What’s going on,.. kenapa perempuan ini tiba- tiba gaga akan laki- laki yang platform politik- nya bahkan dia benci setengah mati? “He’s so sexy, macho sexy, …” begitu kilahnya tentang pria yang terkesan agak dingin dengan gaya yang sok acuh tapi butuh ini. Celotehnya kemudian diamini oleh rekannya, sesama co- host dari ‘The View’, sebuah acara di TV ABC yang semua co- hosts- nya wanita. Acara popular yang ditayangkan pagi hari dan digawangi oleh Barbara Walters, jurnalis wanita top ini memang tidak menabukan untuk menyentuh area politik yang gemanya dinilai lumayan berpengaruh.
Tapi, siapakah laki- laki yang telah menimbulkan buzz, paling tidak bagi kalangan politikus dan media Amerika beberapa hari terakhir ini? Dia bagaikan datang tanpa sangkan paran. Memang bukan dari angkasa yang anjlog laksana Gatutkaca atau dari dasar samodra bak Antasena, melainkan dekat saja yaitu Massachusetts, state di timur laut Amerika. Hanya, kemunculannya yang menimbulkan gaung secara nasional memang terjadi secara tiba- tiba.
Laki- laki tadi bernama Scott Brown yang baru saja memenangkan perebutan kursi senator dari Massachusetts mewakili partai Republikan melawan opponent- nya seorang wanita kandidat dari partai Demokrat. ‘But he’s only a senator, so what’s the big deal?’ Fair enough kalau ada yang komentar begitu, secara di congress Amerika ada seratus senator yang mewakili limapuluh states di negeri Paman Sam. Jadi apa sih artinya terpilihnya seorang senator, tidak peduli se- hot apapun dia.
Memang dia hanya satu di antara sekian banyak senator yang bisa datang dan pergi tanpa ada yang memperhatikan. Tapi dari sudut politis kemenangannya merupakan tonggak penting bagi partai Republikan yang sekarang merupakan minoritas di congress. Sebaliknya bagi partai Demokrat sebagai kekalahan yang sangat menyakitkan yang membuat tokoh- tokoh partai panic. Mengapa demikian? Sebab lowongan kursi senator yang diperebutkan itu selama empatpuluh- enam tahun telah diduduki oleh Edward (Ted) Kennedy dari partai Demokrat yang meninggal tahun lalu. Ted Kennedy yang adik bungsu presiden John F. Kennedy adalah salah satu icon di kalangan partai Demokrat dan mewakili Massachusetts yang blue state, yaitu state yang didominasi oleh partai Demokrat. Jadi kemenangan si merah (Republikan) di state biru apalagi mengisi kursi sang icon tentu saja membuat mereka berdarah- darah.
Munculnya seorang senator di Amerika memang tidak ada kaitannya dengan kita orang Indonesia. Tapi sekelumit kisahnya saya tulis sekedar sebagai pengantar untuk topic yang bagi kita lebih familiar. Yaitu tentang standar ganda dan dikriminasi terutama karena perbedaan gender, praktek yang masih mengakar di masyarakat bahkan di negara yang sudah maju sekalipun.
De ja vu, … lagi- lagi tampang dan tongkrongan.
Kemunculan Brown sedikit mengingatkan pada kejadian enam tahun yang lalu saat Obama terpilih sebagai senator mewakili negara bagian Illinois. Kemenangan Obama juga menimbulkan buzz sebagai senator muda dengan masa depan yang menjanjikan. Kebetulan dari penampilan fisik, keduanya, Brown dan Obama memiliki karakteristik yang mirip, tall and lanky dengan wajah yang menyiratkan charisma meskipun type- nya berbeda (bukan karena warna kulit lho).
Selama keliling untuk kampanye, sang kandidat Brown dengan bangga mengendarai pickup truck GMC- nya yang tentu saja buatan Amerika. Brown dengan truck yang tidak terlalu baru itu (keluaran ’05) kemudian menjadi bagian dari identitasnya untuk menarik simpati calon pemilih. Di state tempat dia tinggal dimana tokoh- tokoh partai lawannya (Demokrat) kabarnya lebih menyukai mobil- mobil sedan dengan Toyota Camry menduduki tempat favorit, taktik Brown rupanya cukup berhasil.
