SENIN, 21 APRIL 2014
 
        Lupa Password?

detikTravel

detikTravel

Info Promosi Travel

Wego
Tags
This will be shown to users with no Flash or Javascript.
KoKiUrban
CITIZEN JOURNALISM: SIAPA SAJA, MENULIS APA SAJA
Enak Mana, Jadi Janda atau Perawan Tua (part 1)
Ria Kansas - Amerika Serikat

Jawaban dari pertanyaan diatas tergantung dari latar belakang si pemberi jawaban. Tapi kalau menilik dari kultur budaya dan psikologis orang Indonesia, kedua status di atas sama-sama berkonotasi negatif.

Perawan Tua
Saya sendiri tidak pernah mengalami phase sebagai perawan tua. Tapi dari survey pribadi yang saya lakukan, menjadi perawan tua di Indonesia tidak mudah. Pertama, dia harus siap menerima pertanyaan yang menyakitkan, tuduhan dan gunjingan di belakang layar, serta kesiapan mental jika ditakdirkan tidak menikah hingga usia lanjut.

Saya berasal dari keluarga besar. Ayah dan Ibu saya memiliki kakak dan adik lebih dari enam orang. Dari keseluruhan keluarga besar, 85% adalah perempuan. Dari 85% itu 55% nya belum menikah. Jika kami sedang berkumpul (acara arisan keluarga, pernikahan, halal bihalal, dan sebagainya), si lajang mengalami tekanan psikologis. Karena tanpa ampun keluarga besar akan memberikan pertanyaan yang sama seperti, “ Kapan menikahnya ?” “ Jangan kelamaan lho, nanti susah punya anak ?” , “ Kenapa belum menikah?'' Dan sederet pertanyaan lain yang bersifat menghakimi.

Tidak jarang, para sepupu yang masih lajang itu menampik acara acara keluarga. Saya kadang suka menjadi pahlawan kesiangan dalam acara keluarga. Setiap si lajang dikerumuni kerabat, saya dengan sigap, menarik tangan si lajang, dan menyelamatkan mereka dari pertanyaan-pertanyaan menakutkan itu. Tidak jarang, sikap saya selalu dikritik keras oleh para bude dan pakde. Dianggap tidak sopan karena menyela pembicaraan. 

Setelah saya pindah domisili, sepupu-sepupu saya yang masih lajang sangat merindukan aksi penyelamatan saya. Tidak sekali dua kali para lajang menanyakan ke saya, “resep jadi laku”. Berikut dengan tetek bengek, “tolong dicarikan jodoh”.

Sungguh, saya benci dengan permintaan ini. Pertama karena resep untuk laku itu susah. Kedua karena saya ini bukan germo, yang mengoleksi para bujangan dan duda.

Problem dan masalah si Lajang
Latar belakang seseorang tidak menikah atau terlambat menikah beragam. Ada yang dikarenakan faktor karir, keuangan, penampilan mengecawakan, kegagalan dalam bercinta, hingga sifat. Zaman saya dulu masih gadis, umur dua puluh lima tahun adalah umur rawan. Lewat usia ini, cap perawan tua sudah diusung. Kalau zaman sekarang, lewat usia 30 tahun, adalah cap yang lazim diusung para lajang. 

Jumlah wanita yang berkarir sudah hampir seimbang dengan laki-laki yang berkarir. Bahkan tidak jarang, wanita yang tidak berkarir akan lebih susah mendapatkan jodohnya dikarenakan dalam membangun suatu rumah tangga di Indonesia, diperlukan dua sumber financial untuk menopangnya.

 

Keuangan juga menjadi faktor sulitnya mendapatkan jodoh. Pria zaman sekarang banyak yang materialistis. Mereka tidak mau hanya dijadikan sumber penghasilan.

Kalau saya tanyakan kepada beberapa sepupu pria dan teman pria di Indonesia, hampir 99% mereka mengungkapkan, “Wanita yang ideal adalah wanita yang tahu cara mencari uang.”

Bukan lagi, “ Wanita yang ideal adalah wanita yang tahu cara mengurus keperluan rumah tangga”.

Mengapa? karena urusan rumah tangga diserahkan sepenuhnya kepada pembantu rumah tangga dan baby sitter. Pria zaman sekarang beralasan bahwa beban yang mereka bawa jika si isteri tidak bekerja sangat berat. Hal ini tidak berlaku jika si pria berasal dari keluarga kaya atau memiliki usaha sendiri.

Penampilan mengecewakan juga menjadi faktor si lajang susah mendapatkan jodoh. Pria Indonesia cenderung memilih wanita dari segi fisik dan penampilan. Fisik yang kurang, seperti “ kulit tidak terang, bobot yang berlebih, penampilan yang jarang tersentuh “salon” tidak akan dilirik oleh para pria Indonesia.

