KAMIS, 17 APRIL 2014
 
        Lupa Password?

detikTravel

detikTravel

Info Promosi Travel

Wego
Tags
This will be shown to users with no Flash or Javascript.
KoKiUrban
CITIZEN JOURNALISM: SIAPA SAJA, MENULIS APA SAJA
Cari Jodoh di Gendang Guro-Guro Aron
Edi Ginting -Jakarta

Di atas pentas tampak sekitar 20 pasangan muda-mudi asyik menari. Semua penari wanita memakai kebaya dan songket, serta rambut mereka ditutupi oleh kain tenun tradisional yang dibentuk seperti segitiga.

Mereka pun berdandan semenarik dan secantik mungkin. Tidak lupa kuku mereka diwarnai dan beragam perhiasan emas mereka kenakan. Mereka pun terlihat sangat cantik. Sedangkan si penari pria memakai sarung hingga sedikit di bawah lutut. Baik si penari wanita maupun pria adalah muda-muda yang belum menikah.

Dalam menari, gerakan mereka maju-mundur sambil tidak lupa menggoyangkan badan dengan mengikuti hentakan suara musik. Gerakan mereka tidak beraturan, seolah-olah tidak ada aturan dalam menari. Yang mengejutkan lagi, para mudi-mudi ini menari dengan iringan musik instrumen dari lagu dangdut yang dimainkan sangat cepat oleh pemain keyboard. Lagu dangdut tersebut dimodifikasi sedemikian rupa sehingga iramanya mirip musik tradisional Tanah Karo.

Pasangan muda-mudi ini sebenarnya sedang menari odak-odak, salah satu bagian menari dalam Gendang Guro-guro Aron dalam masyarakat Suku Karo. Menari odak-odak ini memang seperti menari bebas, walau sebenarnya ada sejumlah aturan dan pakem yang harus ditaati.

Walau ada aturan, namun siapapun bebas berkreasi agar terlihat semakin meriah di atas pentas. Apalagi, umumnya musik yang mengiringi tarian odak-odak ini adalah musik berirama cepat yang seolah-olah memberikan daya magis bagi si penari untuk menari seindah-indahnya. Kekuatan magis ini pun menyebar hingga ke para penonton, sehingga mereka juga tidak tahan untuk hanya berdiam saja. Setidaknya mereka akan menggoyang-goyangkan kaki dari tempat mereka menonton dengan mengikuti irama musik.

Begitulah yang terlihat dalam kemeriahan pesta Gendang Guro-guro Aron di Desa Perbesi, Kecamatan Tigabinanga, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Tanggal 22-23 Juni lalu, desa yang berjarak sekitar 100 kilometer dari Medan ini, sedang merayakan pesta Kerja Tahun.

Pesta Kerja Tahun adalah sebuah tradisi di Suku Karo yang makna awalnya adalah pesta untuk mengucapkan rasa syukur usai mereka bercocok tanam. Seiring perjalanan waktu, makna pesta Kerja Tahun telah bergeser menjadi sebuah perayaan setahun sekali yang digunakan sebagai momen untuk saling bersilaturahmi.

Sama seperti saat Lebaran, orang-orang pun saling mengunjungi pada perayaan Kerja Tahun. Saudara dari lain desa juga berdatangan untuk bersilaturahmi dan memberikan ucapan selamat merayakan Kerja Tahun. Begitu juga dengan orang-orang di perantauan yang banyak memilih mudik saat Kerja Tahun. Karena itu, desa begitu ramai dan meriah pada dua hari Kerja Tahun ini. Uniknya lagi, perayaan Kerja Tahun berbeda-beda hari dan tanggalnya antardesa di Tanah Karo.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, perayaan Kerja Tahun di Perbesi juga diramaikan dengan pesta Gendang Guro-guro Aron. Gendang berarti kerja, pesta, upacara dengan tari-tarian. Guro-guro berarti main-main , bersenda gurau, atau bersuka cita. Sedangkan kata aron artinya muda-mudi. Dengan demikian, Gendang Guro-guro Aron dapat diartikan sebagai kerja, pesta, upacara yang diperuntukkan sebagai ajang muda-mudi bersenda gurau atau bersuka-cita.

