KAMIS, 17 MEI 2012
 
        Lupa Password?

detikTravel

detikTravel

Info Promosi Travel

Wego
Tags
This will be shown to users with no Flash or Javascript.
Kolom 20/20
CITIZEN JOURNALISM: SIAPA SAJA, MENULIS APA SAJA
FANTASI "BEDROOM FANTASY"
Juwita Setiono - Australia

 

Siang itu, ketika saya sedang sibuk dengan pekerjaan, seorang rekan menyodorkan satu amplop berwarna coklat. Ada kiriman per pos.

Saya yang tidak mengharapkan kiriman dari siapapun tentu saja terkejut. Dengan hati yang berdebar saya baca pengirimnya: Sophie/Galangpress – Yogyakarta. Ahh… Ya, tentu saja! Pasti isi bingkisan ini adalah buku “khusus dewasa” yang sedang populer, yang ditulis oleh seorang KoKier, La Rose Djayasupena.

Saya mengenal La Rose di KoKi. Profilnya sudah ditampilkan di Kolom 20/20.

Saya suka membaca tulisan La Rose. Gaya bahasanya luwes, pilihan katanya tepat dan pas untuk setiap kalimatnya. Dan alur ceritanya? Woohoo…Selalu membuat hati saya dagdigdug. Coba saja baca kalimat ini:

Merasakan kembali desahan nafasnya ketika dia mencium, merasakan kembali sentuhan tangannya ketika dia membelai dan memeluk. Belaian dan ciuman yang selalu dirasakan dan rindukan…

Sore itu, pulang kerja saya langsung mojok dan mulai membaca buku Bedroom Fantasy. Buku bersampul nuansa warna merah jambu, bergambar mata terpejam, dan berilustrasi renda-renda. Di setiap halamannya tersaji kisah yang mendebarkan!

Bagaimana proses pembuatan versi cetak tulisan karya La Rose? Siapakah sang editor yang telah sukses mewujudkan ide hebat ini? Berikut ini penuturan La Rose dan Sophie.

Salam,

Juwita

--------

Hallo La Rose dan Sophie, luangkan waktu sejenak untuk berbagi cerita dengan KoKiers ya…

Sejak kapan senang menulis?
LRD & Sophie: Kita berdua ini menulis sejak mengenal Kolom Kita. Saat itu masih berupa Rubrik Kesehatan di bawah naungan Kompas, antara tahun 2005 – 2006.

Buku apa yang sedang dibaca saat ini?
LRD: Saya sedang membaca buku SUDESI (Sukses Dengan Satu Istri) karangan Arswendo Atmowinoto.

Sophie: Kalau saya sedang membaca ME (Ricky Martin), James Patterson – Witch and Wizard.

Siapa penulis favorit Anda?
LRD: Saskia Noort penulis Belanda. Novelnya keren-keren.

Sophie: Tidak ada yang fanatik. Setiap kali belanja buku, kalau bagus sinopsisnya biar tidak kenal penulisnya tetap aja aku beli. Dari buku komik Doraemon sampai buku masaknya Rachel Ray. Aku membaca apa saja asal asyik. Sekarang sedang menyukai buku autobiography. Baru selesai baca buku mengenai Ellen Degeneres dan mommy-nya berjudul LOVE, ELLEN karangan Betty Degeneres.

Kegiatan apa saja yang dilakukan selain membaca dan menulis?
LRD: Saat ini kegiatan saya lebih banyak sport, pergi ke gym selepas bekerja. Selain itu, menyiapkan artikel untuk buku kedua di tahun 2011. Mulai menulis cerita pendek dan setelah membaca buku Arswendo yang berjudul SUDESI, saya mempunyai ide menulis buku berjudul SUDETUS, Sukses Dengan Tujuh Suami, hahahaha...

Sophie: Bekerja part-time untuk satu media di China, menulis dan meliput event. Disamping jadi Ibu RT, hahaha…

Apa yang memicu La Rose untuk memfokuskan tulisan-tulisannya seputar sex?
LRD: Pada mulanya saya mulai belajar menulis di KoKi bukan seputar sex. Mulanya menulis mengenai hal-hal yang ringan, seperti KoKiKlik. Tetapi, lama-kelamaan saya merasa bosan dan prihatin dengan artikel di KoKiLove yang dulu bernama LoveTalk. Tulisan-tulisannya bikin sesak dada, isinya hanya menceritakan penderitaan para wanita. Dari itu, saya mencoba menulis tentang kebahagian diri dengan pasangan dan ternyata sambutannya luar biasa, malah selalu diuber-uber untuk menulis seputar sex.

