| KoKiWorld |
CITIZEN JOURNALISM: SIAPA SAJA, MENULIS APA SAJA
Jadi Pengemis Satu Bulan
Suatu pagi, aku tengah sarapan bersama seorang kawan. Tiba tiba seorang bapak dengan pakaian lusuh menghampiri kami sambil menjulurkan tangan meminta-minta. Aku agak tersentak, karena kami jarang sekali menjumpai pengemis di negeri tempat kami menetap kini.
Sebenarnya kami berdua agak keberatan memberi uang kepada pengemis itu. Kami kuatir sedekah kami diartikan lain dan malah membetuk mental dan budaya tukang minta-minta. Tapi rasa belas kasih kami terus meronta. Akhirnya kami memutuskan memberikan sejumlah uang ringgit kepadanya. Melihat prilaku bapak berbaju lusuh itu, langsung pikiranku menerawang jauh. Dia mengingatkan diriku yang pernah juga menjadi seorang peminta-minta atau ”pengemis”. Betul betul menjadi pengemis, walaupun tidak beredar di jalanan ataupun memakai baju lusuh. Aku beredar dengan mengenakan pakaian jauh dari lusuh dan kumal. Baju dinasku sehari hari, jeans dengan t'shirt. Daerah atau tempat aku beredar memohon belas kasihan tepatnya di kota Semarang, Jawa Tengah. Kota yang semarak dengan jajaan kuliner lezat-lezat. Aku beredar untuk meminta-minta jika dana pengobatan ayahanda tercinta mulai menipis. Orang yang aku tuju adalah kawan-kawan ayahanda tercinta. Tepatnya orang-orang yang aku anggap telah pernah ayahanda tolong, entah dalam bisnis, entah dalam hal lain.
Aku pun melakukannya tanpa rasa malu ataupun terpaksa. Aku melakukannya dengan kesadaran tinggi untuk berusaha semaksimal mungkin demi upaya penyembuhan ayahanda. Maklum dana ibuku hanya cukup untuk keberlangsungan hidup kami di Yogya. Sementara tabungan kakak-kakaku sudah habis untuk pengobatan awal ayah. Pernah suatu kali kami hampir putus asa hingga akan mengambil keputusan untuk memulangkan ayahanda tercinta dari rumah sakit. Itu akan kami lakukan di saat keuangan kami benar-benar sudah ludes. Tidak mungkin kami membayar biaya pengobatan dan perawatan di rumah sakit. Kami sudah habis-habisan. Kami sudah menjual sejumlah barang termasuk mobil kami. Yang tinggal hanya sebuah rumah tempat bernaung keluarga kami saja. Mungkinkah kami harus sampai menjual rumah kami satu-satunya demi pengobatan ayahanda tercinta. Ketika itu kami benar-benar gundah gulana. Bingung antara mempertahankan atau melego rumah demi pengobatan ayah. Hingga akhirnya aku mengambil keputusan menjadi seorang pengemis, tepatnya meminta minta uang untuk dana pengobatan ayahanda tercinta. Ide itu muncul hanya karena sebuah kebetulan saja. Suatu kali ada teman ayahanda yang datang menengok dan kemudian langsung memberikan amplop yang ternyata penuh dengan uang cukup banyak untuk membayar tagihan yang baru saja kami terima. Pada saat itulah ide itu tiba-tiba muncul begitu saja dalam benakku.
