JUMAT, 24 MEI 2013
 
        Lupa Password?

detikTravel

detikTravel

Info Promosi Travel

  • 1

    Rp .000

  • 2

    Rp .000

Wego
Tags
This will be shown to users with no Flash or Javascript.
Obrolan Karir
CITIZEN JOURNALISM: SIAPA SAJA, MENULIS APA SAJA
Radical Job Switch
Jaap – Amsterdam


Status hilang, tapi stres berkurang. Banyak akademisi Belanda pindah haluan menekuni pertukangan. Mereka meninggalkan jalur cepat menuju sukses dan mencoba mengadu nasib sebagai tukang kebun, pekerja bangunan atau pemanggang kue.

Di Abad Pertengahan, tukang adalah pekerjaan terhormat. Sayang, pengaruh mekanisasi dan  penilaian berlebihan terhadap pekerja kantoran di Eropa mengakibatkan degradasi keahlian khusus ini dibanding direktur, manajer dan pekerja kerah putih lainnya. Belakangan, pertukangan kembali digemari di Belanda. Kursus handicraft ramai dikunjungi  dan hampir di setiap sudut jalan, toko-toko kecil marak bermunculan menawarkan produk kerajinan tangan seperti topi, keramik atau kemeja bordir. Pendek kata, buatan tangan sedang in.

Setiap tahun, sekitar setengah juta orang Belanda pindah haluan ke bidang  pekerjaan lain. Sepuluh persen  dari angka tersebut memilih pindah jalur secara drastis, meski belum jelas berapa jumlah pengacara, manajer atau direktur bergaji tinggi memilih menggeluti pekerjaan baru sebagai pekerja bangunan, pembuat biola atau tukang roti. Sepintas terdengar radikal, namun menurut Laurens Knoop dari lembaga independen Motivaction, pilihan itu sejalan dengan perkembangan zaman.

“Bagi sebagian orang, pekerjaan itu tidak selalu berarti status, uang atau kekuasaan. Kita mulai berpikir kritis dan bertanya pada diri sendiri: apa sebetulnya minat saya, apa ketrampilan saya tidak bertabrakan dengan pekerjaan sekarang dan dapatkah saya berfungsi optimal di masyarakat dengan pilihan saya? Pertukangan adalah pekerjaan tangan. Proses dan hasilnya hampir selalu bisa dirasakan, berbeda dengan pekerjaan kantor,” ujar Knoop.

 



Dari kepala beralih ke tangan


Knoop:  “Ada hubungan istimewa antara tiap individu dengan pekerjaan yang digelutinya. Mereka merupakan mata rantai sebuah proses dan hasil akhir. Mereka ingin sesuatu yang otentik. Pertukangan mengisi celah ini dan sejalan dengan tren. Pekerja berijazah tinggi  merasa hampa dan kehilangan identitas mereka. Beralih ke pertukangan, baik secara tersurat maupun tersirat, berarti  kendali ada di tangan mereka sendiri.”

Banyak pegawai high-skilled tidak puas dengan pekerjaan mereka. Sebagai alasan utama, kebanyakan menyebut kurangnya tantangan, manajemen tertutup atau merasa diacuhkan.  “Batasan antara ruang lingkup pekerjaan dan pribadi makin tipis. Di kantor pun, orang ingin bersikap wajar dan tidak memakai topeng. Lumrah bila karyawan ingin suasana kerja yang manusiawi, terbuka dan apresiatif,” tutur Knoop.

Ia memperkirakan, makin banyak pekerja berijazah tinggi menukar ‘profesi pemikir’ dengan pekerjaan yang lebih banyak menggunakan tangan. Apalagi, dalam situasi krisis sekarang ini,  perusahaan-perusahaan multinasional kerap melakukan reorganisasi dan terfokus  pada prestasi serta penghematan. Sisi kemanusiaan hanya dipajang di latar belakang. Orang makin yakin untuk cepat angkat kaki.

