SENIN, 21 APRIL 2014
 
        Lupa Password?

detikTravel

detikTravel

Info Promosi Travel

Wego
Tags
This will be shown to users with no Flash or Javascript.
KoKiNegeriku
CITIZEN JOURNALISM: SIAPA SAJA, MENULIS APA SAJA
Memperingati Hari Nusantara - 13 Desember
Sirpa - Kali Pornia

 

Sepertinya di tanah air saat saat ini sedang ramai tentang keiistimewaan Yogyakarta, utamanya tentang tata cara pemilihan gubernur dan wakilnya. Selain itu, ada beberapa topik menarik lain seperti kiprah Tim Merah Putih di ajang Piala AFF dan Presiden SBY yang berkantor sementara di Surabaya sambil memboyong 17 menterinya.

Masyarakat Indonesia juga sedang membelalakan mata dan pasang telinga secara antusias. Mereka ingin mengetahui bocoran informasi dari Wikileaks tentang berita diplomatik kedutaan besar Amerika di Jakarta. Meskipun sudah mereda, berita debu vulkanik gunung Merapi, gunung Bromo, dan gunung Anak Krakatau masih muncul di berbagai media. Yang tak pernah berhenti, berita tentang derasnya air hujan yang mengakibatkan banjir besar dimana-mana.

Yang tak kalah menarik, berita bentroknya mahasiswa dengan petugas keamanan di Makassar. Berita yang berkaitan dengan masalah agama pun masih ramai dibicarakan seperti sebuah ormas yang melaporkan jemaat gereja HKBP di Jawa Barat karena menggunakan bangunan yang bukan rumah beribadah. Belum lagi berita seorang Ustad yang berkas perkaranya sedang diajukan ke pengadilan atau berita teroris Abu Tholut yang ditangkap dalam keadaan hidup oleh Densus 88. Berita ini luar biasa karena biasanya teroris yang ditangkap oleh detasemen khusus ini biasanya sudah tak bernyawa.

Kalau berita tentang Gayus, saat ini, sudah mulai “mendingin". Sebab, dia hanya dituduh pasal gratifikasi (menerima suap dari wajib pajak) pasal 12 B ayat 2 UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, Pasal tersebut tidak mengatur ancaman pidana bagi si pemberi suap.

Begitu banyaknya permasalahan di tanah air yang seolah tak kunjung habis, membuat kita lupa ada Hari Nusantara. Peringatan Hari Nusantara yang jatuh pada 13 Desember memang bukan hari libur nasional. Hari tersebut sekaligus memeringati lahirnya Deklarasi Djuanda yang ke 53 pada tahun 2010.

Pada tahun 1999, almarhum Presiden Suharto telah mencanangkan dan menetapkan 13 Desember sebagai Hari Nusantara. Hari ini sebagai tanda untuk mengenang jasa besar Pak Djuanda Kartawidjaja.

Mengapa 13 Desember?
Tanggal 13 bulan Desember ditetapkan sebagai Hari Nusantara karena pada 13 Desember 1957, Djuanda Kartawidjaja, Perdana Menteri Republik Indonesia, mengeluarkan sebuah deklarasi. Beliau mendeklarasikan kepada dunia internasional, Indonesia menganut prinsip-prinsip negara kepulauan (Archiplagic State). Dimana, laut-laut antarpulau merupakan satu kesatuan utuh yang tidak terpisahkan sehinga terbentuk wilayah Republik Indonesia dan bukan kawasan/laut bebas.

Pada prinsipnya Deklarasi Djuanda adalah suatu pernyataan resmi pemerintah Indonesia kepada dunia luar, bahwa:

  1. Cara penarikan batas laut wilayah tidak lagi berdasarkan garis pasang surut (low water line) tetapi pada sistem penarikan garis lurus (straight base line). Garis ini diukur dari garis yang menghubungkan titik-titik ujung terluar dari pulau-pulau yang termasuk wilayah Republik Indonesia.
  2. Penentuan wilayah lebar laut dari 3 mil laut menjadi 12 mil laut.
  3. Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) adalah Hukum Internasional, dimana batasan 200 mil laut yang diukur dari garis pangkal wilayah laut Indonesia.

Dengan adanya Deklarasi Djuanda ini, secara yuridis formal, Indonesia menjadi utuh dan tidak terpecah lagi.

Sudah barang tentu, deklarasi ini banyak mendapat tentangan dari dunia internasional yang selalu beranggapan bahwa laut laut di Indonesia itu adalah laut bebas. Karena menurut dunia internasional, siapa saja dengan bebas boleh berlalu-lalang di perairan Indonesia. Siapa saja boleh menangkap ikan atau mengambil kekayaan laut Indonesia.