Gendang Guro-guro Aron selalu dinanti masyarakat Karo. Mereka akan memadati tempat penyelenggaraan hingga selesai. Kalaupun tidak ikut menari, mereka sudah cukup puas untuk menontonnya. Mereka pun bangga kalau ada anak gadis mereka yang ikut menjadi salah satu penari.

Pelaksanaan Gendang Guro-Guro Aron saat pesta Kerja Tahun di Desa Perbesi berlangsung selama tiga kali. Yang pertama adalah hari Jumat siang hingga menjelang matahari tenggelam. Kemudian dilanjutkan lagi pada malam hari sekitar pukul delapan hingga pukul empat pagi. Terakhir, berlangsung pada hari Sabtu mulai pukul sembilan malam hingga Minggu pukul enam pagi. Walau begitu larut, namun penonton maupun yang menari tetap berjubel dan memenuhi jambur (balai rakyat yang biasa ada di setiap desa di Tanah Karo).

Dalam Gendang Guro-guro Aron ini, si penari perempuan wajib mengenakan pakaian tradisional Karo. Mereka mengenakan baju kebaya yang dipadu dengan kain songket. Mereka tidak lupa membawa uis nipes, salah satu kain tenun tradisional orang Karo. Rambut mereka juga ditutup dengan tudong, yang dibuat dari beberapa jenis kain tenun tradisional orang Karo lainnya.

Para penari perempuan ini juga wajib masih lajang. Yang sudah berkeluarga tidak boleh lagi ikut menjadi salah satu penari atau disebut aron. Karena itu, biasanya menjadi kebanggaan bagi setiap gadis di Tanah Karo untuk bisa ikut menjadi salah satu aron dalam Gendang Guro-guro Aron. Dengan menjadi aron, maka otomatis mereka pun bisa menari. Tidak hanya si gadis, namun juga keluarganya bisa malu bila kelak anak gadis mereka tidak bisa menari. Singkat cerita, mengikuti Gendang Guro-guro Aron adalah salah satu fase yang harus diikuti setiap muda-mudi Karo.

Gendang Guro-guro Aron menjadi ajang bagi muda-mudi Karo untuk saling berkenalan. Ketika si Aron naik ke pentas, maka siapa saja pemuda bisa menjadi pasangan menarinya. Si aron wanita tidak bisa memilih siapa pasangannya, karena mereka hanya menunggu. Yang pasti, pasangan menari harus berbeda marga. Haram hukumnya menari dengan orang yang semarga, karena mereka dianggap bersaudara kandung. Lewat sistem seperti ini, tidak salah kalau Gendang Guro-guro menjadi ajang untuk mencari jodoh. Sebab, siapa sangka, dengan saling berkenalan di atas pentas, mereka akhirnya menjadi akrab dan akhirnya saling jatuh cinta. Kisah percintaan yang terjadi di Gendang Guro-guro Aron sudah lumrah terjadi di masyarakat Karo.

Dalam Gendang Guro-guro Aron, ada sepasang penari utama yang disebut perkolong-kolong. Selain pandai menari, keduanya juga pintar menyanyikan lagu apa saja, termasuk lagi Indonesia maupun lagu-lagu impor. Mereka juga harus bisa saling beradu pantun dan ejekan ketika mendapatkan giliran menari berdua saja di atas pentas, atau biasa disebut dengan adu perkolong-kolong. Penonton akan sangat antusias menonton ketika sedang ada adu perkolong-kolong.

Dalam Gendang Guro-Guro Aron dalam rangka Pesta Kerja Tahun Desa Perbesi 2012, yang bertindak menjadi perkolong-kolong adalah Keleng Barus dan Anita Sembiring. Keduanya sudah berkali-kali berduet di Perbesi dan merupakan salah satu perkolong-kolong paling terkenal di Tanah Karo. Keduanya juga sudah sering diundang menjadi perkolong-kolong di acara orang Karo di luar Sumatera Utara.