Apa yang memicu Sophie sebagai editor untuk menyusun dan menerbitkan tulisan-tulisan LRD versi online KoKi ke dalam versi cetak?
Sophie: Ide membuat buku dari LRD sendiri sebenarnya sudah lama, tetapi belum ada timing yang pas, dan mencari penerbit yang bersedia menerbitkan buku juga kendala tersendiri. Sampai akhirnya sekitar awal Mei 2010, kita berdua ngobrol-ngobrol dan menyinggung masalah buku. Maka gayung bersambut, kebetulan saya juga mempunyai ide membukukan artikel mengenai 56 Etnis Suku di China, akhirnya kita sepakat bersama mencari penerbit, dan menerbitkan buku.

Karena perbedaan waktu dan lokasi, bagaimana dengan komunikasi yang mesti terjalin selama proses pembuatan buku?
Sophie: Nah, ini kalau bilang komunikasi jadi tertawa. Sewaktu diuber deadline dari penerbit, hidup aku terbalik. Untuk menyesuaikan waktu dengan LR yang ada perbedaan 6 jam. Ritme hidup berubah menjadi terbalik, malam jadi pagi, pagi jadi malam. Untungnya, keluargaku pengertian ya, mereka oke-oke saja.

Hidup kita berdua boleh dibilang di atas komputer. Makan saja di depan meja komputer, kadang sms, dan kalau urgent lewat telpon.

Mulai bekerja jam 6 sore waktu China, pada saat itu di Belanda sudah jam 12 siang. Tanya jawab lewat email. Saat itu, email puluhan deh tiap hari.

Ada yang lucu, LRD tuh laptopnya nggak ditutup. Tidur dengan laptop diatas perut, atau di samping. Sampai pernah ketiduran, laptop masih nempel di atas perut dan gubraaak!! Jatuh saat tidur nyenyak, untung aja nggak rusak. Saat itu, laptop dan internet adalah nyawa kita berdua. Kadang bangun mau ke toilet, liat dulu ada pesan masuk nggak, atau lihat HP ada sms nggak.

Apakah pernah tersendat karena berbeda cara pandang atau ide? Apa kendala yang dihadapi dalam pesiapan mewujudkan buku Bedroom Fantasy?
LRD: Nggak ada tuh semua lancar-lancar saja kok. Kebetulan kami satu ide, satu pendapat, dan Sophie mengenal siapa saya. Sebaliknya juga begitu, saya mengenal siapa Sophie. Kami berdua sangat terbuka dan saling percaya. Itu hal yang paling penting agar kerja sama ini berjalan lancar sampai buku bisa diterbitkan.

Sophie: Hal yang paling penting, ini buku La Rose. Tentunya apa yang diinginkan La Rose itu yang utama, bukan keinginan saya sebagai Editor.

 

Berapa lama proses sejak ide itu muncul sampai terwujudnya buku Bedroom Fantasy?
LRD: Kurang lebih enam bulanan. Prosesnya, yang pasti sebelum Z wafat deh. Saya tadinya mengerjakan sendiri karena saya sedang bernegosiasi dengan penerbit lain yang akhirnya batal. Pas bertemu penerbit Galangpress yang akan menerbitkan buku saya ini dibantu Sophie sebagai editor karena saya kurang cocok dengan editor lain. Saya ingin gaya bahasa saya tetap tidak hilang, gaya bahasa yang ringan dan lincah.

Proses apa saja yang mesti dilalui? (Mengumpulkan ‘testimoni’, menghubungi percetakan, mencari copywriter, designer, dan lain-lain)
LRD: Semua itu yang melakukan Sophie. Saya sih hanya tinggal terima beres, hahaha... Thanks, Soph..Soph..

Sophie: Pertama sih cari penerbit, itu sudah pasti. Terus setelah deal, kita rembukan soal artikel mana yang mau diterbitkan. Berapa halaman isinya.

 

Terus mulai proses editing artikel. Ini proses paling ribet, bongkar pasang artikel. Proses editing artikel kadang tidak sesuai. Setelah semua beres, mulai proses layout, dan konsep buku seperti apa.

Mengenai testimoni, foto, dan kata pengantar, saya kasih ide ke LR dan disetujui. Saya mulai menghubungi person one by one. Dari pihak penerbit yang mengerjakan layout, tapi juga masukan kita, sama-sama memberikan ide dan feed back.

