SABTU, 19 APRIL 2014
 
        Lupa Password?

detikTravel

detikTravel

Info Promosi Travel

Wego
Tags
This will be shown to users with no Flash or Javascript.
KoKiFood
CITIZEN JOURNALISM: SIAPA SAJA, MENULIS APA SAJA
“Makan Angin” di Kabin
Isa Alïmusa – Amsterdam

“Makanan pesawat? Yuckkk…” Demikian komentar banyak orang. Namun, ada yang berpendapat, konsumsi itu blessing in disguise. Etihad Airways punya food and beverage managers di pesawat, merekrut 110 koki internasional untuk memasak menu à la carte di udara, dan menawarkan 13 jenis teh untuk penumpang. British Airways memanjakan pelanggannya dengan afternoon tea layaknya di Hotel Dorchester, salah satu penginapan prestisius di London.

Menu favorit Singapore Airlines? Lobster dengan asparagus, nasi kuning (bukan berbumbu kunyit, melainkan saffron) dicampur tomat, dan segelas (dua atau tiga juga tak dilarang!) champagne Dom Pérignon keluaran 2000 alias edisi khusus millenium disajikan di gelas kristal buatan rumah mode Givenchy. Tak mau kalah, Garuda sejak 2010 lalu menugaskan William Wongso sebagai ‘penasehat kuliner’ dapur maskapai penerbangan nasional Indonesia.

Daftar konsumsi di atas tentu saja hanya dapat dinikmati segelintir orang yang bepergian jarak jauh di kelas bisnis atau kelas satu. Pendek kata, kaum the happy few. Bagaimana dengan turis di kelas ekonomi? Di balik tirai pemisah kabin, ‘penumpang dana minim’ boleh ‘puas’ dengan Pop Mie atau Cup-a-Soup. “Tujuh jam lalu mungkin masih berbentuk lasagna,” tulis Business Traveller ihwal panganan salah satu airline di Turki.

Sudah jadi rahasia umum, gastronomi di pesawat kerap dikritik atau jadi bulan-bulanan. Apalagi, ditambah resesi di Eropa dan Amerika, ‘pengganjal perut’ pun ikutan ‘disunat’. Bukan cuma porsi, tetapi juga secara kualitas. Betul begitu? Oke, kuantitatif boleh jadi agak dipangkas. Bahkan, beberapa maskapai penerbangan men-charge biaya ekstra untuk snack. Anda pilih mana: merogoh kocek untuk roti segar ditemani salad ikan tuna atau nasi rendang ‘gratis’ nyaris basi?

Jujur saja, pilihan makanan di kelas ekonomi—kalaupun ada—tidak variatif seperti di kelas bisnis atau kelas satu. Toh, jika ditilik lebih lanjut, ‘urusan perut’ di pesawat itu ‘ajaib’ dan perusahaan penerbangan sudah berusaha semaksimal mungkin. Di ketinggian 30.000 kaki, indera pengecap kita terpengaruh tekanan udara dan hanya berfungsi 70%. Tak heran, chicken filet itu di bandara terasa nikmat di lidah, tetapi berubah hambar di kabin.

Selain itu, makanan tersebut sudah melewati ‘trayek panjang’ sebelum masuk ke mulut penumpang—mulai dari belanja harian, memasak, mengepak, distribusi, dan seterusnya. Sebagai ilustrasi, Singapore Airlines 2010 silam menghabiskan dana € 410.000.000 untuk makanan, € 12.000.000 untuk minuman, dan € 13.000.000 untuk wine. Gate Gourmet, penyedia jasa boga aviasi terbesar di dunia, menyiapkan 800.000 hidangan setiap hari.

