JUMAT, 25 APRIL 2014
 
        Lupa Password?

detikTravel

detikTravel

Info Promosi Travel

Wego
Tags
This will be shown to users with no Flash or Javascript.
KoKiFood
CITIZEN JOURNALISM: SIAPA SAJA, MENULIS APA SAJA
Icip-icip Kuliner Cepu yang Mengesankan
Ariana – Jakarta

 

Dear Mas Dad dan KoKiers,

Wisata icip-icip kuliner kali ini sampai di Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora, yang terletak di Jawa Tengah. Kota yang berbatasan dengan Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, ini terkenal sebagai daerah penghasil minyak bumi, gas, dan kayu jati. Kota ini dialiri oleh sungai Bengawan Solo yang legendaris dan merupakan sungai terpanjang di Pulau Jawa.

Perjalananan darat dari bandara Surabaya sekitar tiga jam menuju lokasi kantor. Mengingat terbatasnya waktu, begitu sampai di sana, setelah saling menanyakan kabar dengan teman-teman di sana, kami langsung bekerja hingga sore hari. Rencananya, pada malam hari, kami ingin berwisata kuliner di Cepu. Berhubung badan sudah letih dan keesokan harinya harus presentasi laporan, akhirnya kami memutuskan untuk makan malam di kafe yang berlokasi di tempat aku menginap.

Makanan yang disajikan di kafe ini sangat lengkap. Makanan yang paling disukai pengunjung adalah lontong tahu, rawon, soto Lamongan, sate Blora, nasi pecel, iga bakar, sup buntut, rawon, dan nasi kuning.

Hmm.. segera kupesan lontong tahu, makanan khas Cepu. Terbayang sudah kenikmatan lontong tahu. Sebelumnya, supir kantor yang mengantar kami untuk menikmati bakwan yang nikmat pada siang hari, sudah mengingatkan agar kami tidak lupa menikmati lontong tahu. Sayangnya, kami harus menahan kecewa karena, menurut pelayan, makanan yang kupesan sudah habis sejak tadi sore. Maklum, kami datang ke kafe ini agak larut, usai jam makan malam.

Akhirnya aku memesan nasi pecel. Berbeda dengan pecel Madiun yang ada di Serpong, Tangerang, beberapa waktu yang lalu, nasi pecel di sini minus pete cina dan daun kemangi. (Baca: Tergoda Nikmatnya Pecel Madiun) Karena rempeyek kacangnya sudah habis, akhirnya diganti dengan krupuk udang. Rasa bumbu pecelnya nikmat dan tingkat kepedasannya pas di lidahku.

Iga bakar yang dipesan oleh temanku begitu menggoda sehingga membuatku ikut mencicipi sepotong kecil. Daging yang begitu empuk menyatu dengan bumbu. Rasanya begitu lembut. Lumuran bumbunya merasuk hingga ke ujung tulang. Sebenarnya, aku bukan penggemar iga bakar. Tetapi keharuman iga bakar yang begitu menggiurkan, membuatku ikut mencicipi iga bakar ini.

Selain pecel dan iga bakar, tersedia juga nasi kuning campur dengan lauk gado-gado, sambal goreng kentang dan tempe orek. Tambahan krupuk membuat nasi kuning ini tampak menggiurkan.

Sebagai hidangan penutup, kami memilih klepon, makanan berbentuk bola-bola kecil berwarna hijau dan merah yang diisi dengan gula jawa. Nikmanya makan klepon terasa ketika menggigitnya dan gula jawa mencair di dalam mulut, ditamba legitnya parutan kelapa. Klepon ini entah berasal dari daerah mana, yang pasti jajanan pasar ini selalu menjadi urutan nomor satu sejak aku masih duduk di bangku sekolah. Rasanya pas di lidahku.

Rupanya acara klik... klik.. foto makanan ini menarik perhatian temanku yang sering bolak-balik antara Jakarta – Cepu. Lalu, ia bercerita tentang tempat makan dan nongkrong yang harus kusinggahi di kota Cepu. Bahkan, ia memintaku untuk menunda kepulangan ke Jakarta pada keesokan harinya. Sayangnya, jadwal pekerjaanku yang padat membuat aku tidak dapat memuaskan selera icip-icip kuliner di kota Cepu. Apalagi tujuan utama aku ke kota ini bukanlah untuk wisata kuliner.

Salah satu tempat makan dan nongkrong yang paling favorit di kota Cepu adalah Taman 1.000 lampu, yang terbentang di area pembatas dua jalur di jalan Raya RSU. Menurut temanku, keramaian di tempat ini dimulai ketika malam menjelang, terutama pada malam minggu. Jalan sekitar satu kilometer dipenuhi banyak lampu-lampu ini merupakan tempat kuliner yang siap memanjakan lidah dengan aneka makanan. Ada lontong tahu, lontong opor, sate Blora, soto Lamongan, nasi pecel, tempe mendoan, dan, yang tidak boleh ketinggalan dan sangat terkenal, adalah kopi khotok. Wah, mendengar cerita temanku yang begitu antusias, aku dibuatnya ngiler.