Tapi dasar dunia politik, subyek tentang truck tadi langsung disambut oleh kubu lawan dengan ejekan, di antaranya “Dengan kendaraan truck, Brown akan berjalan mundur”. Respon yang kurang bijak if you ask me, baik dari sudut politis maupun ekonomi. Sebab orang Amerika banyak yang menyukai truck, seperti di Texas dimana pickup truck bisa dikatakan kendaraan ‘wajib’. Sehingga ucapan yang merendahkan truck bisa menyinggung banyak orang. Selain itu tentunya juga bukan promosi yang menguntungkan bagi industri automotive Amerika yang sedang tertatih- tatih membenahi diri agar bisa bangkit dan jaya lagi.
Sebaliknya, bagi pendukungnya dijadikan mantra penggerak semangat dengan enchanting “truck, truck, truck, truck”, .. yang menambah kesan macho sang kandidat. ‘Damn, .. this sexy Brown drives big pickup? Olala’, .. begitu (barangkali) imaginasi para wanita simpanannya, eeh simpatisannya.
Singkat cerita, tidak lama setelah pengumuman kemenangannya, di tengah kilatan lampu kamera yang menyilaukan ada yang bertanya apakah dia akan maju mencalonkan diri sebagai kandidat presiden di pemilihan mendatang. Pertanyaan yang agak saru mengingat Brown baru minyik- minyik mau mulai jadi senator (sebelumnya senator untuk negara bagiannya, Massachusetts). Seperti dikatakan- nya sendiri, dia bahkan belum melihat tempat kerjanya nanti di Washington, DC. Jadi pertanyaan seperti ini sangat premature.
Tapi berani taruhan, pertanyaan tidak akan muncul seandainya sang senator anyar bertampang biasa- biasa saja meskipun misalnya otaknya setajam pedang samurai dan ingatan serta pengetahuannya bagaikan encyclopedia berjalan, no way Jose! Tapi apakah ini berarti bahwa media kejam, pilih kasih kepada tokoh yang mereka sukai? Rasanya bukan, secara media dalam hal ini hanya penyambung lidah. Sebaliknya mereka cukup jeli, tahu akan apa yang menarik minat masyarakat sekarang yang cenderung dangkal dan superficial. Di samping, memang begitulah modus operandi bisnis media.
O, ooo, ..benarkah sang senator pernah berbuka- buka ria?
Sebagaimana biasa, tokoh yang sedang naik daun selalu diamati dan dikorek- korek masa lalunya. Cukup adil, sebab kalau warga biasa jumpalitan dampaknya paling hanya sebatas diri serta keluarganya bukan?. Sementara kalau tokoh apalagi kalau masyarakatnya masih senang meniru- niru seperti di Indonesia, efeknya bisa luas, betul tidak, hehehe.
So demikian pula dengan senator ini. Usut punya usut tidak perlu waktu lama untuk menguak bahwa dulu dia pernah berpose semi- nude. Hanya isengkah, atau dia memang narsis? Menurut yang bersangkutan, waktu itu dia berumur duapuluh dua tahun, perlu uang untuk menambah biaya kuliahnya di Law School. Sehingga tidak bisa menolak godaan untuk menerima tawaran ber- pose setengah telanjang untuk centerfold majalah wanita, ‘Cosmopolitan’.
Kalau dilihat dari kehidupannya sekarang dimana dia adalah seorang ‘family man’, beristri dengan beberapa anak dimana salah satu anak perempuannya pernah ikut lomba nyanyi di ‘American Idol’, mungkin apa yang dikatakannya tadi benar, karena kepepet. Apalagi menurut orang- orang di tempat asalnya dia juga merupakan warga yang baik.
It’s fine and dandy but, … seandainya sang senator yang pernah berbuka- buka ini seorang perempuan, akan samakah reaksi masyarakat?. Kebetulan sejauh ini belum pernah mendengar senator perempuan yang pernah pose nude. Tapi, ada padanan yang bisa dijadikan bahan perbandingan yang justru lebih menarik seperti berikut ini.
Standar ganda dari wanita yang membuahkan diskriminasi antar sesamanya.
Tahukah KoKiers bahwa wanita yang disebut di awal tulisan yang begitu gaga ke senator Brown (kebetulan saja) adalah wanita yang sama yang pernah mengritik Sarah Palin habis- habisan?. Wanita ini, mbak Joy Behar, begitu sinisnya seakan apapun yang dilakukan Sarah Palin yang waktu itu mendadak terkenal setelah pencalonannya sebagai cawapres, tidak ada yang berkenan di hatinya. Mulai dari unjung rambut sampai mata kaki semua dikritisinya. Antara lain hobby- nya berburu yang dinilainya kejam, dandanan rambutnya sampai kacamatanya yang katanya dipakai biar sexy (pernah saya tulis di artikel KoKi dulu berjudul “Pria Gaga for Sarah”).
