| Seputar Koki |
CITIZEN JOURNALISM: SIAPA SAJA, MENULIS APA SAJA
Dad, Z, dan KoKiers ( part 1 )
Aku hentikan langkah kakiku. Aku menatap jauh ke depan. Jalan di muka terlihat agak terjal dan penuh lubang. Bukan karena hatiku ciut menghadapi tantangan ini. Aku Cuma ingin melihat ke belakang.
Aku hanya ingin mengenang yang indah-indah di masa lalu. Aku hanya ingin melihat Z yang melempar seulas senyum manisnya kala membuka pintu rumah Kolom Kita (KoKi) melalui laptopnya. Aku Cuma ingin membayangkan betapa lincahnya jemari Z menari di atas tuts laptopnya sambil berteriak,’’Yiiihaaaaaa!!!’’ atau dengan ceria menyapa KoKiers,’’hai...hai...hai...’’ Aku sekadar ingin melongok rumah KoKi yang dinamis. Sebuah rumah yang energik. Rumah yang hangat, penuh dengan canda tawa, saling berbagi, dan juga sesekali saling sindir dan....duuuuaaarrrrr...! rame deh...
Terlebih ketika Rumah KoKi masih berada di bawah naungan Kompas Cyber Media (KCM). Wow...suasananya teramat ramai. KoKiers dari berbagai negara saling copy darat. Mereka tak rela sekadar bertemu di alam maya. KoKiers ingin bertemu secara fisik. Medio Agustus 2009. Oom-nya para KoKiers dari Kalifornia, AS, bersama keluarganya melakukan cross country dengan mengendarai mobil menuju Vancouver, Kanada. Oom Sirpa mengabarkan dia mau copdar dengan Nyi, KoKiers (Team Editor KoKi) yang tinggal di Vancouver, Kanada. Dengan sukacita Nyi menyambutnya.kolomkita.detik.com/baca/artikel/17/681/berkencan_dengan_om_sirpa_
Selepas ber-copdar ria, Si Oom berpamitan. Nyi menggoreskan kesannya: ‘’ Sayang waktu berjalan cepat, sore telah tiba. Om dan keluarga harus melanjutkan perjalanan. Sore itu juga mereka meneruskan perjalanan menyebrang dengan ferry ke Vancouver island. Walaupun pertemuan kami singkat hanya beberapa jam saja tapi terkesan manis. Makasih sekali ya om dan tante juga kedua anak om yang ganteng-ganteng dan dua guk-guk yang cute. Kalian sudah sudi berbagi waktu dan mentraktir saya pula diresto. Apalagi ditambah oleh-oleh California winenya 2 botol, waduh saya beruntung banget deh. Laporan om sekarang tinggal sebotol tuh hehehe....Ki Ch teramat sangat berterima kasih atas winenya hihihi...’’
Medio Oktober 2009. KoKiers Iwan Satyanegara Kamah (Jakarta) mengabarkan kepada Djoko Paisan di Mainz, Jerman, bahwa adiknya Wahyuni akan berkunjung ke Mainz.. Iwan menanyakan, sudikah DJ sapaan akrab Djoko, menerima kunjungan adiknya? Dj dengan sukacita menyambut, malah DJ mengatakan walaupun belum pernah bertemu secara fisik dengan Kamah, hanya melalui chatting di KoKi, sudah menganggap kamah sebagai Saudara. Dan Wahyuni akan dianggap sebagai berwujudan Kamah.kolomkita.detik.com/baca/artikel/17/924/tamu_mungil_tapi_agung_
Dalam catatannya DJ mengaku,’’Dj. benar-benar merasa sangat bahagia dan sangat gembira, saat mendapat e-mail dari mas Iwan Satyanegara Kamah (kan sudah Dj. jadikan orang Jawa). Yang menulis bahwa adiknya akan berkunjung ke Mainz, lebih dari itu, mas Iwan menulis, mau di oleh-olehin apa? Uuuuuiiiihhhh! Padahal mimpi juga tidak pernah, kalau mas Iwan mau mengiirim adiknya yang tercinta untuk mengunjungi kami di Mainz. Jelas tanpa setitik ragu, Dj. jawab WELL COME! ( dengan hati yang berdebar-debar, pinjam kata dari Juwita)’’ Saat di nanti pun tiba. Wahyuni bertemu DJ. Bahkan Wahyuni diterima sangat hangat oleh keluarga DJ. Medio April 2010. Ribuan kilometer ditempuh, dari Sydney ke Jakarta, Caridaki bertemu Malces di Resto Sushi Tei, Mall Kalapa Gading, Jakarta. Caridaki yang baru kali pertama bertemu secara fisik pun memberi kesan terhadap Malces.