Untunglah ada seorang pemuda Djuanda yang mencanangkan deklarasinya demi keutuhan wilayah negara Republik Indonesia. Deklarasi yang diserukan oleh lelaki kelahiran Tasikmalaya,14 Januari 1911, sekaligus menyetop kegiatan berlalu-lalangnya kapal-kapal asing di perairan Indonesia.

Deklarasi Djuanda ini diperkuat lagi dan, sekaligus, diresmikan menjadi Undang-Undang No.4/PRP/1960 tentang Perairan Indonesia. Dengan adanya deklarasi ini, luas wilayah Republik Indonesia lebih luas 2,5 kali lipat. Luas Indonesia yang semula hanya 2.027.087 km persegi menjadi 5.193.250 km persegi, dengan pengecualian bahwa Irian Jaya masih belum diakui secara internasional sebagai wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Tahun berganti tahun, perjuangan tidak berhenti sampai di situ. Mochtar Kusumaatmadja, pakar dan guru besar hukum laut internasional kita, melanjutkan perjuangan tentang batas laut Indonesia. Beliau bertindak sebagai wakil Indonesia di Konferensi Hukum Laut di Jenewa, Tokyo, dan New York (1958-1961). Beliau juga mewakili Indonesia di sidang-sidang tentang hukum laut di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Akhirnya, pada tahun 1982, Deklarasi Djuanda ini dapat diterima dan ditetapkan dalam Konvensi Hukum Laut PBB III Tahun 1982 (United Nations Convention on The Law Of The Sea/UNCLOS 1982 ). Selanjutnya, oleh pemerintah Indonesia, deklarasi ini dipertegas lagi dengan keluarnya Undang-Undang Nomor 17 Tahun 1985 tentang pengesahan UNCLOS 1982 bahwa Negara Indonesia adalah Negara Kepulauan.

Pembaca yang budiman,
Betapa bersyukurnya kita memiliki pemikiran yang amat cemerlang dari Pak Djuanda ini. Padahal, saat deklarasi itu dicanangkan, usia Republik Indonesia baru menginjak usia 10 tahun. Sedangkan beliau, waktu itu baru berusia 46 tahun. Namun pada usia itu lahir ide yang begiru brilian! Beliau telah berhasil memersatukan Indonesia menjadi satu kesatuan geografis dari Sabang hingga ke Merauke.

Selamat Hari Nusantara!

 

Selamat membaca.

 

Sumber:
http://id.wikipedia.org/wiki/Deklarasi_Juanda
http://en.wikipedia.org/wiki/Territorial_waters
http://id.wikipedia.org/wiki/Laut_teritorial
http://id.wikipedia.org/wiki/Wawasan_Nusantara

ILUSTRASI FOTO-FOTO DOK REDAKSI 

MODERATOR - Penggagas KoKi : ZEVERINA

Pembaca "KOLOM KITA" (KoKi) entah di Bontang, Inggris, Bali, Belanda, New Jersey, Kuwait, Australia, atau di Kediri, silakan berbagi peristiwa seputar kehidupan sehari-hari. Kirimkan artikel dan foto melalui form "Kirim Artikel", jika mengalami kesulitan kirimkan melalui email: temennyazev@gmail.com ; kokizeverina@gmail.com


1 dari 9 Halaman Komentar | First Prev Next Last
@ Arin , SU dan WYD ... thx dah berapresiasi .. nah, syukurlah kalau sekarang jadi tau klo ada hari Nusantara ...salam manis
Posted by: sirpa09 | Senin, 20 Desember 2010 | 21:27 WIB
gak tau kalo ada hari nusantara. kurang disosialisasikan mungkin or wyd yg oon hehehhe. tentang mochtar kusumaatmaja, beliau memang terkenal pakar hukum laut ya... tks buat art nya oom sir.
Posted by: wyd | Senin, 20 Desember 2010 | 21:20 WIB
Ga tau sebelumnya ttg hr nusantara. Tx ya.
Posted by: SU | Minggu, 19 Desember 2010 | 17:05 WIB
Oh ada hari Nusantara ya? Thanks Om Sirpa, keep writing..
Posted by: Ariana | Minggu, 19 Desember 2010 | 12:18 WIB
O-o, 'makasih, Pak, obrolannya. Saya ijin off dulu mau maksi. Salam buat Bu Sirpa 'n anak-anak.
Posted by: lafolweis | Kamis, 16 Desember 2010 | 11:57 WIB
Anda harus login untuk memberi komentar pada Artikel ini...
About KoKi | Info iklan | Privacy policy | Terms of use| Karir | Contact Us
 
© 2008 - 2009 KoKi. All rights reserved