Pesta Gendang Guro-guro Aron Perbesi tahun ini juga dimeriahkan oleh penampilan sejumlah artis Tanah Karo. Ada Tio Fanta Pinem, Harto Tarigan, dan sederet nama lain. Mereka naik ke atas pentas dan menyanyikan sejumlah lagu berbahasa Karo andalan mereka.

Hampir seluruh artis yang tampil pandai berkomunikasi dengan para penonton. Penonton, terutama ibu-ibu, seketika bersorak-sorak tatkala si artis menyebut salah satu marga di dalam nyanyiannya. Tio Fanta pinem bahkan lebih banyak berrnyanyi di antara penonton daripada di atas pentas. Penyanyi yang pernah populer di blantika musik Indonesia pada awal 90an ini, sangat mahir berinteraksi dengan penonton. Dua lagu yang dibawakannya sangat menghibur penonton yang memadati jambur Perbesi.

Kemeriahan pesta Gendang guro-guro tidak hanya milik para muda-mudi. Orang tua juga tidak mau ketinggalan. Panitia memberikan kesempatan kepada orang tua untuk naik ke pentas hingga beberapa kali karena terlalu banyaknya orang tua yang ingin ikut menari.

Kesempatan ini pun langsung disambar para orang tua. Mereka pun segera beramai-ramai naik ke pentas. Jumlah mereka sangat banyak. Panggung pun penuh dengan pasangan orang tua yang umumnya adalah ibu-ibu. Hanya ada satu-dua ibu-ibu yang berpasangan dengan suami mereka.

Mereka pun menari dengan penuh suka cita. Senyum dan tawa terlihat di wajah mereka. Mereka sepertinya begitu bahagia. Apalagi saat menari odak-odak. Lupakan sejenak segala permasalahan yang ada. Karena Gendang Guro-guro Aron Kerja Tahun baru ada lagi satu tahun lagi.

Foto-foto by Edi Ginting

ILUSTRASI FOTO-FOTO DOK REDAKSI 

MODERATOR - Penggagas KoKi : ZEVERINA

Pembaca "KOLOM KITA" (KoKi) entah di Bontang, Inggris, Bali, Belanda, New Jersey, Kuwait, Australia, atau di Kediri, silakan berbagi peristiwa seputar kehidupan sehari-hari. Kirimkan artikel dan foto melalui form "Kirim Artikel", jika mengalami kesulitan kirimkan melalui email: temennyazev@gmail.com ; kokizeverina@gmail.com


1 dari 2 Halaman Komentar | First Prev Next Last
Waaooww..piku2/putu2nya keyeeenn, yuka paling demen liat orang2 memakai baju daerah..bang Edi juga datang untuk mencari jodohkah??
Posted by: Yuka-Kobe | Kamis, 23 Agustus 2012 | 19:53 WIB
Buat Farvel Bonita di Madrid : dulunya pernah ikutan nari Gendang Guro -guro Aron kah ? hehehehehe .... Tulang mu ini hanya ber guro- guro ... *kmn aja kau ini bah ! lama kali tak nampak .
Posted by: sirpa | Jumat, 17 Agustus 2012 | 00:00 WIB
ada tari perkenalan sekaligus cari jodoh ... ada pula tari untuk merayakan Tahun Kerja tanda pengucapan terima kasih atas hasil kerja tahun yg dicapai ... -- pakaian tradisional nya indah sekali , ceweknya pun cantik2 --- Siip banget sharing nya Bung Ginting .
Posted by: sirpa | Kamis, 16 Agustus 2012 | 21:37 WIB
Terima kasih Bang buat liputannya.
Posted by: SU | Kamis, 16 Agustus 2012 | 12:44 WIB
indahnya Tarian Tradisionil Indonesia
Posted by: Caridaki | Kamis, 16 Agustus 2012 | 11:12 WIB
Anda harus login untuk memberi komentar pada Artikel ini...
About KoKi | Info iklan | Privacy policy | Terms of use| Karir | Contact Us
 
© 2008 - 2009 KoKi. All rights reserved