Sampai sekarangpun, Behar masih tidak jemu- jemunya melayangkan jab- jabnya ke Palin, sosok yang akhirnya menjadi nemesis- nya itu. Dia pernah mengatakan bahwa laki- laki banyak yang menyukai Palin sebab (selain cantik) Palin bisa diajak berburu, tapi sampai di rumah dia yang memasak di dapur sementara para laki- laki minum beer sambil nonton sepakbola di TV. Kalau melihat deskripsi Behar tentang Palin, sepertinya Palin justru wanita serba bisa ya. Padahal komentarnya tadi dimaksudkan untuk mengejeknya.
Ketidak- senangan Behar terhadap Palin sebenarnya bisa dimaklumi mengingat keduanya berseberangan haluan, dimana Behar adalah seorang penganut paham liberal yang bangga sementara Palin kebalikannya yaitu konservatif. Mungkin anda masih ingat bahwa Palin mempertahankan kehamilannya meskipun tahu bahwa bayi yang dikandungnya akan lahir cacat.
Namun sikap Behar yang forgiving kepada Brown tentu menimbulkan kesan tidak konsisten bukan? Sebab baik Brown maupun Palin berdiri di atas platform politik yang sama. Memang sedikit ada bedanya yang mana Palin merupakan Republikan yang konservatif sementara Brown cukup moderat terutama dalam issue social seperti masalah aborsi.
Haruskah perbedaan menjadikan wanita begitu membenci sesamanya? Sayang sebenarnya, karena baik Behar maupun Palin sama- sama bisa menjadi representasi wanita masa kini yang berhasil karena kemampuan sendiri. Kalau pahamnya beda so what, bukankah memang banyak jalan menuju ke Roma?. Ataukah perbedaan dianggap sebagai suatu ancaman? Andai saja keduanya duduk bersama untuk berdebat secara sehat, alangkah menariknya daripada hanya melempar kebencian yang bisa berbalik menimbulkan kesan jealousy.
Yang lebih memprihatinkan adalah kalau sesama wanita cuma berdiam diri tanpa menunjukkan solidaritas atau sekedar simpati saat wanita lain dilecehkan pria, hanya karena pahamnya berbeda. O iya, sekedar catatan, saya mengambil contoh Sarah Palin semata- mata karena dia merupakan figure yang saat ini mempolarisi Amerika, yang terbelah menjadi kelompok yang memuji- nya di satu pihak dan membenci di lain pihak. Hal yang mengingatkan pada lagu jaman dulu yang dinyanyikan mbak Titiek Puspa, ‘Kupu- kupu Malam’ .. ada yang menyiksa dirinya ada pula yang berlutut mencintainya (kalau tidak salah ingat). Selain itu dia memang masih sering menjadi bahan berita.
Di antara laki- laki yang berseberangan paham, ada yang dengan nada enteng mengatakan bahwa penampilan Palin seperti ‘sluttish flight attendant’, pramugari udara yang gampangan (secara sexual). Bahkan anak perempuan- nya yang masih berumur empatbelas tahunpun tidak luput dari bahan pelecehan (bukan yang dulu hamil). Padahal laki- laki yang dengan seenaknya menjadikan anak gadis di bawah umur ini sebagai bahan guyonan sex yang tidak lucu sebetulnya tidak memiliki ‘moral authority’ untuk menghakimi siapapun. Sebab kehidupan- nya sendiri (secara moral) kedodoran. Ataukah guyonan- nya dianggap hal biasa? Meski ucapan kurang senonoh tadi terbuka untuk konsumsi umum, tidak seorangpun tokoh wanita dari kubu yang berseberangan paham yang mengeluarkan komentar mengritik perlakuan disrespectful ini.
Menurut seorang KoKier yang dulu mengomentari tulisan “Gaga for Sarah” (yang telah disebut di atas), wanita memang sudah adatnya begitu, yaitu saling berantem di antara sesamanya. Benarkah demikian, saat rebutan pacar barangkali?. Jadi ingat bus kota di Jakarta, sesama bus dilarang saling mendahului. Dalam hal wanita mestinya diubah ‘silahkan saling menyalip, asal jangan sambil menyerempet’, setuju?
No more ‘bad hair day’.
Penilaian dengan standar ganda akan panjang daftarnya kalau kita sebutkan. Menteri Luar Negeri Amerika Hillary Clinton- pun tidak luput menjadi korbannya. Kejadiannya saat dia sedang melawat ke sejumlah negara di Africa tahun lalu yang sempat membuatnya sewot. Pasalnya waktu temu muka dengan sejumlah mahasiswa di suatu universitas yang dikunjunginya, ada yang mengajukan pertanyaan tentang pandangan- pandangan mantan presiden Bill Clinton tentang situasi politik dan ekonomi instead of pandangan Hillary sebagai secretary of state.
