukan oleh Presiden Obama.

Bandingkan dengan Indonesia, Amerika hanya mencatat kasus aborsi sebanyak 820 ribu di tahun 2005. Kasus kasus aborsi di Amerika sebagian besar (25%) karena ingin menunda kelahiran. Biaya untuk melakukan aborsi rata rata sebesar $ 1260, dimana si pasien harus membayar sendiri biaya aborsi.

Pihak asuransi dan Medicaid tidak menunjang biaya aborsi, Medicaid hanya membatasi kasus aborsi akibat perkosaan, incest, dan aborsi yang bisa membahayakan kelangsungan hidup ibu dan janin. Di Amerika, organisasi organiasi social ikut mendukung usaha pemerintah dalam menanggulangi praktek aborsi yaitu dengan cara mendirikan CPC (Crisis Pregnancy Center).

Yayasan ini membantu wanita wanita yang ingin aborsi untuk mengurungkan niatnya, dengan cara memberikan perumahan cuma cuma dan bantuan kesehatan sampai dengan menawarkan untuk membantu mengadopsikan anaknya. Dalam suatu sesi “true life”sebuah station televisi, MTV, diceritakan seorang remaja di Hawaii yang hamil oleh pacarnya.

Dia dirujuk oleh CPC untuk meneruskan kehamilan, semua biaya kehamilan dsampai lahir ditanggung oleh CPC, kemudian dias diperbolehkan memilih calon orang tua angkat yang berkeinginan untuk mengadospi anaknya. Beberapa jam setelah anaknya lahir, CPC langsung membopong bayi itu ke orang tua baru. Dan si ibu pulang ke Hawaii.

 

 

 

 

Bagaimana dengan opini saya pribadi?

Saya melihat aborsi dari kasus per kasus, apabila aborsi dilakukan karena sex bebas, hubungan gelap, saya sangat menentang dan mengutuk tindakan aborsi. Tetapi apabila aborsi dilakukan karena kondisi kesehatan si ibu, janin yang cacat, kasus perkosaan, dan kehidupan ekonomi, saya menyetujui.

Bayangkan, apabila si ibu melahirkan bayi yang cacat, bukan hanya si ibu dan keluarganya saja yang mengalami tekanan psikologis dan mental, merawat anak cacat membutuhkan biaya dan pengorbanan yang besar. Belum lagi jika si ibu tidak bisa menjamin penghidupan yang layak untuk janin tersebut.

Korban perkosaan, si korban sudah menerima hadiah psikologis dan trauma akibat harga dirinya dirajam habis, apakah tega jika dia harus menerima resiko merawat anak yang belum tentu dia sanggup merawatnya. Apalagi jika si korban masih berusia amat belia.

 

 

Demikianlah artikel yang saya coba ketengahkan ditengan adanya perbedaan budaya Amerika dan Indonesia.

Tabiik ....

 

ILUSTRASI FOTO-FOTO DOK REDAKSI 

MODERATOR - Penggagas KoKi : ZEVERINA

Pembaca "KOLOM KITA" (KoKi) entah di Bontang, Inggris, Bali, Belanda, New Jersey, Kuwait, Australia, atau di Kediri, silakan berbagi peristiwa seputar kehidupan sehari-hari. Kirimkan artikel dan foto melalui form "Kirim Artikel", jika mengalami kesulitan kirimkan melalui email: temennyazev@gmail.com ; kokizeverina@gmail.com


1 dari 26 Halaman Komentar | First Prev Next Last
Artikelmu bagus bener Ria, embeeerrr setubuh dengan Jeng Sri.. kalau aborsinya karena alasan hamil diluar nikah ini bener2 kekejaman tiada tara buat si jabang bayi yang gak salah apa2 ya.. -tak berperi kebayian!!!- udah tau belum nikah kok ya nekat ML tanpa tedeng aling2.. pokoknya aku kontra beneran deh!
Posted by: Elita | Senin, 29 Juni 2009 | 21:02 WIB
Linda, menurut pemikiran saya pribadi, alat kontrasepsi itu sebagai pengendalian diri, kita tau sebagai manusia kita tdk boleh menghalangi apa kehendak alam / Tuhan tp kita diberi akal sehat utk memilah, jika dgn alat kontrasepsi kita bisa / mampu menjaga kehamilan terjadi, jelas ini bukan aborsi krn belum terjadi pembuahan (pertemuan sel telur n sperma) apa salahnya, krn zaman sekarang memelihara / membesarkan anak tdk mudah selain segi ekonomi juga segi pendidikan ahlak dan akademis sangat menuntut tanggung jawab kita sebagai ortu yg dipilih sebagai pintu gerbang kedatangan manusia2 baru tsb. lebih baik sedikit anak tp terpelihara n terawat, daripada banyak anak tp ditelantarkan (dlm arti kata, siraman kasihsayang/ perhatian) segi ekonomi mgkn org kaya tdk masalah banyak anak, tp segi psikis..? banyak anak yg terlantar n kehausan kasihsayang ortunya. trims atas diskusinya.
Posted by: srikandi | Jumat, 26 Juni 2009 | 20:30 WIB
srikandi : artinya tidak perlu anti pada yang namanya kontrasepsi, kan?
Posted by: lindacheang | Kamis, 25 Juni 2009 | 14:44 WIB
Ria, tulisan bagus bahan renungan yg dalam utk perempuan, hanya kita yg diberi kesempatan punya rahim (dlm arti kata) hanya kita yg diberi kesempatan memutuskan maukah rahim kta ditaruh benih dan jadi anak.? apapun alasannya jika SADAR melakukan hubungan sex bisa jd hamil tapi dgn bebas melakukannya, begitu terjadi kehamilan terus dibuang (aborsi) begitu aja, itu perempuan tak berprikemanusiaan, jgn salahkan lelaki yg menaruh benih tsb. Kalau Tdk mau anak, hrs ingat melakukan sex bisa jadi anak, jgn masa depan hidup digadaikan demi kenikmatan sesaat...!
Posted by: srikandi | Kamis, 25 Juni 2009 | 08:10 WIB
EVE : iya, betul itu dari segi pandangan Katholik, tetapi semestinya tidak boleh anti kepada kontrasepsi, dong. bagaimana kalo sistem kalendernya meleset? apakah mesti mengatasnamakan anugrah? daripada nanti anak yang dilahirkan, tidak bisa dirawat, tidak bisa diberikan gizi yang baik, tidak bisa diberi pendidikan yang baik, maka berdosalah orang tuanya.
Posted by: lindacheang | Rabu, 24 Juni 2009 | 14:37 WIB
Anda harus login untuk memberi komentar pada Artikel ini...
About KoKi | Info iklan | Privacy policy | Terms of use| Karir | Contact Us
 
© 2008 - 2009 KoKi. All rights reserved