Perlu dicatat, hidangan tersebut harus tepat waktu diangkut ke pesawat. Belum lagi pesanan catering ‘istimewa’ seperti penderita diabetes atau alergi produk tertentu, vegetarian, menu kosher bagi keturunan Yahudi, dan seabrek daftar panjang lainnya. Jangan lupa, pilot dan pramugari harus ‘isi bensin’ pula. So, jangan keburu jutek kalau awak kabin dengan wajah memelas kehabisan stok ayam dan menawarkan alternatif beef teriyaki. Anggap saja it’s part of the journey. Bon appétit…

P.S.
Kalau KoKiers punya waktu luang, coba buka situs airlinemeals.net. Penumpang me-review dan melampirkan foto hidangan beragam carrier internasional. Testimoni tersebut kadang lucu, nyelekit, dan hilarious. Gambar dan penyajian ciamik santapan di kelas satu dijamin bikin ngeces.

Sumber dan ilustrasi: Harian NRC Handelsblad “Lucht happen” (04-02-2012)

ILUSTRASI FOTO-FOTO DOK REDAKSI 

MODERATOR - Penggagas KoKi : ZEVERINA

Pembaca "KOLOM KITA" (KoKi) entah di Bontang, Inggris, Bali, Belanda, New Jersey, Kuwait, Australia, atau di Kediri, silakan berbagi peristiwa seputar kehidupan sehari-hari. Kirimkan artikel dan foto melalui form "Kirim Artikel", jika mengalami kesulitan kirimkan melalui email: temennyazev@gmail.com ; kokizeverina@gmail.com