Keluar dari c
omfort-zone

Menurut jajak pendapat Motivaction, separuh dari responden yang bekerja akan mencoba berkarir di jalur lain jika diberi kesempatan. Namun, mereka tidak ingin mengorbankan kenyamanan yang telah diraih. Kelompok yang betul-betul pindah jalur biasanya terpaksa akibat dipecat, mutasi atau burn-out. “Uang adalah alasan krusial untuk tidak gegabah segera beralih profesi,” terang Peter Vonk dari Vonk Compententie management.

“Seringkali, orang-orang yang berani beralih profesi secara radikal sudah sukses di karir sebelumnya, hidup berkecukupan dan punya jaringan sosial. Mereka hanya perlu mengejar atau mewujudkan impian. Sedangkan mayoritas awam masih harus bergulat tiap hari dengan nafkah untuk keluarga, melunasi hutang atau menabung untuk biaya studi anak di masa depan,” tambah Vonk.

Kendati demikian, menurut Hugo van der Heiden dari biro konsultan Carriere Switch, masih ada golongan kecil yang berani mengambil resiko dan mengikuti naluri mereka. “Kelompok ini sama sekali tidak menyesal. Bahkan, sebagian menyayangkan tidak banting setir sepuluh tahun lalu atau lebih awal. Memang, alasan pendapatan masih sering menjadi pertimbangan, tapi terbukti mereka berpenghasilan layak.

Hambatan biasanya datang dari lingkungan terdekat, terutama teman dan mantan kolega. Mereka mempunyai pola pikir sendiri dan kerap tidak mengerti kemauan rekannya yang beralih profesi. Sedapat mungkin berpijak di anak tangga tertinggi sudah menjadi jargon sehari-hari. Berganti profesi secara radikal tabu dilakukan,” terang Van der Heiden. 

Perlu jiwa wiraswasta

Pertukangan terkait erat dengan wiraswasta. Carina Benninga, jubir Van Eden & Partners, menjelaskan, “Ketahui dengan baik seluk-beluk wiraswasta. Mungkin Anda pelukis handal dan pembuat mebel tangguh, tapi Anda harus mencari klien sendiri, membuat situs,  memohon izin dan mendirikan perusahaan serta membangun network. Mungkin terdengar sepele, namun sebagian orang berpendidikan tinggi belum paham hal-hal kecil ini. Anda yakin lebih senang bekerja dengan proyek bangunan daripada di meja kantor, tapi siapkah Anda mengubah standar hidup. Ada baiknya mencoba beberapa pekan dan tidak tergesa-gesa mengambil keputusan.”

Everyday Friday, biro tenaga kerja partikulir, membantu calon job-switcher mengenal profesi baru yang mereka impikan. Felix Rozenberg (38) baru sadar, mengoperasikan mesin keruk pasir ternyata berat dan gajinya kecil. Rozenberg sempat mencoba magang dengan kontraktor bangunan ditemani coach Everyday Friday. Rozenberg memutuskan beralih dari manajer inovasi ke business-analist. “Setidaknya,  pekerjaan saya sekarang tidak terlalu abstrak dan jelas. Itu yang saya inginkan,” tandas Rozenberg.

Sebagian job-switcher  justru mengkombinasi pekerjaan mereka atau kerja paruh waktu. Seorang dokter umum di Amsterdam sengaja tidak praktik satu hari dan ikut bersama tukang kayu di sebuah proyek bangunan. 

Potret tiga career-switcher


Jessica Hooghiemstra (45)

Mantan pengacara glamour mengelola studio foto’

“Sewaktu masih bekerja di kantor IMG, London, saya mewakili kepentingan hukum atlet terkemuka seperti Pete Sampras dan André Agassi. Menakjubkan, hidup saya dikelilingi orang-orang penuh inspirasi, mobil mewah dan pesta tiap hari. Ayah saya tiba-tiba meninggal dan saya harus kembali ke Belanda selama lima tahun mengurus penjualan perusahaan keluarga. Sebetulnya saya ingin ke London lagi, namun warisan keluarga membuka perspektif baru. Saya dididik, sebagai perempuan harus dapat mandiri secara finansial. Saya mengikuti kursus fotografi di sebuah akademi seni.

