KAMIS, 17 MEI 2012
 
        Lupa Password?

detikTravel

detikTravel

Info Promosi Travel

Wego
Tags
This will be shown to users with no Flash or Javascript.
KoKiFood
CITIZEN JOURNALISM: SIAPA SAJA, MENULIS APA SAJA
Resep Narsis Margharita (Bukan Delia Smith)
Margharita - Phuket

 

Hot cross buns adalah roti tradisional Inggris yang dahulu kala hanya disajikan pada saat perayaan Paskah. Sekarang, sih, lain. kalau pengin makan, ya,tinggal beli saja di supermarket atau bakery tidak usah menunggu hari Paskah tiba. Berhubung di sini tidak ada yang menjual, maka dengan terpaksa, aku harus membuatnya sendiri. No pain no gain. Apalagi sekarang, aku, kan, sudah pinter baking (sambil mendongakkan dagu dan meggoyang-goyangkan kepala). Boleh bangga, dong, ;)

Ayuk, bagi KoKier yang seneng baking boleh mencobanya. Jeung T.Moken sudah pernah bikin ini belom, ya?

Ok, berikut ini alat-alat yang perlu disediakan:

  1. Heavy duty mixer, seperti kitchen aid dan sejenisnya. Kalau nggak punya, bisa memakai mixer biasa untuk 2 ½ - 3 cups tepung. Selanjutnya, adonan tepung diuleni secara manual. Kalau nekad memakai mixer, nanti fuse-nya bisa terbakar, loh, karena mesin bekerja terlalu berat.
  2. Parchment paper. Maaf nggak tahu bahasa Indonesianya. Secara baru belajar memasak setelah tinggal di luar. Anyway, sejenis kertas untuk alas kue, ?
  3. Cake decorating bag. Itu, loh alat untuk menghias kue yang biasanya berbentuk kerucut, di bagian ujung ditambahkan spuit. Untuk mengeluarkan krim di dalam kantong, tinggal dipencet – pencet ?

 

 Bahan

  • 1 cup susu segar
  • 2 sdm yeast
  • ½ cup gula pasir
  • 2 sdt garam
  • 1/3 cup mentega, cairkan, dinginkan
  • 5 cup bread flour I love Me (merk khusus untuk Margh)
  • 1 sdt kayu manis bubuk (merk Si Manis, kalau ada)
  • ½ sdt pala bubuk
  • ½ sdt all spice (bila suka)
  • 4 butir telur * (lihat catatan di bawah)
  • 1 1/3 cup raisins/kismis

Untuk glazing

  • 2 sdm gula pasir
  • 2 sdm air

Untuk hiasan

  • 1 cup icing sugar
  • 4 sdt susu segar

Resep asli menggunakan empat butir telur, tapi ketika pertama kali dicoba, adonannya kok terlalu lembek dan nggak bisa dibentuk. Kemungkinan karena ukuran telur yang biasa aku beli di sini lebih besar. Maka, untuk selanjutnya, aku hanya memakai tiga butir. Kemudian, aku tambahkan telur sedikit–sedikit ke adonan, kira–kira ditambah tiga sendok makan sudah cukup.

Cara membuat:

  1. Hangatkan susu ke dalam panci kecil, usahakan tidak sampai terlalu panas. Kalau susu terlalu panas, diamkan sejenak sampai agak mendingin kira-kira bersuhu 45 derajat celcius. Campurkan susu dan yeast ke dalam mangkuk mixer, aduk–aduk dan diamkan selama 5-10 menit.
  2. Pasang hook untuk adonan, kemudian atur mixer ke dalam kecepatan terendah. Masukkan gula, garam, mentega cair yang sudah dingin, kayu manis, pala, dan all spice (jika memakai) serta telur.
  3. Campurkan tepung ke dalam adonan sedikit demi sedikit. Biasanya, aku memasukkan dua cangkir dulu, kemudian berturut-turut setengah cangkir sampai semuanya habis. Oh iya, pada fase ini aku juga memasukkan raisins sekalian. Sedangkan menurut resep aslinya, raisins baru masuk setelah first proofing. Terserah KoKier mau memilih cara yang mana.
  4. Bentuk adonan menjadi bola. Kemudian, masukkan ke dalam wadah besar yang sudah diolesi dengan mentega terlebih dahulu. Tutuplah dengan cling film, kemudian biarkan adonan mengembang selama kurang lebih 1 ½ jam – 2 jam.
  5. Jika besar adonan sudah lebih besar dua kali lipat, adonan siap untuk dibentuk ke dalam bola-bola kecil. Siapkan baking tray yang sudah dialasi dengan parchment paper. Bagi adonan menjadi 24 bagian kemudian bentuk menjadi bola-bola kecil. Usahakan, raisin tidak menyembul sehingga permukaan roti menjadi haluz muluz seperti kulitku (sambil mengaca mengagumi kulit muka sendiri)
  6. Setelah semua adonan dibentuk bola, tutuplah dengan kain bersih. Jangan sekali-sekali menggunakan gombal, loh, hahaha… Biarkan mengembang selama kurang lebih 1 ½ jam.
  7. Sementara itu, panaskan oven hingga bersuhu 400 derajat Fahrenheit (190 derajat Celcius).
  8. Olesi permukaan adonan yang sudah mengembang dengan telur yang sudah dikocok dan dicampur sedikit air. Oh iyaa, aku selalu menggunakan sisa telor yang tidak terpakai untuk adonan tadi sebagai pengolesnya. Nothing’s wasted there, ;)
  9. Masukkan ke dalam oven selama 10 menit. Turunkan suhunya dan terus panggang selama kira–kira 15 menit lagi atau permukaanya sudah berwarna kecoklatan permukaannya. Angkat dari oven, pindahkan ke rak.
  10. Campurkan bahan untuk glazing-nya, kemudian oleskan di atas buns. Biarkan sampai mendingin.
  11. Campurkan icing sugar dengan susu, kemudian masukkan ke dalam cake decorator bag. Buatlah tanda salib di atas setiap bun yang sudah mendingin.