Dari 99% pendapat yang saya terima, pria Indonesia lebih menyukai wanita langsing, berkulit putih mulus. Akibatnya “wanita yang tidak langsing, tidak berkulit putih mulus/bening”, mengalami kesulitan mencari jodoh.

Saya tidak akan membahas soal sifat, karena sifat itu sesuatu yang datang dari dalam individu sendiri. Namun, ada dua hal sifat yang sangat mencolok yang umumnya ditemui dari si lajang, yaitu: sifat terlalu selective dan sifat yang nyinyir.

Sifat terlalu selective adalah yang mengharapkan calon suami A rating (memilki penampilan yang tampan, berpenghasilan cukup, dari keluarga yang berada, memiliki title, dan lain sebagainya). Sifat nyinyir adalah sifat yang selalu mengktirik, merendahkan, negatif, yang dikeluarkan dari mulut si lajang.

Resep Laku
Intropeksi! Sebelum berkeluh kesah dan meratap menangisi nasib, intropeksi sifat, penampilan, dan cara bergaul. Jodoh itu tidak akan datang sendiri jika tidak ada usaha. Kalau anda memiliki sifat malu dan tidak mudah bergaul, cari jodoh melalui internet dong.

Pria itu tidak akan datang seperti jelangkung (Datang tanpa diundang pergi tidak diantar). Tapi, perlu diwaspadai, bahwa tidak semua laki-laki yang Anda kenal lewat internet itu adalah benar- benar mencari jodoh dan bukannya “scammer”. Ciri-ciri dan perilaku para scammer sudah banyak dibahas melalui beberapa artikel di KoKi.

Kalau Anda tidak percaya dengan jalur internet, coba bergabung dengan kelompok pemuda/i di gereja (mudika, rokris, pengajian anak muda, dll) ikut perkumpulan olahraga, perkumpulan jalan-jalan, dan wadah seperti met up (jejaring social yang menyatukan individu yang memiliki hobi atau interest yang sama).

Turunkan standard dalam mencari pasangan hidup dan telaah apa yang anda milki. Kalau anda bukan berasal dari keluarga berada atau tidak berada dalam lingkungan orang berada, ya terima nasib jika mendapatkan jodoh juga dari kalangan yang setara dengan kehidupan Anda. Jangan hanya karena ingin mencari jodoh dari keluarga berada, Anda memaksakan diri berpenampilan glamour atau mengikuti alur kehidupan mereka.

Saya ada pengalaman dari seorang teman yang berasal dari keluarga miskin. Rumahnya di gang dan orang tuanya bekerja serabutan. Dia menghabiskan seluruh uang gaji sebulannya untuk kongkow-kongkow di restaurant atau café, mendandani dirinya dengan barang branded tiruan, dan hanya begaul dengan kalangan the have.

Setiap berpacaran, tidak pernah sampai ke jenjang pernikahan. Kini usianya sudah menginjak empat puluh tahun. Beberapa bisik-bisik tetangga mengatakan, bahwa dia selalu berbohong akan status sosial dan alamat rumahnya. Baru, setelah hubungan sudah mulai agak serius, dia mengajak si calon datang ke rumahnya dan mengenalkannya dengan orang tuanya. Apa daya, si pria yang merasa “tertipu” dengan penampilan wahnya, langsung mundur teratur.

Resep laku yang selalu saya terapkan dalam mencari jodoh adalah menjadi diri sendiri. Saya bukan wanita yang sempurna dari segi penampilan, financial, maupun kepribadian. Tetapi saya selalu menjadi diri saya sendiri setiap saya memulai hubungan dengan seorang pria. Saya tidak pernah menutupi kelemahan saya. Saya ini gendut karena saya tidak bisa membatasi nafsu makan. Bohong namanya, kalau orang gendut mengaku kegendutannya karena adanya kelainan kelenjar atau faktor keturunan. Orang itu kalau kegendutan, yah karena makannya banyak dan malas berolahraga. 

Jadi, kalau saya kencan di restaurant saya tidak akan memesan salad atau sup dengan alasan diet. Kalau saya lapar, saya akan memesan makanan dengan porsi besar. Kalau tidak bisa menerima cara makan saya, yah tidak usah mengajak saya makan di restaurant. Saya paling geram, kalau saya lagi makan terus dikomentari, bisa-bisa itu piring saya jadikan lap ke mukanya…(untung sampai detik ini belum ada yang pernah komentar…)

Teman saya di Indonesia cerita, kalau pacarnya selalu membatasi dia makan. Misalnya ke warung sate, dia hanya boleh menonton pacarnya makan sate kambing/ayam, dengan tongseng dan nasi, sementara dia dibatasi hanya boleh makan sate ayam 5 tusuk tanpa nasi. Kalau dia beli cemilan/snack di supermarket, pacarnya nyinyir mengatakan, “Hati-hati jangan banyak ngemil, nanti kegendutan.''

