| KoKiFood |
CITIZEN JOURNALISM: SIAPA SAJA, MENULIS APA SAJA
“Makan Angin” di Kabin
“Makanan pesawat? Yuckkk…” Demikian komentar banyak orang. Namun, ada yang berpendapat, konsumsi itu blessing in disguise. Etihad Airways punya food and beverage managers di pesawat, merekrut 110 koki internasional untuk memasak menu à la carte di udara, dan menawarkan 13 jenis teh untuk penumpang. British Airways memanjakan pelanggannya dengan afternoon tea layaknya di Hotel Dorchester, salah satu penginapan prestisius di London.
Daftar konsumsi di atas tentu saja hanya dapat dinikmati segelintir orang yang bepergian jarak jauh di kelas bisnis atau kelas satu. Pendek kata, kaum the happy few. Bagaimana dengan turis di kelas ekonomi? Di balik tirai pemisah kabin, ‘penumpang dana minim’ boleh ‘puas’ dengan Pop Mie atau Cup-a-Soup. “Tujuh jam lalu mungkin masih berbentuk lasagna,” tulis Business Traveller ihwal panganan salah satu airline di Turki. Sudah jadi rahasia umum, gastronomi di pesawat kerap dikritik atau jadi bulan-bulanan. Apalagi, ditambah resesi di Eropa dan Amerika, ‘pengganjal perut’ pun ikutan ‘disunat’. Bukan cuma porsi, tetapi juga secara kualitas. Betul begitu? Oke, kuantitatif boleh jadi agak dipangkas. Bahkan, beberapa maskapai penerbangan men-charge biaya ekstra untuk snack. Anda pilih mana: merogoh kocek untuk roti segar ditemani salad ikan tuna atau nasi rendang ‘gratis’ nyaris basi?
Selain itu, makanan tersebut sudah melewati ‘trayek panjang’ sebelum masuk ke mulut penumpang—mulai dari belanja harian, memasak, mengepak, distribusi, dan seterusnya. Sebagai ilustrasi, Singapore Airlines 2010 silam menghabiskan dana € 410.000.000 untuk makanan, € 12.000.000 untuk minuman, dan € 13.000.000 untuk wine. Gate Gourmet, penyedia jasa boga aviasi terbesar di dunia, menyiapkan 800.000 hidangan setiap hari. Perlu dicatat, hidangan tersebut harus tepat waktu diangkut ke pesawat. Belum lagi pesanan catering ‘istimewa’ seperti penderita diabetes atau alergi produk tertentu, vegetarian, menu kosher bagi keturunan Yahudi, dan seabrek daftar panjang lainnya. Jangan lupa, pilot dan pramugari harus ‘isi bensin’ pula. So, jangan keburu jutek kalau awak kabin dengan wajah memelas kehabisan stok ayam dan menawarkan alternatif beef teriyaki. Anggap saja it’s part of the journey. Bon appétit… P.S. Sumber dan ilustrasi: Harian NRC Handelsblad “Lucht happen” (04-02-2012) ILUSTRASI FOTO-FOTO DOK REDAKSI MODERATOR - Penggagas KoKi : ZEVERINA Pembaca "KOLOM KITA" (KoKi) entah di Bontang, Inggris, Bali, Belanda, New Jersey, Kuwait, Australia, atau di Kediri, silakan berbagi peristiwa seputar kehidupan sehari-hari. Kirimkan artikel dan foto melalui form "Kirim Artikel", jika mengalami kesulitan kirimkan melalui email: temennyazev@gmail.com ; kokizeverina@gmail.com
|
| About KoKi | Info iklan | Privacy policy | Terms of use| Karir | Contact Us |
|