Ada beberapa tempat makan lain di kota Cepu ini yang harus aku kunjungi. Temanku pun berjanji akan menemaniku untuk wisata kuliner di Cepu pada kunjungan berikutnya.

Saking serunya mengobrol tentang wisata kuliner di kota Cepu, tak terasa jam di pergelangan tanganku menunjukkan pukul 23.00 malam. Akhirnya, aku pamit untuk beristirahat.

Pada pagi hari, sebelum check out dari hotel, aku sempat mengambil beberapa foto suasana kafe dari atas jendela kamarku. Kita dapat memilih untuk menikmati aneka makanan di kafe atau di pelataran. Suasana pada malam hari lebih romantis apalagi jika memilih makan malam di pelataran dengan candle light dinner.

Dalam perjalanan kembali dari Cepu menuju Surabaya, aku mampir untuk membeli oleh-oleh wingko babat dan beberapa cemilan nan kriuk lainnya untuk teman kantorku. Wingko Babat adalah kue tradisional yang sangat terkenal. Berbahan baku kelapa, tepung ketan, garam, dan gula pasir membuat wingko terasa legit dan bikin ketagihan. Wingko Babat biasanya dijual di stasiun kereta api, terminal bus, dan toko kue.

Banyak orang menyangka wingko babat merupakan makanan khas Semarang, karena wingko yang terkenal diproduksi di sana. Sebenarnya wingko babat, sesuai dengan namanya, berasal dari Babat, sebuah daerah kecil tetapi cukup ramai. Letaknya di Lamongan Jawa Timur, berada tidak jauh dari kota Bojonegoro.

Wingko babat tak hanya berasa original kelapa. Untuk memanjakan selera pencinta wingko babat, kini ada berbagai rasa mulai dari rasa durian, nangka, coklat, dan aneka rasa lainnya. Tetapi yang paling disukai tetap rasa original kelapa muda.

Sambil menunggu keberangkatan pesawat dari bandara Surabaya ke Jakarta, aku menyempatkan diri untuk mampir ke sebuah toko oleh-oleh di bandara ini. Dan, lagi-lagi, wingko babat ternyata camilan paling laris manis di toko ini, selain emping manis, brem, jenang, dodol, rempeyek kacang dan kripik tempe, dan aneka cemilan kriuk lainnya.

Pengalaman icip-icip kuliner di Cepu dan daerah sekitarnya tak terlupakan. Karena keterbatasan waktu, masih banyak tempat makan dan nongkrong yang harus kukunjungi di lain waktu. Hmm... semalam di kota Cepu yang mengesankan.

Cafe Grand Mega
Jl. Tambakromo No. 27, Cepu, Jawa Tengah
Telp (0296) 423999

 

Regards,
Ariana

ILUSTRASI FOTO-FOTO DOK REDAKSI 

MODERATOR - Penggagas KoKi : ZEVERINA

Pembaca "KOLOM KITA" (KoKi) entah di Bontang, Inggris, Bali, Belanda, New Jersey, Kuwait, Australia, atau di Kediri, silakan berbagi peristiwa seputar kehidupan sehari-hari. Kirimkan artikel dan foto melalui form "Kirim Artikel", jika mengalami kesulitan kirimkan melalui email: temennyazev@gmail.com ; kokizeverina@gmail.com


1 dari 8 Halaman Komentar | First Prev Next Last
Wisata kuliner memang asyik, apalagi ada yang traktir hihihihi...
Posted by: Ariana | Rabu, 23 Februari 2011 | 17:06 WIB
mbak wyd, tempatnya asri dan nyaman, apalagi pas malam hari, suasananya romantis banget, candle light dinner... Oh kalau BLOG, aku nggak punya, cuma ada FB doang.. itu pun nggak tentu, kalau lagi sibuk, bisa berbulan2, nggak ditengok... thanks ya mbak Wyd.
Posted by: Ariana | Minggu, 13 Februari 2011 | 20:00 WIB
Natya... kalau lagi laper... pastinya semuanya enak.. kangen sama tukang ketropak langgananku, yang ulekannya enak... hihihiihi..
Posted by: Ariana | Minggu, 13 Februari 2011 | 19:57 WIB
Mbak Minten, wingko babat, klepon memang enak... brem solo, yang kubeli di bandara Surabaya, juga nyam... nyam... thank ya mbak minten.
Posted by: Ariana | Minggu, 13 Februari 2011 | 19:56 WIB
Mbak Reef, apa kabar? missss youu.... sebenarnya iga, bukan makanan fav aku, tetapi keharuman iga, bikin aku pengen mencicipi... dan ternyata rasanya memang enakkkk....
Posted by: Ariana | Minggu, 13 Februari 2011 | 19:54 WIB
Anda harus login untuk memberi komentar pada Artikel ini...
About KoKi | Info iklan | Privacy policy | Terms of use| Karir | Contact Us
 
© 2008 - 2009 KoKi. All rights reserved