Awalnya, sangat sulit berganti pekerjaan dan memulai karir dari bawah lagi. Terutama komentar miring dari orang terdekat. Mantan atasan saya kecewa dan keluarga saya sempat menyindir ijazah magister saya di New York. Yang paling menyakitkan, diremehkan dan dibentak sekretaris di biro iklan saat mengantar foto ke klien. Waktu itu saya masih asisten juru foto. Namun, saya tetap gigih ingin berkarir di bidang fotografi. Kini, saya juga seorang ibu.

Sepuluh tahun berlalu dan saya mulai merasakan hasilnya. Spesialisasi saya potret hitam putih anak-anak. Dulu, saya sempat membuat reportase foto perkawinan. Studio saya di Amsterdam cukup dikenal dan saya senang orang menghargai apa yang saya lakukan.”

 

                                                                  _________________



Hans Eildert  van der Wijk (46)

‘Eks bankir lebih senang berkebun di udara terbuka’

“Saya masih ingat kapan memutuskan berhenti dari dunia finansial setelah berkarir selama 17 tahun. Persisnya 2002, sewaktu perusahaan-perusahaan IT mulai  tumbang. Kamis siang, saya mendapat email. Bank tempat saya bekerja harus berhemat dan sistem bonus bakal dihapus. Padahal, tiga bulan sebelum berhenti saya menjual cukup banyak polis asuransi jiwa. Saya memutuskan angkat kaki. Pekerjaan saya terasa membosankan.

Istri saya sempat terkejut, namun ia sudah punya firasat. Saya benci rapat bertele-tele dan pekerjaan administrasi. Perhatian ke nasabah justru diabaikan. Beruntung, saya masih mendapat pesangon dan dapat saya gunakan wiraswasta.

Pertama-tama saya bergabung dengan arsitek dan belajar menata taman. Secara fisik berat karena saya tidak muda lagi. Kini, saya bekerja sama dengan pemasok material taman. Sulit juga merancang dan menata taman. Bukan cuma menghitung jumlah batu dan tanaman yang cocok.  Penghasilan saya berkurang separuh, tapi saya puas.

Secara teratur saya masih berkumpul minum bir dengan rekan kerja dulu dan mengikuti perkembangan dunia perbankan. Saya sisihkan sebagian uang untuk tabungan dan dana pensiun ekstra. Mungkin saya satu-satunya tukang kebun yang membaca Financial Times.”

 

                                                                     __________________

 

Esther Huith (40)

‘Manajer komunikasi beralih mengukir cincin’

“Dulu, saya bekerja sebagai manajer komunikasi di perusahaan Bosch Eropa. Suatu hari, saya ditugaskan membuat bahan promosi seorang pengrajin emas. Di bengkel pengrajin tersebut saya terkesima. Benar-benar berbeda dengan apa yang kerjakan sehari-hari. Hampir tiap pekan saya terbang keliling Eropa dan sibuk dengan dana pemasaran perusahaan, sedangkan pengrajin emas itu tekun konsentrasi di sebuah bilik.

Saya pernah ikut kursus membuat gerabah, tapi terhenti karena harus kuliah dan bekerja kantoran. Kreativitas saya terpendam begitu saja dan saya lebih banyak menggunakan kepala untuk bekerja. Akhirnya saya memutuskan hengkang dari kantor dan mengikuti workshop emas dan batu mulia.

Setahun kemudian, saya betul-betul fulltime pengrajin emas. Gudang di belakang rumah saya sulap menjadi bengkel perhiasan. Apa yang saya lakukan sekarang jauh lebih konkret – mengetuk palu, menggilas dan memoles emas tanpa diganggu daftar pekerjaan, tenggat waktu dan politik di kantor. Namun, kadang saya khawatir dengan masa paceklik. Saya tidak tahu apakah cincin kreasi saya bakal laku dan berapa pendapatan bersih saya. Gagal atau berhasil sepenuhnya ada di tangan saya.