Setelah layout buku selesai, berlanjut mengenai cover buku dan pemilihan judul. Setelah semua itu selesai, tinggal menunggu naik cetak. Waktu itu, buku ini naik cetak terbentur dengan liburan Lebaran, jadinya agak lama.

Dari awal pembicaraan mengenai buku ini, sampai buku ini naik cetak jadi buku, La Rose itu belum pernah berhubungan dengan pihak penerbit. Jadinya misterius gitu dan jaim, hahahaha… Malah penerbit bertanya La Rose itu ada kan ya orangnya.

Siapa yang memilih judul buku? Apa alasannya?
Sophie: Judul buku aslinya dari jauh hari sudah ada yaitu ”Seks, Wanita dan Vibrator. Tabu?”. Itu pilihan dari LRD. Tapi, berhubung buku akan beredar di Indonesia maka harus disesuaikan dengan kultur Indonesia yang pastinya belum bisa menerima judul buku yang ‘wild’. Akhirnya, diganti oleh pihak penerbit dengan judul “Bedroom Fantasy”.

Siapa yang men-design gambar sampul buku dan tampilan isi buku? Dapat penghargaan ya?
LRD: Dari pihak Galangpress. Pemilihan gambar dari designer di Belanda. Dan senangnya, cover buku ini menang di Phinastika Award PPPI, kategori Bhawasna untuk design cover buku terbaik, mendapatkan GOLD Award.

Wooow… Senang dan terharu juga buku perdana saya cover bukunya bisa menang di Phinasthika Award. Kalau dilihat cover-nya memang keren dan menarik, hahaha… Thanks GOD.

Bagaimana perasaan Anda ketika edisi cetak ini terwujud?
LRD: Senang dan bahagia tentunya ketika ada penerbit yang tertarik menerbitkan kumpulan artikel saya yang pernah jadi kontroversi di dunia maya, yang pernah dihujat habis-habisan, hahaha… Ingat kan, sekitar beberapa tahun lalu sempat heboh itu.

Langkah apa yang ditempuh untuk memasarkan buku ini?
Sophie: Dari pihak penerbit ada promosi roadshow launching buku dan talkshow, dimulai dari kota Semarang, Jogjakarta, dan Solo, pada 8 sampai 10 Oktober.

Talkshow bedah buku di empat toko buku Gramedia dan lima station radio. Ada beberapa teman sudah menulis resensi tentang buku ini lewat media cetak ataupun online. Promosi dari pihak penerbit di website online, juga dari mulut ke mulut.

Sepertinya semua persiapan launching buku berjalan dengan lancar, ya?
Sophie: Ahh.. tidak juga. Launching buku kemarin banyak suka dukanya. Tetapi rasanya lebih banyak sukanya, walau ada hal-hal yang bikin sebel.

Pertama, nih ya, koper aku ketinggalan karena kesalahan airlines pas aku mendarat di Jakarta. Jadilah, satu malam tanpa perlengkapan apapun, akhirnya, nih, koper bisa diambil pas mau menuju ke Semarang. Kedua, kita mau berangkat ke Semarang kena delay sampai dua jam. Ketiga, nggak tahan macetnya Jakarta, waktu habis di jalan.

Selain hal di atas, ada banyak hal-hal lucu yang terjadi. La Rose itu ampun deh, beneran cerewet habis terutama menyangkut rambutnya, hahahaha…

Dia tuh begitu mendarat di Semarang, eh, belum mendarat waktu masih di Belanda juga sudah ribut pokoknya harus ada salon buat menata rambut. Balik lagi, ya, begitu. Baru mendarat dan dijemput oleh perwakilan penerbit, pertama yang dia ucapkan tuh, "Mas, pokoknya saya harus ke salon ya sebelum lauching buku, kalau nggak saya nangis ya…" Yang ada malah bikin si Mas jadi stress, hahahaha…

Dia tiap malam di hotel selalu gini," Soph, bagus nggak gua pakai ini. Terus kalau ini? Atau yang ini? Terus ini?

Ada lagi yang tiap saat dia tanya, " Soph, rambut gua kempes nggak?”

