| Seputar Koki |
CITIZEN JOURNALISM: SIAPA SAJA, MENULIS APA SAJA
Yang Abadi Bukanlah Yang Membatu
Hellllooooo KoKierssssss... Lama gak jumpa yah...Heheh. Semoga KoKiers semua sehat selalu...Semoga KoKiers yang tengah menghadapi masalah atau pekerjaan yang seabrek tetap menjalaninya dengan happy. Biarkanlah hati tetap berdendang walaupun badai tengah menghadang yah...hahahah...Semoga kata-kata itu nggak lebay dueehhhh...heheheh.
Langsung aja deh KoKiers. Yang abadi bukanlah yang membatu. Yang kekal adalah jiwa yang selalu gelisah. Gelisah untuk selalu membuat hidup lebih baik dan lebih baik. Kekuatan untuk mencapai itu adalah impian. Impian yang diwujudkan melalui imajinasi. Kita tidak bisa membunuh imajinasi itu, maka kita harus terus memperjuangkannya tanpa pernah mengenal lelah. Itulah yang bisa diambil hikmahnya selepas membaca sepenggal perguliran perjalanan Tante Moken menapaki kehidupannya. Tante Moken mengisahkannya dengan bahasa tutur yang jernih sekali. Apa adanya. Ekspresinya pun tidak meledak meletup, tapi cukup menggugah orang yang membacanya. Nah, KoKiers, kali ini redaksi KoKi sengaja menaruh artikel episodik My Pen Pal di Headline. Itu adalah sebuah apresiasi redaksi terhadap karya Tante Moken (T. Moken dari Michigan, USA). Redaksi menilai karya itu sarat dengan muatan nilai-nilai kehidupan yang sudah lama terlupakan dan terabaikan. Sebuah nilai kehidupan yang terhempas ditiup angin jaman yang maunya serba instan dan nggak pedulian. Bahkan sekadar untuk berbagi kebahagiaan dan saling tolong menolong di antara kakak beradik atau saudara lainnya pun sudah mulai terkikis.
Semua hanya bicara soal perutnya sendiri-sendiri. Karena jaman ini adalah jaman gak mau ribet. Gak rela susah untuk orang lain. Semoga asumsi redaksi KoKi itu salah. Tetapi setidaknya sedikit fenomena seputar itu sudah mulai terasa dalam masyarakat kita. Belajar dari Tante Moken. Tante Moken telah berani dan mau berbagi seputar sepenggal perjalanan hidupnya yang penuh warna. Hidup bergelimang air mata, kepedihan, keteguhan, tantangan, penguasaan diri, pengabdian terhadap orangtua dan saudara-saudara kandung, saling sayang dan care, serta perjuangan panjang menaklukkan rimba kehidupan yang keras dengan tabah. Dan pada akhirnya, perjuangan dan pengabdian Tante Moken happy ending. Turut bungah yah Tante Moken. Redaksi KoKi amat bangga terhadap Tante Moken. Ucapan itu bukan semata menyanjung,melainkan murni sebuah respek yang besar terhadap kepribadian Tante Moken. Membaca kisah Tante Moken membuat pikiran mengembara ke masa lalu. Masa di mana para orangtua menanamkan nilai-nilai kesetiakawanan di antara anggota keluarga, kakak yang harus bertanggungjawab dan membantu adik-adiknya di kala fungsi orangtua terganggu, nilai-nilai untuk selalu bekerja keras, nilai-nilai untuk tetap tegar menghadapi guncangan hidup, nilai-nilai menghadapi masalah dengan sabar dan tawakal, nilai-nilai untuk disiplin dan tetap jujur dalam situasi apapun. Jangan pernah mau mengambil jalan pintas –yang negatif tentunya, seperti berbuat curang dan sebagainya, dalam mencapai kesuksesan.
Setiap menusia, selalu membutuhkan kepastian-kepastian dalam hidup ini. Karena itu, umumnya orang takut akan kesalahan-kesalahan sehingga kepastian itu malah pergi meninggalkannya. Semua perjalanan tentang kepastian dan kesalahan-kesalahan itu tercatat dalam sejarah hidup masing-masing individu yang tak bisa ditampik. Termasuk pula, bagaimana akhirnya seseorang menghalalkan cara untuk mendapatkan kepastian dalam hidupnya sehingga menghalalkan segala cara. Mereka inilah sebenarnya bocah-bocah yang bongsor. Hati mereka membatu lantas terjebak dan ribut menuntut atas kemauan nafsu dan perutnya sendiri. Seperti kebutuhan di masa kecil, yang selalu menghendaki manisan dan mainan -- sebuah hasrat yang sepele dan kekanak-kanakan. Tetapi hasrat anak kecil itu, selepas dewasa, berubah bentuk yang hanya mengumbar seks, kemasyuran, uang dan kekuasaan. Itulah sifat manusia. Sebuah hasrat yang selesai menimbulkan sebuah hasrat barulainnya dan itu berarti akan muncul sebuah kefrustrasian yang baru.
Sebuah hasrat yang terpenuhi adalah anugerah yang harus disyukuri. Sebaliknya yang tak terpenuhi pun patut diterima dengan lapang, karena sarat dengan pengorbanan dan lelehan keringat yang mengalir deras. Setidaknya, sebuah kegagalan dalam menggapai hasrat selayaknya amat dihargai. Biar manusia mengerti akan arti proses dan perjuangan. Tujuan tidak melulu harus dipenuhi. Tuhan, barangkali memiliki pilihannya sendiri. Gusti Allah lebih mengetahui di balik kegalauan hati dan kekecewaan, bisa jadi menyimpan sebuah berkah yang tertunda. Penulis sohor India P. Lat telah berbagi pelajaran moral yang apik dalam The Mahabharata of Vyasa. Lat berkisah tentang tiga ujian Yudhistira. Ujian terakhir terjadi di surga. Di sana, Yudhistira menyaksikan adik-adiknya berada di kancah siksaan, di antara bangkai busuk, lalat, darah, nanah, gagak, tahi, dan segala kenistaan. Ternyata kehadiran Yudhistira di sana menyebabkan angin segar dan bau harum semerbak. Walaupun hanya sekejab. Karena itu, ia tak mau dijemput ke bagian surga yang nikmat. Itulah cerminan dari artikel Tante Moken. Terimakasih banyak Tante Moken yang sudah mau sharing pengalaman dengan KoKiers. Apresiasi yang tinggi untuk Tante Moken. AYOOOOO!!! KITA TINJU DUNIAAAA!!!!! Yiiiiiihaaaaaaaaaaa....... ILUSTRASI FOTO-FOTO DOK REDAKSI MODERATOR - Penggagas KoKi : ZEVERINA Pembaca "KOLOM KITA" (KoKi) entah di Bontang, Inggris, Bali, Belanda, New Jersey, Kuwait, Australia, atau di Kediri, silakan berbagi peristiwa seputar kehidupan sehari-hari. Kirimkan artikel dan foto melalui form "Kirim Artikel", jika mengalami kesulitan kirimkan melalui email: temennyazev@gmail.com ; kokizeverina@gmail.com
|
| About KoKi | Info iklan | Privacy policy | Terms of use| Karir | Contact Us |
|