Pertanyaan tadi meremehkan Hillary Clinton sebagai pejabat yang mewakili negaranya seakan perannya tidak digubris. So dengan ekspresi muka dan bahasa tubuh yang tidak menyembunyikan kekesalannya, dia menjawab kurang lebih “I’m the secretary of state, and I’m not going to be channeling my husband’s”. Namun ada yang menilai respon tadi kurang diplomatis. ‘Maybe she just had a bad hair day’, .. begitu salah satu komentar. Give her a break. ‘Bad hair day’ adalah ungkapan di Amerika yang maksudnya kita sedang dalam mood yang kurang pas. Tapi biasanya hanya ditujukan untuk wanita, karena biasanya kalau wanita ke luar rumah tapi tidak sreg dengan dandanan rambutnya yang hari itu sulit sekali diatur bawaannya jadi kurang PD bahkan uring- uringan.
Seandainya jawaban tadi datang dari seorang laki- laki, akankah orang berkomentar ‘Aaah, he just had a bad botak day’?. Tentu tidak kan. Selain itu, pertanyaan tersebut sangat mungkin juga tidak akan terucap seandainya sang menteri ber- gender laki- laki. Padahal dalam kapasitasnya sebagai Menlu beberapa kali Hillary menunjukkan sikap tegas, lebih dari sikap rekan pria- nya. Kiranya jawaban yang diplomatis hanya pantas diberikan kalau lawan bicara juga tahu aturan mainnya. Belakangan pihak tuan rumah mengatakan bahwa pertanyaan yang kurang berkenan tadi semata karena ‘lost in translation’ (sebab memang melalui penterjemah), jadi bukan yang sebenarnya dimaksud oleh penanya. Tapi alasan ini kelihatannya hanya untuk menyelamatkan muka saja.
Laki- laki pendek? No problem.
Sebagai argument penggembira marilah kita tengok apa yang terjadi di kalangan dunia hiburan. Pernahkah KoKiers menemukan aktris Hollywood yang pendek? No way, hampir semua bertubuh jangkung. Mereka yang cuma sedang- sedang hanya bisa survive kalau talenta- nya sangat menonjol atau hanya laku untuk peran- peran tertentu. Sebaliknya counterpart prianya kebanyakan biasa- biasa saja malah ada yang sangat pendek, ingat Jamie Fox, Danny de Vito dimana keduanya cukup punya nama. Padahal secara alami pria lebih jangkung dari wanita. Tidak jarang kita melihat seorang presenter pria yang lebih pendek, misalnya saat penerimaan award, seakan seperti mau nyungsep ke dada rekan wanita di sebelahnya yang badannya jangkung.
Meski demikian, tidak ada yang bisa menggugat, karena memang sulit dimana harus memulainya. Sebaliknya banyak (aktris) yang berlomba- lomba untuk mempercantik dengan tidak segan- segan berjudi melalui pisau dokter bedah plastik yang tentu berisiko dan mestinya sangat menyiksa.
Seperti heboh belakangan ini dimana seorang pemain ‘reality TV’ mengaku sampai menjalani sepuluh procedures (bedah plastic) dalam sehari. Semula saya pikir mustahil sampai sebanyak itu, apalagi dalam sehari. Tapi dokternya sendiri yang kemudian meng- konfirmasi. Mulai dari payudara, dagu, hidung, sedot paha, tiup bibir agar plumy, aduh apalagi ya. Bahkan untuk menyebut saja saya tidak bisa lengkap sampai sepuluh, wuahaha. Tapi itupun katanya baru permulaan, masih ada kelanjutannya. Padahal umurnya baru duapuluh tiga tahun Mungkinkah itu semua semata berpangkal dari hal yang sangat dasar dan sederhana yaitu tuntutan bisnis?.
Barangkali untuk sekedar unjuk gigi, para bintang wanita teriak hal yang kurang penting seperti menuntut untuk disebut actor, bukan actress karena perbedaan sebutan katanya berkonotasi sexes. Hal remeh yang tidak akan membawa perubahan apa- apa. Sebaliknya bisa- bisa malah membuahkan kesan bahwa wanita cengeng dan mengada- ada.
Salam manis,
Sri R.
