SABTU, 25 MEI 2013
 
        Lupa Password?

detikTravel

detikTravel

Info Promosi Travel

  • 1

    Rp .000

  • 2

    Rp .000

Wego
Tags
This will be shown to users with no Flash or Javascript.
Kolom 20/20
CITIZEN JOURNALISM: SIAPA SAJA, MENULIS APA SAJA
Mobil Bermesin Konvensional Tetap Unggul
Agus Setiawan

Mobil listrik masih merupakan utopia masa depan. Mobil bermesin konvesional masih tetap merajai pasaran otomotif, paling tidak hingga 20 tahun ke depan.

Pemerintah Jerman sekitar 4 tahun lalu mencanangkan akan menjadi pasar utama bagi mobil listrik. Sekarang, eforia mobil ramah lingkungan itu tidak terasa lagi. "Eforia itu direkayasa oleh pemerintah, dan sebagian dikendalikan lewat media", kata pakar otomotif Stefan Bratzel kepada DW.

Tapi industri otomotif menentukan haluannya sendiri, dengan terus mengembangkan motor bakar konvensional berbahan bakar bensin dan diesel yang lebih irit. Mottonya, mobil yang makin irit BBM dengan daya yang lebih besar, berarti juga mengeluarkan emisi lebih kecil.
Juga konsumen memiliki dinamika sendiri. Statistik menunjukkan, di Jerman saat ini tercatat 43 juta mobil yang memiliki izin kelaikan jalan. Sementara jumlah mobil listrik hanya sekitar 4.500 unit. Hingga tahun 2020 diramalkan kuota pasar mobil elektrik secara global hanya maksimal tiga persen.

Mundur teratur dari program mobil listrik
Tren yang kini semakin kencang adalah, semua negara mundur teratur dari program ambisius mobil listrik. Dalam pameran mobil di Beijing April lalu, semua pabrik otomotif terkemuka juga menyatakan tidak lagi memfokuskan diri pada pengembangan mobil listrik.

Pemerintah Cina yang terkenal dengan proyek ambisiusnya dalam tema mobil listrik, mengumumkan, ke depan hanya menetapkan target biasa-biasa saja. Pabrik mobil terkemuka seperti Daimler, BMW, Volkswagen dan Ford memang tidak menghapus seluruh proyek mobil listriknya. Namun dalam kurun waktu 20 tahun ke depan, pabrik otomotif ini tetap bertumpu pada bisnis mobil konvensional.

                                                              Mobil listrik hanya utopia masa depan.

"Volkswagen berpendapat, motor bakar konvensional yang tentu saja terus dikembangkan, masih tetap memiliki masa depan berkelanjutan", ujar direktur pengembangan VW, Ulrich Hacken

berg. Khususnya dengan penggunaan bahan bakar biologis yang emisi CO2-nya netral, dapat dimungkinkan mobilitas yang lebih ramah lingkungan dengan motor penggerak konvensional terbaru.

Juga pakar otomotif dari Austria, Fritz Indra (72) menegaskan, eforia mobilitas elektro, merupakan dorongan bagi para insinyur untuk mengembangkan motor bakar konvensional yang lebih hemat bahan bakar sekaligus meningkatkan dayanya. Sesuai keputusan Uni Eropa, hingga 2015 semua mobil baru hanya diizinkan memproduksi emisi CO2 sebesar 130 gram per kilometer. Artinya, juga konsumsi bahan bakar harus diturunkan secara signifikan.

Mobil listrik banyak kelemahan
Sejauh ini, mobil-mobil listrik yang telah dipasarkan, menunjukkan beragam kelemahan. Terutama baterai penyimpan energi harganya sangat mahal tapi hanya mampu menempuh jarak relatif pendek. Selain itu waktu pengisian ulang baterai juga terlalu lama.

 

Produsen mobil listrik membela diri, dengan argumen, penelitian menunjukkan para pengguna mobil rata-rata hanya menempuh jarak 40 kilometer per hari. Dengan mobil listrik yang sudah dipasarkan, jarak tersebut dengan mudah dapat ditempuh. Juga pengisian ulang baterai dapat dilakukan di malam hari, ketika pengemudi tidur.

 

                                         Isi ulang baterai mobil listrik terlalu lama dan daya                                                                                                                       jelajahnya relatif pendek.

 

Argumen itu bukan hanya ditertawakan industri otomotif mapan. Akan tetapi juga memicu kemarahan para pelindung lingkungan. Wolfgang Lohbeck, pakar transportasi dari organisasi pelindung lingkungan Greenpeace melontarkan protes keras. "Saya ingin mobil lain, karena bukan pengguna rata-rata seperti penelitian industri mobil listrik", katanya.

"Jika saya ingin menjemput seseorang, pada tengah malam di bandara yang jaraknya lebih 40 km, mobil listrik semacam itu tidak akan mampu melakukan tugasnya", ujar Lohbeck secara retorik. "Untuk apa membeli mobil yang tiga kali lipat lebih mahal, dengan hanya sepertiga kemampuan mobil konvensional, sekaligus tidak banyak berkontribusi pada perlindungan iklim."

Apa yang dilontarkan pakar lingkungan Greepeace itu merupakan kondisi nyata saat ini. Sebab sebagian besar perusahaan pembangkit listrik masih memproduksi CO2 dalam jumlah luar biasa besar. Pasalnya, listriknya masih diproduksi dengan membakar batu bara dan minyak bumi. Dilihat dari neraca emisi CO2, pegguna mobil listrik, secara teknis lingkungan tetap tidak dapat mengalahkan pemakai motor bakar konvensional yang jauh lebih sedikit emisi CO2-nya.

Klaus Ulrich/Agus Setiawan
 

Sumber:www.dw.de/dw/article/0,,15969048,00.html

ILUSTRASI FOTO-FOTO DOK REDAKSI 

MODERATOR - Penggagas KoKi : ZEVERINA

Pembaca "KOLOM KITA" (KoKi) entah di Bontang, Inggris, Bali, Belanda, New Jersey, Kuwait, Australia, atau di Kediri, silakan berbagi peristiwa seputar kehidupan sehari-hari. Kirimkan artikel dan foto melalui form "Kirim Artikel", jika mengalami kesulitan kirimkan melalui email: temennyazev@gmail.com ; kokizeverina@gmail.com


1 dari 1 Halaman Komentar | First Prev Next Last
pak Agus ijin share di Manufacturing Hope, Catatan Dahlan Iskan
Posted by: Pawiro Duryo | Senin, 28 Mei 2012 | 18:35 WIB
kayaknya bertentangan dengan program yang dicanangkan menteri BUMN kita saat ini, DIS. Kalo dipikir2 memang tulisan ini logis, lebih baik dikembangkan mobil dg bahan bakar bioetanol/gas alam
Posted by: Pawiro Duryo | Senin, 28 Mei 2012 | 09:27 WIB
Terima kasih buat tulisannya.
Posted by: SU | Minggu, 27 Mei 2012 | 08:59 WIB
dan mobil listrik membahayakan pejalan kaki karena tidak bersuara sama sekali, jadi pejalan kaki tidak menyadari adanya sebuah kendaraan disekitarnya
Posted by: Caridaki | Sabtu, 26 Mei 2012 | 17:04 WIB
S A T O E
Posted by: Caridaki | Sabtu, 26 Mei 2012 | 16:58 WIB
Anda harus login untuk memberi komentar pada Artikel ini...
About KoKi | Info iklan | Privacy policy | Terms of use| Karir | Contact Us
 
© 2008 - 2009 KoKi. All rights reserved