| Kolom 20/20 |
CITIZEN JOURNALISM: SIAPA SAJA, MENULIS APA SAJA
Mobil Bermesin Konvensional Tetap Unggul
Mobil listrik masih merupakan utopia masa depan. Mobil bermesin konvesional masih tetap merajai pasaran otomotif, paling tidak hingga 20 tahun ke depan.
Pemerintah Jerman sekitar 4 tahun lalu mencanangkan akan menjadi pasar utama bagi mobil listrik. Sekarang, eforia mobil ramah lingkungan itu tidak terasa lagi. "Eforia itu direkayasa oleh pemerintah, dan sebagian dikendalikan lewat media", kata pakar otomotif Stefan Bratzel kepada DW. Tapi industri otomotif menentukan haluannya sendiri, dengan terus mengembangkan motor bakar konvensional berbahan bakar bensin dan diesel yang lebih irit. Mottonya, mobil yang makin irit BBM dengan daya yang lebih besar, berarti juga mengeluarkan emisi lebih kecil. Mundur teratur dari program mobil listrik Pemerintah Cina yang terkenal dengan proyek ambisiusnya dalam tema mobil listrik, mengumumkan, ke depan hanya menetapkan target biasa-biasa saja. Pabrik mobil terkemuka seperti Daimler, BMW, Volkswagen dan Ford memang tidak menghapus seluruh proyek mobil listriknya. Namun dalam kurun waktu 20 tahun ke depan, pabrik otomotif ini tetap bertumpu pada bisnis mobil konvensional.
Mobil listrik hanya utopia masa depan. "Volkswagen berpendapat, motor bakar konvensional yang tentu saja terus dikembangkan, masih tetap memiliki masa depan berkelanjutan", ujar direktur pengembangan VW, Ulrich Hacken berg. Khususnya dengan penggunaan bahan bakar biologis yang emisi CO2-nya netral, dapat dimungkinkan mobilitas yang lebih ramah lingkungan dengan motor penggerak konvensional terbaru. Juga pakar otomotif dari Austria, Fritz Indra (72) menegaskan, eforia mobilitas elektro, merupakan dorongan bagi para insinyur untuk mengembangkan motor bakar konvensional yang lebih hemat bahan bakar sekaligus meningkatkan dayanya. Sesuai keputusan Uni Eropa, hingga 2015 semua mobil baru hanya diizinkan memproduksi emisi CO2 sebesar 130 gram per kilometer. Artinya, juga konsumsi bahan bakar harus diturunkan secara signifikan. Mobil listrik banyak kelemahan
Produsen mobil listrik membela diri, dengan argumen, penelitian menunjukkan para pengguna mobil rata-rata hanya menempuh jarak 40 kilometer per hari. Dengan mobil listrik yang sudah dipasarkan, jarak tersebut dengan mudah dapat ditempuh. Juga pengisian ulang baterai dapat dilakukan di malam hari, ketika pengemudi tidur.
Isi ulang baterai mobil listrik terlalu lama dan daya jelajahnya relatif pendek.
Argumen itu bukan hanya ditertawakan industri otomotif mapan. Akan tetapi juga memicu kemarahan para pelindung lingkungan. Wolfgang Lohbeck, pakar transportasi dari organisasi pelindung lingkungan Greenpeace melontarkan protes keras. "Saya ingin mobil lain, karena bukan pengguna rata-rata seperti penelitian industri mobil listrik", katanya. "Jika saya ingin menjemput seseorang, pada tengah malam di bandara yang jaraknya lebih 40 km, mobil listrik semacam itu tidak akan mampu melakukan tugasnya", ujar Lohbeck secara retorik. "Untuk apa membeli mobil yang tiga kali lipat lebih mahal, dengan hanya sepertiga kemampuan mobil konvensional, sekaligus tidak banyak berkontribusi pada perlindungan iklim." Apa yang dilontarkan pakar lingkungan Greepeace itu merupakan kondisi nyata saat ini. Sebab sebagian besar perusahaan pembangkit listrik masih memproduksi CO2 dalam jumlah luar biasa besar. Pasalnya, listriknya masih diproduksi dengan membakar batu bara dan minyak bumi. Dilihat dari neraca emisi CO2, pegguna mobil listrik, secara teknis lingkungan tetap tidak dapat mengalahkan pemakai motor bakar konvensional yang jauh lebih sedikit emisi CO2-nya. Klaus Ulrich/Agus Setiawan Sumber:www.dw.de/dw/article/0,,15969048,00.html ILUSTRASI FOTO-FOTO DOK REDAKSI MODERATOR - Penggagas KoKi : ZEVERINA Pembaca "KOLOM KITA" (KoKi) entah di Bontang, Inggris, Bali, Belanda, New Jersey, Kuwait, Australia, atau di Kediri, silakan berbagi peristiwa seputar kehidupan sehari-hari. Kirimkan artikel dan foto melalui form "Kirim Artikel", jika mengalami kesulitan kirimkan melalui email: temennyazev@gmail.com ; kokizeverina@gmail.com
|
| About KoKi | Info iklan | Privacy policy | Terms of use| Karir | Contact Us |
|