1 dari 4 Halaman Komentar | First Prev Next Last
>>thia ~ Haha.. Pasrah bener ya. Lebih baik jadi anak manis dan penurut daripada dijudesin sama pramugari.. >>Wati-Jerman ~ Emirates mah enak catering-nya. Cabin crew-nya juga banyak orang Asia. Cuman rute ke JKT dulu banyak transitnya. Mabok bentar² take off dan landing terus.. Siap² bawa antimo.. Nggak tahu ya sekarang.. >>Straight_Line ~ Kalau semua (calon) penumpang model pengertian begini, terbang ya asik² aja. Sayang, prakteknya masih banyak yang snob dan pingin jadi ratu atau raja sehari di kabin. Bikin gregetan..
Posted by: alimuça | Kamis, 16 Februari 2012 | 05:04 WIB
kalo saya, blom pernah make penerbangan dengan jam terbang lama. paling cepet yah paling satu jam penerbangan. makan ga makan sama aja. kalo laper, sebelum naik pesawat yah makan dulu :) hehehehe. Tapi dimana2 udah lumrah kali yah, secara naik kelas ekonomi, makanan-nya ga pernah enak wkwkwk. Sukuri apa yang ada, daripada kelaparan.
Posted by: Straight_Line | Selasa, 14 Februari 2012 | 17:10 WIB
engga pernah naik kelas bisnis apalagi vip...sanggupnya cuma klas ekonomi jd terima apa adanya aja....kalo naik emirat pelayanannya mayanlah...makanannya jg lumayan...hehehe..
Posted by: Wati-Jerman | Selasa, 14 Februari 2012 | 16:13 WIB
yeaaah....begitu deh makanan kapal terbang...mau gak mau mesti ditelen juga....daripada perut kroncongan heeeheeee....
Posted by: thia | Selasa, 14 Februari 2012 | 12:28 WIB
>>izumi ~ Yipppiee.. Ngeces boleh tapi jangan kebanyakan ngiler. Entar dirubung laler :-) >>Mang Daki ~ Ya jelas beda. You’ll get what you pay for... Bukan cuma makanan aja kok selisihnya. Pelayanan pra- dan pasca penerbangan pun kalau tiket bisnis/first ya banyak keuntungannya. Tiket super fleksibel ini bejibun kelebihannya: ekstra bagasi, kursi lapang plus tempat tidur, enggak perlu ngantri lama ke toilet, dapet ruang tunggu atau lounge sendiri di bandara, dapet akomodasi kalau delay panjang, bisa ganti rute dst. dst. Terutama kalau dalam situasi kejepit dan penerbangan jarak jauh, baru kerasa deh enaknya tiket begini. Belum lagi air miles-nya, kan bisa dipakai untuk terbang ‘gratis’ ke banyak tujuan. Kalau dipikir, impas lah harga 3 atau 4 kali lipat... Eh, tapi naek penerbangan perintis asik juga lho. Dulu pernah gelayutan di pesawat Hercules-nya AURI. Gondal-gandul tanpa seat-belt. Sampe sekarang masih sehat wal’afiat aja tuh. >>Mommy Alma ~ Yang penting heppiii and landed safelyyy... :-) Always look on the bright side of life... >>Bundo ~ Masuk angin? Di rumah kan ada spesialis kerokan. Haha... Ibu² emang wajib pedit. Harus inget anak dan suami. Puasa aja di pesawat, buat tambah sangu oleh². Tenkyu ya wedang rondenya. Masih mengkeret nih, ‘dah seminggu kelonan sama guling. Jadi duda dadakan, ditinggal bune njagong manten jauh bener. Keh³... >>Broertje Sirpa ~ Hehe.. Kalau perlu bikin menu spesial botok. Sebelum dipaten sama Negeri Jiran. >>Mas Momo ~ Di kabin juga ada pedagang asongan kok. Nggak kalah sama angkot. Hehe.. Tuh, duty free on board-nya selalu genit jentat-jentit narik pembeli... >>ISK ~ Tumben nyelip di sini.. Garuda is on the right track. Kan udah bintang empat Skytrax. Soal mantap, itu selera pribadi ya. ‘Saudara muda’ Singapore dan Malaysia buktinya bisa dapat bintang lima. >>wolflew ~ Jangankan kapal laut. Saya pernah terbang dan ada yang bawa duren sama teri Medan. Alamak baunya. Saya nggak alergi duren, tapi kalau tiga jam nonstop disuguhin aromanya ya puyeng bin kliyengan. Kok bisa ya masuk kabin.. Apa crew-nya nggak ada yang nyium baunya atau jangan² itu justru barang bawaan awak pesawat... >>Nyonya Samurai ~ Duh, jangan jedak-jeduk. Ntar kejeduk beneran. Budget-air di Eropa juga harus banyak biaya tambahan lho. Bukan cuma makanan dan minuman alkohol aja. Kadang² headphone pun di-charge. Bentar lagi mau pipis pun musti ngeluarin duit barangkali :-) Hepi Valentin ya, tambah lengket deh sama yayang. Boleh libur masak, dimanja, dan dibelai seharian. Haha.. >>Fabiola ~ Itu bau nggak enak coba google aja MAP (Modified Atmosphere Packaging). Mirip kalau kita beli daging atau sayuran segar yang udah dikemas di pasar swalayan, biasanya ditambah gas ini supaya nggak cepat kadaluwarsa. Kalau saya sih nggak terlalu masalah ya, secara apapun doyan. Yang lebih ‘nyebelin’ itu biasanya balita nangis dan rewel sepanjang penerbangan. Arrgghh.. |Tapi suka nggak tega juga sih ama orangtuanya, sering dipelototin penumpang lain. Makanya, di beberapa airline tabu bawa balita di kelas satu. >>Sheam ~ Hehe.. Ketahuan ya suka ngutil. Itu kan propertinya airline. Tanya aja baik² sama cabin crew. Kalau nasib baik, biasanya dikasih kok :-) Dulu, waktu heboh²nya 911 cutlery sempet diganti plastik, tapi belakangan udah mulai normal lagi tuh. Larangan bawa cairan juga naga²nya bakal diperlunak. >>Dad dan bala tentaranya ~ Selamat hari Selasa, selamat Valentinan, dan selamat melanjutkan aktivitas deh. Thanks dan salam hangat dari Lowlands! Plus jabat hati juga :-)
Posted by: alimuça | Selasa, 14 Februari 2012 | 05:17 WIB
Anda harus login untuk memberi komentar pada Artikel ini...
About KoKi | Info iklan | Privacy policy | Terms of use| Karir | Contact Us
 
© 2008 - 2009 KoKi. All rights reserved