| KoKiSeksologi |
CITIZEN JOURNALISM: SIAPA SAJA, MENULIS APA SAJA
Jodoh yang Direvisi
Jodoh ditentukan di langit (baca: Sang Pencipta) tetapi dikoreksi di bumi (baca: Manusia). Bagaimana KoKiers, setuju dengan pernyataan ini? Banyak orang yang yakin banget, soal lahir, jodoh, dan mati semua diatur oleh sang Pencipta kita yaitu Allah yang Maha Kuasa. Nah, ketika kita mendapatkan yang ‘bagus’ sesuai dengan sifat manusia, kita tiada hentinya bersyukur atas karunia ini. Tetapi pas dapat yang ‘buruk’ apakah kita akan menghujat Pencipta kita, karena memberikan yang buruk untuk kita?
Tiga tahun lalu saya didatangi seorang klien, perempuan muda yang cantik, anak seorang pejabat tinggi yang menangis tersedu-sedu. Singkat cerita, dia memberitahu keinginannya memutuskan jodoh yang sudah diberikan oleh Tuhan padanya. Saat saya bertanya, “Darimana kamu tahu bahwa lelaki itu jodohmu yang diberikan Tuhan untukmu?” Dia menjawab, “Kami bertemu disaat sama-sama melaksanakan umroh. Saat itu, saya berdoa dengan khusuk untuk memohon pada sang Pencipta langit dan bumi agar saya diberikan jodoh untuk menapaki sisa umur di jalan hidup ini.” Kembali saya bertanya, “Jika kamu yakin itu jodohmu, kenapa kamu mau bercerai darinya.” Tangis meledak ketika suara parau perempuan muda itu berkata. “Bu, suami saya itu ternyata seorang gay tulen. Dia menikahi saya untuk menyenangkan ibunya yang sakit parah. Saat ini usia pernikahan kami sudah tiga tahun berjalan, tetapi jujur saja, saya masih ‘perawan’. Kami belum pernah melakukan hubungan intim selayaknya perempuan dan lelaki sebagai suami istri.” Menganggalah mulut saya, melompong bengong! (Mau komentar apa, sudah gagap!) Pesta Perceraian Cerita diatas adalah kisah nyata yang pernah saya dapatkan. Memang banyak dari kita ketika kepentok masalah sehubungan dengan pasangan, maka kita minta revisi untuk perjodohan ini. Walaupun tadinya kita percaya, si doi itu jodoh yang diberikan oleh sang Pencipta langit dan bumi ini. Tetangga ibu saya terpaksa bercerai dengan biaya ‘mahal’ untuk memutuskan jodohnya. Sebagai umat dari satu agama yang mengharamkan perceraian, akhirnya dia bisa bercerai juga setelah berjuang ‘mati-matian’ untuk melepaskan diri dari ikatan pernikahannya yang membuat hidupnya menderita lahir batin. Teman saya terpaksa menghibahkan 90% aset kekayaannya untuk mantan istrinya yang menuntut harta gono-gini sebesar-besarnya. Teman saya tersebut terpaksa merelakannya agar dia bisa terlepas dari ikatan pernikahannya yang membuat dia penderita sakit penyakit karena depresi. Sekarang, setelah dia bercerai “terasa lahir baru" (demikian dia selalu bergumam ketika ditanya soal perasaannya). Accch ternyata menikah, mendapatkan jodoh sebagai pasangan, ibarat mendapatkan lotre. Kalau beruntung dapat yang bagus, kalau buntung dapat yang bikin sakit jantungan, bahkan stroke atau kanker. Ternyata tren pesta pernikahan yang meriah, juga berkembang pada tren pesta perceraian yang meriah. Di banyak negara, saat ini orang merayakan perceraiannya semeriah pesta pernikahannya, bahkan momen ini ditandai oleh pemasangan cincin cerai pada jari pasangan yang bercerai. Tidak tanggung-tanggung, cincin ini juga didesain khusus dengan tataan berlian yang indah dan mahal. Jadi sekarang, jika melihat orang memakai cincin cerai kita tahu dia sebagai single atau istilah negara kita, janda atau duda.
Perusahaan perhiasan asal New York, Spritzer and Furman, yang menciptakannya. Cincin perceraian terbuat dari emas 18 karat berhias empat butir berlian. Harganya US$ 3.200 atau sekitar Rp 27 juta. Memperkuat simbol perpisahan, desain cincin ini sengaja menempatkan bentuk hati yang terbelah dua. Celah di antara belahan disematkan berlian yang terangkai membangun segitiga pipih. Kemunculan cincin itu menuai kontroversi di sejumlah kalangan. Ada yang menyebut cincin itu sebagai pengekalan luka. Sebab, memakai cincin itu justru akan membuat mereka yang mengalami perceraian sulit melupakan mantan pasangannya. (sumber: vivanews.com) Kemunculan cincin cerai itu beriringan dengan pesta perceraian yang menjadi tren di sejumlah negara, seperti Jepang dan Selandia Baru. Lee Amor, Direktur Whirl Productions, yang kerap membantu pelaksanaan pesta perceraian mengatakan pesta perceraian semakin populer di Selandia Baru. Setelah North Island, tren pesta penghilang sedih akibat perceraian ini mulai menjalar ke kawasan North Island. Palu & Hancurkan Cincin Pernikahan Di Jepang, perceraian tampaknya tak kalah sakral dibandingkan pernikahan. Melalui upacara yang disebut 'Goshugi', pasangan bercerai akan melewati prosesi unik yang menandai kehancuran pernikahan mereka. (sumber berita: Seattle Times).Upacara penghancuran cincin pernikahan disaksikan seorang pemimpin pesta perceraian.
Awal tahun ini, terdapat 15 pasangan muda usia 20-an sampai 30-an tahun melangsungkan Goshugi di sebuah garasi yang disulap menjadi rumah perceraian, di daerah Asakusa, Tokyo. Layaknya pernikahan, mereka mengenakan busana formal. Mereka datang membawa amplop hadiah berisi uang bertulis 'Goshugi'. Setiap pasangan datang terpisah menumpang kendaraan semacam becak. Artinya, ada 30 becak di sana. Salah satu wanita, mewakili para istri, membuka pesta perceraian ini dengan kalimat sambutan sederhana, "Jujur, saya sulit mengatakan perasaaan. Tetapi saya masih ingin berteman bahkan setelah perceraian”.
Usai prosesi penghancuran cincin, setiap pasangan mengungkap perasaan masing-masing. Ada yang mengaku lega setelah berdebat soal perceraian selama setahun. Seorang pria juga terdengar berkata sambil tersenyum, "Aku merasa lega menghancurkan cincin". Wah, sebentar lagi di Indonesia akan bermunculan EO untuk menggelar pesta perceraian. Bosan dengan pesta pernikahan yang sudah jadi tradisi. Hahahaaaaaa....
Salam bahagia untuk semua,
ILUSTRASI FOTO-FOTO DOK REDAKSI MODERATOR - Penggagas KoKi : ZEVERINA Pembaca "KOLOM KITA" (KoKi) entah di Bontang, Inggris, Bali, Belanda, New Jersey, Kuwait, Australia, atau di Kediri, silakan berbagi peristiwa seputar kehidupan sehari-hari. Kirimkan artikel dan foto melalui form "Kirim Artikel", jika mengalami kesulitan kirimkan melalui email: temennyazev@gmail.com ; kokizeverina@gmail.com
|
| About KoKi | Info iklan | Privacy policy | Terms of use| Karir | Contact Us |
|