
| Kolom 20/20 |
CITIZEN JOURNALISM: SIAPA SAJA, MENULIS APA SAJA
FANTASI "BEDROOM FANTASY"
Siang itu, ketika saya sedang sibuk dengan pekerjaan, seorang rekan menyodorkan satu amplop berwarna coklat. Ada kiriman per pos.
Saya mengenal La Rose di KoKi. Profilnya sudah ditampilkan di Kolom 20/20. Saya suka membaca tulisan La Rose. Gaya bahasanya luwes, pilihan katanya tepat dan pas untuk setiap kalimatnya. Dan alur ceritanya? Woohoo…Selalu membuat hati saya dagdigdug. Coba saja baca kalimat ini:
Sore itu, pulang kerja saya langsung mojok dan mulai membaca buku Bedroom Fantasy. Buku bersampul nuansa warna merah jambu, bergambar mata terpejam, dan berilustrasi renda-renda. Di setiap halamannya tersaji kisah yang mendebarkan! Bagaimana proses pembuatan versi cetak tulisan karya La Rose? Siapakah sang editor yang telah sukses mewujudkan ide hebat ini? Berikut ini penuturan La Rose dan Sophie. Salam, Juwita -------- Hallo La Rose dan Sophie, luangkan waktu sejenak untuk berbagi cerita dengan KoKiers ya… Sejak kapan senang menulis? Buku apa yang sedang dibaca saat ini? Sophie: Kalau saya sedang membaca ME (Ricky Martin), James Patterson – Witch and Wizard. Siapa penulis favorit Anda? Sophie: Tidak ada yang fanatik. Setiap kali belanja buku, kalau bagus sinopsisnya biar tidak kenal penulisnya tetap aja aku beli. Dari buku komik Doraemon sampai buku masaknya Rachel Ray. Aku membaca apa saja asal asyik. Sekarang sedang menyukai buku autobiography. Baru selesai baca buku mengenai Ellen Degeneres dan mommy-nya berjudul LOVE, ELLEN karangan Betty Degeneres. Kegiatan apa saja yang dilakukan selain membaca dan menulis? Sophie: Bekerja part-time untuk satu media di China, menulis dan meliput event. Disamping jadi Ibu RT, hahaha… Apa yang memicu La Rose untuk memfokuskan tulisan-tulisannya seputar sex?
Apa yang memicu Sophie sebagai editor untuk menyusun dan menerbitkan tulisan-tulisan LRD versi online KoKi ke dalam versi cetak? Karena perbedaan waktu dan lokasi, bagaimana dengan komunikasi yang mesti terjalin selama proses pembuatan buku? Hidup kita berdua boleh dibilang di atas komputer. Makan saja di depan meja komputer, kadang sms, dan kalau urgent lewat telpon. Mulai bekerja jam 6 sore waktu China, pada saat itu di Belanda sudah jam 12 siang. Tanya jawab lewat email. Saat itu, email puluhan deh tiap hari. Ada yang lucu, LRD tuh laptopnya nggak ditutup. Tidur dengan laptop diatas perut, atau di samping. Sampai pernah ketiduran, laptop masih nempel di atas perut dan gubraaak!! Jatuh saat tidur nyenyak, untung aja nggak rusak. Saat itu, laptop dan internet adalah nyawa kita berdua. Kadang bangun mau ke toilet, liat dulu ada pesan masuk nggak, atau lihat HP ada sms nggak. Apakah pernah tersendat karena berbeda cara pandang atau ide? Apa kendala yang dihadapi dalam pesiapan mewujudkan buku Bedroom Fantasy? Sophie: Hal yang paling penting, ini buku La Rose. Tentunya apa yang diinginkan La Rose itu yang utama, bukan keinginan saya sebagai Editor.
Berapa lama proses sejak ide itu muncul sampai terwujudnya buku Bedroom Fantasy? Proses apa saja yang mesti dilalui? (Mengumpulkan ‘testimoni’, menghubungi percetakan, mencari copywriter, designer, dan lain-lain) Sophie: Pertama sih cari penerbit, itu sudah pasti. Terus setelah deal, kita rembukan soal artikel mana yang mau diterbitkan. Berapa halaman isinya.
Terus mulai proses editing artikel. Ini proses paling ribet, bongkar pasang artikel. Proses editing artikel kadang tidak sesuai. Setelah semua beres, mulai proses layout, dan konsep buku seperti apa. Mengenai testimoni, foto, dan kata pengantar, saya kasih ide ke LR dan disetujui. Saya mulai menghubungi person one by one. Dari pihak penerbit yang mengerjakan layout, tapi juga masukan kita, sama-sama memberikan ide dan feed back. Setelah layout buku selesai, berlanjut mengenai cover buku dan pemilihan judul. Setelah semua itu selesai, tinggal menunggu naik cetak. Waktu itu, buku ini naik cetak terbentur dengan liburan Lebaran, jadinya agak lama. Dari awal pembicaraan mengenai buku ini, sampai buku ini naik cetak jadi buku, La Rose itu belum pernah berhubungan dengan pihak penerbit. Jadinya misterius gitu dan jaim, hahahaha… Malah penerbit bertanya La Rose itu ada kan ya orangnya.