’’Ternyata Malces itu imut kecil, item manis, sederhana, ramah, friendly (item versi Mal menurut saya sih sawo matang), pada hal Mal berkecimpung dalam Model Agency, tapi Mal sendiri sederhana naturaldeh ( he he promosi tanpa bayaran nih Mal), sedangkan saya kelihatan etnis chinesenya dan Mal tetap memanggil saya dengan Dad seperti biasanya. Al hasilnya banyak orang - orang sekitar dengan Pengen Tau mode : ON, seperti berpikir kok anaknya begini bapaknya begitu, hingga kami berdua tertawa terkekeh lucu, saya sih MYB aja (Mind Your Own Business)’’ Dan banyak lagi copdar-copdar lain yang dilakukan oleh para KoKiers. Selepas Copdar biasanya mereka pun mengabarkannya kepada seluruh KoKiers melalui tulisan di KoKi. Mereka saling mengabarkan betapa hangatnya pertemuan itu. Tak hanya dalam bentuk tulisan, mereka juga berbagi foto bersama. Semuanya menunjukkan wajah sumbringah. Senyum pun bertebaran....Cheerrrrssss...!!! klik...lampu blitz pun menyala kilat. Terciptalah sebuah gambar KoKiers yang full senyum. Ceria sekaliiii...Ahhh...indahnya persahabatan ini. Mamak Zev atau yang biasa disapa juga dengan Z, Zev, atau Zeverina pun turut bungah. Zev sering menceritakan pertemuan KoKiers itu kepadaku. Z mengisahkannya dengan penuh semangat dan mata berbinar-binar. Sepertinya lebih seru dari moment copy darat anak-anaknya. ‘’Achhh... Z.’’ Sudah tentu aku turut bersuka cita. Impian Z untuk membuat sebuah kumpulan orang-orang Indonesia di seluruh dunia sudah mulai berhasil. Z ingin Kolom kita (KoKi) sebagai sebuah rumah jejaring sosial diantara orang Indonesia untuk saling mengenal, tukar menukar pengalaman dan informasi, saling tolong menolong, menghibur, dan berunjuk ekspresi dengan tag line. ’’Siapa Saja Menulis Apa Saja’’.
Z berhasil membuat sebuah “rumah” tempat siapa saja yang ingin mencurahkan rasa, karsa, karya dan asa. Sebuah rumah bagi mereka yang merasa homesick, kesepian di negeri orang, dapat sejenak menghirup udara seperti di kampung halamannya sendiri. Rumah KoKi bertujuan agar masyarakat tergugah untuk menjadikan menulis dan membaca sebagai sebuah budaya dan kebutuhan. KoKi memberikan alternatif hiburan yang edukatif. Budaya menulis dapat membangkitkan semangat membaca. Dengan membaca membuka cakrawala dunia. Perubahan hanya akan terjadi jika memiliki cakrawala luas.
Hanya dalam sekejab, pertumbuhan pembaca KoKi melambung tinggi. KoKiers tersebar hingga di 166 Negara. Z semakin yakin KoKi akan menjadi besar. Terlebih setelah sejumlah KoKiers mengomentari tentang KoKi:
Ketika melihat realita itu, dulu, aku mengatakan kepada Z. ‘’Aku yakin suatu saat kelak KoKi bakal besar sekali. Kerja keras mu akan terbayar Zev. Idealisme mu bakal tercipta.’’
Kenangan-kenangan indah itu yang membuat aku menghentikan langkah. Aku ingin melihat ke belakang walau hanya sekilas. Tapi otakku berat untuk memerintahkan kepalaku menoleh ke belakang. Masalahnya, masih banyak PR besar yang belum tuntas di depan. Persoalannya, jalan di depan penuh liku. Aku nggak mau melihat yang senang-senang dulu. Aku hanya ingin terus berjalan dan terus berjalan. Walaupun terseok-seok aku akan terus menempuh perjalanan ini.... Salam, ((Bersambung)) ILUSTRASI FOTO-FOTO DOK REDAKSI MODERATOR - Penggagas KoKi : ZEVERINA Pembaca "KOLOM KITA" (KoKi) entah di Bontang, Inggris, Bali, Belanda, New Jersey, Kuwait, Australia, atau di Kediri, silakan berbagi peristiwa seputar kehidupan sehari-hari. Kirimkan artikel dan foto melalui form "Kirim Artikel", jika mengalami kesulitan kirimkan melalui email: temennyazev@gmail.com ; kokizeverina@gmail.com
|
| About KoKi | Info iklan | Privacy policy | Terms of use| Karir | Contact Us |
|