Mengenai rambut, ada cerita lucu. Dalam perjalanan menuju Solo dari Jogjakarta, LR nih ngegulung rambut a.k.a di-roll rambutnya. Iya, beneran ngeroll rambut dalam mobil, hahahaha...Nah, pas di pom bensin, aku minta berhenti mau ke toilet. Aku turun dulu, nih. LR juga mau turun, dia buka pintu. Pas buka pintu kebetulan ada orang yang nawarin tahu, langsung kaget liat LR. Ternyata, roll-nya itu masih nyangkut di rambut, hahahaha…Sampai tukang tahu aja kaget ngeliat rambut penuh dengan roll-an.

LRD : Saya memang gila ke salon, hahaha... Kalau perlu saya bawa stylist deh saat itu. Padahal saya belum jadi seleb beneran, hahaha... Gimana kalau saya jadi seleb beneran, ya? Hahahaha... LOL.

Bagaimana respon masyarakat terhadap buku Bedroom Fantasy?
LRD: Responnya cukup bagus, banyak yang bilang buku ini inspiratif untuk para pasangan yang sudah menikah ataupun akan menikah.

Apa moral dari tulisan-tulisan di Bedroom Fantasy secara umum?
LRD: Buat para istri, kalau punya suami yang maunya tancap gas saja, jangan mau ya. Tolak, kalau perlu dorong saja. Buat para suami yang istrinya hanya diam saja seperti mayat hidup, coba dibuat lebih bergairah. Seks adalah kebahagiaan bersama dan harus dinikmati satu sama lain.

Apakah tulisan-tulisan yang tersaji dalam Bedroom Fantasy berdasarkan pengalaman pribadi? (Bisa dijelaskan secara rinci, supaya pembaca berdebar-debar, haha..)
LRD: Isinya memang pengalaman pribadi saya dan juga pengalaman teman-teman. Kalau pembaca ingin berdebar-debar beli saja bukunya di jamin rinci dan memuaskan, hahaha....

Apa target Anda berikutnya?
LRD: Saya ingin coba-coba belajar menulis cerpen dan syukur kalau bisa diterbitkan menjadi buku. Dan tentunya ada buku kedua dari Bedroom Fantasy ini.

Sophie: Menerbitkan buku tulisan diri sendiri. Saat ini masih dalam proses.

Terima kasih buat Bejan, Juwi, dan Dad, yang men-support pembuatan buku Bedroom Fantasy. Testimoni kalian menjadikan "dinding kamar lebih berwarna".

 

Salam

ILUSTRASI FOTO-FOTO DOK REDAKSI 

MODERATOR - Penggagas KoKi : ZEVERINA

Pembaca "KOLOM KITA" (KoKi) entah di Bontang, Inggris, Bali, Belanda, New Jersey, Kuwait, Australia, atau di Kediri, silakan berbagi peristiwa seputar kehidupan sehari-hari. Kirimkan artikel dan foto melalui form "Kirim Artikel", jika mengalami kesulitan kirimkan melalui email: temennyazev@gmail.com ; kokizeverina@gmail.com


1 dari 4 Halaman Komentar | First Prev Next Last
Mini dan KoKiers bukunya bisa dibeli di Gramedia dan toko buku online
Posted by: Mrs.Hottie | Senin, 7 Maret 2011 | 00:53 WIB
Kalo boleh tahu, dimana ya beli bukunya??? Makasih, atas infonya....
Posted by: mini | Minggu, 27 Februari 2011 | 20:18 WIB
Saya senang dengan tulisan Ibu. Saya sudah beli bukunya. Bila ada waktu buku ini perlu dibahas dalam forum terbuka. Salam dari Anvers.
Posted by: Charles de Costerlaan | Jumat, 26 November 2010 | 07:52 WIB
Piper mudah2 masih ada dan belum habis...hahaha..thanks ya sudah ada niat beli buku saya>>>Kardoun dan Kokiers terima kasih sudah menyempatkan berkomentar dan membaca tulisan di atas.Apalagi kalau beli bukunya..hahahaha...salam cipika-cipiki...maaf nggak di jawab satu-satu ya..sibuk en cape nih...maklum kuli bangunan di Belanda..hahaha...:-)
Posted by: La Rose | Rabu, 24 November 2010 | 03:41 WIB
wow, selamat yah atas peluncuran bukunya buat LRD dan Sophie... ma kasih buat juwita yg telah mengorek dapur produksi buku tsb...
Posted by: kardoun | Senin, 22 November 2010 | 23:56 WIB
Anda harus login untuk memberi komentar pada Artikel ini...
About KoKi | Info iklan | Privacy policy | Terms of use| Karir | Contact Us
 
© 2008 - 2009 KoKi. All rights reserved