Aku akan merendahkan diri demi ayahanda tercinta. Aku berpikir, tidak ada harga diri yang perlu dipertanyakan untuk sebuah kesembuhan ayah. Apapun akan aku lakukan demi kesembuhan beliau, walau harus menjadi seorang pengemis sekalipun. Maka selama hampir sebulan akupun berjalan menyusuri kota Semarang untuk memohon belas kasihan teman-teman ayah . Saya tidak jalan kaki tapi diantar kakak laki-lakiku dengan mobil pinjaman dari teman ayahku juga. Setiap dana mulai menipis, aku langsung bergegas menemui teman ayahanda. Semua itu aku lakukan tanpa sepengetahuan beliau. Itu aku lakukannya bukan dengan maksud tidak menghormatinya, tapi justru menghindari beliau terlalu banyak berpikir sehingga malah mempengaruhi kesembuhannya. Jadi bila kawan-kawannya datang, mereka hanya mengatakan sekadar membesuk saja. Walaupun setelah itu biasa mereka langsung pergi ke kas rumah sakit , untuk menanyakan biaya pengobatan ayahandaku tercinta. Benar benar serasa bagai seorang pengemis, walau tidak berdiri di tengah jalan dan tidak mengenakan baju lusuh. Harga diriku sudah tidak aku ingat lagi, yang aku ingat hanya harus ada uang untuk membayar ongkos biaya rumah sakit setiap minggunya. Kadang mereka langsung mengerti, bahkan langsung membawakan aku uang. Tapi banyak juga yang langsung ke rumah sakit dan membayarkan langsung ke kas rumah sakit, tapi tidak sedikit juga yang dengan tenangnya menggelengkan kepala alias menolak membantunya. Bila aku berhasil mendapatkan uang untuk biaya pengobatan, betapa ringan rasa badanku melangkah hari itu, tapi bila gagal aku sangat sedih. Rasanya aku ingin menangis. Tapi kalau toh menangis, tangisan itu tak akan berubah menjadi uang. Kalau sudah begitu, biasanya aku hanya bisa berdoa dan berusaha esok harinya. Jadwal aku menunggui ayah di rumah sakit adalah pagi hari. Jadi aku keliling bertandang ke kediaman teman-teman ayah pada sore hari. Kadang ada juga teman ayah yang mengantar aku beredar ke rumah teman-teman ayah yang lain di malam hari. Bila ayahku menanyakan semua biaya, siapa yang membayar, saya akan menjawab dari anak-anaknya, sejumlah kawan ayah dan saudara kami. Tak sekalipun aku bercerita kalau aku melakukannya dengan mengemis kesemua kawan-kawannya. Anehnya, semua kawan-kawan yang menolongnya juga tidak menceritakan apa yang terjadi sesungguhnya. Mungkin mereka memakluminya. Entahlah.
Hampir satu bulan aku menjadi pengemis di kota itu, tanpa terasa kondisi ayahanda membaik untuk bisa diboyong ke Jakarta. Di Jakartalah justru beban biaya rumah sakit tidak perlu dipikirkan, karena di Jakarta beliau bisa masuk rumah sakit yang dapat menanggung semua biaya pengobatan. Puji Tuhan. Syukur Alhamdulillah aku panjatkan. Sejak beliau berobat di Jakarta, waktu mengemiskupun telah selesai. Aku kembali ke Jogya untuk menekuni kualiahku seperti biasanya. Hidupku kembali normal. Aku selalu akan mengenang saat-saat menjadi pengemis. Walau pun tanpa rasa malu dan tidak rendah diri. Kalaupun aku disuruh mengulang lagi, mungkin aku akan tetap menjalaninya dengan penuh senyum. Ternyata menjadi pengemis tidaklah selalu rendah. Malahan, sewaktu menjadi pengemis justru aku merasa bahagia. Karena kita malah mengerti dan dapat pelajaran, kapan harus meletakan diri serendah mungkin dan dimana kita meletakan diri setinggi mungkin. ILUSTRASI FOTO-FOTO DOK REDAKSI MODERATOR - Penggagas KoKi : ZEVERINA Pembaca "KOLOM KITA" (KoKi) entah di Bontang, Inggris, Bali, Belanda, New Jersey, Kuwait, Australia, atau di Kediri, silakan berbagi peristiwa seputar kehidupan sehari-hari. Kirimkan artikel dan foto melalui form "Kirim Artikel", jika mengalami kesulitan kirimkan melalui email: temennyazev@gmail.com ; kokizeverina@gmail.com
|
| About KoKi | Info iklan | Privacy policy | Terms of use| Karir | Contact Us |
|