 

 

Sesekali saya rindu menerima gaji tetap tiap bulan. Saya sadar, tidak jarang orang mencibir di belakang saya, seakan saya kehilangan akal sehat. Saya tak peduli, status bukan segalanya. Saya tetap menggunakan otak saya. Saya harus merancang sendiri iklan sanggar perhiasan saya dan aktif membantu kampanye pemilu kotapraja 2010.”



>>Sumber: Harian Financieel Dagblad “Drs. Timmerman – Waarom hoogopgeleiden voor het ambacht kiezen” (24-10-2009)<<

 


 

ILUSTRASI FOTO-FOTO DOK REDAKSI 

MODERATOR - Penggagas KoKi : ZEVERINA

Pembaca "KOLOM KITA" (KoKi) entah di Bontang, Inggris, Bali, Belanda, New Jersey, Kuwait, Australia, atau di Kediri, silakan berbagi peristiwa seputar kehidupan sehari-hari. Kirimkan artikel dan foto melalui form "Kirim Artikel", jika mengalami kesulitan kirimkan melalui email: temennyazev@gmail.com ; kokizeverina@gmail.com


1 dari 8 Halaman Komentar | First Prev Next Last
Mencoba menyimak artikel diatas, menurut saya Radical Jobs itu juga harus direncanakan dengan matang, karena menyangkut ekonomi rumah tangga, dan pindah setir ke radical jobs akan berhasil jika dimulai dari hobby. By the way..inspiratif sekali tulisannya. Trims.
Posted by: simahir | Rabu, 16 Maret 2011 | 16:48 WIB
Radical jobs menurut saya ... Ok aj seh sejauh tetap dalam konteksnya untuk dapat memenuhi kebutuhan pokok dari pribadi hingga keluarga. Pengenya sih coba jadi Artis film tapi lon lolos casting jadi londapet radical jobs ... terakhir pengen jadi paranormal BUT ntar anak bini makan apa. Ntar takut dosa kalo kasih penerawangan...ya kan walaupun benar adanya. Seperti halnya seorang pemimpin bisa bikin penerawangan yang diteapkan dalam sebuah konsep kerja yang jelas sesuatu yang muskil heheheh
Posted by: Ki Waras | Kamis, 4 Februari 2010 | 15:57 WIB
Jaap :senengnya lihat japie nulis lagi di KoKi...groetjes.
Posted by: La Rose | Rabu, 20 Januari 2010 | 00:20 WIB
>>Bagong Julianto - Sori Mas Bagong, ketlingsut nih. Job-career switcher. Mengapa pula iya? That's the question. Salam hangat dan sehat selalu di Sekayu sana.
Posted by: japie | Senin, 18 Januari 2010 | 01:44 WIB
>>Datuk M - Kembali kasih Pak Haji. Senang, oret-oretan saya bisa menjadi motivator. Semoga cepat terlaksana resolusinya untuk 2010 ini. >>Sumonggo - Petromax penting lho. Perlengkapan utama tukang kakilima itu. >>Bita - Trims apresiasinya. Salam kenal. Jadi kangen asinan Bogor nih. >>dewimeong - Miauwmiauw. Cari terus sampai dapat. Haha. Nanti kalau udah ketemu bagi-bagi ceritanya ya disini. Hm, menurut saya Dewi bisa jadi pengayom yang baik dan telaten. Buktinya semua pengunjung tetap maupun anggota baru di KoKi disapa, disambut dan digodain. Itu kan juga perlu bakat khusus. >>sirpa09 - Seneng berkebun ya, Broer? Sayang, disini lahan mepet. Balkon dan atap rumah direkayasa jadi taman mini. Begitu ada hujan badai ya hancur. Belum lagi binatang piaraan tetangga suka sembarangan bedos dan ngerusak pot tanaman. Payah deh. Kata 'tukang' sayang jadi berkonotasi negatif. Saya tambahin daftarnya nih: tukang catut, tukang jarah, tukang demo dll. Aneh ya, demo kan nggak selalu harus rusuh. >>sweetmaria - Betul, krisis 2009 kemarin banyak perusahaan