KAMIS, 23 MEI 2013
 
        Lupa Password?

detikTravel

detikTravel

Info Promosi Travel

Wego
Tags
This will be shown to users with no Flash or Javascript.
KoKiTour
CITIZEN JOURNALISM: SIAPA SAJA, MENULIS APA SAJA
Pasar Kambing Khasgar
Nur Haryanto

Pagi pukul 10.00, matahari sudah menyengat. Lapangan seluas sepuluh kali lapangan sepak bola di pinggir Kota Khasgar, Provinsi Xinjiang, sudah ramai. Jalan aspal selebar 4 meter untuk masuk ke lapangan penuh sesak dengan truk bak terbuka dan sepeda motor yang didesain mempunyai bak besar di belakang. Muatannya hampir semua sama, kambing.

 

Hari Minggu, 24 September 2011, Kashgar Ulak Bazar --nama pasar kambing tempat ini dalam bahasa Uygur—dibuka. Ribuan kambing diperdagangkan di tempat ini. Debu, dan bau kotoran kambing, meruap di mana-mana. Pasar ini tidak setiap hari ada. Di wilayah ini, kebetulan pasar dibuka pada hari minggu bulan ini. Bulan berikutnya, bisa ditempat lain.

Sidek Sawut, 20 tahun, sudah menunggu pembeli sejak pukul 9.00. Sebagian kambingnya sudah laku terjual. Dia masih bertahan menunggu, pembeli sampai siang hari untuk menjual semua kambingnya. Satu kambingnya dihargai 1.000 Yuan – 1.500 Yuan. "Saya harus jual semua kambing ini," katanya, sambil memegang uang penjualan kambing.

 

Tawar menawar tak jauh berbeda dengan pasar hewan tradisonal di Indonesia. Terbuka antara penjual dan pembeli. Jika kesepakatan tercapai, uang diberikan kemudian bersalaman dan kambing sudah pindah tangan. Penjual, menurut Sidek, tak semuanya memelihara kambing. Sebagian ada pedagang yang mengambil selisih keuntungan. Pembeli pun sama, ada juga pedagang tapi tak sedikit pemilik restoran atau orang yang sedang punya hajat.

Kambing menjadi salah satu perdagangan paling ramai di pasar ini. Di salah satu sudut lain di pasar ini, ada juga yang menjual anjing, kucing, kelinci, atau keledai. Namun kambing menjadi favorit karena makanan khas di Khasgar dan Provinsi Xinjiang umumnya adalah kambing. Makanan itu mulai dari sate kambing yang terkenal, sampai olahan masakan seperti sup atau semacam gulai kambing—namun dengan citarasa dan rempah yang berbeda, yakni pedas.

Pasar kambing ini menjadi salah satu tujuan pariwisata di Khasgar. Banyak wisatawan dari negara Eropa, Australia datang mengunjungi tempat ini. Mereka umumnya sambil membawa kamera dan membidik, berbagai kegiatan di pasar tradisional ini.

Sumber: indonesian.cri.cn/601/2011/09/26/1s121642.htm

ILUSTRASI FOTO-FOTO DOK REDAKSI 

MODERATOR - Penggagas KoKi : ZEVERINA

Pembaca "KOLOM KITA" (KoKi) entah di Bontang, Inggris, Bali, Belanda, New Jersey, Kuwait, Australia, atau di Kediri, silakan berbagi peristiwa seputar kehidupan sehari-hari. Kirimkan artikel dan foto melalui form "Kirim Artikel", jika mengalami kesulitan kirimkan melalui email: temennyazev@gmail.com ; kokizeverina@gmail.com


1 dari 2 Halaman Komentar | First Prev Next Last
Jual kambing hitam juga kah? He he ....
Posted by: Sumonggo | Minggu, 1 Juli 2012 | 14:19 WIB
Kalu yg ini bener2 bau prengus..wakakaka
Posted by: Yuka-Kobe | Jumat, 29 Juni 2012 | 17:25 WIB
Mbeeeekk..wachh kalu disate nichh baunya itu lhoo yg nggak ku ku...wkwkwk..
Posted by: Yuka-Kobe | Jumat, 29 Juni 2012 | 17:25 WIB
waah....kebayang bau kambingnya nich...
Posted by: Fabiola | Jumat, 29 Juni 2012 | 17:15 WIB
Pak Sirpa, kambiang atau domba? Kambiang nggak ada bulunya. Kambiang takuik jo aih, kato urang.
Posted by: Old T.Moken | Jumat, 29 Juni 2012 | 09:58 WIB
Anda harus login untuk memberi komentar pada Artikel ini...
About KoKi | Info iklan | Privacy policy | Terms of use| Karir | Contact Us
 
© 2008 - 2009 KoKi. All rights reserved