| Obrolan Karir |
CITIZEN JOURNALISM: SIAPA SAJA, MENULIS APA SAJA
Radical Job Switch
Ia memperkirakan, makin banyak pekerja berijazah tinggi menukar ‘profesi pemikir’ dengan pekerjaan yang lebih banyak menggunakan tangan. Apalagi, dalam situasi krisis sekarang ini, perusahaan-perusahaan multinasional kerap melakukan reorganisasi dan terfokus pada prestasi serta penghematan. Sisi kemanusiaan hanya dipajang di latar belakang. Orang makin yakin untuk cepat angkat kaki. “Seringkali, orang-orang yang berani beralih profesi secara radikal sudah sukses di karir sebelumnya, hidup berkecukupan dan punya jaringan sosial. Mereka hanya perlu mengejar atau mewujudkan impian. Sedangkan mayoritas awam masih harus bergulat tiap hari dengan nafkah untuk keluarga, melunasi hutang atau menabung untuk biaya studi anak di masa depan,” tambah Vonk. Hambatan biasanya datang dari lingkungan terdekat, terutama teman dan mantan kolega. Mereka mempunyai pola pikir sendiri dan kerap tidak mengerti kemauan rekannya yang beralih profesi. Sedapat mungkin berpijak di anak tangga tertinggi sudah menjadi jargon sehari-hari. Berganti profesi secara radikal tabu dilakukan,” terang Van der Heiden. Perlu jiwa wiraswasta Sebagian job-switcher justru mengkombinasi pekerjaan mereka atau kerja paruh waktu. Seorang dokter umum di Amsterdam sengaja tidak praktik satu hari dan ikut bersama tukang kayu di sebuah proyek bangunan. Sepuluh tahun berlalu dan saya mulai merasakan hasilnya. Spesialisasi saya potret hitam putih anak-anak. Dulu, saya sempat membuat reportase foto perkawinan. Studio saya di Amsterdam cukup dikenal dan saya senang orang menghargai apa yang saya lakukan.”
_________________
Secara teratur saya masih berkumpul minum bir dengan rekan kerja dulu dan mengikuti perkembangan dunia perbankan. Saya sisihkan sebagian uang untuk tabungan dan dana pensiun ekstra. Mungkin saya satu-satunya tukang kebun yang membaca Financial Times.”
__________________ Saya pernah ikut kursus membuat gerabah, tapi terhenti karena harus kuliah dan bekerja kantoran. Kreativitas saya terpendam begitu saja dan saya lebih banyak menggunakan kepala untuk bekerja. Akhirnya saya memutuskan hengkang dari kantor dan mengikuti workshop emas dan batu mulia. Setahun kemudian, saya betul-betul fulltime pengrajin emas. Gudang di belakang rumah saya sulap menjadi bengkel perhiasan. Apa yang saya lakukan sekarang jauh lebih konkret – mengetuk palu, menggilas dan memoles emas tanpa diganggu daftar pekerjaan, tenggat waktu dan politik di kantor. Namun, kadang saya khawatir dengan masa paceklik. Saya tidak tahu apakah cincin kreasi saya bakal laku dan berapa pendapatan bersih saya. Gagal atau berhasil sepenuhnya ada di tangan saya.
Sesekali saya rindu menerima gaji tetap tiap bulan. Saya sadar, tidak jarang orang mencibir di belakang saya, seakan saya kehilangan akal sehat. Saya tak peduli, status bukan segalanya. Saya tetap menggunakan otak saya. Saya harus merancang sendiri iklan sanggar perhiasan saya dan aktif membantu kampanye pemilu kotapraja 2010.”
ILUSTRASI FOTO-FOTO DOK REDAKSI MODERATOR - Penggagas KoKi : ZEVERINA Pembaca "KOLOM KITA" (KoKi) entah di Bontang, Inggris, Bali, Belanda, New Jersey, Kuwait, Australia, atau di Kediri, silakan berbagi peristiwa seputar kehidupan sehari-hari. Kirimkan artikel dan foto melalui form "Kirim Artikel", jika mengalami kesulitan kirimkan melalui email: temennyazev@gmail.com ; kokizeverina@gmail.com
|
| About KoKi | Info iklan | Privacy policy | Terms of use| Karir | Contact Us |
|