Sudah dua tahun berpacaran belum juga dinikahi, terus curhat ke saya. Komentar saya, “Tingalin”.

Saya ini memiliki penghasilan sendiri, jadi saya tidak akan pernah mau kalau si pria membayari saya makan, membelikan hadiah, atau menghujani saya dengan tetek bengek seperti bunga, coklat, dan lain sebagainya. Saya akan menolak hadiah yang diberikan seorang pria dan saya pun tidak akan pernah membelikan mereka hadiah. Untuk saya, perhatian dan kasih sayang sudah cukup. Bagi saya, perempuan yang menganggantungkan finansialnya kepada pria adalah perempuan yang tidak punya dignity. Titik.

Saya bicara apa adanya. Tidak ditambah dan tidak dikurangi. What you see is what you get. Kalau saya tidak setuju atau tidak suka, saya langsung bilang ke teman kencan saya. Kalau saya suka, saya juga akan bilang tanpa meninggalkan kesan yang belebihan. Saya tidak pernah memuji teman kencan saya dan saya juga tidak gila akan pujian. Pria yang terlalu banyak memuji biasanya hanya ingin menarik anda untuk ditiduri!

Be independent. Dibukakan pintu ketika keluar dari mobil atau masuk kedalam mall adalah sikap gentleman seorang pria. Tapi jangan mengharapkan si pria akan melakukannya setiap saat. Anda punya tangan, punya kaki, buka pintu sendiri dan tutup sendiri. Anda bukan bayi yang selalu harus dibimbing. Kenapa nggak sekalian minta dicebokin juga kalau sehabis buang air??

Antar jemput. Anda bisa menyetir mobil sendiri atau membayar biaya transportasi. Jangan selalu menunggu pria untuk mengantar jemput Anda. Saya paling risih, kalau teman kencan saya datang ke rumah saya untuk menjemput. Saya lebih nyaman, jika kencan itu bertemu di restoran atau bioskop dengan menggunakan mobil sendiri /kendaran umum. Pertama karena, saya perlu waktu untuk berhias. Kedua, kalau kencannya tidak sesuai dengan keinginan, bisa langsung pergi tanpa harus mengandalkan dia untuk mengantarkan kembali ke rumah.

Resep laku yang saya jabarkan di artikel ini sudah saya terapkan selama bertahun-tahun dan percaya atau tidak, saya tidak pernah mengalami fase melajang. Di artikel selanjutnya saya akan membahas pengalaman dan suka duka menjadi janda.

Tabiik.

ILUSTRASI FOTO-FOTO DOK REDAKSI 

MODERATOR - Penggagas KoKi : ZEVERINA

Pembaca "KOLOM KITA" (KoKi) entah di Bontang, Inggris, Bali, Belanda, New Jersey, Kuwait, Australia, atau di Kediri, silakan berbagi peristiwa seputar kehidupan sehari-hari. Kirimkan artikel dan foto melalui form "Kirim Artikel", jika mengalami kesulitan kirimkan melalui email: temennyazev@gmail.com ; kokizeverina@gmail.com


1 dari 10 Halaman Komentar | First Prev Next Last
@Meong : sate ??? ah bikin sate meong ahhhh :D
Posted by: Straight_Line | Jumat, 16 November 2012 | 22:14 WIB
ria yg paling enaaak maah jadi meong !!! iso nyolong ikan asin hahahaha..........
Posted by: dewimeong | Jumat, 16 November 2012 | 07:03 WIB
SL...yg penting bisa di tusuk !!! ..............wkwkwkw maaang sateee ????
Posted by: dewimeong | Jumat, 16 November 2012 | 07:02 WIB
Sukaaa banget ama artikelnya. Iya nih, kangen banget sama artikel kayak gini. Terbuka dan apa adanya. Segeerrr...hehehe. Ditgg next article :-)
Posted by: izumi | Kamis, 15 November 2012 | 14:29 WIB
huaahaha...gw ngakak smp kejengkang2 ni tengah mlm bacanya...tante ria emnag tiada duanya!!!
Posted by: phie-midstate | Kamis, 15 November 2012 | 12:57 WIB
Anda harus login untuk memberi komentar pada Artikel ini...
About KoKi | Info iklan | Privacy policy | Terms of use| Karir | Contact Us
 
© 2008 - 2009 KoKi. All rights reserved