ILUSTRASI FOTO-FOTO DOK REDAKSI
MODERATOR - Penggagas KoKi : ZEVERINA
Pembaca "KOLOM KITA" (KoKi) entah di Bontang, Inggris, Bali, Belanda, New Jersey, Kuwait, Australia, atau di Kediri, silakan berbagi peristiwa seputar kehidupan sehari-hari. Kirimkan artikel dan foto melalui form "Kirim Artikel", jika mengalami kesulitan kirimkan melalui email: temennyazev@gmail.com ; kokizeverina@gmail.com
Linda, trims ya sdh mampir. Betul, senator ini memang punya pesona. Seandainya kemampuannya juga OK, menarik ya klo dia jadi pres biar kita lebih sering melihat fotonya hehe. Ttg standar ganda krn gender, Ind sepintas memang lebih maju, cuma beliau background- nya kan orang ngetop bukan seperti kita2. Tp dirut Pertamina juga perempuan ya, jadi suatu kemajuan.
Posted by: Rum | Jumat, 5 Februari 2010 | 12:03 WIB
Mbak Sri, yah, senator yg ini hot, enggak apa-apa, biar seger ngeliatnya, hahaha. berarti orang-orang yng bilang dia emang hot itu masih normal. ya, kan? kalo soal standar ganda, khususnya permepuan, yah, susha ngmong juga, deh. toh negara maju sekalipun tidak lepas dari kekurangan. USA yang udah maju ratusan tahun masih emoh punya pemimpin perempuan meski cuma wakil, yah, negeri sendiri masih mending juga. sudah pernah ada perempuan memimpin meski cuma sebentar. oh, standar ganda...
Hello Chrissy, trims, saya setuju dengan komen- nya. Maklumlah demi menjaga kenetralan dan mempertahankan cara penulisan tdk semua points saya ungkapkan blatantly, sekalian biar pembaca KoKi juga sedikit berimajinasi. Tentu saja seorang senator sangat penting, bayangkan hanya 2 per state yg mewakili kepentingan warganya. Cuma kemunculan Brown memang spesial, perpaduan antara nilai politik n pesonanya, apalagi begitu tiba2 dimana kubu Obama seperti kecolongan. Ttg Brown ber- nude ria, betul, who cares apalagi spt kata dia 'it's Cosmo, not Playgirl, you don't see much' . Saya menyebutkan hal itu semata utk menuju ke point tulisan ini yaitu ttg double standard. Selebihnya sih nggak penting. Ttg Sarah Palin saya pikir dia 'fast learner', dlm waktu singkat mampu belajar begitu banyak apalagi sekarang dia juga menjadi komentator politik jadi sekalian meningkatkan pengetahuannya. Dan yg jelas dia punya banyak pengikut, the Tea Party movement loves her. Enggak kok anda tdk ke luar jalur, semua masih berkaitan.
Posted by: Rum | Kamis, 4 Februari 2010 | 12:26 WIB
Jeng Walentina, trims, saya sependapat, yaa biarpun harusnya nggak salaing berantem, tapi mungkin memang banyak wanita yg sifatnya begitu. Klo serangan dari pria, justru ybs jadi turun kredibilitasnya.
Posted by: Rum | Kamis, 4 Februari 2010 | 11:47 WIB
Oo iya nih..kemenangan Scott Brown spt tamparan buat Obama Adm. Sampe2 menilai Scott Brown got in the office karna kemarahan rakyat...well I have a news sir, you are the reason he got in the office. Skrg healthcare bill direvisi. My God, kenapa sih baru cemasnya stlh si Merah menduduki MA. Itu unek2 saya ttg hasil kemengan Scott Brown tempo hari..senator yg satu ini embeerr....too hot :0) Btw, jeng Rum, bagi saya sosok seorang senator bagi state masing adalah penting karna merupakan cermin dari state itu sendiri. Ttg masa lalu Brown yg berpose nude. My opinion, bukan masalah penting. Wajar toh dibuka ke permukaan utk mengenalkan siapa Scott Brown dulu dan skrg. Pernah berpose nude kek...rakyat Amerika terbukti ga perduli..yg penting he is hot (loh apa hubungannya ya :0) Trus itu si Behar...halaah sirik aja kali...hehe Behar bisanya cuma rajin ke salon and shopping aja kali. Misalnya Behar and Sarah Palin dia loss in the jungle, yg bertahan hidup pasti Sarah Palin. Bagi saya, Sarah pantas menjadi wapres Amerika dari kubu si Merah karna dia banyak mencerminkan rakyat amerika yg sesungguhnya..she is tough and a strong woman. Tapi...sptnya Amerika belum siap menghadirkan pemimpin wanita utk duduk di White House. Sorry jeng Rum agak keluar jalur dikit nih.