kontraktor di Belanda kekurangan proyek. PHK besar-besaran. Eks tukang-tukang itu ya jadinya freelancer. Bikin perusahaan sendiri atau join sama mantan karyawan lainnya. Bukan cuma di sektor bangunan aja. Media, retail dan IT juga lumayan banyak kena imbas. >>kinanthi dan kembang_bakung - Ora et labora. Sama-sama kita berdoa dan tetap berusaha ya. Mudah-mudahan cepat tercapai apa yang diinginkan. >>bernadette_machida - Ibu rumah tangga itu manajer 24 jam nonstop lho. Kan harus ngatur semuanya. Mulai dari hal-hal kecil sampai yang super penting. Coba kalau mogok kerja atau sakit mendadak satu hari aja, suami dan anak-anak bakal teriak-teriak kelabakan. >>Jhony Lubis dan Penyanyi Dangdut - Yah, prioritas orang lain-lain. Kepala sama hitam, brunette atau pirang tapi jalan pikiran boleh beda kan. PDD, masih mending bajak sawah daripada bajak laut. Haha, bakal diciduk nanti. It's all about the journey, not the destination. >>anoew dan Astuti - Makasih komentarnya. Anoew, mungkin utak-atik komputernya perlu dikomersilkan. Lumayan kan, hobi yang bisa menambah pemasukan. >>IWAN SATYANEGARA KAMAH dan alpinosta - Ivanov Kamah, itu Presiden Obambi malah nggak mau fotonya dipajang di Times Square. Alpinosta, ngurut bagian-bagian tubuh tertentu? Mantan teman kuliah saya ada yang kerja di fisioterapi. Dia bilang seolah-olah udah mati rasa ngeliat badan manusia bermacam ragamnya. Sempurna ataupun penuh cacat. Pemain atau juru kamera film porno, escort girls-boys dan madame-monsieur pemilik bordil pun itu juga cuma salah satu dari sekian banyak profesi yang ada. Di Belanda udah nggak aneh. Mereka punya pasangan, suami atau istri di rumah dan wajib bayar pajak juga. >>Shila - Trims untuk contoh konkretnya. Beberapa temen saya yang pindah haluan pun menekankan hal yang sama. Quality time buat keluarga, anak, pasangan ataupun hobi yang terbengkalai. >>Juwita Setiono - Wah, jangan salut sama saya. Saya belum pindah profesi kok. Masih berat rasanya meninggalkan segala kemudahan dan fasilitas yang saya terima. Buat penyeimbang, saya ikut beberapa kegiatan volunteer untuk menambah wawasan. >>kita - Memang susah meluruskan persepsi yang salah. Anggap aja angin lalu semua sindiran. Kalau kita dalam keadaan sulit atau terjepit mereka juga belum tentu mau bantu. >>Nonsy - Nah, ini dia ibu tahan banting :-) Setuju banget. Biasanya kalau dalam situasi terpojok kita malahan jadi kreatif. Sewaktu masih kuliah juga mana pernah saya bisa bikin paper jauh-jauh hari. Begitu mendesak baru ada ide. >>linda purnama - Ikut senang lah kalau Linda lebih happy dengan profesi sekarang. Banyak sukses di Tahun Macan nanti. >>negro - Terima kasih inputnya. Idealnya memang seperti itu. Tapi jangan lupa masih banyak faktor tak terduga lainnya yang mempengaruhi kita memilih atau berganti pekerjaan. >>Buat Zev, cepet sembuh dan cepet wuswuswus lagi :-) Selamat melanjutkan aktivitas buat Asmod dan semuanya. Jabat erat dan salam dari Lowland!
Posted by: japie | Senin, 18 Januari 2010 | 01:34 WIB
Anda harus login untuk memberi komentar pada Artikel ini...
About KoKi | Info iklan | Privacy policy | Terms of use| Karir | Contact Us
 
© 2008 - 2009 KoKi. All rights reserved