Siapa yang memilih judul buku? Apa alasannya?
Wooow… Senang dan terharu juga buku perdana saya cover bukunya bisa menang di Phinasthika Award. Kalau dilihat cover-nya memang keren dan menarik, hahaha… Thanks GOD. Bagaimana perasaan Anda ketika edisi cetak ini terwujud? Langkah apa yang ditempuh untuk memasarkan buku ini? Talkshow bedah buku di empat toko buku Gramedia dan lima station radio. Ada beberapa teman sudah menulis resensi tentang buku ini lewat media cetak ataupun online. Promosi dari pihak penerbit di website online, juga dari mulut ke mulut. Sepertinya semua persiapan launching buku berjalan dengan lancar, ya? Pertama, nih ya, koper aku ketinggalan karena kesalahan airlines pas aku mendarat di Jakarta. Jadilah, satu malam tanpa perlengkapan apapun, akhirnya, nih, koper bisa diambil pas mau menuju ke Semarang. Kedua, kita mau berangkat ke Semarang kena delay sampai dua jam. Ketiga, nggak tahan macetnya Jakarta, waktu habis di jalan. Selain hal di atas, ada banyak hal-hal lucu yang terjadi. La Rose itu ampun deh, beneran cerewet habis terutama menyangkut rambutnya, hahahaha… Dia tuh begitu mendarat di Semarang, eh, belum mendarat waktu masih di Belanda juga sudah ribut pokoknya harus ada salon buat menata rambut. Balik lagi, ya, begitu. Baru mendarat dan dijemput oleh perwakilan penerbit, pertama yang dia ucapkan tuh, "Mas, pokoknya saya harus ke salon ya sebelum lauching buku, kalau nggak saya nangis ya…" Yang ada malah bikin si Mas jadi stress, hahahaha… Dia tiap malam di hotel selalu gini," Soph, bagus nggak gua pakai ini. Terus kalau ini? Atau yang ini? Terus ini?” Ada lagi yang tiap saat dia tanya, " Soph, rambut gua kempes nggak?” Mengenai rambut, ada cerita lucu. Dalam perjalanan menuju Solo dari Jogjakarta, LR nih ngegulung rambut a.k.a di-roll rambutnya. Iya, beneran ngeroll rambut dalam mobil, hahahaha...Nah, pas di pom bensin, aku minta berhenti mau ke toilet. Aku turun dulu, nih. LR juga mau turun, dia buka pintu. Pas buka pintu kebetulan ada orang yang nawarin tahu, langsung kaget liat LR. Ternyata, roll-nya itu masih nyangkut di rambut, hahahaha…Sampai tukang tahu aja kaget ngeliat rambut penuh dengan roll-an. LRD : Saya memang gila ke salon, hahaha... Kalau perlu saya bawa stylist deh saat itu. Padahal saya belum jadi seleb beneran, hahaha... Gimana kalau saya jadi seleb beneran, ya? Hahahaha... LOL.
Bagaimana respon masyarakat terhadap buku Bedroom Fantasy? Apa moral dari tulisan-tulisan di Bedroom Fantasy secara umum? Apakah tulisan-tulisan yang tersaji dalam Bedroom Fantasy berdasarkan pengalaman pribadi? (Bisa dijelaskan secara rinci, supaya pembaca berdebar-debar, haha..) Apa target Anda berikutnya? Sophie: Menerbitkan buku tulisan diri sendiri. Saat ini masih dalam proses. Terima kasih buat Bejan, Juwi, dan Dad, yang men-support pembuatan buku Bedroom Fantasy. Testimoni kalian menjadikan "dinding kamar lebih berwarna".
Salam ILUSTRASI FOTO-FOTO DOK REDAKSI MODERATOR - Penggagas KoKi : ZEVERINA Pembaca "KOLOM KITA" (KoKi) entah di Bontang, Inggris, Bali, Belanda, New Jersey, Kuwait, Australia, atau di Kediri, silakan berbagi peristiwa seputar kehidupan sehari-hari. Kirimkan artikel dan foto melalui form "Kirim Artikel", jika mengalami kesulitan kirimkan melalui email: temennyazev@gmail.com ; kokizeverina@gmail.com
|
| About KoKi | Info iklan | Privacy policy | Terms of use| Karir | Contact Us |
|