Hot cross buns lebih enak jika disajikan dalam keadaan hangat. Ibu mertuaku senang menyantapnya dengan blackberry jam, sedangkan suamiku lebih suka mengolesinya dengan mentega. Kalo aku sih, biasa langsung makan begitu saja setelah dihangatkan sebentar di dalam microwave.

Selamat mencoba.


Ciao,
Margharita (Bukan Delia Smith)

 

P.S: Hanya menerima pujian, yang berani mengritik benjol. (tersenyum–senyum simpul sambil ngelus–elus baseball bat ala psikopat).

ILUSTRASI FOTO-FOTO DOK REDAKSI 

MODERATOR - Penggagas KoKi : ZEVERINA

Pembaca "KOLOM KITA" (KoKi) entah di Bontang, Inggris, Bali, Belanda, New Jersey, Kuwait, Australia, atau di Kediri, silakan berbagi peristiwa seputar kehidupan sehari-hari. Kirimkan artikel dan foto melalui form "Kirim Artikel", jika mengalami kesulitan kirimkan melalui email: temennyazev@gmail.com ; kokizeverina@gmail.com


1 dari 9 Halaman Komentar | First Prev Next Last
ttg cara buat yg no 6, maksudnya apa ya ??? apa artinya yg suka gombal gak bakal berhasil buat resep ini ya hahahhaha. terus tanya lagi, emang ada yg salah kenal ya, menyamakan marg = delia smith hahahaha. wyd nanya ya marg, bukan kritik. bisa dibedakan toch hahhaha lagi. asli ngakak baca resepnya marg yg ini, ada2 aja. sekarang komen serius nich, hasilnya cantik kali ya. kalo pasti berhasil gini sich, mau lah wyd susah paya nyobanya. cuma takutnya gak bakal secantik ini.... but anyway, tks utk resepnya
Posted by: wyd | Senin, 20 Desember 2010 | 21:42 WIB
@NONSY : Pujiannya kok cuma , "puji"? kurang mangstaf atuh , harus spesifik lagi , hahaha.... @ARIANA : Kalau semua orang mau repot bikin roti sendiri kek aku nanti bakery - bakery pada gulung tikar deh ..@SU : Betul sekaleee....
Posted by: Margharita | Senin, 20 Desember 2010 | 08:26 WIB
Ga ada yg ngalahin aroma makanan yg berasal dr dapur sendiri.......
Posted by: SU | Minggu, 19 Desember 2010 | 16:50 WIB
wah.... hebat bisa bikin roti... kalau saya, pilih praktis saja, beli di warung sebelah hihihihi.... agar memberikan lapangan pekerjaan.... alasan saja, padahal nggak bisa bikin roti hihihihi...
Posted by: Ariana | Minggu, 19 Desember 2010 | 12:09 WIB
Kupuji dirimu karena rotimu. Sumpah, di Koki ini kayaknya yang gak punya semangat ke dapur cuma gue..
Posted by: Nonsy | Sabtu, 18 Desember 2010 | 21:18 WIB
Anda harus login untuk memberi komentar pada Artikel ini...
About KoKi | Info iklan | Privacy policy | Terms of use| Karir | Contact Us
 
© 2008 - 2009 KoKi. All rights reserved