KAMIS, 17 MEI 2012
 
        Lupa Password?

detikTravel

detikTravel

Info Promosi Travel

Wego
Tags
This will be shown to users with no Flash or Javascript.
KoKiFood
CITIZEN JOURNALISM: SIAPA SAJA, MENULIS APA SAJA
Gudeg Yu Djum, antara Rasa dan Kharisma
Plux - Jakarta

Dear Yu Zev,

Rasanya belum afdol kalau sebagai pembaca KoKi gak ngirim tulisan, hehehe ..

Berikut adalah tulisan pertamaku disini, sorry kalau bahasanya agak amburadul, maklum sudah lama gak nulis. Sebenarnya ada sambungan dari artikel ini yaitu tentang batik, nanti aku susulkan berikutnya ya Yu. Sorry baru kirim email langsung panggil Yu, abisnya masih terpikat dengan rasa gudegnya Yu Djum seperti yang aku tulis :)

Hi KoKiers, ini adalah tulisan pertama aku, mohon maaf kalau bahasanya masih amburadul, peace...

Liburan minggu lalu aku sempatkan untuk ke Jogja. Kali ini aku benar benar mau santai dan mencoba untuk mengulik sesuatu yang selama ini aku abaikan kalau aku pergi ke Jogja. Ya gudeg dan batik, bukan karena aku tidak suka dengan dua kata tersebut melainkan karena kemana mata  memandang disana selalu berjumpa dengan yang namanya Gudeg dan Batik.

Semangat berburu pun sudah dimulai di hari pertama, dan serangkaian pertanyaan pun terlontar kepada berbagai pihak. Sebenarnya cuman satu pertanyaanku : ”Dimana gudeg yang paling enak di Jogja?”

Dari sopir taksi di bandara jawabnya sangat meyakinkan : Yu Djum, ada di Kaliurang dan Wijilan. Wow, bayangan gudeg dengan aksesoris pendampingnya sudah mulai menari-nari di pelupuk mata, bikin perut jadi laparrrrrrr.

Alih alih beristirahat di hotel, aku cuman meletakkan tas dan langsung menuju ke jalan raya mencari taksi dengan tujuan Kaliurang. Kembali pertanyaan seputar gudeg aku ajukan ke sopir taksi dan dengan jawaban pasti dia bilang Yu Djum, rasa penasaran pun semakin menjadi jadi. Seperti apa sih Yu Djum?

Sampailah aku di bilangan Barek, dekat dengan UGM. Sederet rumah makan menghiasi jalan raya, ada gudeg, makanan Padang, dll tapi sopir taksi malah masuk ke gang yang agak berliku dan berhenti di depan warung dengan bangunan sederhana. Sederet mobil parkir di depannya.

Aura popularitas tempat ini sudah tercium dari teras, sekelompok seniman muda beraksi menyanyikan lagu lagu pop masa kini. Gerobak rujak pun menemani seniman, menjajakan dagangannya.

Pertama masuk, kesan gelap terasa karena penerangan seadanya alias natural lighting, tapi begitu mencicipi nasi gudeg nya, wow... memang luar biasa. Menurut teman-2 aku termasuk orang yang rewel untuk urusan makanan tapi kali ini tanpa komplain sepatah kata pun. Hmmm...

 

Penasaran aku pun minta ijin untuk melongok dapurnya, kali - kali aja ada alasan aku untuk bahan bantahan kalau sopir taksi bilang gudeg Yu Djum paling enak. Mulailah aku memasuki area dapur hingga ke ”original” dapur yang di luar.

 


 

 

dari acara berkeliling di dapur aku menyimpulkan mereka bekerja secara profesinal dan mereka pun menjaga kebersihan. Mungkin mereka sudah sadar kepuasan pelanggan yang diutamakan karena itu mereka menjalankan tugasnya dengan senang hati. Mungkin juga karena itu gudeg Yu Djum jadi enak.

 

 

 

Memang sudah berniat tiada hari tanpa gudeg selama aku ke Jogja, hari kedua pun masih penasaran dengan gudeg. Jadilah aku mencoba gudeg lain di sekitar Barek. Entah karena lidahku sudah terprogram dengan rasa ”Yu Djum” gudeg yang aku makan berasa lain. Aku pun cuman makan sekedarnya.

Setelah selesai makan, ku ayunkan langkah kaki menuju gang yang berliku, ke tempat Yu Djum, gile... habis makan, makan lagi. Ada pemandangan yang berbeda di sini. Kalau hari pertama gerobak rujak menghiasi halaman depan teras, kali ini gerobak kue leker yang bertengger di sana.

 

Juga kalo hari sebelumnya senimannya adalah sekelompok muda, kali ini senimannya adalah sekelompok orang tua dengan suara sopran dari penyanyi wanitanya.

Sebenarnya kalau boleh jujur, gudeg bukanlah makanan favorit aku, tetapi karena penasaran saja yang membuat aku jadi gila gudeg. Dan kembali kegilaan itu muncul di hari ketiga. Dalam hati pun aku bertanya, apakah jawaban sopir taksi masih sama kalau aku menanyakan gudeg yang paling enak?

Dan memang entah kebetulan atau memang begitu populer di sana, kali ini bapak sopir pun membawa aku ke Wijilan, dari sederet gudeg gudeg yang ada, mobil berhenti tepat di depan rumah makan dengan penanda : Yu Djum. Hahaha, jadilah aku menyantap hidangan jogja khas Yu Djum.

 

 

Penasaran seperti apakah gerangan yu Djum itu? Inilah sosok Yu Djum yang sekarang usaha beliau diteruskan oleh generasi berikutnya bernama Yu Nani.

 

 

Dan rasa penasaran ku pun tertuntaskan oleh gudeg Yu Djum. Aku jadi membayangkan, andaikan Gudeg Yu Djum ada di Jakarta. Kapan ya? 
 

Salam

Plux - Jakarta 

 

ILUSTRASI FOTO-FOTO DOK REDAKSI 

MODERATOR - Penggagas KoKi : ZEVERINA

Pembaca "KOLOM KITA" (KoKi) entah di Bontang, Inggris, Bali, Belanda, New Jersey, Kuwait, Australia, atau di Kediri, silakan berbagi peristiwa seputar kehidupan sehari-hari. Kirimkan artikel dan foto melalui form "Kirim Artikel", jika mengalami kesulitan kirimkan melalui email: temennyazev@gmail.com ; kokizeverina@gmail.com


1 dari 1 Halaman Komentar | First Prev Next Last
Plux, kalo Yu Djum, kayaknya ga bakal ada di jakarta dech. Yang udah ada tuh Gudeg Wijilan. Kl aku sendiri, lebih suka gudeg yg mangkal di depan Vikita Jalan Gejayan. Tp dia mulainya jam 6 pagi kl hari biasa atau jam 2 pagi kl pas bulan puasa n jam 8 pagi dah habis. hix hix hix jadi kangen yogya.
Posted by: sweetmaria | Selasa, 13 April 2010 | 13:26 WIB
bikin air liur menetes..
Posted by: ciskaf | Kamis, 4 Juni 2009 | 14:48 WIB
Suka banget makan nasi panas dan gudeg dengan kerecek dan banyak-banyak cabe rawit.
Posted by: SU | Selasa, 2 Juni 2009 | 16:03 WIB
Anda harus login untuk memberi komentar pada Artikel ini...
About KoKi | Info iklan | Privacy policy | Terms of use| Karir | Contact Us
 
© 2008 - 2009 KoKi. All rights reserved